10.2.18

Game Level #4: Memahami Gaya Belajar Anak - Day 10

Izza bermain dengan temannya
Hari ini kami bertolak ke Lamongan untuk tujuan mudik yang sesungguhnya. Saya tinggal di Lamongan satu minggu selama suami diklat ke Banjarmasin. Saat suami kembali saya juga ikut ke Surabaya lagi, jadi sama-sama punya waktu untuk keluarga yang impas. Seperti biasanya, Izza lebih banyak tidur selama perjalanan tadi dan baru bangun saat masuk ke pasar Lamongan guna mampir beli gado-gado. Siang hari sesaat dzuhur, kami sampai di rumah nenek saya yang alias buyutnya Izza. Sambutan super ramai dari para tetangga yang ikut masuk ke rumah membuat Izza enggan turun dari gendongan saya. Satu per satu tetangga berdatangn untuk melihat Izza, tentu saja Izza semakin tidak ingin lepas dari pelukan saya. Mungkin dia kaget dengan suasana ramai di kampung halaman bundanya, biasanya sepi cuma bertiga di rumah.

9.2.18

Game Level #4: Memahami Gaya Belajar Anak - Day 9

Pagi-pagi sekali hari ini kami bertiga, saya, suami, dan Izza, berangkat ke bandara untuk pulang sejenak ke Jawa. Aslinya sih karena suami ada diklat satu minggu di Banjarmasin dan saya tidak bisa ikut karena harus tinggal di udiklat dan suami tidak rela meninggalkan istrinya di rumah sendiri hehe. Maklum, kemana pun dinasnya saya selalu ikut jika lebih dari 3 hari. Mungkin karena saya sedang hamil dan sedikit rewel jadi suami lebih memilih untuk membawa pulang kami semua. Hari ini adalah penerbangan Izza yang kesekian kalinya, karena Izza termasuk sering wara wiri dengan pesawat sejak bayi, terakhir kira-kira 4 bulan lalu. Yang membuat sedikit deg-degan karena Izza semakin mengerti, sudah bisa meminta dan menolak dengan jelas, sudah bisa marah dan merajuk, dan masih belum terbiasa dengan keramaian yang terlalu padat. Penerbangan sebelumnya Izza santai sekali bahkan banyak tingkah hingga mau bermain dengan orang yang duduk di sebelah saya atau mau menyapa orang-orang yang dilaluinya. Kali ini tidak, Izza lebih memilih kondisi nyamannya dia, yaitu didekap dalam gendongan saya tidak mau dengan ayahnya. Kalaupun turun dari gendongan tidak mau jauh-jauh dari saya.

Saat di ruang tunggu saya sengaja memberikan dia bekal makanan yang sudah disiapkan dari rumah. Alhamdulillah Izza tidak mau duduk anteng, hehe. Dia berjalan kesana kemari menghampiri anak-anak kecil yang dilihatnya. Itulah Izza, asal ada anak-anak pasti senang dan supel sekali. Izza dengan sangat ramah mengajak jabat tangan, memegang jilbab, atau menunjuk gambar kartu yang ada di baju mereka. Saat dihampiri orang dewasa, larilah Izza ke pelukan saya. Ada yang bilang kalau Izza penakut, tapi saya bilang itu bentuk pertahanan dirinya, tidak mau dengan orang yang tak dikenalnya. Di dalam pesawat, Izza kepo seperti biasanya. Membuka nutup meja lipat di depannya dan jendela yang ada di samping, mengambil semua majalah yang ada di kursi depan bahkan bermain dengan pelampung bayi yang baru saja diberikan oleh pramugari. Saat lepas landas Izza minta nyusu hingga akhirnya tidur sampai sesaat sebelum landing, Alhamdulillah, hehe.

8.2.18

Game Level #4: Memahami Gaya Belajar Anak - Day 8

Izza bantu packing
Izza bantu packing
Hari ini jadwalnya packing, karena besok akan mudik ke Jawa untuk kira-kira dua minggu. Ada banyak sekali yang harus dipersiapkan terutama barang Izza yang harus disiapkan dengan benar mulai dari buku yang tidak boleh tertinggal, boneka, obat-obatan khusus, dan sebagainya. Saya dengan sengaja mengajak Izza untuk urun membantu saat packing dan tidak memberikan dia mainan agar bisa fokus dengan packing. Benar saja, Izza dengan sungguh-sungguh sekali ikut membantu saya dalam beres-beres, ada yang benar membantu, ada yang malah membuat saya kerja dobel, hehe. Izza mau mengambilkan ini itu untuk diserahkan ke saya, merapikan ini itu, dan sesekali saya minta untuk membuang sampah ke tempat sampah di belakang.

