14.7.18

Game Level #8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini - Day 10

Hari terakhir melakukan tantangan, saya ingin memberikan contoh pada Izza tentang membelanjakan uang tabungan yang sudah terkumpul. Sejauh ini dia sudah paham tentang transaksi jual beli, yaitu dia harus menyerahkan uang untuk mendapatkan suatu barang. Beberapa kali juga sudah dipraktekkan perihal meredam keinginan saat belanja. Dan selama ini yang dia tahu adalah membayar menggunakan uang ayah atau bundanya. Malam ini kami ke minimarket dan sebelumnya saat di rumah saya mengatakan padanya bahwa kami akan membeli diapers dan Izza bisa membeli satu benda dengan uang yang ada di toples. Saya pun mengeluarkan uangnya di toples untuk dimasukkan ke dalam tas miliknya.
“Izza mau beli apa?”
“Ecim (baca: es krim)”
“Mau es krim rasa coklat atau strawberry?”
“Cikat (baca: coklat)
“Oke! Beli es krimnya satu aja ya?”
“Dua, Bu!”
“No! Uangnya gak cukup kalau beli dua, satu aja ya!”
“No! Dua, bu!”
Jika sudah berkaitan dengan es krim dan nego seperti ini, Izza memang susah untuk mengalah. Akan terjadi perdebatan dan nego yang sengit antara saya dan dia dalam mempertahankan pendapat masing-masing. hingga akhirnya Izza mengalah dan pasrah. Sebenarnya bukan saya mau mengalah, tapi sistem nego seperti ini saya jadikan sebagai media belajarnya konsisten dengan apa yang dia inginkan. Berarti dia paham bahwa dia sedang menginginkan sesuatu.

Game Level #8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini - Day 9

Tabungan Izza semakin banyak
Tabungan Izza semakin banyak
Masih berkutat dengan celengan toples barunya, begitulah Izza, jika punya sesuatu yang baru akan dia cintai sepenuh hati. Dia akan sangat antusias sampai akhirnya bosan dengan sendirinya. Dari analisa saya selama dua hari ini, konsep tabungan yang dipahami oleh Izza adalah, jika ada uang maka disimpan di dalam toples. Tapi sepertinya dia juga berpikir lebih jauh yaitu celengan toples digunakan untuk menyimpan benda yang dia suka karena beberapa benda pun ikut masuk ke dalamnya, hehe. Saya pun memberikan pemahaman lebih lanjut bahwa toples tersebut hanya untuk menyimpan uang agar uangnya tidak tercecer dan hilang. Alhasil setiap dia melihat uang akan dimasukkan ke dalam toples barunya. Seperti halnya saat saya melipat baju-baju hasil cucian ternyata nemu beberapa lembar uang, Izza pun langsung berseru “Buuu, wang!” Saya pun berkata padanya “Uangnya disimpan, ya. Celengannya mana?” Izza pun berlari keluar kamar untuk mengambil celengannya dan memasukkan uang satu per satu. Dari sini pun dia berlatih fokus untuk melipat dan memasukkan uang kertas ke dalam toples dengan benar.

11.7.18

Game Level #8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini - Day 8

Celengan toples sederhana milik Izza
Celengan toples sederhana milik Izza
Hari ini pun saya membuat satu tabungan toples khusus Izza, celengan dari toples plastik bening bekas jajan astor. Harusnya celengan plastik dengan berbagai karakter ya agar lebih menarik perhatian Izza, sayangnya suami sedang sibuk di kantor jadi belum sempat beli. Saya pun hanya bisa keluar rumah dengan akses suami, akhirnya menggunakan benda bekas pakai yang ada di rumah. Kreatif itu perlu yang penting konsep dan esensinya tidak hilang, hehe. Untungnya, bentuk toples yang agak besar tinggi dan bening, jadi mudah untuk membuat lubang celengan dan bisa dibuka tutup. Setelah saya bersihkan dan membuat lubang kecil di bagian tutupnya, saya mengambil beberapa uang yang ada di dalam toples lainnya lalu dihambur di lantai. Saya memberikan satu contoh memasukkan uang koin dan kertas secara bergantian lalu meminta Izza mengulanginya. Voila! Izza senang dan bisa anteng memasukkan uang ke dalam celengan barunya. 

