27.1.18

Aliran Rasa Melatih Kecerdasan Anak

Aliran Rasa Melatih Kecerdasan Anak
Aliran Rasa Melatih Kecerdasan Anak
Alhamdulillah akhirnya membuat aliran rasa level 3. Awalnya saya tidak yakin akan mengerjakan tantangan level 3 karena pas tantangan dimulai Izza demam tinggi hingga akhirnya harus rawat inap beberapa hari. Dapat beberapa saran agar partner pasangan diganti ke suami saja, tapi kami yang tidak sreg karena tidak punya gambaran sama sekali akan mengerjakan tantangan dengan suami. waktu untuk menulis pun tidak ada, akhirnya saya putuskan untuk mengundur waktu dalam melakukan tantangan. Saya mulai sangat terlambat dan tidak bisa membuat laporan setiap hari meski tantangan dilakukan setiap hari. Jadwal untuk menulis saya gunakan untuk balas dendam tidur dengan lelap. Level ini saya tidak terlalu memaksakan untuk mencapai target menulis tapi saya usahakan bisa setor 10 tantangan.

19.1.18

Game Level #3: Melatih Kecerdasan Anak - Day 10 (Sholat dan Mengaji)

❖ Hari ke – 10 : Belajar Sholat dan Mengaji

Selain mengenalkan bahasa Indonesia dan English, bahasa Arab sekarang juga menjadi bahasa yang penting. Fokus saya sekarang memang dua bahasa, jadi bahasa Arab belajarnya sambil saya belajar juga karena saya pun hanya mengenal istilah umum saja. Kata orang, jika anak diajarkan beberapa bahasa sejak dini akan memperlambat bicara tapi menurut saya selama stimulasi terus dilakukan dengan konsisten Insyaallah anak akan paham pelan-pelan. Saya fokus mengajarkan dua bahasa karena menurut saya penting untuk masa depannya, setidaknya Izza mengerti beberapa istilah umum. Biasanya saya fokus di English, ayahnya bahasa Arab, sedangkan bahasa Indonesia sudah jadi bahasa komunikasi setiap hari. Tidak ada pakasaan dalam pencapaian, asal Izza enjoy saat melakukannya maka akan saya terapkan. Jika dia sudah ‘melengos’ tanda tidak mau akan saya stop.

Mengenal bahasa Inggris lebi mudah dengan musik, bahasa Arab juga, sih. Saat ini sedang mengajarkan lagu angka dalam bahasa Arab (Wahidun Satu) dan beberapa sholawat nabi. Cara lain yang selalu saya terapkan adalah sholat dan mengaji. Sebenarnya saya mengenalkan ibadah sejak Izza sudah bisa duduk tegap dan merangkak, saya selalu mengajak dia saat sholat. Karena di rumah cuma berdua ya lebih aman jika Izza selalu ada di samping saya. Izza mulai tertarik saat berumur satu tahun, kala itu dibelikan mukena budhenya dan selalu minta dikenakan saat sholat. Hingga akhirnya dia bisa menirukan gerakan sholat. Untuk mengaji juga alhamdulillah sudah tertarik, dan dia pun mengerti bahwa mengaji itu harus dengan Al-Quran, jika diberikan buku lain akan menolak. Harapannya, saat dia melihat saya sholat dan mendengar saya ngaji akan terbiasa dengan ayat suci dan bisa menirukannya.

18.1.18

Game Level #3: Melatih Kecerdasan Anak - Day 9 (Bersosialisasi)

♬ Hari ke – 9 : Bersosialisasi

Kebetulan kami pindah ke Palangkaraya sudah ada rumah yang memang development baru, jadi tetangga masih belum penuh dan mayoritas non muslim yang hampir semua punya anjing. Ini sebabnya saya agak menutup diri di lingkungan perumahan. Ada beberapa tetangga muslim yang rumahnya berjarak beberapa rumah dan satu di ujung. Di sanalah biasanya saya mengajak Izza untuk bergaul, itupun harus dengan ijin suami karena kami melewati beberapa rumah yang punya anjing. Anak kecil hampir tidak ada, hingga ada satu keluarga muslim yang baru pindah punya anak lelaki hampir seumuran Izza. Sayangnya anak tersebut ikut daycare dari pagi hingga maghrib karena orang tuanya kerja, jadi jarang sekali bertemu. Di ujung perumahan ada keluarga non muslim yang punya dua orang anak balita juga baru pindah, alhamdulillah tidak pelihara anjing. Izza pun senang jika bertemu dengan mereka. Atas pertimbangan saya dan suami, akhirnya Izza sering bermain dengan mereka, setidaknya kami tahu mereka tidak pegang anjing di rumah.

