31.5.18

Game Level #7: Semua Anak Adalah Bintang - Day 10

Hari ini perhatian Izza buyar saat saya tinggal masak, dia tidak mau tidur siang jadilah ikut saya sambil lari-larian di dapur. Meskipun sudah saya sediakan beberapa macam mainan, ternyata alat dapur masih menjadi primadona daripada mainan lainnya. Dia paling suka mengambil parutan keju, sendok sayur, dan pisau. Izza mulai saya kenalkan dengan pisau mainan miliknya, ternyata dia bisa mengenali pisau asli tanpa saya kenalkan. Beberapa kali dia berhasil mengambil dua buah pisau sekaligus lalu menunjukkan pada saya sambil berkata “Buuu, icauuuw” jika saya lalai tidak mengunci dan mengambil kunci laci. Awalnya saya sering langsung marah karena takut dia terluka, tapi sekarang saat Izza mengambil pisau, saya memintanya untuk mengembalikan ke tempat asalanya. Sambil memberi tahu jika tidak hati-hati nanti bisa sakit karena pisau itu tajam. Meski Izza belum paham arti tajam, tapi dia sudah paham arti sakit dan dia pun bisa mengembalikan pisau ke tempat asalnya. Salah satu cara saya mengajarkan tanggung jawab.

Akhirnya saya biarkan dia bermain dengan panci, alat penggorengan, dan yang lainnya agar saya bisa masak. Kadang dia masih menghampiri saya untuk menunjukkan aksinya memukul panci dengan sendok. Setelah masak beres, barulah Izza tidur, hehe. Sorenya, dia bermain dengan ayahnya yang kebetulan pulang lebih cepat dari biasanya. Mereka bersosialisasi ke tetangga dekat rumah dan baru kembali sebelum maghrib. Setelah semua urusan buka puasa suami dan makan malam Izza beres, barulah saya ajak Izza untuk bersinar lagi. Waktunya menyanyi! Ada satu lagu yang sedang dia sukai yaitu “Wakhidun Satu”, jadi sejak sore hingga mau mapan tidur lagu itu yang dia presentasikan seperti sedang menghafal liriknya. Perhatikan dua video di bawah ini yang diambil selepas maghrib hingga malam ini yang kebetulan Izza baru saja tidur.

30.5.18

Game Level #7: Semua Anak Adalah Bintang - Day 9

Kegiatan hari ini inginnya saya buat fokus menggambar dan menyanyi seperti pada hari pertama tantangan. Untuk pagi hari, saya sudah membuat konsep untuk menggambar ‘shapes’ dengan cara menjiplak karena Izza sedang sedang menjiplak segala bentuk dengan pensil warna. Konsep kedua yaitu menulis dalam batasan gambar yang dibuat dalam bentuk ‘shapes’ tadi. Awalnya Izza mengikuti dengan tekun menjiplak bentuk lingkaran dan segitiga, meski awalnya dia enggan untuk menggambar secara langsung dan selalu meminta saya untuk menggambarkannya. Dia mengikuti beberapa arahan saya untuk menjiplak bentuk lingkaran dan segitiga dan akhirnya menyerah karena lebih memilih memainkan puzzle. Ya, kami menjiplak gambar dari bentuk puzzle yang ada. Akhirnya saya arahkan pada konsep yang kedua yaitu menulis dalam batasan. Maksudnya, dia hanya boleh menulis atau mencoret dan menggambar di dalam bentuk, tidak boleh di luar garis. Hmm... sepertinya Izza belum paham betul, meski awalnya dia bisa mencoret di dalam garis, pada akhirnya kertas di luar garis pun ikut dicoret-coret.

29.5.18

Game Level #7: Semua Anak Adalah Bintang - Day 8

Libur kejepit yang Alhamdulillah membawa berkah, apalagi ditambah cuaca mendung sedari pagi diteruskan hujan hingga sore sukses membuat saya malas gerak. Izza yang bangun sedari subuh langsung ‘mengganggu’ ayahnya yang sedang bekerja di ruang tamu, sedangkan saya lanjut tidur, hehe. Sesuai kesepakatan dengan suami, saat hari libur, Izza ada ditangan ayahnya kecuali saat makan dan tidur. Jadilah saya hanya handle saat di jam makan dan tidur saja, selebihnya saya bisa ‘me time’ yang lebih sering saya isi dengan beres-beres rumah. Setelah sarapan pagi, Izza ‘membantu’ ayahnya membuat pereman telur dari kardus bekas yang diberi lampu kuning. Ya, ayam kate kami sudah bertelur total 4 biji sedangkan induknya enggan mengeraminya. Izza dan ayahnya sibuk berdialog di teras rumah, lebih tepatnya bisa dibilang sang ayah terus komplen pada Izza yang mau ikut andil, hehe. Sedangkan saya asyik mendengarkan celoteh mereka dari belakang sambil cuci baju.

