6.2.18

Game Level #4: Memahami Gaya Belajar Anak - Day 6

Kemarin malam, tiba-tiba Izza batuk dan hidungnya meler. Saya sih curiga ketularan ayahnya yang sedang batuk pilek juga karena Izza tidak minum es atau makan sesuatu yang aneh. Alhasil sepanjang malam rewel hingga pagi tadi, maunya nempel ke bunda. Saat saya masak untuk makan siang pun dia terus nempel, mungkin kepalanya pusing. Jadi jam 9 pagi dia sudah minta mapan untuk tidur dan nenen. Eh, benar saja, tak lama kemudian Izza tidur. Sayangnya, tidurnya tidak cukup pulas karena terganggu oleh batuk dan hidung yang sepertina tersumbat dahak. Jadi beberapa kali terbangun mencari saya untuk minta ditemani lagi. Hal ini terjadi berulang kali hingga akhirnya dia benar-benar lelap jam setengah 11 siang. Dan terbangun satu jam kemudian saat adzan dzuhur. Izza masih sedikit manja dan maunya dipeluk, akhirnya mengeluarkan senjata yaitu TV sekalian makan siang.

Setelah makan siang, Izza rupanya hanya ingin bermalas-malasan di kasur sambil memainkan boneka tangannya. Okelah, saya tidak akan memaksa Izza untuk aktivitas lainnya karena sedang batuk pilek, kesempatan buat saya juga agar bisa istirahat. Menemaninya bermain sambil berbaring, jarang-jarang, hehe. Izza punya 3 boneka tangan dan 10 boneka jari, sayangnya boneka jari tercecer entah dimana. Izza meminta saya untuk memasukkan salah satu boneka tangan yang berupa kucing ke tangannya dan satu boneka lain ke tangan saya. Kemudian dia seolah-olah sedang bermain peran, boneka kucing yang ada ditangannya diajak salim atau berjabat tangan dengan boneka di tangan saya, hehe. Izza seperti meminta saya untuk bercerita dan dia yang memeragakannya. Kadang boneka tangan tersebut diajak menulis, membaca, dan ikut menyanyi serata menari. Ini kegiatan sederhana tapi favorit Izza meski tidak bertahan lama, hehe, jika dia melihat hal lain yang lebih menarik maka bonekanya akan diletakkan begitu saja.

Dari aktivitas bermain peran dengan boneka tangan dapat disimpulkan bahwa gaya belajar Izza itu kinestetik, dengan ciri yang terlihat: belajar dengan praktek, bicara pelan. Soal bicara pelan sebenarnya saya masih ragu karena Izza belum bisa dengan lancar baru satu kata saja, tapi dari pengamatan saya memang cara bicaranya itu hati-hati sekali. Setelah itu dia bermian seperti biasanya sendiri karena saya ngantuk. Mungkin beberapa kali saya terlelap dan Izza asyik bermain dengan buku, pensil, dan boneka. Maafkan bunda ya, Za.

Izza belajar sholat
Izza belajar sholat
Malam hari saat ayahnya pulang mereka belajar mengaji Iqra dari buku yang telah dibelikan oleh ayahnya. Sayangnya Izza lebih tertarik dengan buku ngaji milik saya dan mengaji dengan bahasanya sendiri. Selepas ayahnya sholat Isya’, tiba-tiba Izza membawa sajadah dari kamar ke ruang tengah tanpa komando apapun. Saya dan suami hanya duduk memerhatikan tingkahnya yang beraksi seperti sedang sholat. Izza berdiri di atas sajadah, melakukan takbir dan menaruh kedua tangan di dadanya. Hal yang membuat saya dan suami tertawa adalah saat mulut Izza bergerak maju mundur seolah sedang membaca doa. Masyaa Allah, barokah terus ya sayang, tanpa komando dan inisiatifnya sendiri praktek sholat di hadapan kami. Sudah pasti kinestetik, kan? Cirinya jelas: dia mengingat, belajar, dan praktek dari apa yang dia lihat. Padahal kami tidak pernah secara khusus mengajarinya gerakan sholat, tapi dia selalu ada di samping kami saat sedang sholat. Hari yang luar biasa untuk hari ini.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar Anda ^^