14.7.18

Game Level #8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini - Day 10

Hari terakhir melakukan tantangan, saya ingin memberikan contoh pada Izza tentang membelanjakan uang tabungan yang sudah terkumpul. Sejauh ini dia sudah paham tentang transaksi jual beli, yaitu dia harus menyerahkan uang untuk mendapatkan suatu barang. Beberapa kali juga sudah dipraktekkan perihal meredam keinginan saat belanja. Dan selama ini yang dia tahu adalah membayar menggunakan uang ayah atau bundanya. Malam ini kami ke minimarket dan sebelumnya saat di rumah saya mengatakan padanya bahwa kami akan membeli diapers dan Izza bisa membeli satu benda dengan uang yang ada di toples. Saya pun mengeluarkan uangnya di toples untuk dimasukkan ke dalam tas miliknya.
“Izza mau beli apa?”
“Ecim (baca: es krim)”
“Mau es krim rasa coklat atau strawberry?”
“Cikat (baca: coklat)
“Oke! Beli es krimnya satu aja ya?”
“Dua, Bu!”
“No! Uangnya gak cukup kalau beli dua, satu aja ya!”
“No! Dua, bu!”
Jika sudah berkaitan dengan es krim dan nego seperti ini, Izza memang susah untuk mengalah. Akan terjadi perdebatan dan nego yang sengit antara saya dan dia dalam mempertahankan pendapat masing-masing. hingga akhirnya Izza mengalah dan pasrah. Sebenarnya bukan saya mau mengalah, tapi sistem nego seperti ini saya jadikan sebagai media belajarnya konsisten dengan apa yang dia inginkan. Berarti dia paham bahwa dia sedang menginginkan sesuatu.

Game Level #8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini - Day 9

Tabungan Izza semakin banyak
Tabungan Izza semakin banyak
Masih berkutat dengan celengan toples barunya, begitulah Izza, jika punya sesuatu yang baru akan dia cintai sepenuh hati. Dia akan sangat antusias sampai akhirnya bosan dengan sendirinya. Dari analisa saya selama dua hari ini, konsep tabungan yang dipahami oleh Izza adalah, jika ada uang maka disimpan di dalam toples. Tapi sepertinya dia juga berpikir lebih jauh yaitu celengan toples digunakan untuk menyimpan benda yang dia suka karena beberapa benda pun ikut masuk ke dalamnya, hehe. Saya pun memberikan pemahaman lebih lanjut bahwa toples tersebut hanya untuk menyimpan uang agar uangnya tidak tercecer dan hilang. Alhasil setiap dia melihat uang akan dimasukkan ke dalam toples barunya. Seperti halnya saat saya melipat baju-baju hasil cucian ternyata nemu beberapa lembar uang, Izza pun langsung berseru “Buuu, wang!” Saya pun berkata padanya “Uangnya disimpan, ya. Celengannya mana?” Izza pun berlari keluar kamar untuk mengambil celengannya dan memasukkan uang satu per satu. Dari sini pun dia berlatih fokus untuk melipat dan memasukkan uang kertas ke dalam toples dengan benar.

11.7.18

Game Level #8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini - Day 8

Celengan toples sederhana milik Izza
Celengan toples sederhana milik Izza
Hari ini pun saya membuat satu tabungan toples khusus Izza, celengan dari toples plastik bening bekas jajan astor. Harusnya celengan plastik dengan berbagai karakter ya agar lebih menarik perhatian Izza, sayangnya suami sedang sibuk di kantor jadi belum sempat beli. Saya pun hanya bisa keluar rumah dengan akses suami, akhirnya menggunakan benda bekas pakai yang ada di rumah. Kreatif itu perlu yang penting konsep dan esensinya tidak hilang, hehe. Untungnya, bentuk toples yang agak besar tinggi dan bening, jadi mudah untuk membuat lubang celengan dan bisa dibuka tutup. Setelah saya bersihkan dan membuat lubang kecil di bagian tutupnya, saya mengambil beberapa uang yang ada di dalam toples lainnya lalu dihambur di lantai. Saya memberikan satu contoh memasukkan uang koin dan kertas secara bergantian lalu meminta Izza mengulanginya. Voila! Izza senang dan bisa anteng memasukkan uang ke dalam celengan barunya. 

