10.7.18

Game Level #8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini - Day 4

Hari ke empat mengenalkan cerdas finansial pada Izza yang baru berusia 24 bulan lebih beberapa hari. Tidak pernah ada harapan muluk agar Izza pintas mengelola uang diusianya yang baru batita, yang penting dia tahu bentuk fisik uang koin dan kertas, tidak dibuang, dicoret, atau dimakan. Alhamdulillah sejauh ini dia sudah bisa membedakan mana uang kertas dan kertas biasa atau mana uang koin asli dan mainan. Yang belum bisa dia hindarkan adalah menggambar pada uang, karena memang dasarnya Izza suka menggambar. Izza pun sudah mengerti konsep berbagi, jika sedang memegang uang maka akan diberikan pada saya dan ayahnya. Dalam beberapa hari ini saya lebih menekankan pada proses transaksi jual beli menggunakan uang sebelum mengenalkan konsep menabung. Karena fungsi uang pada dasarnya memang untuk bertransaksi, bertukar dengan barang yang dia inginkan agar saya juga bisa memberi pemahaman tentang konsep kebutuhan dan keinginan dalam skala kecil dan sederhana.

Jadi untuk beberapa hari ini, saya selalu melibatkan Izza pada setiap proses jual beli yang kami lakukan, contohnya saat embeli beberapa barang di minimarket dekat rumah. Sembari saya membeli kebutuhan rumah, saya meminta Izza untuk mengambil satu jenis jajan yang dia inginkan.Dengan nada yang menekan, saya berkata pada Izza:
“Kakak mau jajan? Ambil satu ya”
“Satu!” katanya sambil mengacungkan jari telunjuknya dan melihat saya.
“Iya, ambil satu saja!”

Izza pun memutari rak di dalam minimarket lalu mengambil setoples astor. Ya benar, dia mengambil satu jenis jajan yang lumayan besar, hehe. Sebenarnya ini kebiasaan Izza yang sudah sering dia lakukan saat nego dengan saya. Jika saya berkata “satu saja” atau “ini yang terakhir” saat mengambil makanan, benar dia akan mengambil satu dan yang terakhir tapi bisa segenggam bukan satu biji. Sudah mulai kreatif dan banyak akal, dia tidak mau rugi seperti bundanya, hehe. Saat membayar pun saya serahkan uang pada Izza dan dia menerima kembalian, saya yakin dia belum paham arti uang kembalian.

Saya jadi ingat beberapa hari lalu mengajak Izza ke salah satu department store untuk membeli celana kerja ayahnya. Dia asyik menyusuri etalase hingga berkahir di konter bagian anak. Ada berbagai macam mainan dan boneka yang dijejer rapi mulai dari yang kecil hingga besar. Sesekali Izza berseru gembira sambil menyebutkan nama-nama mainan dan boneka yang dilewatinya. Langkahnya berhenti di etalase boneka yang ukurannya agak besar, ada gajah, beruang, jerapah, monyet, dan masih banyak jenis lainnya. Etalase ini menjadi ajang belajar baginya, menyebut nama hewan dalam bahasa Indonesia dan English. Dia pun mengambil satu boneka jerapah kemudia meletakkannya lalu megambil boneka lainnya. Begitu seterusnya. Saya pun terpaksa duduk diantara dua etalase untuk memberinya pilihan satu boneka yang boleh dibeli. Tetap dengan nada menekan saya berkata “Satu ya!” Izza pun mengulang “Bu, satu!”. Dengan raut wajah yang senang dia mengambil boneka beruang berbaju merah. Saya pun meyakinkan dia perihal pilihannya itu, memberikan berbagai macam opsi hingga jawabannya konsisten “Bear!”. Sip! Izza paham bahwa dia hanya boleh membeli satu boneka.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar Anda ^^