28.5.18

Game Level #7: Semua Anak Adalah Bintang - Day 7

Hari ini tanpa sengaja saya membongkar sluruh isi ardus di dalam gudang, padahal niat awal hanya mengambil kardus yang berisi naju bayi milik Izza dulu. Ternyata beberapa barang ada di dalam kardus yang terpisah, otomatis saya bongkar semua dan menata ulang. Izza kemana? Tentu saja ikut ‘membantu’ proses bongkar muat barang-barang dalam kardus. Izza senang jika dirinya ikut berpartisipasi dalam kegiatan yang menguras aktivitas fisik dan sibuk bertanya “Apa icu?” atas semua barang yang membuatnya penasaran. Izza benar-benar membantu, loh? Dia sudah bisa dimintai tolong untuk mengambil kertas dan pulpen yang ada di rak bukunya. Bahkan saya memintannya untuk menyingkirkan kardus kosong menjauh agar tudak menghalangi jalan. Good job, kakak! Hal lain yang dilakukan Izza adalah ikut memberi label pada kardus. Isi dalam kardus tersebut saya catat pada selembar kertas dan ditempelkan di atasnya. Izza sangat excited sekali saat ikut menulis meski dia hanya menggambar secara abstrak. Momen seperti ini selalu saya manfaatkan untuk mengajari Izza kosa kata baru atau memperjelas artikulasinya saat bicara.

Izza pun ikut andil menggunting selotip dan menempelkan kertas pada kardus. Rempong, ya? Memang, bekerja dengan satu batita yang maunya selalu ikut andil memang repot, membuat pekerjaan semakin lama atau kadang harus saya ulang. Tapi saya selalu mencoba untuk berpikir bahwa dengan Izza ikut andil saat saya bekerja bisa dianggap juga dia latihan menjalani aktivitas kehidupan secara nyata. Dalam teori montessori yang saya dapat ada yang namanya EPL atau Excercise of Practical Life, yaitu anak diajarkan menggunakan alat-alat dalam kehidupan nyata seperti menuang, menggunting, menempel. Nah, saya selalu anggap apa yang Izza lakukan saat saya bekerja sama saja dengan kurikulum EPL dalam montessori. Semoga saya tidak salah tangkap atas pengertian EPL.

Evaluasinya: Izza senang dan terlihat berbinar jika diikutsertakan dalam kegiatan sehari-hari. Keterampilan fisiknya berbicara dengan sangat fasih, menulis dan mencoret adalah salah satunya. Sayangnya, satu kelemahan Izza yang dapat saya analisa adalah, dia belum bisa mengukur sampai sejauh mana harus aktif. Meskipun matanya terlihat sayup mengantuk, dia akan terus memaksa tubuhnya untuk aktif jika tidak saya paksa untuk berhenti.

Malam selepas tarawih, Izza bermain brick plastik dengan ayahnya, membuat menara, menghitung, dan menyebutkan warna. Saat dia sudah menguap beberapa kali saya jak tiduran dan bersholawat, menyanyi berbagai macam lag terutama lagu asmaul husna yang gerakannya sedang dia hafalkan. Oh iya, saya tidak pernah meminta Izza untuk menghafal lagu dan gerakannya, ya. Semua atas inisiatif Izza sendiri, saat saya mengajaknya menyanyi maka dia yang akan memilih lagunya dengan cara menyebutkan lirik dan gerakan lagu tersebut. Jadi saya yang mengikuti permintaan Izza dengan arahan tentunya. Mungkin malam ini sedang tidak mood menyanyi, jadi asal-asalan seperti video di bawah ini:



No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar Anda ^^