Game Level #8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini - Day 7

Tak dapat dipungkiri, anak akan mencontoh segala tindakan orang tuanya. Ini sudah bisa saya rasakan sejak Izza mulai aktif penasaran dan kreatif dengan segala tindakannya. Gaya bicaranya, gayanya saat ngambek bahkan marah persis dengan saya. Bukan hanya sifat, tingkah laku pun demikian. Malu pada diri sendiri. Soal uang dan tabungan, selain tabungan di bank, di rumah hanya ada tabungan uang koin dalam 4 toples dan tidak punya tabungan lainnya. Hal yang biasanya saya lakukan adalah membiarkan uang koin tercecer dimana-mana, entah itu di meja TV, di meja makan, di rak buku, di kursi tamu, atau bahkan di tempat mainan Izza. Semuanya akan saya bereskan saat saya ingin melakukannya, jika tidak ya terbiarkan tercecer begitu saja. Hal ini pun dicontoh oleh Izza, saat dia melihat uang tercecer ya dibiarkan saja, tidak akan dipungut untuk dibereskan. Atau jika ingin membeli sesuatu maka mengambil uang di dalam toples padahal judulnya tabungan, ya, tapi tetap diambil untuk sekadar beli jajan. Izza pun demikian, saat ingin es krim dan say abilang habis, maka dia akan mengambil toples koin dan meminta saya mengambil uang atau kadang menunjuk tas dan dompet saya.

Oleh itu, teladan harus dimulai dari orang tua, hari ini saya mengajak Izza untuk berkeliling rumah mencari uang koin dan kertas yang tercecer sembarangan. Dimulai dari ruang tamu, kamar, rak buku, meja TV bahkan tempat sholat dan di samping kompor ditemukan beberapa uang koin yang jika dijumlah bisa buat beli beberapa es krim favorit Izza. Tanpa komando berulang, dia paham bahwa yang sedang dicarinya adalah uang. Saya bilang padanya “Kalau ada uang dimasukkan ke dalam toples ini ya. Oke?” Izza pun menjawab “Oke!” sambil dua jarinya membentuk lambang oke. Saya pun menyediakan satu toples kosong lagi untuk mengumpulkan uang hasil beres-beres dengan Izza hari ini.

10.7.18

Game Level #8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini - Day 6

Mengumpulkan uang koin
Mengumpulkan uang koin
Setelah membaca buku tentang menabung yang ternyata belum berhasil membuat Izza paham konsep menabung, maka hari ini saya mengeluarkan seluruh celengan toples yang berisi berbagai macam uang koin. Niatnya untuk mengajari Izza bahwa uang yang tercecer itu harus dikumpulkan dan disimpan dengan baik, karena dua hari terakhir ini dia suka membuang benda yang sudah terkumpul rapi. Contohnya karet rambut yang sudah terkumpul dalam plastik dihambur lagi, puzzle yang sudah tersusun rapi dihambur, bola dalam toples dituang ke penjuru rumah. Dia mungkin sedang usil, tapi masalahnya dia tidak mau ikut membantu membereskan semua mainan tersebut, padahal biasanya Izza paling suka membereskan mainan. Endingnya kemarin malam dia menemukan dompet ayahnya tergeletak dan semua isinya dikeluarkan. Jadi harus mengulang lagi memahamkan Izza bahwa barang yang sudah tersusun rapi tidak boleh dihambur lagi. Ya, sounding seperti ini tidak bisa hanya sekali dua kali, harus berpuluh puluh kali untuk membuatnya benar-benar mengerti.

Game Level #8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini - Day 5

Membaca buku "Aku Suka Menabung"
Membaca buku "Aku Suka Menabung"
Mengenalkan konsep jual beli menggunakan uang saya rasa sudah cukup untuknya, pada dasarnya, dia sudah paham transaksi secara sederhana. Jika ingin membeli barang di toko (Izza sudah paham tentang toko) maka dia akan mengambil barang yang dia inginkan dan membayar dulu. Tentang harga barang, uang kembalian, atau nominal pecahan uang belum paham. Saya agak ragu untuk mengenalkan pecahan uang, karena Izza belum bisa berbicara dengan lancar untuk menyebutkan bilangan uang. Jadi ditangguhkan dulu asal dia bisa membedakan uang dengan kertas lainnya. sembari tetap mengajak Izza dalam segala proses jual beli, kali ini saya ingin mengenalkan konsep menabung. Hmm, menabung dan menyimpan uang bisa dibilang dua hal yang berbeda, ya. Untuk menyimpan uang, Izza sudah paham. Dia akan menyimpan uangnya di dalam dompet atau toples yang saya sediakan agar tidak tercecer dan bisa diambil lagi jika perlu. Saya anggap berbeda, ya, karena menabung adalah menyimpan dan mengumpulkan uang dalam jangka waktu tertentu.

