28.9.18

Game Level #11: Fitrah Seksualitas - Review Day 9


Presentasi hari ke sembilan yang berkaitan dengan fitrah seksualitas di masa pre aqil baligh, dengan kata kunci be my best friend. Masa pre aqil baligh adalah masa peralihan menuju remaja, dimana hormon sedang dalam perubahan yang sangat siginifikan. Anak akan menjadi seorang yang baru dengan sifat baru yang mungkin belum pernah kita lihat. Dengan menjadi temannya di usia tersebut maka kita bisa dengan mudah mengenalkan fitrah seksualitas pada anak. Mengenalkan anak tentang perubahan fisik yang akan dialaminya dan membuat anak bisa bercerita secara terbuka tentang apa yang sedang dialaminya. Komunikasi produktif, itulah kuncinya. Salah satu hal besar yang akan terjadi mada anak di masa pre aqil baligh adalah pergaulannya yang semakin luas dengan dunia luar, dan PR orang tua adalah menjaga anak agar tetap berada di lingkungan yang baik dan tidak terjerumus dengan pergaulan bebas.

Game Level #11: Fitrah Seksualitas - Review Day 8


Presentasi hari ke delapan, kembali mengangkat tema tentang pornografi yang kali ini lebih dikhususkan untuk kaum remaja yang sangat rentan terpapar bahaya pornografi. Seperti yang sudah dijelaskan pada video di atas, pornografi adalah penyakit yang susah disembuhkan, saat seseorang sudah terpapar, otaknya akan terus terjangkit penyakit tersebut dan susah unuk disembuhkan. Selain dipandang sebagai kelemahan moral, kecanduan pornografi juga merupakan penyakit otak yang paling sulit untuk diobati. Ada beberapa yang bisa dilakukan untuk mengobati kecanduan pornografi.

Game Level #11: Fitrah Seksualitas - Review Day 7

Presentasi hari ke tujuh membahas tentang pubertas lagi, seperti hari sebelumnya, yaitu dengan judu materi “Pentingnya Mendampingi Anak di Usia Remaja (Pubertas)”.  Remaja sendiri diartikan sebagai masa transisi atau peralihan dari anak-anak menuju dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif, dan sosial-emosionalnya. Proses transisi ini nantinya akan sangat berpengaruh pada pembetukan karakter, sifat, sikap seorang anak kedepannya. Oleh itu butuh pendampingan yang tepat agar tidak melenceng dari fitrahnya. Pendampingan ini harus dilakukan sedini mungkin, sejak bayi baru dilahirkan dengan cara yang tepat, karena menurut penelitian, kurang dari 5 persen anak perempuan puber sebelum usia 8 tahun dan angka itu skearang menjadi dua kali lipat. Bisa jadi anak-anak kita mengalami pubertas sebelum kita memberikan bekal yang kuat.

Masalah yang muncul pada pubertas pada anak adalah perubahan hormon yang sangat siginifikan sehingga sangat berpengaruh pada perubahan emosi. Perubahan emosi yang bis aterjadi adalah: sedih, bingung, perasaan yang meluap luap, mood swing, sentimental, dan merasa tidak dipahami oleh keluarga atau teman. Maka yang harus dilakukan oleh orang tua untuk mendampingi masa transisi tersebut adalah bertindak sebagai coach saat anak usia 0-7 tahun, bertindak sebagai evaluator saat anak usia 7-10 tahun, dan sebagai supervisor saat anak sudah lebih dari 10 tahun.

25.9.18

Game Level #11: Fitrah Seksualitas - Review Day 6


Presentasi hari ke enam, dibuka dengan video berjudul The Cause of Early Puberty. Hmmm, sebelum saya membuka videonya sempat berpikir, apa hubungannya dengan tema fitrah seksualitas, ya? Saat membaca materinya ternyata cukup penting peranan pubertas (baligh) untuk fitrah seksualitas. Pubertas sendiri diartikan sebagai suatu periode pertumbuhan dan perkembangan yang cepat dimana anak secara fisik berkembang menjadi dewasa dan mampu melakukan reproduksi seksual. Masa normal pubertas untuk perempuan antara usia 8-13 tahun dan untuk laki-laki 9-14 tahun. Jika pubertas terjadi sebelum batas tersebut bisa dibilang pubertas dini. Salah satu faktor penting penyebab pubertas dini adalah nutrisi.