Aktivitas seperti inilah yang selalu saya nantikan, Izza dan ayahnya ‘akur’ dan saling berdialog. Karena secara otomatis akan menambah kosakata dan wawasan Izza. Sengaja saya tidak memberikan pensil dan kertas, biarlah hari ini menjadi hari bebas Izza untuk brekreasi. Sampai pukul 11 siang akhirnya Izza mengalah dan mencari saya untuk kemudian mapan tidur. Yang akhirnya kami bertiga tidur berjamaah. Sorenya, setelah Izza makan siang, kami siap-siap untuk buka puasa di luar rumah untuk kali pertama. Hari merdeka bagi saya karena tidak masak, hehe. Dulu, saat Izza berusia sekitar 18 bulan, dia masih takut jika berada di keramaian, sekarang, usia 23 bulan, Alhamdulillah Izza sudah tidak takut lagi malah sebaliknya. Izza mulai senang berkenalan dengan orang lain meski awalnya seperti malu, tapi mau juga diajak komunikasi.

28.5.18

Game Level #7: Semua Anak Adalah Bintang - Day 7

Hari ini tanpa sengaja saya membongkar sluruh isi ardus di dalam gudang, padahal niat awal hanya mengambil kardus yang berisi naju bayi milik Izza dulu. Ternyata beberapa barang ada di dalam kardus yang terpisah, otomatis saya bongkar semua dan menata ulang. Izza kemana? Tentu saja ikut ‘membantu’ proses bongkar muat barang-barang dalam kardus. Izza senang jika dirinya ikut berpartisipasi dalam kegiatan yang menguras aktivitas fisik dan sibuk bertanya “Apa icu?” atas semua barang yang membuatnya penasaran. Izza benar-benar membantu, loh? Dia sudah bisa dimintai tolong untuk mengambil kertas dan pulpen yang ada di rak bukunya. Bahkan saya memintannya untuk menyingkirkan kardus kosong menjauh agar tudak menghalangi jalan. Good job, kakak! Hal lain yang dilakukan Izza adalah ikut memberi label pada kardus. Isi dalam kardus tersebut saya catat pada selembar kertas dan ditempelkan di atasnya. Izza sangat excited sekali saat ikut menulis meski dia hanya menggambar secara abstrak. Momen seperti ini selalu saya manfaatkan untuk mengajari Izza kosa kata baru atau memperjelas artikulasinya saat bicara.

Izza pun ikut andil menggunting selotip dan menempelkan kertas pada kardus. Rempong, ya? Memang, bekerja dengan satu batita yang maunya selalu ikut andil memang repot, membuat pekerjaan semakin lama atau kadang harus saya ulang. Tapi saya selalu mencoba untuk berpikir bahwa dengan Izza ikut andil saat saya bekerja bisa dianggap juga dia latihan menjalani aktivitas kehidupan secara nyata. Dalam teori montessori yang saya dapat ada yang namanya EPL atau Excercise of Practical Life, yaitu anak diajarkan menggunakan alat-alat dalam kehidupan nyata seperti menuang, menggunting, menempel. Nah, saya selalu anggap apa yang Izza lakukan saat saya bekerja sama saja dengan kurikulum EPL dalam montessori. Semoga saya tidak salah tangkap atas pengertian EPL.

27.5.18

Game Level #7: Semua Anak Adalah Bintang - Day 6


Qodarullah, hari ini saya tidak enak badan. Kepala terasa sangat berat dan pening, mungkin efek begadang semalam dan bangun sahur jadi mungkin kurang tidur. Setelah rutinitas pagi dan menemani Izza sarapan, saya pasrahkan semua kegiatan Izza hari ini pada ayahnya. Bahkan untuk menjemur cucian baju pun dibantu suami. Sembari saya istirahat sebentar di kamar, saya bilang ke suami kalau bisa ajak Izza menggambar atau menyanyi sesuai dengan tantangan yang saya lakukan setiap hari. Dari kamar sih terdengar mereka berdua sedang asyik menggambar dan menulis. Terdengar Izza dan ayahnya melafalkan alfabet, angka, bahkan huruf hijaiyah. Alhamdulillah, Izza terdengar semangat sekali bahkan sesekali berteriak dengan gaya khasnya. Kemudian sepertinya saya tertidur jadi tidak tahu kegiatan apa lagi yang mereka lakukan.