Game Level #8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini - Day 7

Tak dapat dipungkiri, anak akan mencontoh segala tindakan orang tuanya. Ini sudah bisa saya rasakan sejak Izza mulai aktif penasaran dan kreatif dengan segala tindakannya. Gaya bicaranya, gayanya saat ngambek bahkan marah persis dengan saya. Bukan hanya sifat, tingkah laku pun demikian. Malu pada diri sendiri. Soal uang dan tabungan, selain tabungan di bank, di rumah hanya ada tabungan uang koin dalam 4 toples dan tidak punya tabungan lainnya. Hal yang biasanya saya lakukan adalah membiarkan uang koin tercecer dimana-mana, entah itu di meja TV, di meja makan, di rak buku, di kursi tamu, atau bahkan di tempat mainan Izza. Semuanya akan saya bereskan saat saya ingin melakukannya, jika tidak ya terbiarkan tercecer begitu saja. Hal ini pun dicontoh oleh Izza, saat dia melihat uang tercecer ya dibiarkan saja, tidak akan dipungut untuk dibereskan. Atau jika ingin membeli sesuatu maka mengambil uang di dalam toples padahal judulnya tabungan, ya, tapi tetap diambil untuk sekadar beli jajan. Izza pun demikian, saat ingin es krim dan say abilang habis, maka dia akan mengambil toples koin dan meminta saya mengambil uang atau kadang menunjuk tas dan dompet saya.

Oleh itu, teladan harus dimulai dari orang tua, hari ini saya mengajak Izza untuk berkeliling rumah mencari uang koin dan kertas yang tercecer sembarangan. Dimulai dari ruang tamu, kamar, rak buku, meja TV bahkan tempat sholat dan di samping kompor ditemukan beberapa uang koin yang jika dijumlah bisa buat beli beberapa es krim favorit Izza. Tanpa komando berulang, dia paham bahwa yang sedang dicarinya adalah uang. Saya bilang padanya “Kalau ada uang dimasukkan ke dalam toples ini ya. Oke?” Izza pun menjawab “Oke!” sambil dua jarinya membentuk lambang oke. Saya pun menyediakan satu toples kosong lagi untuk mengumpulkan uang hasil beres-beres dengan Izza hari ini.

10.7.18

Game Level #8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini - Day 6

Mengumpulkan uang koin
Mengumpulkan uang koin
Setelah membaca buku tentang menabung yang ternyata belum berhasil membuat Izza paham konsep menabung, maka hari ini saya mengeluarkan seluruh celengan toples yang berisi berbagai macam uang koin. Niatnya untuk mengajari Izza bahwa uang yang tercecer itu harus dikumpulkan dan disimpan dengan baik, karena dua hari terakhir ini dia suka membuang benda yang sudah terkumpul rapi. Contohnya karet rambut yang sudah terkumpul dalam plastik dihambur lagi, puzzle yang sudah tersusun rapi dihambur, bola dalam toples dituang ke penjuru rumah. Dia mungkin sedang usil, tapi masalahnya dia tidak mau ikut membantu membereskan semua mainan tersebut, padahal biasanya Izza paling suka membereskan mainan. Endingnya kemarin malam dia menemukan dompet ayahnya tergeletak dan semua isinya dikeluarkan. Jadi harus mengulang lagi memahamkan Izza bahwa barang yang sudah tersusun rapi tidak boleh dihambur lagi. Ya, sounding seperti ini tidak bisa hanya sekali dua kali, harus berpuluh puluh kali untuk membuatnya benar-benar mengerti.