Game Level #8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini - Day 4

Hari ke empat mengenalkan cerdas finansial pada Izza yang baru berusia 24 bulan lebih beberapa hari. Tidak pernah ada harapan muluk agar Izza pintas mengelola uang diusianya yang baru batita, yang penting dia tahu bentuk fisik uang koin dan kertas, tidak dibuang, dicoret, atau dimakan. Alhamdulillah sejauh ini dia sudah bisa membedakan mana uang kertas dan kertas biasa atau mana uang koin asli dan mainan. Yang belum bisa dia hindarkan adalah menggambar pada uang, karena memang dasarnya Izza suka menggambar. Izza pun sudah mengerti konsep berbagi, jika sedang memegang uang maka akan diberikan pada saya dan ayahnya. Dalam beberapa hari ini saya lebih menekankan pada proses transaksi jual beli menggunakan uang sebelum mengenalkan konsep menabung. Karena fungsi uang pada dasarnya memang untuk bertransaksi, bertukar dengan barang yang dia inginkan agar saya juga bisa memberi pemahaman tentang konsep kebutuhan dan keinginan dalam skala kecil dan sederhana.

Jadi untuk beberapa hari ini, saya selalu melibatkan Izza pada setiap proses jual beli yang kami lakukan, contohnya saat embeli beberapa barang di minimarket dekat rumah. Sembari saya membeli kebutuhan rumah, saya meminta Izza untuk mengambil satu jenis jajan yang dia inginkan.Dengan nada yang menekan, saya berkata pada Izza:
“Kakak mau jajan? Ambil satu ya”
“Satu!” katanya sambil mengacungkan jari telunjuknya dan melihat saya.
“Iya, ambil satu saja!”

8.7.18

Game Level #8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini - Day 3

Malam ini (rabu malam) ada pasar kaget di komplek perumahan sebelah dan kami memang biasanya rutin kesana untuk belanja sayur dan jadwal Izza naik odong-odong. Jika pada hari-hari sebelumnya, yang kami lalukan adalah, Izza dan ayahnya naik odong-odong sedangkan saya berkelana belanja sayur dan ikan. Saat semua beres maka kami langsung pulang ke rumah, biasanya hanya membutuhkan waktu setengah jam saja saat di pasar kaget. Hal yang berbeda kami lakukan malam ini, yaitu mengajak Izza bertransaksi jual beli membeli beberapa lembar poster huruf abjad dan hijaiyah, poster hewan dan buah-buahan. Tanpa kami duga, Izza sangat antusias saat melihat banyak sekali buku yang bersampul gambar-gambar yang biasa dia lihat dari youtube. Ada banyak sekali karakter yang dikenalnya dan dia pun berseru “Tayoooooo... Buuuu, Tayooooo”, tak lupa dia mencari perhatian ayahnya untuk seraya dengan segera ingin mengambil buku cerita yang bersampul karakter Tayo. Mumpung saat itu pembeli hanya kami, maka saya memanfaatkan momen untuk bernegosiasi dengan Izza dan melihat bagaimana dia merespon.

Ayahnya mengambil buku bersampul karakter hello Kitty dan berkata “Ini aja ya? Hello Kitty warna pink”, Izza pun sesaat terlihat ragu, sesekali memegang buku Hello Kitty dan melihat ke arah buku bersampul Tayo. Lalu dia pun menjawab “Ayaahhh, Nooo! Tayooooo!” dengan muka judes dia menolak buku Hello Kotty dari ayahnya dan merengek minta buku Tayo. Beberapa kali diulang dengan memberikan dia pilihan karakter lain tapi dia tetap menjawab Tayo dengan judesnya, hehe. Bukannya saya tidak mau membelikan, hanya saja buku cerita tersebut kertasnya tipis dan lebih cocok untuk anak balita, jadi saya memberi alternatif lain, untung ketemu puzzle Tayo dan Izza pun mengiyakan dengan cepat dan tegas. Puzzle Tayo sudah ada ditangan dan tidak boleh dilepas. Saat itulah saya memberi pengertian bahwa barang tersebut belum dibayar dan harus punya uang, jadi dia merelakan puzzle Tayo dipegang oleh penjualnya.

