27.5.18

Game Level #7: Semua Anak Adalah Bintang - Day 6


Qodarullah, hari ini saya tidak enak badan. Kepala terasa sangat berat dan pening, mungkin efek begadang semalam dan bangun sahur jadi mungkin kurang tidur. Setelah rutinitas pagi dan menemani Izza sarapan, saya pasrahkan semua kegiatan Izza hari ini pada ayahnya. Bahkan untuk menjemur cucian baju pun dibantu suami. Sembari saya istirahat sebentar di kamar, saya bilang ke suami kalau bisa ajak Izza menggambar atau menyanyi sesuai dengan tantangan yang saya lakukan setiap hari. Dari kamar sih terdengar mereka berdua sedang asyik menggambar dan menulis. Terdengar Izza dan ayahnya melafalkan alfabet, angka, bahkan huruf hijaiyah. Alhamdulillah, Izza terdengar semangat sekali bahkan sesekali berteriak dengan gaya khasnya. Kemudian sepertinya saya tertidur jadi tidak tahu kegiatan apa lagi yang mereka lakukan.

Saya terbangun dan keluar dari kamar, jeengggg jeeeenggggg, sekujur tubuh hingga wajah Izza penuh dengan coretan pulpen. Ada yang berupa gambar kucing, singa, bentuk lingkaran, bahkan angka satu sampai sepuluh. Tanpa pikir panjang dengan perasaan kesal sekali, saya membawa Izza ke kamar mandi untuk membersihkan coretan-coretan tersebut. Ya, saya masih tidak suka dengan hal kotor semacam itu apalagi coretannya banyak sekali. Jika coretan hanya sedikit mungkin bisa dimaklumi. Kemudian saya sedikit menyesal, harusnya Izza difoto dulu untuk dokumentasi hasil karya dia bersama ayahnya, hehe. Tapi faktanya saya yang ngomel-ngomel ke suami karena membiarkan Izza mencoret-coret tubuhnya. Dan kilah suami adalah: tidak masalah, kreatif, kok!

Oh ya, harusnya hari ini jadwal bongkar baju-baju bayi jaman Izza dulu ntuk disortir dan dicuci, sayangnya kondisi saya tidak begitu prima jadi diurungkan dulu. Jadi setelah Izza makan siang, kami bertiga tidur berjamaah, saya pun tidur lagi, hehe, dan akhirnya bangun untuk menyiapkan masak buka puasa. Hari ini juga gagal mendokumentasikan Izza menyanyikan lagu asmaul husna beserta gerakannya, tapi lagu tersebut kami nyanyikan beberapa kali saat Izza mapan tidur. Ditambah lagi, saya mengenalkan lagu baru yaitu “Wahidun satu”. Sesuai ekspetasi saya, Izza mendengarkan dengan seksama dan meminta saya untuk mengulang lagu tersebut beberapa kali barulah dia mengikuti irama lagu dan gerakan yang saya contohnya. Begitulah cara Izza belajar, butuh presentasi terlebih dulu dan dia akan mengamati untuk kemudian ditirukan.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar Anda ^^