Alhamdulillah juga keluarga tersebut ramah pada saya dan Izza dan lumayan paham tentang islam jadi kami bisa saling menghormati dan bertetangga tanpa memandang agama. Biasanya, saya mengajak Izza mein kesana di sore hari saat sudah selesai mandi, Izza senang jika mendengar nama mereka. Salah satu dari mereka sangat lancar berbicara dan senang sekali bercerita, jadi Izza pun senang dengannya dibanding adiknya. Kakaknya sering mengajak Izza bercerita jadi Izza pun terpancing untuk berceloteh meski tidak jelas. Mereka pun sering bernyanyi bersama, kadang mereka pun seperti sedang berdialog entah dengan bahasa seperti apa, tahunya Izza tertawa terbahak.

17.1.18

Game Level #3: Melatih Kecerdasan Anak - Day 8 (Mengenal Nama Hewan)

❣ Hari ke – 8 : Mengenal Nama Hewan

Pagi ini Izza imunisasi DPT Booster dengan efek lengan bengkak dan sedikit deman, jadi saya tidak membuatnya terlalu banyak aktivitas yang bergerak. Karena belum ada permainan yang saya siapkan, jadi saya mengajaknya untuk membca buku pilhannya sendiri. Izza memilih buku kumpulan gambar hewan yang isinya segala macam jenis hewan darat, laut, kutub, padang pasir, dan sebagainya. Buku ini salah satu dari paket pusataka lebah yang merupakan favoritnya. Kami baru membuka buku tersebut selepas Izza tidur siang jadi agak sore karena paginya saya fokuskan dia untuk istirahat saja. Alhamdulillah panasnya tidak begitu tinggi jadi Izza mash ceria pasca imunisasi.

Dari satu buku ini, Izza paling sering mengeluarkan kata pertanyaan “Ni papa? (read: Ini apa?)” dan menyebutkan nama hewan satu per satu. Jadi sebenarnya permainan hari ini hanya mengulang hari – hari sebelumnya saja sambil mengasah kemampuan Izza berbicara dan menyebutkan nama hewan. Harapannya, sih, Izza bisa menyebutkan salah satu nama hewan dengan lengkap bukan suku kata terakhir saja, hehe. Sejauh ini, nama hewan yang paling fasih diucapkan itu jaja (gajah), japapa (jerapah), aba-aba (laba-laba), toto (kodok), iyong (lion), dan beberapa nama hewan lainnya. meskipun belum bisa menyebut secara jelas tapi Alhamdulillah Izza cukup paham gambar hewan meski dari buku yang berbeda degan bentuk gambar yang berbeda pula. Practice makes perfect, right? Jadi harapannya, semakin sering Izza mengucap nama-nama hewan tersebut maka akan semakin fasih.

Game Level #3: Melatih Kecerdasan Anak - Day 7 (Save The Animals)

☘ Hari ke – 7 : Save The Animals

Save The Animals
Save The Animals
Kegiatan hari ini cukup menarik karena Izza bermain dengan es batu. Sebuah ide permainan sederhana dan murah tapi bisa membuat Izza penasaran, anteng, dan terus bertanya pada saya. Izza punya miniatur hewan laut yang terbuat dari bahan karet dan dia cukup suka bermain dengan hewan-hewan tersebut. Awalnya Cuma bertanya ini hewan apa tapi lama-lama bermain peran seperti ikan yang saling memakan, kepiting yang mencapit ikan, atau lumba-lumba yang minta dicium. Saat scrolling di explorer instagram, saya menemukan ide permainan menyelamatkan hewan kesayangan dengan cara memasukkan hewan-hewan tersebut ke dalam air lalu membekukannya. Harusnya ini dengan air matang, ya, karena Izza selalu tertarik untuk memakan es batu, tapi saya menggunakan air mentah biasa jadi harus diawasi.

Game Level #3: Melatih Kecerdasan Anak - Day 6 (Pom - Pom)

❖ Hari ke – 6 : Menjepit Pom-Pom

Menjepit pom-pom
Menjepit pom-pom
Kegiatan ini beberapa hari lalu tapi baru sempat menuliskannya. Hari itu saya dan Izza bermain dengan alat masak mini, saling memainkan peran sebagai koki dan konsumen, atau Izza sebagai ibu yang sedang menyuapi makanan pada saya sebagai anaknya, hehe. Hingga akhirnya Izza membuka plastik pom-pom dan mulai menjepit dengan jepitan mini. Dari pom-pom, Izza bisa bermain dan belajar tentang banyak hal, tapi fokus utama saya tetap dalam rangka meningkatkan kecerdasan bahasanya. Mula-mula, kami bermain menyortir warna, mengumpulkan warna-warna yang sama dalam satu wadah. Saya menggunakan sendok kecil dan Izza menggunakan jepitan kecil. Saat mengumpulkan warna, saya menjelaskan warna apa itu dan meminta Izza menirukannya. Alhamdulillah, Izza mau menirukan meski hanya mengucap suku kata terakhir saja. Misal saya menyebut hijau, Izza akan mengucap “Jaoo” dengan nada yang panjang, hehe.