7.7.18

Game Level #8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini - Day 2

Mengenalkan Izza pda uang logam dan kertas asli yang sebelumnya memang sudah dia kenal baik, hanya saja saya belum mengenalkan pecahan uang. Seperti tujuan awal, saya berharap Izza tidak membuang, memakan, atau mencoret uang. Sampai saat ini hal yang belum bisa dia hilangkan adalah mencoret uang jika sudah memegang crayon atau pensil warna. Cukup membutuhkan sounding yang ekstra karena pada dasarnya Izza senang menggambar apa saja dan dimana saja. Mengenalkan uang koin dimulai dengan menghitung uang tersebut, membedakan mana yang besar dan kecil, lalu belajar menggambar lingkaran seperti uang koin yang dia pegang. Awalnya Izza senang sekali karena ada banyak koin yang saya kumpulkan untuk dihitung apalagi jika menghitung menggunakan bahasa Inggris, dia akan sangat senang sekali dan tanpa ragu untuk terus mengulang berhitung.

Mengenal uang koin
Mengenal uang koin

Game Level #8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini - Day 1

Mengenalkan uang mainan pada Izza
Mengenalkan uang mainan pada Izza
Saat ini umur Izza 24 bulan lebih beberapa hari. Officially 2 tahun dan lepas nenen alias ASI. Sudah banyak perkembangan pesat tentang tumbuh kembangnya, rasa tahu yang luar biasa besar, dan mulai cerewet. Soal konsep uang, sebenarnya Izza sudah tahu sejak lama kalau barang tersebut bernama uang, hanya saja konsep lebih rincinya belum saya terapkan. Saya cuma memberi tahu bahwa benda tersebut adalah uang dan saat membeli sesutau harus dengan uang. Untuk anak seusia Izza, saya tidak berharap banyak hal apalagi mengerti pecahan uang. Goals saya dalam mengenalkan uang pada Izza untuk saat ini cukup sederhana yaitu, dia paham kalau benda tersebut bernama uang, dia tidak membuang atau merobek uang kertas, atau tidak memakan uang logam. Lebih jauhnya Izza mengerti bahwa membeli sesuatu harus dengan uang, dan berbagi uang dengan orang lain. Banyak juga, ya? Hehe. Tapi insyaallah sederhana ya dan cocok untuk usianya.

31.5.18

Game Level #7: Semua Anak Adalah Bintang - Day 10

Hari ini perhatian Izza buyar saat saya tinggal masak, dia tidak mau tidur siang jadilah ikut saya sambil lari-larian di dapur. Meskipun sudah saya sediakan beberapa macam mainan, ternyata alat dapur masih menjadi primadona daripada mainan lainnya. Dia paling suka mengambil parutan keju, sendok sayur, dan pisau. Izza mulai saya kenalkan dengan pisau mainan miliknya, ternyata dia bisa mengenali pisau asli tanpa saya kenalkan. Beberapa kali dia berhasil mengambil dua buah pisau sekaligus lalu menunjukkan pada saya sambil berkata “Buuu, icauuuw” jika saya lalai tidak mengunci dan mengambil kunci laci. Awalnya saya sering langsung marah karena takut dia terluka, tapi sekarang saat Izza mengambil pisau, saya memintanya untuk mengembalikan ke tempat asalanya. Sambil memberi tahu jika tidak hati-hati nanti bisa sakit karena pisau itu tajam. Meski Izza belum paham arti tajam, tapi dia sudah paham arti sakit dan dia pun bisa mengembalikan pisau ke tempat asalnya. Salah satu cara saya mengajarkan tanggung jawab.

