11.7.18

Game Level #8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini - Day 7

Tak dapat dipungkiri, anak akan mencontoh segala tindakan orang tuanya. Ini sudah bisa saya rasakan sejak Izza mulai aktif penasaran dan kreatif dengan segala tindakannya. Gaya bicaranya, gayanya saat ngambek bahkan marah persis dengan saya. Bukan hanya sifat, tingkah laku pun demikian. Malu pada diri sendiri. Soal uang dan tabungan, selain tabungan di bank, di rumah hanya ada tabungan uang koin dalam 4 toples dan tidak punya tabungan lainnya. Hal yang biasanya saya lakukan adalah membiarkan uang koin tercecer dimana-mana, entah itu di meja TV, di meja makan, di rak buku, di kursi tamu, atau bahkan di tempat mainan Izza. Semuanya akan saya bereskan saat saya ingin melakukannya, jika tidak ya terbiarkan tercecer begitu saja. Hal ini pun dicontoh oleh Izza, saat dia melihat uang tercecer ya dibiarkan saja, tidak akan dipungut untuk dibereskan. Atau jika ingin membeli sesuatu maka mengambil uang di dalam toples padahal judulnya tabungan, ya, tapi tetap diambil untuk sekadar beli jajan. Izza pun demikian, saat ingin es krim dan say abilang habis, maka dia akan mengambil toples koin dan meminta saya mengambil uang atau kadang menunjuk tas dan dompet saya.

Oleh itu, teladan harus dimulai dari orang tua, hari ini saya mengajak Izza untuk berkeliling rumah mencari uang koin dan kertas yang tercecer sembarangan. Dimulai dari ruang tamu, kamar, rak buku, meja TV bahkan tempat sholat dan di samping kompor ditemukan beberapa uang koin yang jika dijumlah bisa buat beli beberapa es krim favorit Izza. Tanpa komando berulang, dia paham bahwa yang sedang dicarinya adalah uang. Saya bilang padanya “Kalau ada uang dimasukkan ke dalam toples ini ya. Oke?” Izza pun menjawab “Oke!” sambil dua jarinya membentuk lambang oke. Saya pun menyediakan satu toples kosong lagi untuk mengumpulkan uang hasil beres-beres dengan Izza hari ini.

Kami pun menghitung uang tersebut bersama, sesekali saya mengenalkan pecahan uang tanpa diikuti kata “ribu”. Jadi seperti ini, uang dua ribu yang berwarna abu-abu akan saya katakan pada Izza “uang dua”, uang sepuluh ribu berwarna ungu disebut “uang sepuluh”. Dan sepertinya Izza bingung, hehe. It’s okay! Setelah kegiatan mengumpulkan dan menghitung uang selesai, saya beberapa kali sounding ke Izza kalau ada uang dimasukkan ke dalam toples ini. Letak toples sengaja tidak terlalu tinggi agak dia bisa menjangkaunya.

Sekarang yang jadi PR adalah tidak membelanjakan uang yang sudah terkumpul tersebut. Agak sulit bagi saya yang sering menggunakan uang di toples untuk belanja kebutuhan dapur atau jajan secara mendadak. Suami juga sering meletakkan beberapa pecahan uang besar dalam toples tersebut, jadi pasti terpakai saat dibutuhkan sewaktu-waktu. Harusnya memang fungsi tabungan jangka pendek seperti itu, ya? Tabungan jangka pendek sekali, hehe. Akhirnya saya dan suami sepakat untuk membuat satu tabungan toples lagi khusus Izza, yang tidak boleh diutak-atik agar Izza lebih paham makna menabung. Untuk urusan rumah tangga dan kebutuhan mendadak lainnya dipisah.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar Anda ^^