Game Level #11: Fitrah Seksualitas - Review Day 5


Materi presentasi hari ini sangatlah menarik dan tidak terlintas sedikitpun di benak saya, kelompok presentasi ke lima mengangkat tema pendidikan seksualitas bagi anak berkebutuhan khusus (ABK). Pendidikan sesksual untuk ABK tidak kalah pentingnya dengan anak normal lainnya karena ABK juga rentan menjadi korban kekerasan seksual, ABK juga memiliki hasrat yang sama dengan anak normal. ABK yang paham setengah-setengah bisa rentan menjadi pelaku, dan pemahaman seksual yang baik bisa meningkatkan kualitas hidup. Tahapan pendidikan seksual pada ABK harus dengan cara yang bersabar – bertahap – berulang, yaitu:

Game Level #11: Fitrah Seksualitas - Review Day 4



Presentasi hari ke empat, mengangkat tema tentang pendidikan seks sejak usia dini. Karena menurut data yang ada, 90% anak SD sudah terpapar pornograsi, 7% kecanduan, sisanya kecanduan berat. Seperti pada materi hari ke tiga, pornografi merupakan penyebab utama terjadinya kekerasan seksual pada anak. Jika saat kecil sudah menjadi korban kekerasan seksual yang menimbulkan trauma, korban bisa menjadi pelaku selanjutnya. Rantai seperti inilah yang harus segera diputus, mengajarkan edukasi seksualitas sejak dini dari dalam rumah sesuai dengan tahapan usianya. Dengan adanya edukasi seksualiyas, diharapkan bisa memberi manfaat yang baik pada anak antara lain: memiliki hubungan pertemanan/lingkungan yang sehat, terhindar dari bahaya pornografi dan kekerasan seksual, menumbuhkan harga diri yang sehat, serta menghindarkan dari perilaku seksual yang menyimpang.

24.9.18

Game Level #11: Fitrah Seksualitas - Review Day 3

kontak darurat kekerasan seksual pada anak
kontak darurat kekerasan seksual pada anak

Presentasi hari ketiga dari kelompok saya yang mengangkat tema Kekerasan Seksual pada Anak. Kami mengangkat tema ini karena semakin hari semakin banyak kasus pelecehan, kejahatan, dan kekerasan seksual pada anak yang dilakukan oleh orang dewasa atau bahkan anak-anak yang seumuran itu sendiri. Berita terbaru yang saya baca beberapa hari lalu tentang anak umur 5 tahun yang mencoba untuk mempraktekkan hubungan intim dengan teman sebayanya yang ditonton oleh dua orang temannya juga. Miris sekali.

Game Level #11: Fitrah Seksualitas - Review Day 2

batasan aurat laki-laki dan perempuan
batasan aurat laki-laki dan perempuan
Presentasi hari kedua mengangkat tema tentang Menutup Aurat Perisai Menjaga Fitrah Seksualitas, tema yang sangat menarik karena menurut saya pribadi Indonesia saat ini sedang darurat umbar aurat. Aurat sendiri dari kata asalnya berarti malu/aib, jadi secara bahasa dapat diartikan sebagai bagian tubuh yang harus ditutup agar tidak menimbulkan kekecewaan atau malu. Menutup aurat harus diajarkan sedini mungkin sejalan dengan memberikan edukasi tentang fitrah seksualitas. 2 poin penting dalam materi presentasi hari ini adalah mengajarkan anak (terutama anak perempuan) untuk menutup aurat dan memisahkan tempat tidur antara anak laki-laki dan perempuan.