15.1.18

Game Level #3: Melatih Kecerdasan Anak - Day 5 (Flashcard)

♥ Hari ke – 5 : Flashcard

Flashcard
Flashcard
Kemarin saya meminta suami untuk print flashcard nama buah yang saya dapat dari internet ternyata suami improvisasi untuk cari flashcard lainnya, hehe. Jadi tema bermain hari ini adalah belajar membaca flashcard yang disertai dengan gambar. Alasan saya menyertakan gambar agar Izza lebih tertarik, kalau cuma tulisan tidak akan disentuh olehnya, hmm. Cara saya untuk mengenalkan flashcard pada Izza dimulai dengan mengenalkan gambarnya terlebih dulu lalu tulisannya seperti mengeja secara pelan-pelan. Berikutnya saya menunjukkan flashcard dan membacanya satu per satu secara lantang di depan Izza secara cepat. Saya meniru cara penyanyi Andien dalam mengenalkan flashcard pada anaknya, semoga bisa dibayangkan, hehe. Sayangnya proses ini tidak bisa saya videokan.

14.1.18

Game Level #3: Melatih Kecerdasan Anak - Day 4 (Belajar Menulis)

♕ Hari ke - 4 : Belajar Menulis

Satu cara lagi yang sukses membuat Izza ikut berdialog adalah menulis, meskipun dia hanya membuat coretan abstrak tapi dia bisa membagi fokusnya sambil mendengarkan kata-kata saya. Membaca dan menulis adalah dua hal yang saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan tanpa maksud memaksakan kehendak saya pada Izza agak suka menulis. Anggap saja membuat coretan itu sebagai salah satu bentuk ekspresi Izza dalam berkomunikasi dengan saya. Terlebih, aktivitas memegang pensil atau pulpen dapat melatih sensor motorik dan konsentrasinya. Seperti pada contoh video yang saya bagikan di bawah ini, Izza kadang masih belum bisa memegang pulpen dengan benar, tapi dengan perintah sederhana dari saya, dia bisa memahami dan menguah posisi pulpennya.

Game Level #3: Melatih Kecerdasan Anak - Day 3 (TV dan HP)

➤ Hari ke – 3 : Izza dan TV atau HP

Masih seputar singing along, kali ini menggunakan sarana TV atau ponsel. Pada tantangan level 2, saya sering membagikan video saat Izza melihat video dari youtube atau acara TV saat makan agar dia tenang dan tidak klayapan. Kesalahan awal memang ada di saya saat awal mpasi mengenalkan youtube agar anteng, jadinya keterusan sampai sekarang. Tapi ternyata, ada manfaat lain yang bisa saya ambil dari video-video tersebut selain membuat Izza anteng. Izza banyak belajar kosakata dari video yang dilihatnya. Meskipun belum bisa mengucapkan dengan benar, tapi dia sudah paham maksud dari kata tersebut. Satu hal yang harus saya lakukan sebelum Izza nonton youtube yaitu: dia tidak boleh melihat bagaimana saya menekan tombol remote TV atau membuka aplikasi youtube dari HP. Nyatanya, Izza cepat sekali menangkap gerakan tangan saya saat melakukan sesuatu dan dengan sangat mudah menirunya. Jadi tujuannya agar Izza tidak bisa mengganti channel secara mandiri, tapi harus melalui tangan saya.

Syarat mutlak saat memberikan Izza TV dan HP yaitu sebisa mungkin harus didampingi. Jika memang terpaksa ya ditinggal sambil saya tetap mengajaknya terus berdialog. Dari acara TV, channel yang selalu dia lihat dan membuatnya tertarik adalah Nat Geo Wild dan Baby First, dari youtube adalah lagu anak. Izza sangat suka dengan dunia binatang dan lagu anak-anak, wajahnya akan langsung berbinar ceria jika bertemu dengan dua hal tersebut. Seperti halnya kemarin saat bersama ayahnya tidak sengaja memilih TVRI ada anak-anak yang sedang menyanyi, dia langsung berdiri dan menggerakkan badannya. Izza memang sangat mudah menirukan gerakan, PR saya dan suami adalah agar Izza mau bergumam menirukan lirik lagu tersebut. Hal yang kami lakukan adalah ikut bernyanyi bersama dan terus mengulangnya. Biasanya satu lagu bisa diulang sampai 5 kali agar Izza familiar dengan kata-katanya, tentunya dengan gerakan.

