25.9.18

Game Level #11: Fitrah Seksualitas - Review Day 5


Materi presentasi hari ini sangatlah menarik dan tidak terlintas sedikitpun di benak saya, kelompok presentasi ke lima mengangkat tema pendidikan seksualitas bagi anak berkebutuhan khusus (ABK). Pendidikan sesksual untuk ABK tidak kalah pentingnya dengan anak normal lainnya karena ABK juga rentan menjadi korban kekerasan seksual, ABK juga memiliki hasrat yang sama dengan anak normal. ABK yang paham setengah-setengah bisa rentan menjadi pelaku, dan pemahaman seksual yang baik bisa meningkatkan kualitas hidup. Tahapan pendidikan seksual pada ABK harus dengan cara yang bersabar – bertahap – berulang, yaitu:
  1. Hilangkan pikiran tabu tentang seks, karena sama pentingnya mengenalkan pada anak normal.
  2. Didik untuk menjaga kebersihan diri, dengan cara memberikan latihan kemandirian mengenai hal privasi.
  3. Kenalkan jenis kelamin dan perkembangannya, misalnya tentang bentuk payudara yang berubah dan menstruasi pada perempuan, serta mimpi basah pada laki-laki.
  4. Kenalkan batas seksualitas, mengenai hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan, bagian tubuh yang boleh dan tidak boleh terlihat atau disentuh, serta siapa orang yang boleh atau tidak boleh menyentuh.
  5. Kenalkan etika, misalkan membiasakan mengganti pakaian di tempat tertutup.
  6. Berkomunitas, dengan sesama kelompok ABK, dokter, terapis, atau psikolog.

Dalm sesi diskusi pun sangat menarik, banyak sekali pertanyaan dari peserta di kelas yang mewakili rasa penasaran saya selama ini. Karena menurut saya pribadi, merawat anak dengan kelebihan seperti itu dibutuhkan kesabaran yang sangat luas. Untuk hal yang sepele saja mungkin bisa menjadi hal yang luar biasa bagi mereka. Contohnya menstruasi, kematangan organ reproduksi ABK dengan anak normal ternyata sama tidak ada keterlambatan kematangan organ seksual, hanya saja penerimaan secara mental yang berbeda. ABK pun mempunyai affection pada lawan jenis, mereka bisa kagum tapi rasa kagumnya masih seperti anak TK/SD dan belum ada ketertarikan secara seksual. Umunya ketertarikan seksual yang benar-benar matang saat ABK berusia 30 tahun. ABK juga bisa paham tentang konsepn pernikahan, ada yang diusia 40 tahun. Tapi ada juga hingga tua masih tergantung pada orang tuanya.

Cara mengajarkan ABK untuk menjaga diri dari kekerasan seksual yang paling utama adala komunikasi harus dibersamai orang tua. Menggunakan simbol, kinestetik, gerakan tangan mata, dan kadang pakai pilihan. Karena berbahasa dan komunikasi sungguh tantangan berat berbeda dengan anak lain. Kalimat perintah, kemandirian saja sudah susah, bagaimana mau menyampaikan informasi melindungi diri, karena umumnya mereka tidak paham akan kondisi terluka, mereka polos dan umumnya terima saja jika ada bujukan atau intervensi dari orang asing. Sehingga perlu dukungan orangtua. Cara berikutnya, memakai kata sederhana seperti yes ,no. Atau dengan tindakan seperti teriak dan menangis. Meminta sesuatu, ditunjukkan konsepnya dulu. Bahwa ini sakit ini tidak sakit. Awas jika ada bahaya, mana yang panas dingin, diasosiasikan dengan sakit. Sering diperhatikan jika anak menangis atau mengeluh, sehingga terbiasa dia bercerita atau mencari orangtuanya saat kurang nyaman. ABK tidak bisa dipaksa dalam lingkungan tertentu. Jika sering dipaksa maka semakin susah komunikasinya. Dukungan dan pengawasan lebih sangat diperlukan. Kerja lebih banyak. Kesan protektif tapi itu dpt melindungi.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar Anda ^^