Akhirnya saya biarkan dia bermain dengan panci, alat penggorengan, dan yang lainnya agar saya bisa masak. Kadang dia masih menghampiri saya untuk menunjukkan aksinya memukul panci dengan sendok. Setelah masak beres, barulah Izza tidur, hehe. Sorenya, dia bermain dengan ayahnya yang kebetulan pulang lebih cepat dari biasanya. Mereka bersosialisasi ke tetangga dekat rumah dan baru kembali sebelum maghrib. Setelah semua urusan buka puasa suami dan makan malam Izza beres, barulah saya ajak Izza untuk bersinar lagi. Waktunya menyanyi! Ada satu lagu yang sedang dia sukai yaitu “Wakhidun Satu”, jadi sejak sore hingga mau mapan tidur lagu itu yang dia presentasikan seperti sedang menghafal liriknya. Perhatikan dua video di bawah ini yang diambil selepas maghrib hingga malam ini yang kebetulan Izza baru saja tidur.

30.5.18

Game Level #7: Semua Anak Adalah Bintang - Day 9

Kegiatan hari ini inginnya saya buat fokus menggambar dan menyanyi seperti pada hari pertama tantangan. Untuk pagi hari, saya sudah membuat konsep untuk menggambar ‘shapes’ dengan cara menjiplak karena Izza sedang sedang menjiplak segala bentuk dengan pensil warna. Konsep kedua yaitu menulis dalam batasan gambar yang dibuat dalam bentuk ‘shapes’ tadi. Awalnya Izza mengikuti dengan tekun menjiplak bentuk lingkaran dan segitiga, meski awalnya dia enggan untuk menggambar secara langsung dan selalu meminta saya untuk menggambarkannya. Dia mengikuti beberapa arahan saya untuk menjiplak bentuk lingkaran dan segitiga dan akhirnya menyerah karena lebih memilih memainkan puzzle. Ya, kami menjiplak gambar dari bentuk puzzle yang ada. Akhirnya saya arahkan pada konsep yang kedua yaitu menulis dalam batasan. Maksudnya, dia hanya boleh menulis atau mencoret dan menggambar di dalam bentuk, tidak boleh di luar garis. Hmm... sepertinya Izza belum paham betul, meski awalnya dia bisa mencoret di dalam garis, pada akhirnya kertas di luar garis pun ikut dicoret-coret.

29.5.18

Game Level #7: Semua Anak Adalah Bintang - Day 8

Libur kejepit yang Alhamdulillah membawa berkah, apalagi ditambah cuaca mendung sedari pagi diteruskan hujan hingga sore sukses membuat saya malas gerak. Izza yang bangun sedari subuh langsung ‘mengganggu’ ayahnya yang sedang bekerja di ruang tamu, sedangkan saya lanjut tidur, hehe. Sesuai kesepakatan dengan suami, saat hari libur, Izza ada ditangan ayahnya kecuali saat makan dan tidur. Jadilah saya hanya handle saat di jam makan dan tidur saja, selebihnya saya bisa ‘me time’ yang lebih sering saya isi dengan beres-beres rumah. Setelah sarapan pagi, Izza ‘membantu’ ayahnya membuat pereman telur dari kardus bekas yang diberi lampu kuning. Ya, ayam kate kami sudah bertelur total 4 biji sedangkan induknya enggan mengeraminya. Izza dan ayahnya sibuk berdialog di teras rumah, lebih tepatnya bisa dibilang sang ayah terus komplen pada Izza yang mau ikut andil, hehe. Sedangkan saya asyik mendengarkan celoteh mereka dari belakang sambil cuci baju.

Aktivitas seperti inilah yang selalu saya nantikan, Izza dan ayahnya ‘akur’ dan saling berdialog. Karena secara otomatis akan menambah kosakata dan wawasan Izza. Sengaja saya tidak memberikan pensil dan kertas, biarlah hari ini menjadi hari bebas Izza untuk brekreasi. Sampai pukul 11 siang akhirnya Izza mengalah dan mencari saya untuk kemudian mapan tidur. Yang akhirnya kami bertiga tidur berjamaah. Sorenya, setelah Izza makan siang, kami siap-siap untuk buka puasa di luar rumah untuk kali pertama. Hari merdeka bagi saya karena tidak masak, hehe. Dulu, saat Izza berusia sekitar 18 bulan, dia masih takut jika berada di keramaian, sekarang, usia 23 bulan, Alhamdulillah Izza sudah tidak takut lagi malah sebaliknya. Izza mulai senang berkenalan dengan orang lain meski awalnya seperti malu, tapi mau juga diajak komunikasi.

