6.9.18

Game Level #10: Membangun Karakter Anak Melalui Dongeng - Day 6

 Mendongeng dari buku cerita
Mendongeng dari buku cerita
Hal yang belum berhasil saya ajarkan pada Izza hingga saat ini adalah tentang sabar dan menunggu. Setiap kali saya memintanya untuk sabar menunggu belum pernah berhasil dan selalu berakhir dengan adengan rebut paksa atau menangis. Contohnya jika dia minta sesuatu sedangkan saya sedang mengerjakan hal lain yang tidak bisa ditinggal, maka Izza akan terus merengek dan menarik saya untuk segera memenuhi keinginannya. Endingnya memang lebih sering berujung tangisan dan saya akan menunggunya selesai menangis. Sembari menemani adiknya yang sedang tidur, selepas sarapan dan bermain seluncuran di playhouse, saya mengambil buku dan electronic pen miliknya. Dengan sengaja saya mengambil buku yang bertema tentang sabar. Saya memang tidak langsung bercerita, sebagai pemanasan, saya biarkan Izza bermain dengan buku dan e-pennya. Memainkan musik dan membaca buku sesuka hati. Saat izza tertarik dengan salah satu suara (ditandai dengan terus diulang menggunakan e-pen) maka saya mulai untuk bercerita.

Di dalam buku ini ada beberapa versi cerita tentang arti sabar seperti sabar menunggu dan sabar menabung untuk membeli buku pilihan. Saya mengikuti semua alur cerita yang ada di dalam buku dengan improvisasi sebisanya. Dalam prosesnya, setelah bercerita, saya akan berinteraksi dengan izza untuk memastikan dia paham atau tidak. Sesekali saya akan bertanya dan meminta Izza untuk bercerita sesuai versinya. Seperti gambar diatas, seorang anak yang meminta bantuan ibunya tanpa sabar. Saya meminta Izza untuk menarasikannya.
“Ini Mami, Kakak Medina (nama depannya), cat meong meong” 
“Mami sedang apa ya ini?” 
“Mami nulis, ini hape. Hape pinjem mami” 
“Kakak mau pinjam hape?” 
“Ya, Mami” 
“Kakak kalau mau pinjam hape sabar ya, tunggu dulu. Mami masih nulis. Tuh lihat, kakak Shaliha juga sabar kalau mau pinjam hape. Gak boleh nangis-nangis. Kalau nangis nanti lehernya sakit, batuk-batuk. Sabar dulu, ya?” 
“No! Mami”

Acara mendongeng berubah menajdi ajang negosiasi antara saya dan Izza karena dia minta untuk pinjam hape dan saya larang. Dengan berat hati, saya relakan Izza untuk merengek dan hampir menangis karena minta hape. Proses pembelajaran sabar memang susah, ya. Saya sendiri masih sering belum bisa mempraktekkannya di keseharian, mungkin itu yang membuat Izza belum bisa mencontoh cara sabar dan menunggu.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar Anda ^^