20.9.18

Game Level #11: Fitrah Seksualitas - Review Day 1

Akhirnya masuk ke tantangan game level 11 yang kali ini sistimnya berbeda dengan level sebelumnya. Pada level 11 ini, kami bekerja secara kelompok untuk membuat sebuah presentasi dalam grup dengan tema Fitrah Seksualitas. Hari ini dimulai dari kelompok 1 yang lebih mengangkat tema bahaya pornografi pada game online. Menarik! Karena beberapa hari lalu, baru saja saya mendapat kabar dari teman tentang seorang anak yang baru berumur 5 tahun tapi sudah fasih sekali dengan istilah dalam hubungan seksual yang ternyata dia dapat dari game online. Kelompok 1 terlebih dulu membahas tentang pentingnya mengenalkan fitrah seksualitas sejak dini, sejak bayi baru lahir hingga berumur 15 tahun dan harus selalu dalam pengawasan orang tua. Karena salah satu akibat dari kurangnya hubungan antara anak dan orang tua bisa menyebabkan anak lepas kontrol dan bebas mengakses apapun tanpa pengawasan.

Mari menganla sedikit tentang apa itu pornografi yang ternyata sangat berbahaya bagi otak anak. Pornografi adalah segala konten yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar normal kesusilaan. Pornografi dapat berupa gambar, foto, tulisan, suara, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, dan pertunjukan di muka umum maupun yang bersifat online. Menurut data dari indonesiabaik.id, 90% anak terpapar pornografi internet saat berusia 11 tahun dan ada 25.000 aktivitas pornografi anak di internet setiap harinya. Ngeri sekali, bukan? Bahaya pornografi tidak main-main. Mulanya hanya sekadar penasaran yang bisa menjadi kecanduan.

9.9.18

Game Level #10: Membangun Karakter Anak Melalui Dongeng - Day 10

Mendongeng dengan Sali dan Saliha
Mendongeng dengan Sali dan Saliha
Hari ini cukup sibuk, mulai dari mengantar mertua ke bandara, lalu pergi ke undangan teman kantornya suami. Yang membuat sibuk adalah. Jadi persiapannya karena ini kali pertama saya ikut keluar ke kondangan lengkap dengan pasukan dua anak. Rencana berangkat jam 9 pagi, molor menjadi jam setengah 11. Ditambah drama Izza memlihi bajunya sendiri dan tidak mau pakai jilbab. Sorenya ada janji dengan tukang pijat yang datang ke rumah. Jadi waktu mendongeng hanya saya lakukan sekali sebelum Izza tidur, itu pun dia sudah terlihat sangat capek dan mengantuk sekali sehingga kurang maksimal. Dongeng yang saya ceritakan malam ini tentang kewajiban jilbab bagi perempuan. Sebenarnya, Izza sudah sangat terbiasa menggunakan jilbab, karena sejak bayi sudah saya kenalkan. Berkali kali selalu sounding kalau keluar rumah harus pakai jilbab. Semua berjalan mulus hingga akhirnya Izza bisa memilih fashion seperti apa yang akan dia kenakan. Fashion yang saya maksud adalah baju, celana, sepatu, kadang juga tas atau topi.

8.9.18

Game Level #10: Membangun Karakter Anak Melalui Dongeng - Day 9

Hari ini Izza lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam kamar bersama ayahnya karena masih dilanda batuk pilek dan sedikit demam. Mereka berdua sepertinya sangat asyik menikmati waktu bonding antara ayah dan anak. Mulai dai bermain dokter dan pasien (kebetulan Izza baru saja vaksi di posyandu dan dia ingin selalu memeragakan proses disuntik bagian lengannya lalu dberi obat sirup), bermain bersama boneka (boneka beruang dipakaikan popok dan baju adiknya, hehe), serta mendongeng. Saya tidak melimpahkan tantangan ini pada suami, hanya saja suami memang senang mendongeng menggunakan alat peraga dan Izza pun senang. Saat saya masuk untuk menidurkan Izza, mereka berdua sedang asyik membaca buku kisah nabi dan rasul. Saya pun meneruskan mendongeng dari buku tersebut.

