4.2.18

Game Level #4: Memahami Gaya Belajar Anak - Day 4

Kami baru sampai Palangkaraya sabtu tengah malam dan ternyata Izza malah tidak ingin tidur melainkan ingin bermain dulu. Akibatnya, dia bangun agak siang di hari minggu, saya dan suami pun cukup kelelahan sehingga tidak banyak aktivitas yang kami lakukan hari ini. Kami lebih banyak menghabiskan waktu membaca buku dan menulis, kemudian nonton TV lalu tidur sepanjang siang. Saya pun menjadi bingung, mau menulis laporan pengamatan yang seperti apa, sedangkan Izza hanya membaca bukunya atau sesekali ‘menyiksa’ ayahnya. Saat membaca buku, seperti biasanya, Izza lebih teratik untuk menirukan gerakan yang ada di buku daripada mengikuti saya membaca. Kadang mau mengikuti beberapa kata jika terlihat menarik baginya. Hari ini, Izza membaca dengan electronic pen dan secara tidak sengaja menunjuk gambar sepeda, saat e-pen berbunyi ‘kringg-kriingg’ seperti suara sepeda, Izza malah membuat gerakan lucu dengan pundak dan kedua tangannya. Lalu terus mengulangnya hingga beberapa kali yang banyak sekali. Rupanya Izza suka dengan suara sepeda yang keluar dari e-pen dan wajahnya tampak tertawa riang. Bunda senang.

Sedangkan gerakan ‘menyiksa’ yang saya maksud adalah naik ke punggung ayah dan meminta ayahnya menjadi kuda atau dengan sengaja berdiri di atas perut ayahnya lalu meloncat-loncat. Memaksa ayahnya untuk mengikutinya menyanyi dan menari, jika ayahnya diam maka otomatis Izza akan menarik baju atau tangan ayahnya atau bahkkan menjambak rambut agar mau mengikutinya. Ekstrem, ya? Iya, tapi kami tidak akan melarangnya, melainkan terusn sounding jika gerakan atau aktivitas tersebut tidak sopan jika dilakukan. Dari aktivitas membaca dan ‘menyiksa’ ini terlihat bahwa Izza itu anak yang aktif dan ekspresif entah bagaimana dia mengekspresikannya. Akan selalu ada tingkahnya yang membuat saya dan suami terus bergerak mengikutinya. Salah satu ciri gaya belajar kinestetik.


Izza bisa makan sendiri
Izza bisa makan sendiri
Selepas maghrib, suami mengajak kami makan di restoran cepat saji yang saat ini menjadi favorit Izza dan bisa menjadi senjata saat dia mogok makan. Sebelumnya, sorenya Izza sudah makan, saya suapi soto ayam tapi hanya berhasil masuk beberapa suapan, itupun harus adu otot dan penuh paksaan. Saat di resto tersebut, saya mencoba untuk menyuapinya lagi, tangan saya ditepis, piring direbut olehnya. MasyaAllah, Izza makan dengan sendirinya nasi dan ayam yang ada di piring. Saya membantu untuk memotong ayam dengan tangan karena masih panas dan memisahkan nasi yang menggumpal. Alhamdulillah, tanpa banyak kata Izza berhasil makan sendiri dan cukup lahap. Mungkin jika Izza sudah bisa bicara dia akan berkata “Izza sudah besar, Bunda, Izza bisa makan sendiri”, saya trenyuh. Selama ini saya terlalu fokus bagaimana caranya Izza makan banyak dan saya suapi, harusnya lebih peka bahwa Izza juga sudah punya emosi dan punya mood yang berubah-ubah.

Saat saya berusaha membantu lagi memotong ayam, tangan saya ditepis olehnya dan dia berkata “Noo, Noo!” sambil menggoyangkan jari telunjukkan di hadapan saya. Oke. Lalu dia sendiri yang mengambil ayam dengan jarinya sedikit demi sedikit lalu memasukkan ke mulutnya. Izza cepat belajar dari apa yang dia lihat, padahal hanya dua kali saya membantu mengambil ayam ternyata dia meniru dengan sempurna. Saat ingin minum pun, dia menunjuk sedotan yang ada di gelas suami, dan baru mau minum saat sudah ada sedotan. Itulah Izza, lebih banyak menirukan apa yang dia lihat daripada apa yang dia dengar. Itulah ciri bahwa gaya belajar Izza adalah visual-kinestetik. Sampai hari ini, hasil pengamatan saya masih bekum berubah, Izza masih bertahan dengan gaya belajar visual dan kinestetik, tapi saya masih belum yakin pasti mana yang lebih unggul antara keduanya.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar Anda ^^