Saya terbangun dan keluar dari kamar, jeengggg jeeeenggggg, sekujur tubuh hingga wajah Izza penuh dengan coretan pulpen. Ada yang berupa gambar kucing, singa, bentuk lingkaran, bahkan angka satu sampai sepuluh. Tanpa pikir panjang dengan perasaan kesal sekali, saya membawa Izza ke kamar mandi untuk membersihkan coretan-coretan tersebut. Ya, saya masih tidak suka dengan hal kotor semacam itu apalagi coretannya banyak sekali. Jika coretan hanya sedikit mungkin bisa dimaklumi. Kemudian saya sedikit menyesal, harusnya Izza difoto dulu untuk dokumentasi hasil karya dia bersama ayahnya, hehe. Tapi faktanya saya yang ngomel-ngomel ke suami karena membiarkan Izza mencoret-coret tubuhnya. Dan kilah suami adalah: tidak masalah, kreatif, kok!

26.5.18

Game Level #7: Semua Anak Adalah Bintang - Day 5

Hari ini, kami berkegiatan di luar dari pagi hingga sore, jadi tidak ada agenda khusus untuk menggambar atau menyanyi, hanya saja sempat menyanyi saat di mobil dan menjelang tidur. Pagi hari, Izza dan ayahnya langsung menyerbu 2 ayam peliharaan yang baru dibeli 2 minggu lalu setelah menyerah pada kelinci dan memberikannya pada tetangga. Setelah itu kami pergi ke pasar yang menjadi agenda rutin setiap sabtu untuk membeli stok ikan dan lauk selama seminggu. Agenda ke pasar ini wajib kami lakukan karena Izza lumayan takut jika masuk ke pasar terutama bagian ayam atau daging. Ini menjadi salah satu terapi untuknya agar terbiasa dengan pasar dan merupakan terapi bagi saya juga yang sebetulnya enggan pergi ke pasar karena kotor. Tentu saja, agenda ke pasar bukan menjadi kegiatan yang membuat saya dan Izza berbinar, tapi hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja karena pasar adalah salah satu bagian penting bagi kami.

Setelah dari pasar, mandi dan sarapan, kami berangkat ke supermarket, hehe, untuk membeli kebutuhan bulanan lainnya dan persiapan lebaran, mumpung diskon, ya kan? Nah, saat di supermarket, Izza terlihat cukup berbinar, dia bisa lari kesana kemari, mengambil ini itu, mencoba ini itu, bahkan tidak takut jika berada di area daging atau ikan. Sama halnya dengan saya, senang jika belanja di supermarket, hehe. Barang yang tida kami beli di supermarket adalah daging dan ikan, selebihnya disini. Selama perjalanan ke supermarket, Izza terlihat senang sekali, karena dia memang senang jika keluar rumah. Izza menyanyi berbagai macam lagu, menunjuk setiap truk dan mobil yang lewat, bertanya “apa itu” terus menerus. Alhamdulillah Izza mulai cerewet, selalu penasaran dengan ini itu dan dia sangar berbinar sekali jika sedang penasaran.

25.5.18

Game Level #7: Semua Anak Adalah Bintang - Day 4

Hari ini saya sudah membuat konsep bermain dengan Izza menggunakan potongan kertas yang membentuk beberapa “shapes” yang dulu pernah dimainkan. Maunya saya, kami menggambar mengikuti pola dari shapes tersebut sambil menyebutkan warna-warna dalam bahasa Indonesia dan English. Sayangnya, Izza bukan tipe anak yang bisa dipaksa bermain sesuai kemauan bundanya, dia hanya akan bermain yang menarik perhatiannya. Setelah rutinitas pagi selesai, saya mengeluarkan potongan shapes tersebut, tapi tidak digubris oleh Izza. Dia hanya mengamati sebentar dan menyebutkan nama bentuk tersebut lalu manrik tangan saya menuju rak tempat menyimpan puzzle. Dengan bahasanya yang masih belum jelas, Izza meminta saya untuk mengambil puzzle angka dan bentuk sambil memeragakan dan berusaha mengucapkan “round and round”. Ah, ternyata Izza minta puzzle yang ada angka dan bentuk. Okelah, tidak masalah, yang penting Izza tetap bermain dan belajar pagi ini.

Izza lebih pilih puzzle daripada menggambar
Izza lebih pilih puzzle daripada menggambar

24.5.18

Game Level #7: Semua Anak Adalah Bintang - Day 3

Hari ketiga tantangan dengan kondisi Izza yang Alhamdulillah membaik. Kabar baiknya, Izza tidak perlu rawat inap dengan syarat dia tidak kekurangan cairan alias tidak dehidrasi. Hari ini makan dan minum lumayan lah meski sempat muntah sekali setelah sarapan. Jadi hari ini masih dalam suasana memaksa Izza agar istirahat total, karena kalau tidak dipaksa dia bisa naik turun kasur atau sudah lari keluar rumah. Alhasil pintu dan pagar tralis pintu saya kunci lalu menyediakan sekotak pensil warna beserta bukunya. Meskipun awalnya Izza membawa kotak bola, koleksi ikan dan alat pancing, tapi harus saya simpan lagi agar tubuhnya tidak terlalu banyak bergerak. Berbekal pensil warna dan beberapa lembar kertas lalu mengajak dia untuk menggambar singa dan beruang, maka Izza sudah bisa duduk manis. Sayangnya tidak berlangsung lama karena tiba-tiba dia minta mapan tidur, mungkin efek obat ya jadi dia sudah ngantuk.