Game Level #8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini - Day 5

Membaca buku "Aku Suka Menabung"
Membaca buku "Aku Suka Menabung"
Mengenalkan konsep jual beli menggunakan uang saya rasa sudah cukup untuknya, pada dasarnya, dia sudah paham transaksi secara sederhana. Jika ingin membeli barang di toko (Izza sudah paham tentang toko) maka dia akan mengambil barang yang dia inginkan dan membayar dulu. Tentang harga barang, uang kembalian, atau nominal pecahan uang belum paham. Saya agak ragu untuk mengenalkan pecahan uang, karena Izza belum bisa berbicara dengan lancar untuk menyebutkan bilangan uang. Jadi ditangguhkan dulu asal dia bisa membedakan uang dengan kertas lainnya. sembari tetap mengajak Izza dalam segala proses jual beli, kali ini saya ingin mengenalkan konsep menabung. Hmm, menabung dan menyimpan uang bisa dibilang dua hal yang berbeda, ya. Untuk menyimpan uang, Izza sudah paham. Dia akan menyimpan uangnya di dalam dompet atau toples yang saya sediakan agar tidak tercecer dan bisa diambil lagi jika perlu. Saya anggap berbeda, ya, karena menabung adalah menyimpan dan mengumpulkan uang dalam jangka waktu tertentu.

Game Level #8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini - Day 4

Hari ke empat mengenalkan cerdas finansial pada Izza yang baru berusia 24 bulan lebih beberapa hari. Tidak pernah ada harapan muluk agar Izza pintas mengelola uang diusianya yang baru batita, yang penting dia tahu bentuk fisik uang koin dan kertas, tidak dibuang, dicoret, atau dimakan. Alhamdulillah sejauh ini dia sudah bisa membedakan mana uang kertas dan kertas biasa atau mana uang koin asli dan mainan. Yang belum bisa dia hindarkan adalah menggambar pada uang, karena memang dasarnya Izza suka menggambar. Izza pun sudah mengerti konsep berbagi, jika sedang memegang uang maka akan diberikan pada saya dan ayahnya. Dalam beberapa hari ini saya lebih menekankan pada proses transaksi jual beli menggunakan uang sebelum mengenalkan konsep menabung. Karena fungsi uang pada dasarnya memang untuk bertransaksi, bertukar dengan barang yang dia inginkan agar saya juga bisa memberi pemahaman tentang konsep kebutuhan dan keinginan dalam skala kecil dan sederhana.

Jadi untuk beberapa hari ini, saya selalu melibatkan Izza pada setiap proses jual beli yang kami lakukan, contohnya saat embeli beberapa barang di minimarket dekat rumah. Sembari saya membeli kebutuhan rumah, saya meminta Izza untuk mengambil satu jenis jajan yang dia inginkan.Dengan nada yang menekan, saya berkata pada Izza:
“Kakak mau jajan? Ambil satu ya”
“Satu!” katanya sambil mengacungkan jari telunjuknya dan melihat saya.
“Iya, ambil satu saja!”

8.7.18

Game Level #8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini - Day 3

Malam ini (rabu malam) ada pasar kaget di komplek perumahan sebelah dan kami memang biasanya rutin kesana untuk belanja sayur dan jadwal Izza naik odong-odong. Jika pada hari-hari sebelumnya, yang kami lalukan adalah, Izza dan ayahnya naik odong-odong sedangkan saya berkelana belanja sayur dan ikan. Saat semua beres maka kami langsung pulang ke rumah, biasanya hanya membutuhkan waktu setengah jam saja saat di pasar kaget. Hal yang berbeda kami lakukan malam ini, yaitu mengajak Izza bertransaksi jual beli membeli beberapa lembar poster huruf abjad dan hijaiyah, poster hewan dan buah-buahan. Tanpa kami duga, Izza sangat antusias saat melihat banyak sekali buku yang bersampul gambar-gambar yang biasa dia lihat dari youtube. Ada banyak sekali karakter yang dikenalnya dan dia pun berseru “Tayoooooo... Buuuu, Tayooooo”, tak lupa dia mencari perhatian ayahnya untuk seraya dengan segera ingin mengambil buku cerita yang bersampul karakter Tayo. Mumpung saat itu pembeli hanya kami, maka saya memanfaatkan momen untuk bernegosiasi dengan Izza dan melihat bagaimana dia merespon.

