6.9.18

Game Level #10: Membangun Karakter Anak Melalui Dongeng - Day 5

Dongeng tak harus malam dan sebelum tidur, kan? Ini sih saya mencari pembelaan karena biasanya malam sering kebablasan tidur bersama Izza. Dan Izza pun jika diajak bercerita tidak akan tidur dengan cepat malah semakin semangat untuk menginterupsi dengan segala celotehnya. Jadi saya selalu mengambil waktu terbaik yang menurut saya kondusif untuk kami berdua. Seperti halnya hari ini, dongeng di pagi hari saat sarapan. Kebetulan Izza minta makan di teras depan karena adiknya sedang digendong mbah buyut disana. Peralatan makan sudah siap di teras dan saya menemaninya untuk makan secara mandiri. Sayangnya, mungkin kondisi emosi Izza pagi ini sedang tidak bagus jadinya usil dan iseng tidak mau makan. Dia lebih memilih bermain dan berkeliaran di teras rumah daripada duduk anteng. Inilah hal yang tidak saya suka jika makan tidak di meja makan. Dengan nada yang sedikit mengancam saya berkata pada Izza untuk memberikan makanannya pada dua ayam peliharaan kami yang sedang berengkrama di dalam kandang. Otomatis Izza duduk kembali ke kursinya.

Saya pun bercerita (semoga ini masuk kategori mendongeng, ya) pada Izza tentang ayam yang enggan makan yang akhirnya jtuh sakit. Kira-kira seperti inilah saya mendongeng:
“Kakak Izza punya dua ekor ayam warna hitam dan putih di dalam kandang, ayamnya sedang menangis karena lapar. ‘Huhuhuuuu, ayamnya lapar minta makan dong Kakak’. Ayamnya nangis terus karena tidak diberi makan, nasinya Kakak Izza boleh buat ayam? ” 
“No! Mama” Otomatis dijawab oleh Izza.
“Iya, makanya Kakak Izza makan ya. Nanti ayamnya dikasih makan. Tuh lihat! Ayam yang hitam nangis terus sakit karena tidak mau makan. Kalau sakit nanti tidak bisa jalan-jalan. Cuma bisa tidur saja. Kakak Izza mau perutnya sakit?”

Kira-kira seperti itulah proses mendongeng yang terinspirasi dari dua ayam kate perliharaan suami yang sedang duduk termangu di sudut taman. Izza kalau makan memang tergantung mood, kadang bisa lahap kadang tidak mau sama sekali. Harus selalu ada jurus terbaru untuk membuatnya membuka mulut demi sesuap nasi. Hasilnya pagi ini memang tidak banyak, tapi dia bia duduk lumayan anteng meski beberapa kali masih berlari dan duduk lagi jika diancam makanannya diberikan ke ayam. Sebenarnya metode ancaman ini salah ya, mohon jangan ditiru, saya sedang kehabisan ide, hehe. Mengenai proses mendongeng, masih belum bisa berjalan mulus. Masih sering terbata saat bercerita atau stuck di tengah jalan saat Izza menginterupsi, apalagi bisa membuat Izza duduk anteng untuk mendengarkan. Saya memang lebih suka menulis daripada berbicara, tapi demi Izza dan adiknya nanti maka harus terus belajar. Semangat!

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar Anda ^^