28.5.18

Game Level #7: Semua Anak Adalah Bintang - Day 7

Hari ini tanpa sengaja saya membongkar sluruh isi ardus di dalam gudang, padahal niat awal hanya mengambil kardus yang berisi naju bayi milik Izza dulu. Ternyata beberapa barang ada di dalam kardus yang terpisah, otomatis saya bongkar semua dan menata ulang. Izza kemana? Tentu saja ikut ‘membantu’ proses bongkar muat barang-barang dalam kardus. Izza senang jika dirinya ikut berpartisipasi dalam kegiatan yang menguras aktivitas fisik dan sibuk bertanya “Apa icu?” atas semua barang yang membuatnya penasaran. Izza benar-benar membantu, loh? Dia sudah bisa dimintai tolong untuk mengambil kertas dan pulpen yang ada di rak bukunya. Bahkan saya memintannya untuk menyingkirkan kardus kosong menjauh agar tudak menghalangi jalan. Good job, kakak! Hal lain yang dilakukan Izza adalah ikut memberi label pada kardus. Isi dalam kardus tersebut saya catat pada selembar kertas dan ditempelkan di atasnya. Izza sangat excited sekali saat ikut menulis meski dia hanya menggambar secara abstrak. Momen seperti ini selalu saya manfaatkan untuk mengajari Izza kosa kata baru atau memperjelas artikulasinya saat bicara.

Izza pun ikut andil menggunting selotip dan menempelkan kertas pada kardus. Rempong, ya? Memang, bekerja dengan satu batita yang maunya selalu ikut andil memang repot, membuat pekerjaan semakin lama atau kadang harus saya ulang. Tapi saya selalu mencoba untuk berpikir bahwa dengan Izza ikut andil saat saya bekerja bisa dianggap juga dia latihan menjalani aktivitas kehidupan secara nyata. Dalam teori montessori yang saya dapat ada yang namanya EPL atau Excercise of Practical Life, yaitu anak diajarkan menggunakan alat-alat dalam kehidupan nyata seperti menuang, menggunting, menempel. Nah, saya selalu anggap apa yang Izza lakukan saat saya bekerja sama saja dengan kurikulum EPL dalam montessori. Semoga saya tidak salah tangkap atas pengertian EPL.

27.5.18

Game Level #7: Semua Anak Adalah Bintang - Day 6


Qodarullah, hari ini saya tidak enak badan. Kepala terasa sangat berat dan pening, mungkin efek begadang semalam dan bangun sahur jadi mungkin kurang tidur. Setelah rutinitas pagi dan menemani Izza sarapan, saya pasrahkan semua kegiatan Izza hari ini pada ayahnya. Bahkan untuk menjemur cucian baju pun dibantu suami. Sembari saya istirahat sebentar di kamar, saya bilang ke suami kalau bisa ajak Izza menggambar atau menyanyi sesuai dengan tantangan yang saya lakukan setiap hari. Dari kamar sih terdengar mereka berdua sedang asyik menggambar dan menulis. Terdengar Izza dan ayahnya melafalkan alfabet, angka, bahkan huruf hijaiyah. Alhamdulillah, Izza terdengar semangat sekali bahkan sesekali berteriak dengan gaya khasnya. Kemudian sepertinya saya tertidur jadi tidak tahu kegiatan apa lagi yang mereka lakukan.

Saya terbangun dan keluar dari kamar, jeengggg jeeeenggggg, sekujur tubuh hingga wajah Izza penuh dengan coretan pulpen. Ada yang berupa gambar kucing, singa, bentuk lingkaran, bahkan angka satu sampai sepuluh. Tanpa pikir panjang dengan perasaan kesal sekali, saya membawa Izza ke kamar mandi untuk membersihkan coretan-coretan tersebut. Ya, saya masih tidak suka dengan hal kotor semacam itu apalagi coretannya banyak sekali. Jika coretan hanya sedikit mungkin bisa dimaklumi. Kemudian saya sedikit menyesal, harusnya Izza difoto dulu untuk dokumentasi hasil karya dia bersama ayahnya, hehe. Tapi faktanya saya yang ngomel-ngomel ke suami karena membiarkan Izza mencoret-coret tubuhnya. Dan kilah suami adalah: tidak masalah, kreatif, kok!