Awalnya saya ingin mendongeng kisah nabi Nuh dan kapalnya yang besar, kebetulan kisah tersebut menjadi ilustrasi gambar pada sampul bukunya yaitu sebuah kapal besar yang dinaiki oleh berbagai jenis binatang. Buku cerita ini merupakan kisah bergambar, jadi banyak gambar menarik disetiap halamannya, tapi ini yang membuat Izza sedikit kehilangan fokus pada dongeng yang saya ceritakan. Dia lebih asyik membolak-balikkan halaman buku dan menanyakan gambarnya atau bercerita sendiri menurut versinya. Tapi, saya tidak boleh hilang akal untuk membuatnya tertarik pada dongeng yang akan saya bawakan yaitu dengan menyebutkan nama-nama hewan yang ada di sampul buku.

7.9.18

Game Level #10: Membangun Karakter Anak Melalui Dongeng - Day 8

Sejak semalam Izza mulai batuk dan agak demam, jadi tidak ada aktivitas fisik yang berlebihan. Perosotan saya sembunyikan untuk sementara waktu. Selepas sarapan, adiknya sudah mandi dan nyusu, saya bawa Izza ke kamar untuk istirahat karena sejak subuh dia sudah bangun. Berharap mau tidur agar bisa istirahat. Nyatanya memang harus ada pillow talk yang panjang dulu sebelum dia benar-benar ngantuk. Dongeng kali ini tentang kelinci dan kura-kura. Dongeng klasik, kebetulan kemarin dia lihat video tentang kelinci dan kura-kura lomba lagi jadi saya bawa lagu tersebut ke dalam dongeng. Proses mendongeng bisa dilihat pada video di bawah ini:


Game Level #10: Membangun Karakter Anak Melalui Dongeng - Day 7

Dongeng malam ini terinspirasi dari cerita di buku Izza tentang anak tikus yang saling menyayangi. Kali ini cerita dalam buku tersebut saya bawa ke kasur dengan modifikasi seperlunya. Tokoh utama tikus saya ganti dengan anak ayam, tidak ada alasan khusus, saya hanya tidak suka tikus hehe. Saat mendongeng tidak sempat saya rekam jadi akan coba saya narasikan secara sederhana. Izza mulai terbiasa mendengar kata pembuka saat saya akan mulai mendongeng yaitu ‘pada suatu hari’, maka dia akan mapan di samping saya dan mendengarkan dengan seksama. Dongeng sebelum tidur malam yang berjudul: Anak ayam yang sakit.

“Pada suatu hari ada sepuluh anak ayam yang sedang bermain di halaman rumah. Anak ayam terlihat sangat gembira sekali, mereka menari bersama-sama sambil berjalan maju mundur. Sepuluh anak ayam adalah saudara, mereka adalah kakak dan adik yang saling sayang. Mereka selalu mengucapkan ‘I love you’ setiap hari karena sayang.” 
“Kakak ayam pergi ke depan untuk mencari makanan, lalu menemukan jagung yang sangat banyak. Kakak ayam memanggil adik-adiknya untuk makan bersama. ‘Adik-adik, ayo kesini, ada jagung banyak. Ayo kita makan bersama-sama’. Adik-adik ayam berlari untuk makan jagung, tapi adik ayam nomer sepuluh jatuh. Kakinya sakit jadi tidak bisa jalan lalu menangis.” 
“Kakak ayam berkata: adik ayam jangan nangis ya, nanti minum obat biar kakinya tidak sakit lagi ya. Ayam yang lain datang membantu adik nomer sepuluh, mereka membantunya untuk berjalan. Akhirnya adik ayam nomer sepuluh tidak nangis lagi dan mereka makan jagung bersama-sama.”