Ayahnya mengambil buku bersampul karakter hello Kitty dan berkata “Ini aja ya? Hello Kitty warna pink”, Izza pun sesaat terlihat ragu, sesekali memegang buku Hello Kitty dan melihat ke arah buku bersampul Tayo. Lalu dia pun menjawab “Ayaahhh, Nooo! Tayooooo!” dengan muka judes dia menolak buku Hello Kotty dari ayahnya dan merengek minta buku Tayo. Beberapa kali diulang dengan memberikan dia pilihan karakter lain tapi dia tetap menjawab Tayo dengan judesnya, hehe. Bukannya saya tidak mau membelikan, hanya saja buku cerita tersebut kertasnya tipis dan lebih cocok untuk anak balita, jadi saya memberi alternatif lain, untung ketemu puzzle Tayo dan Izza pun mengiyakan dengan cepat dan tegas. Puzzle Tayo sudah ada ditangan dan tidak boleh dilepas. Saat itulah saya memberi pengertian bahwa barang tersebut belum dibayar dan harus punya uang, jadi dia merelakan puzzle Tayo dipegang oleh penjualnya.

7.7.18

Game Level #8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini - Day 2

Mengenalkan Izza pda uang logam dan kertas asli yang sebelumnya memang sudah dia kenal baik, hanya saja saya belum mengenalkan pecahan uang. Seperti tujuan awal, saya berharap Izza tidak membuang, memakan, atau mencoret uang. Sampai saat ini hal yang belum bisa dia hilangkan adalah mencoret uang jika sudah memegang crayon atau pensil warna. Cukup membutuhkan sounding yang ekstra karena pada dasarnya Izza senang menggambar apa saja dan dimana saja. Mengenalkan uang koin dimulai dengan menghitung uang tersebut, membedakan mana yang besar dan kecil, lalu belajar menggambar lingkaran seperti uang koin yang dia pegang. Awalnya Izza senang sekali karena ada banyak koin yang saya kumpulkan untuk dihitung apalagi jika menghitung menggunakan bahasa Inggris, dia akan sangat senang sekali dan tanpa ragu untuk terus mengulang berhitung.

Mengenal uang koin
Mengenal uang koin

Game Level #8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini - Day 1

Mengenalkan uang mainan pada Izza
Mengenalkan uang mainan pada Izza
Saat ini umur Izza 24 bulan lebih beberapa hari. Officially 2 tahun dan lepas nenen alias ASI. Sudah banyak perkembangan pesat tentang tumbuh kembangnya, rasa tahu yang luar biasa besar, dan mulai cerewet. Soal konsep uang, sebenarnya Izza sudah tahu sejak lama kalau barang tersebut bernama uang, hanya saja konsep lebih rincinya belum saya terapkan. Saya cuma memberi tahu bahwa benda tersebut adalah uang dan saat membeli sesutau harus dengan uang. Untuk anak seusia Izza, saya tidak berharap banyak hal apalagi mengerti pecahan uang. Goals saya dalam mengenalkan uang pada Izza untuk saat ini cukup sederhana yaitu, dia paham kalau benda tersebut bernama uang, dia tidak membuang atau merobek uang kertas, atau tidak memakan uang logam. Lebih jauhnya Izza mengerti bahwa membeli sesuatu harus dengan uang, dan berbagi uang dengan orang lain. Banyak juga, ya? Hehe. Tapi insyaallah sederhana ya dan cocok untuk usianya.