27.1.18

Aliran Rasa Melatih Kecerdasan Anak

Aliran Rasa Melatih Kecerdasan Anak
Aliran Rasa Melatih Kecerdasan Anak
Alhamdulillah akhirnya membuat aliran rasa level 3. Awalnya saya tidak yakin akan mengerjakan tantangan level 3 karena pas tantangan dimulai Izza demam tinggi hingga akhirnya harus rawat inap beberapa hari. Dapat beberapa saran agar partner pasangan diganti ke suami saja, tapi kami yang tidak sreg karena tidak punya gambaran sama sekali akan mengerjakan tantangan dengan suami. waktu untuk menulis pun tidak ada, akhirnya saya putuskan untuk mengundur waktu dalam melakukan tantangan. Saya mulai sangat terlambat dan tidak bisa membuat laporan setiap hari meski tantangan dilakukan setiap hari. Jadwal untuk menulis saya gunakan untuk balas dendam tidur dengan lelap. Level ini saya tidak terlalu memaksakan untuk mencapai target menulis tapi saya usahakan bisa setor 10 tantangan.

Di level tiga dalam rangka melatih kecerdasan anak, saya dan suami memilih melatih kecerdasan linguistic atau bahasa pada Izza. Karena kecerdasan tersebut yang perlu dia kuasai terlebih dulu sebelum terjadi speech delay. Saat izza sudah mulai konsisten ngoceh, banyak sekali kata yang tidak kami mengerti. Jeleknya, jika saya dan suami gagal paham atas omongan dan kemauannya, Izza akan throwing tantrum, nangis kenceng bahkan bisa sampai menjatuhkan diri ke lanti dan guling-guling. Bahaya! Oleh itu, saya dan suami sepakat untuk menciptakan komunikasi produktif dengan Izza dengan melatih kecerdasan bahasanya secara intensif. Bukan berarti kami melupakan kecerdasan lainnya. dalam perjalanan melakukan tantangan, kecerdasan lain ikut masuk dan kami kenalkan pada Izza saat melakukan kegiatan atau proyek kecil.

Hal yang kami lakukan untuk level ini adalah membuat proyek kecil setiap harinya, beberapa proyek memang sudah sering kami lakukan. Tapi kami berharap semakin sering melakukan kegiatan yang sama dalam waktu yang berbeda bisa mengasah kemampuan Izza dalam mengingat. Beberapa proyek seperti belajar menulis, membaca dan mendengarkan cerita, sing along, membaca flashcard, serta ada aktivitas fisik seperti memindahkan pompom dengan penjepit, menyelamatkan hewan dalam es batu, serta bersosialisasi. Menurut pengamatan saya selama ini, Izza paling suka aktivitas fisik, jika mempelajari sesuatu akan mudah mengingat gerakannya daripada liriknya, meskipun dia hafal nada dalam suatu musik. Jadi sebisa mungkin dalam tantangan, saya membuatnya bergerak, ada juga yang sengaja membuat dia duduk tenang dan fokus.

♡ Beberapa hal yang bisa kami dapatkan dalam melakukan tantangan level tiga ini adalah:
  • Menciptakan bonding antara Izza dan ayah bundanya, terutama ayahnya yang hanya ketemu saat pagi dan malam. Untuk kegiatan di siang hari saya yang handle, kalau malam bersama ayahnya. Jika tidak lagi melakukan proyek yang sama biasanya ayah Izza akan mengajaknya menulis, membaca, dan mengaji Iqro’. Tantangan ini juga menambah kedekatan saya dan suami, karena mau tidak mau saya akan mengajak suami diskusi tentang proyek yang akan kami kerjakan.
  • Merangsang imajinasi dan kreativitas baik untuk Izza atau saya. Beberapa kali saya merasa takjub dengan Izza karena dia melakukan hal yang tidak saya sangka. Contohnya saat mengeluarkan miniatur hewan dalam es batu, saya memberi contoh dengan cara dipukul sendok. Ternyata dipegang langsung oleh Izza yang es batunya ditarik dengan tangan kosong sesekali dibenturkan ke lantai. Padahal saya tidak memberi contoh dan saya kira dia akan enggan memegang es batu yang dingin. Tantangan ini juga media kreasi saya untuk membuat proyek yang menyenangkan tapi juga sebagai sarana belajar.
  • Menambah rasa ingin tahu Izza. Sampai saat ini Alhamdulillah Izza cukup kepo dengan beberapa hal yang mungkin membuatnya tertarik. Spontan dia akan bertanya pada saya “Apapa? (read: ini apa?)” sambil menunjuk hal tersebut. Dengan begitu saya akan memberikan penjelasan singkat dan memancing Izza agar bertanya lebh banyak lagi meski dengan kata yang belum jelas.
  • Kemampuan berbicara semakin meningkat dan kosakata semakin banyak. Meskipun dengan bahasa yang belum begitu jelas tapi Izza sudah mau berkata jika menginginkan sesuatu. Dari sinilah saya belajar untuk memahami bahasanya dan membetulkan dengan kalimat yang benar. Meski lebih sering salah paham jika Izza meminta sesuatu hal yang baru.
  • Melatih kecerdasan lainnya. Tidak dapat dipungkiri, kecerdasan anak tidak bisa dipisah, saat belajar satu kecedasan maka yang lainnya akn ikut masuk. Beberapa kecerdasan yang ikut saya kenalkan dalam proyek ini adalah kecerdasan emosional, spiritual, logical, math, kinestetik, dan adversity intellegence. Meski tidak se-intens linguistic, yang penting Izza paham bahwa hal-hal tersebut juga akan dia pelajari nantinya.

Sebagai kesimpulan, melatih kecerdasan anak berarti melatih orang tua untuk memahami situasi dan kondisi anak. Bukan hanya dituntut untuk menjadi lebih kreatif dan inovatif, tapi juga paham kebutuhan apa yang harus dipenuhi terlebih dulu untuk anak. Sejauh mana harus mengajarkan hal tersebut agar porsinya tidak kurang atau bahkan berlebihan. Menjadi orang tua tekananya memang tinggi, tapi disitulah tantangannya, makanya orang tuda tidak boleh berhenti belajar.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar Anda ^^