7.2.18

Game Level #4: Memahami Gaya Belajar Anak - Day 7

Izza belajar menggunting
Izza belajar menggunting
Hari ini masih sama dengan kemarin kondisinya, Izza masih batuk pilek ditambah cuaca sendu sedari pagi hingga sore. izza sepertinya bosan dengan aktivitas membaca buku, karena buku dan e-epn hanya digunakan sebentar saja tidak seperti biasanya. Saat pagi, kegiatan hampir sama setiap hari, setelah dia sarapan akan ikut ‘membantu’ saya urusan domestik seperti beres-beres alat makan, menjemur cucian atau membereskan ruang tamu yang berantakan dengan mainannya. Setelah itu kalau dia tidak ngantuk biasanya akan saya temani bermain, hari ini jam 9 pagi dia sudah minta mapan, sama seperti kemarin. Tapi sayangnya, saya ikut bablas ketiduran hingga jam 11 siang dan berujung tidak masak untuk makan siang suami dan Izza. Akhirnya minta tolong suami pulang lebih awal untuk membeli makan siang, hehe.

6.2.18

Game Level #4: Memahami Gaya Belajar Anak - Day 6

Kemarin malam, tiba-tiba Izza batuk dan hidungnya meler. Saya sih curiga ketularan ayahnya yang sedang batuk pilek juga karena Izza tidak minum es atau makan sesuatu yang aneh. Alhasil sepanjang malam rewel hingga pagi tadi, maunya nempel ke bunda. Saat saya masak untuk makan siang pun dia terus nempel, mungkin kepalanya pusing. Jadi jam 9 pagi dia sudah minta mapan untuk tidur dan nenen. Eh, benar saja, tak lama kemudian Izza tidur. Sayangnya, tidurnya tidak cukup pulas karena terganggu oleh batuk dan hidung yang sepertina tersumbat dahak. Jadi beberapa kali terbangun mencari saya untuk minta ditemani lagi. Hal ini terjadi berulang kali hingga akhirnya dia benar-benar lelap jam setengah 11 siang. Dan terbangun satu jam kemudian saat adzan dzuhur. Izza masih sedikit manja dan maunya dipeluk, akhirnya mengeluarkan senjata yaitu TV sekalian makan siang.

Setelah makan siang, Izza rupanya hanya ingin bermalas-malasan di kasur sambil memainkan boneka tangannya. Okelah, saya tidak akan memaksa Izza untuk aktivitas lainnya karena sedang batuk pilek, kesempatan buat saya juga agar bisa istirahat. Menemaninya bermain sambil berbaring, jarang-jarang, hehe. Izza punya 3 boneka tangan dan 10 boneka jari, sayangnya boneka jari tercecer entah dimana. Izza meminta saya untuk memasukkan salah satu boneka tangan yang berupa kucing ke tangannya dan satu boneka lain ke tangan saya. Kemudian dia seolah-olah sedang bermain peran, boneka kucing yang ada ditangannya diajak salim atau berjabat tangan dengan boneka di tangan saya, hehe. Izza seperti meminta saya untuk bercerita dan dia yang memeragakannya. Kadang boneka tangan tersebut diajak menulis, membaca, dan ikut menyanyi serata menari. Ini kegiatan sederhana tapi favorit Izza meski tidak bertahan lama, hehe, jika dia melihat hal lain yang lebih menarik maka bonekanya akan diletakkan begitu saja.

5.2.18

Game Level #4: Memahami Gaya Belajar Anak - Day 5

Seharian ini, Izza membantu saya untuk beres-beres karena baru menyempatkan beres-beres selepas pulang dari Banjarmasin. Izza bantu beres-beres dengan sungguh-sungguh. Jika saya meminta tolong untuk mengambilkan atau mengembalikan sesuatu dengan semangat dia melakukannya. Ikut melipat baju ala kadarnya, membantu membuang sampah plastik dan tissue ke tempat sampat di belakang dan menaruh cucian baju kotor ke ember. Senengnya punya anak aktif, bisa diminta tolong ini itu, hehe. Dari semua perintah yang saya katakan ke Izza, Alhamdulillah dia paham sepenuhnya, bisa mengambil barang yang saya minta, bisa memasukkan bajunya ke lemari, membuang sampah, hingga mengambilkan saya botol minum yang ada di atas meja. Dari aktivitas ini saya mengambil kesimpulan sementara, bahwa gaya belajar Izza auditori-kinestetik karena dia berhal memahami perkataan saya.