11.1.18

Game Level #3: Melatih Kecerdasan Anak - Day 2 (Singing Along)

➽ Hari ke – 2 : Singing Along 

Dalam rangka memperkaya kosakata Izza sebenarnya ada banyak sekali cara dan metode, tinggal menyesuaikan mana yang bisa membuat Izza riang gembira. Pada hari kedua, sebenarnya masih melanjutkan metode hari pertama yaitu membaca cerita dengan e-pen. Membuka buku setiap hari sudah seperti hal wajib buatnya, tinggal waktunya sesuka hatinya. Hari ini Izza membaca buku berjudul “Aku cantik Pakai Jilbab”, saat membacanya saya mencoba untuk menambahkan kata jilbab dalam kamusnya dan diucapkan menjadi ‘Jiba’ oleh Izza. Welldone, dia sudah tahu mana itu jilbab dan dipakai di kepala. Siang harinya, saya mencoba aktivitas lain agar Izza tidak bosan dengan kegiatan membaca buku, yaitu menyanyi bersama. Hal sederhana, memang dan biasa kami lakukan tapi membawa banyak manfaat. Seperti halnya siang ini, Izza sedang asyik naik turun kursi dan saya iseng menyanyi ternyata dia mengikuti saya dengan gerakan. Mulai dari lagu balonku, naik kereta api, topi saya bundar, cicak-cicak di dinding, head shoulders knees and toes, dan lagu one little finger. Izza mengikuti semua lagu dengan senang hati.

Saya memberikan satu contoh video di bawah ini, dapat di lihat bahwa Izza cukup fasih dengan gerakan tangannya saat menyanyikan lagu tersebut. Sedangkan mulutnya masih samar-samar mengucapkan rangkaian kata dalam lagu bahkan cenderung tidak jelas, hanya beberapa kata saja yang bisa diucapkan. Saya tidak pernah memaksa Izza untuk mengucapkan kata-kata tersebut dengan benar, tapi saya ingin melatihnya agar lidah dan mulutnya terbiasa dengan kata atau kalimat. Jika dia salah dalam mengucap kata maka akan saya benarkan.

10.1.18

Game Level #3: Melatih Kecerdasan Anak - Day 1 (Membaca dan Mendengarkan Cerita)

Alhamdulillah, akhirnya menuliskan tantangan BunSay level 3 yaitu tentang “pentingnya meningkatkan kecerdasan anak demi kebahagiaan hidup” setelah terlambat 6 hari. Beberapa hari lalu Izza sakit hingga harus rawat inap beberapa hari, jadi saya memutuskan untuk pending dulu membuat tantangan dengan Izza. Dua hari lalu, setelah Izza kontrol dan semua dinyatakan normal, saya dan suami mengadakan “meeting” mendadak mengenai proyek yang akan kami kerjakan bersama. Ya, proyek ini akan kami kerjakan bersama satu keluarga inti dan suami pun setuju untuk turut membersamai Izza meski tidak lama. Kami memutuskan untuk memilih hanya satu kecerdasan yang akan diasah dalam beberapa minggu ini atau mungkin beberapa bulan ke depan, tanpa meninggalkan kecerdasan lainnya. Karena pada prakteknya, semua kecerdasan bisa diasah dalam satu proyek. Kecerdasan yang ingin kami asah lebih dalam pada Izza adalah linguistic atau kecerdasan bahasa.

  • Gagasan: Di usianya yang menginjak 19 bulan, Izza sudah paham setiap kalimat perintah, pernyataan, dan pertanyaan yang saya ajukan padanya. Sudah mengerti dan memberikan respon sesuai dengan harapan saya meskipun saya memberikan kalimat yang kompleks. Bahkan beberapa kalimat dalam bahasa Inggris pun dia sudah paham. Hanya saja, Izza lebih suka merespon dengan tindakan daripada kata atau kalimat. Dalam pengamatan saya, Izza memang lebih cenderung kinestetik, semua hal akan disertai dengan gerak tubuh. Kosakata yang dia miliki cukup banyak, hanya saja belum bisa mengucapkan secara jelas dan sempurna, misal: minum diucap inu; duduk diucap dudu, kerja diucap keja, (dalam hal ini saya membandingkan dengan teman seusianya yang bisa mengucap kata dengan jelas, memang perkembangan tiap anak berbeda,  tapi saya tidak ingin Izza mengalami speech delay).