3.2.18

Game Level #4: Memahami Gaya Belajar Anak - Day 3

Memberi makan kelinci
Memberi makan kelinci

Hari ini kami masih di Banjarbaru dengan agenda berkunjung ke sebuah taman bermain yang ada di sini untuk melihat kelinci. Itu yang saya janjikan ke Izza, kita akan melihat kelinci, jadi setiap dia mogok melakukan sesuatu seperti mogok makan atau enggan untuk mandi maka saya bilang akan melihat kelinci. Perjalanan cukup jauh hingga akhirnya sampai saat kondisi cuaca sedikit panas, saya pun agak enggan untuk turun dari mobil, hehe. Singkat cerita, sudah sampai di taman kelinci, tidak begitu luas tapi ada cukup banyak kelinci yang ada di kandang dan berkeliaran di sekitar. Awalnya Izza takut dan minta gendong karena beberapa kelinci cukup agresif untuk mendekati kami. Saya pun membujuk Izza sambil memberikan contoh untuk member makan kelinci-kelinci tersebut.


Alhamdulillah, hanya dengan satu kali contoh saja Izza minta turun dari gendongan dan meminta makanan kelinci tersebut, lalu melemparkan di dekan kelinci. Untuk sebuah informasi, makanan yang kami beli dari petugas jaga itu bukan wortel, melainkan makanan khusus kelinci dalam bentuk kapsul kecil-kecil. Tanpa instruksi lebih lanjut, Izza berlari kesana kemari mengeksplor beberapa kandang kelinci dan memberikan makanannya. Kadang menarik tangan saya dan ayahnya untuk mengajak melihat dan member makan kelinci bersama. Sesekali Izza berlari pada kami seperti orang ketakutan saat beberapa kelinci mendekati kakinya secara bersamaan. Tapi hal tersebut tidak membuat Izza kapok, dia seperti tidak punya rasa capek untuk memberi makan kelinci. Saat cuaca semakin panas akhirnya kami memutuskan untuk keluar dari taman kelinci dan menuju tempat refleksi ikan.

Saat menuju tempat refleksi ikan, kami berpapasan dengan rombongan anak TK yang akan masuk ke taman kelinci juga. Otomatis Izza berlari ke arah mereka dan bergabung dengan sembarang anak yang dia temui. Tanpa rasa takut, Izza melihat dan berusaha menggandeng anak-anak tersebut. Itulah Izza, tidak ada takut dengan anak yang kira-kira seusianya atau lebih tua tapi tidak mau dengan orang dewasa. Akhirnya suami menggendong paksa Izza menuju tempat refleksi ikan karena hari semakin panas. Meski meronta, Izza terdiam melihat sekumpulan ikan kecil di dalam kolam yang begitu banyak sambil berteriak “Itaaaa (read: ikan)”. Suami saya yang melakukan refleksi ikan dan saya menggoda Izza sambil berkata dengan nada mengeluh “Lohh, Za, kakinya ayah digigit ikan. Haduh.” Izza pun terlihat panik dan mendekat ke ayahnya sambil berkata “No, no, no. Ayaahhhh, No!” kami pun tertawa. Tapi akhirnya bisa dialihkan dengan beberapa camilan yang saya bawa.

Dari kegiatan siang ini, saya kembali menarik kesimpulan bahwa gaya belajar Izza adalah visual-kinestetik, dengan ciri-ciri yang masih sama dengan 2 hari sebelumnya, yaitu: mengingat dengan melihat lalu mempraktekkannya tanpa banyak kata. Dari 3 hari ini saya kecenderungan gaya belajar Izza itu visual dan kinestetik mungkin yang membuat Izza tampak begitu aktif dan ingin terus bergerak. It’s okay, selama dia bergerak secara positif.

1 comment:

  1. Alhamdulillah anaknya visual kinestetik, sama kayak anak saya

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar Anda ^^