Setelah semua pekerjaan rumah beres, saya menemani Izza mendengarkan lagu anak-anak dari HP (tanpa video) sambil istirahat. Izza merajuk ke pelukan saya dan ikut berbaring sambil mengikuti irama lagu. Kali ini saya bermaksud untuk ngetes kemampuan Izza mengingat irama musik yang pernah dia lihat dan dengarkan. Ada satu lagu dari youtube Omar dan Hana yang berjudul “Sayang Mama Papa”, sedikit irama intro lalu Izza bersenandung “Lalalala... Lalalala...” persis seperti irama asli dari lagu. Lagu kedua lagu “Alif Ba Ta”, Izza mengangguk-anggukkan kepala lalu bernyanyi agak keras “..... Taaak...” setelah Alif dan Ba dinyanyikan. Alhadulillah Izza hafal. Lagu selanjutnya “Naik Kereta Api”, dimulai dengan irama pembuka dan Izza berkata “Cuuuu... cuuuu... ” sama persis dengan lagu yang dia dengarkan. Saling menyahut lagu ini berlangsung sampai beberapa lagu.

4.2.18

Game Level #4: Memahami Gaya Belajar Anak - Day 4

Kami baru sampai Palangkaraya sabtu tengah malam dan ternyata Izza malah tidak ingin tidur melainkan ingin bermain dulu. Akibatnya, dia bangun agak siang di hari minggu, saya dan suami pun cukup kelelahan sehingga tidak banyak aktivitas yang kami lakukan hari ini. Kami lebih banyak menghabiskan waktu membaca buku dan menulis, kemudian nonton TV lalu tidur sepanjang siang. Saya pun menjadi bingung, mau menulis laporan pengamatan yang seperti apa, sedangkan Izza hanya membaca bukunya atau sesekali ‘menyiksa’ ayahnya. Saat membaca buku, seperti biasanya, Izza lebih teratik untuk menirukan gerakan yang ada di buku daripada mengikuti saya membaca. Kadang mau mengikuti beberapa kata jika terlihat menarik baginya. Hari ini, Izza membaca dengan electronic pen dan secara tidak sengaja menunjuk gambar sepeda, saat e-pen berbunyi ‘kringg-kriingg’ seperti suara sepeda, Izza malah membuat gerakan lucu dengan pundak dan kedua tangannya. Lalu terus mengulangnya hingga beberapa kali yang banyak sekali. Rupanya Izza suka dengan suara sepeda yang keluar dari e-pen dan wajahnya tampak tertawa riang. Bunda senang.

Sedangkan gerakan ‘menyiksa’ yang saya maksud adalah naik ke punggung ayah dan meminta ayahnya menjadi kuda atau dengan sengaja berdiri di atas perut ayahnya lalu meloncat-loncat. Memaksa ayahnya untuk mengikutinya menyanyi dan menari, jika ayahnya diam maka otomatis Izza akan menarik baju atau tangan ayahnya atau bahkkan menjambak rambut agar mau mengikutinya. Ekstrem, ya? Iya, tapi kami tidak akan melarangnya, melainkan terusn sounding jika gerakan atau aktivitas tersebut tidak sopan jika dilakukan. Dari aktivitas membaca dan ‘menyiksa’ ini terlihat bahwa Izza itu anak yang aktif dan ekspresif entah bagaimana dia mengekspresikannya. Akan selalu ada tingkahnya yang membuat saya dan suami terus bergerak mengikutinya. Salah satu ciri gaya belajar kinestetik.

3.2.18

Game Level #4: Memahami Gaya Belajar Anak - Day 3

Memberi makan kelinci
Memberi makan kelinci

Hari ini kami masih di Banjarbaru dengan agenda berkunjung ke sebuah taman bermain yang ada di sini untuk melihat kelinci. Itu yang saya janjikan ke Izza, kita akan melihat kelinci, jadi setiap dia mogok melakukan sesuatu seperti mogok makan atau enggan untuk mandi maka saya bilang akan melihat kelinci. Perjalanan cukup jauh hingga akhirnya sampai saat kondisi cuaca sedikit panas, saya pun agak enggan untuk turun dari mobil, hehe. Singkat cerita, sudah sampai di taman kelinci, tidak begitu luas tapi ada cukup banyak kelinci yang ada di kandang dan berkeliaran di sekitar. Awalnya Izza takut dan minta gendong karena beberapa kelinci cukup agresif untuk mendekati kami. Saya pun membujuk Izza sambil memberikan contoh untuk member makan kelinci-kelinci tersebut.