6.9.18

Game Level #10: Membangun Karakter Anak Melalui Dongeng - Day 6

 Mendongeng dari buku cerita
Mendongeng dari buku cerita
Hal yang belum berhasil saya ajarkan pada Izza hingga saat ini adalah tentang sabar dan menunggu. Setiap kali saya memintanya untuk sabar menunggu belum pernah berhasil dan selalu berakhir dengan adengan rebut paksa atau menangis. Contohnya jika dia minta sesuatu sedangkan saya sedang mengerjakan hal lain yang tidak bisa ditinggal, maka Izza akan terus merengek dan menarik saya untuk segera memenuhi keinginannya. Endingnya memang lebih sering berujung tangisan dan saya akan menunggunya selesai menangis. Sembari menemani adiknya yang sedang tidur, selepas sarapan dan bermain seluncuran di playhouse, saya mengambil buku dan electronic pen miliknya. Dengan sengaja saya mengambil buku yang bertema tentang sabar. Saya memang tidak langsung bercerita, sebagai pemanasan, saya biarkan Izza bermain dengan buku dan e-pennya. Memainkan musik dan membaca buku sesuka hati. Saat izza tertarik dengan salah satu suara (ditandai dengan terus diulang menggunakan e-pen) maka saya mulai untuk bercerita.

Game Level #10: Membangun Karakter Anak Melalui Dongeng - Day 5

Dongeng tak harus malam dan sebelum tidur, kan? Ini sih saya mencari pembelaan karena biasanya malam sering kebablasan tidur bersama Izza. Dan Izza pun jika diajak bercerita tidak akan tidur dengan cepat malah semakin semangat untuk menginterupsi dengan segala celotehnya. Jadi saya selalu mengambil waktu terbaik yang menurut saya kondusif untuk kami berdua. Seperti halnya hari ini, dongeng di pagi hari saat sarapan. Kebetulan Izza minta makan di teras depan karena adiknya sedang digendong mbah buyut disana. Peralatan makan sudah siap di teras dan saya menemaninya untuk makan secara mandiri. Sayangnya, mungkin kondisi emosi Izza pagi ini sedang tidak bagus jadinya usil dan iseng tidak mau makan. Dia lebih memilih bermain dan berkeliaran di teras rumah daripada duduk anteng. Inilah hal yang tidak saya suka jika makan tidak di meja makan. Dengan nada yang sedikit mengancam saya berkata pada Izza untuk memberikan makanannya pada dua ayam peliharaan kami yang sedang berengkrama di dalam kandang. Otomatis Izza duduk kembali ke kursinya.

Saya pun bercerita (semoga ini masuk kategori mendongeng, ya) pada Izza tentang ayam yang enggan makan yang akhirnya jtuh sakit. Kira-kira seperti inilah saya mendongeng:
“Kakak Izza punya dua ekor ayam warna hitam dan putih di dalam kandang, ayamnya sedang menangis karena lapar. ‘Huhuhuuuu, ayamnya lapar minta makan dong Kakak’. Ayamnya nangis terus karena tidak diberi makan, nasinya Kakak Izza boleh buat ayam? ” 
“No! Mama” Otomatis dijawab oleh Izza.
“Iya, makanya Kakak Izza makan ya. Nanti ayamnya dikasih makan. Tuh lihat! Ayam yang hitam nangis terus sakit karena tidak mau makan. Kalau sakit nanti tidak bisa jalan-jalan. Cuma bisa tidur saja. Kakak Izza mau perutnya sakit?”

Game Level #10: Membangun Karakter Anak Melalui Dongeng - Day 4

Mendongeng menggunakan boneka jari
Mendongeng menggunakan boneka jari
Adegan mendongeng masih di tempat yang sama yaitu playhouse yang sedang menjadi favoritnya. Asal bunda mau ikut ke dalam rumah mainan dan menemaninya bermain pasti rumah menjadi aman dan tenang, hehe. Tema mendongeng hari ini hampir sama dengan kemarin yaitu saling menyayangi, tapi kali ini lebih spesifik yaitu menyayangi adik. Sedikit cerita tentang sibling rivalry, pasca pulang dari rumah sakit Izza tantrum parah lebih dari seminggu. Saya atau ayahnya tidak boleh gendong adiknya, apalagi saat menyusui menjadi adegan paling horor di rumah tak peduli pagi, siang, atau tengah malam. Saat adiknya nangis maka Izza akan nangis lebih keras dan tak terkontrol. Saat tidur malam Izza tak mau lepas dari saya meski saat menyusui maka Izza akan tetap menempel pada saya. semakin hari hal tersebut semakin berkurang dan Izza terlihat semakin sayang dengan adiknya. Hanya saja, saat ini rasa sayang Izza berubah menjadi gemas. Sering terlihat Izza gemas sampai meremas tangan dan kaki adiknya, mencium dan memeluk dengan sangat erat sampai adiknya menangis.