Alhadulillah hujan turun di siang hari, tidurnya jadi nyenyak hingga jam 1 lebih dia baru bangun untuk makan siang. Setelah itu saya mikir lagi kegiatan apa yang tidak membuat dia bosan meski dilakukan di atas kasur. Pilihan kembali ke pensil warna dan kertas. Kali ini dia meminta saya untuk menggambar jari-jari tangan hingga kakinya di atas kertas, jadi seperti menjiplak. Tanpa komando, tiba-tiba Izza menyanyikan lagu anak yang berjudul “Daddy Finger” yang akhir-akhir ini memang sedang menjadi favoritnya. Nah, kalau begini saya galau lagi, dari menyanyi dan menggambar rasanya itu kegiatan yang tidak bisa dipisahkan bagi Izza.

23.5.18

Game Level #7: Semua Anak Adalah Bintang - Day 2

Sebenarnya beberapa hari ini menjadi hari yang mendebarkan untuk saya dan suami, karena kondisi Izza yang sedang kurat sehat, demam naik turun. Setelah demam 4 hari kami berkunjung ke dokter lalu demamnya hilang dan kemarin muncul lagi. Akhirnya kami memutuskan untuk cek lab darah dan hasilnya tadi pagi positif tipes, tubex positif 6. Subhanallah. Melihat Izza yang lemah lunglai tapi dia sendiri masih ingin bermain membuat saya tidak tega. Jadi hari ini, mau tidak mau saya memaksanya untuk istirahat total. Setelah sarapan pagi, dia masih sempat bermain sebentar dengan saya dan dia sendiri yang meminta saya untuk menggambar singa kesukaannya. Jadi pagi ini diisi dengan kegiatan gambar saja yang Alhamdulillah membuat dia sedikit bersemangat dan tertawa terbahak melihat gambar saya yang cukup amburadul. 

tiga gambar hewan yang menakutkan, bukan? tapi gambar-gambar ini bisa membuat Izza senang sekali, lho

22.5.18

Game Level #7: Semua Anak Adalah Bintang - Day 1

Materi level 7 ini seakan menampar saya yang beberapa minggu lalu baru saja terus menerus mengeluh soal Izza yang belum bisa berbicara lancar seperti teman seusianya, atau tidak mau anteng seperti anak tetangga sebelah. Saya sempat kesal dengan segala macam ulah Izza yang ada saja yang membuat saya harus berkali kali membereskan rumah karena hampir penjuru rumah selalu berantakan. Tak jarang mengeluh pada suami atas ulah Izza yang membuat badan remuk redam (lebay, deh) alias capek. Mungkin karena hamil sudah di trimester tiga jadi tenaga saya juga tidak se-energik dulu, gampang capek, yang berujung gampang emosi. Padahal harusnya saya bersyukur ya kalau Izza sedang aktif-aktifnya dan penuh rasa penasaran yang artinya Izza dalam kondisi sehat dan tumbuh kembangnya normal. Harusnya, sih, ya, kadang emosi mengalahkan segalanya.

Materi level ini punya andil besar dalam mengubah persepsi saya tentang bakat dan talenta Izza, pun kilas balik tentang materi cara belajar Izza yang cenderung kinestetik, jadi wajar saja jika dia punya tenaga luar biasa untuk bergerak. Jika diamati, ada 3 hal yang membuat Izza berbinar saat melakukannya yaitu menyanyi, menggambar, dan bergerak. Dari ketiganya, yang paling membuat dia berbinar dan terlihat sangat bahagia adalah bergerak aktif. Mungkin karena dia memang tipe anak kinestetik, jadi semua hal yang dia pelajari diinterpretasikan dengan gerak tubuh. Contohnya, menyanyi pasti sambil menari, bicara sambil menggerakkan tubuh, bermain secara aktif, berhitung sambil menggerakkan jari, dan lainnya. Hanya saja, untuk level ini saya tidak akan mengevaluasi tentang keterampilan fisiknya karena izza sedang dalam kondisi yang kurang sehat, tumbuh gigi secara bersamaan jadi banyak rewelnya. Oleh itu saya akan memilih antara menyanyi (sambil menari tentunya) dan menggambar (bisa juga menulis atau sekadar mencorat coret).