2.2.18

Game Level #4: Memahami Gaya Belajar Anak - Day 2

Hari kedua tantangan level 4 ini kami lakukan di kota lain. Subuh tadi suami harus mendadak pergi ke Banjarbaru untuk rapat dan seperti biasanya jika agenda rapat suami ada di penghujung weekday alias memasuki waktu akhir pekan, maka saya dan Izza akan ikut. Berangkat pagi-pagi sekali dari rumah tanpa driver jadi hanya kami bertiga, sepanjang jalan Alhamdulillah Izza anteng seperti biasanya. Di awal-awal perjalanan saja dia terlihat aktif meskipun harus bangun tidur secara paksa karena mendengar lagu anak-anak dari dalam mobil. Izza sempat bergoyang seperti biasanya, menggerakkan tangan sesuai dengan irama lagu. Mungkin karena kondisi jalan yang bergelombang akhirnya dia menyandarkan kepala di badan saya dan berujung minta nenen. Setelah beberapa saat akhirnya dia tertidur hingga masuk Kabupaten Kapuas. Sampai di sini saya belum melakukan pengamatan gaya belajar Izza, karena aktivitas yang dia lakukan pun masih terbatas di dalam mobil. Dan rasanya tidak akan adil jika melakukan pengamatan saat Izza tidur atau hanya mendengar lagu di mobil. Perjalanan berlanjut setelah kami selesai mampir sarapan hingga tiba di hotel saat sholat Jumat. Setelah istirahat sejenak dan menyuapi makan siang untuk Izza, saya biarkan dia bermain di dalam kamar hotel dengan beberapa peralatan yang terbatas. Sengaja saya hanya membawa satu buku dan tidak membawa mainan lainnya, berharap izza bias mengeksplorasi benda lainnya meski kondisi terbatas.

Benda pertama yang diambil Izza saat bebas di dalam kamar adalah sebuah notebook kecil dan pensil yang disediakan oleh pihak hotel di dalam kamar. Otomatis tangannya meminta tangan saya untuk menulis sesuatu pada kertas tersebut. Setelah dia ikut menulis dan mencoret kertas tersebut, Izza kembali berkeliling kamar hingga akhirnya menemukan sebuah pesawat telepon yang tergeletak di meja. Entah dia tahu dari mana, atau mungkin masih ingat beberapa bulan lalu saya pernah mencontohkan bahwa benda itu adalah telepon, Izza langsung mengambil gagang telepon dan meletakkannya di telinga sambil berkata “Hallooo”. Di rumah kami tidak ada pesawat telepon, menginap di hotel pun sekitar 4 bulan lalu, ternyata Izza masih ingat dan paham bahwa benda tersebut adalah benda yang sama dengan ‘hape’. Saat Izza bermain dengan telepon saya berkata “Dipencet dulu nomernya”, eh Izza langsung dong pencet nomor yang ada di telepon tersebut sambil mulutnya bergumam kadang mengeluarkan kata “Uyooo (read: buyut)” atau “Uya tiiiii (read: eyang uti)”. Hal yang membuat saya heran adalah mimik muka Izza itu seperti orang dewasa saat sedang menelepon, menjiwai sekali dan sungguh-sungguh.

1.2.18

Game Level #4: Memahami Gaya Belajar Anak - Day 1

game level 4 day 1
game level 4 day 1
Alhamdulillah masuk materi dan tangan level 4 memahami gaya belajar anak dan mendampingi dengan benar. Sesuai dengan materi, tiap orang mempunyai 3 macam gaya belajar yaitu auditori, visual, dan kinestetik yang masing-masing orang bisa memiliki salah satu gaya belajar saja atau campuran dari dua gaya. Dari materi yang saya pahami, saya belajar ini harus ditemukan sejak dini, sejak anak masih kecil agar tepat saat pendampingan. Orang tua tidak memaksakan gayanya ke anak, tapi harus menyesuaikan dengan gaya anak. Oleh itu, tantangan level ini, orang tua mengamati gaya belajar anak dan dicocokkan dengan masing-masing cirinya. Sejauh ini, sedikit banyak saya sudah menemukan gaya belajar Izza yaitu kinestetik, tapi saya merasa belum melakukan pendampingan dengan benar. Kadang masih memaksakan apa yang saya mau padanya saat bermain atau belajar. Kadang, saya tidak bisa menerima cara Izza yang saya anggap tidak pas dengan hati saya. Ini salah, oleh itu dengan tantangan ini saya ingin tercipta keharmonisan antara Izza dengan orang tuanya.