5.9.18

Game Level #10: Membangun Karakter Anak Melalui Dongeng - Day 3

Mendongeng dengan ayah
Mendongeng dengan ayah
Karena saya masih proses pemulihan pasca melahirkan dan belum bisa bepergian dalam waktu lama, oleh itu suami menyewakan playhouse untuk bermain Izza di rumah. Selain itu agar perhatiannya sedikit teralihkan dari adiknya, karena Izza sudah mulai gemas dengan adiknya, hehe. Sebenarnya saling menguntungkan untuk kami semua yang ada di rumah saat Izza bermain di dalam playhousenya. Adiknya bis atidur tenang dan saya bisa sedikit istirahat atau menyelesaikan pekerjaan domestik lainnya. Jadi sekarang pusat arena bermain Izza ada di dalam playhousenya, hampir semua mainan masuk ke dalamnya. Karena kondisi domestik sedikit heboh, jadilah saya baru bisa mendongeng untuk Izza di sore hari selepas mandi, saat adiknya bersama buyut.

Game Level #10: Membangun Karakter Anak Melalui Dongeng - Day 2

Tema dongeng hari ini adalah tentang berbagi yang saya bagi menjadi dua sesi mendongeng dengan durasi yang singkat, karena harus mengurus rumah dan adiknya. Tema ini saya ambil karena sering kali Izza tidak mau berbagi apa yang dia punya dengan orang lain misalnya makanan atau mainan. Siang hari Izza bermain di dalam playhouse yang baru saja kami sewa sambil menikmati kudapan siang yang saya buatkan untuknya. Kebetulan di rumah ada nenek buyut yang berusaha meminta makanannya dan ditolak mentah-mentah oleh Izza. Momen tersebut saya gunakan untuk mendongeng sambil memasukkan nilai positif padanya. Alat peraga dongeng kali ini adalah 3 boneka beruang Izza dan beberapa mainan pompom di dalam panci miliknya.

Saya menceritakan pada Izza seolah-olah ada satu mangkok bakso milik ibu beruang, sedangkan dua anak beruang tidak ada dan ingin sekali makan bakso. Ibu beruang pun membagi bakso miliknya pada dua anaknya dan dimakan bersama. Sebenarnya hanya cerita itu yang terus saya ulang berkali kali agar Izza semakin mengerti. Meski pada saat proses mendongeng dia selalu ikut menyuguhkan cerita versinya sendiri dan beberapa kali menyela untuk bertanya atau berpendapat. It’s okay, ya, yang penting Izza paham dengan jalan cerita yang saya berikan dan mau berinteraksi saat proses mendongeng.

3.9.18

Game Level #10: Membangun Karakter Anak Melalui Dongeng - Day 1

Dongeng tentang sikat gigi
Dongeng tentang sikat gigi
Alhamdulillah sampai juga di tantangan level 10, meski sempat absen di level 9 karena melahirkan dan masih dalam proses pemulihan. Semoga level 10 ini bisa terselesaikan dengan baik meski cukup terlambat untuk memulainya. Geme level 10 dengan tema membangun karakter anak lewat dongeng ini cukup menarik bagi saya yang tidak begitu suka bercerita tapi Izza sangat imaginatif dengan apapun yang dilihatnya. Setelah adiknya lahir ini, Izza semakin aktif dan luar biasa perkembangannya termasuk perkembangan kosa kata yang cukup bertambah. Sudah bisa diajak komunikasi dua arah, bahkan bisa bernego dan sesekali usil jika ditanya. Untuk mendongeng, sebenarnya Izza lebih suka dengan ayahnya karena lebih menguasai peran, jadi untuk level kali ini saya akan dibantu suami untuk mendongeng pada Izza. Sebenarnya belum ada tujuan ingin membentuk karakter seperti apa pada Izza, jadi sekiranya hanya tahap pengenalan dan berharap akan bisa mengenalkan nilai-nilai positif secara untuk kehidupan sehari-hari.