26.5.18

Game Level #7: Semua Anak Adalah Bintang - Day 5

Hari ini, kami berkegiatan di luar dari pagi hingga sore, jadi tidak ada agenda khusus untuk menggambar atau menyanyi, hanya saja sempat menyanyi saat di mobil dan menjelang tidur. Pagi hari, Izza dan ayahnya langsung menyerbu 2 ayam peliharaan yang baru dibeli 2 minggu lalu setelah menyerah pada kelinci dan memberikannya pada tetangga. Setelah itu kami pergi ke pasar yang menjadi agenda rutin setiap sabtu untuk membeli stok ikan dan lauk selama seminggu. Agenda ke pasar ini wajib kami lakukan karena Izza lumayan takut jika masuk ke pasar terutama bagian ayam atau daging. Ini menjadi salah satu terapi untuknya agar terbiasa dengan pasar dan merupakan terapi bagi saya juga yang sebetulnya enggan pergi ke pasar karena kotor. Tentu saja, agenda ke pasar bukan menjadi kegiatan yang membuat saya dan Izza berbinar, tapi hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja karena pasar adalah salah satu bagian penting bagi kami.

Setelah dari pasar, mandi dan sarapan, kami berangkat ke supermarket, hehe, untuk membeli kebutuhan bulanan lainnya dan persiapan lebaran, mumpung diskon, ya kan? Nah, saat di supermarket, Izza terlihat cukup berbinar, dia bisa lari kesana kemari, mengambil ini itu, mencoba ini itu, bahkan tidak takut jika berada di area daging atau ikan. Sama halnya dengan saya, senang jika belanja di supermarket, hehe. Barang yang tida kami beli di supermarket adalah daging dan ikan, selebihnya disini. Selama perjalanan ke supermarket, Izza terlihat senang sekali, karena dia memang senang jika keluar rumah. Izza menyanyi berbagai macam lagu, menunjuk setiap truk dan mobil yang lewat, bertanya “apa itu” terus menerus. Alhamdulillah Izza mulai cerewet, selalu penasaran dengan ini itu dan dia sangar berbinar sekali jika sedang penasaran.

25.5.18

Game Level #7: Semua Anak Adalah Bintang - Day 4

Hari ini saya sudah membuat konsep bermain dengan Izza menggunakan potongan kertas yang membentuk beberapa “shapes” yang dulu pernah dimainkan. Maunya saya, kami menggambar mengikuti pola dari shapes tersebut sambil menyebutkan warna-warna dalam bahasa Indonesia dan English. Sayangnya, Izza bukan tipe anak yang bisa dipaksa bermain sesuai kemauan bundanya, dia hanya akan bermain yang menarik perhatiannya. Setelah rutinitas pagi selesai, saya mengeluarkan potongan shapes tersebut, tapi tidak digubris oleh Izza. Dia hanya mengamati sebentar dan menyebutkan nama bentuk tersebut lalu manrik tangan saya menuju rak tempat menyimpan puzzle. Dengan bahasanya yang masih belum jelas, Izza meminta saya untuk mengambil puzzle angka dan bentuk sambil memeragakan dan berusaha mengucapkan “round and round”. Ah, ternyata Izza minta puzzle yang ada angka dan bentuk. Okelah, tidak masalah, yang penting Izza tetap bermain dan belajar pagi ini.

Izza lebih pilih puzzle daripada menggambar
Izza lebih pilih puzzle daripada menggambar

24.5.18

Game Level #7: Semua Anak Adalah Bintang - Day 3

Hari ketiga tantangan dengan kondisi Izza yang Alhamdulillah membaik. Kabar baiknya, Izza tidak perlu rawat inap dengan syarat dia tidak kekurangan cairan alias tidak dehidrasi. Hari ini makan dan minum lumayan lah meski sempat muntah sekali setelah sarapan. Jadi hari ini masih dalam suasana memaksa Izza agar istirahat total, karena kalau tidak dipaksa dia bisa naik turun kasur atau sudah lari keluar rumah. Alhasil pintu dan pagar tralis pintu saya kunci lalu menyediakan sekotak pensil warna beserta bukunya. Meskipun awalnya Izza membawa kotak bola, koleksi ikan dan alat pancing, tapi harus saya simpan lagi agar tubuhnya tidak terlalu banyak bergerak. Berbekal pensil warna dan beberapa lembar kertas lalu mengajak dia untuk menggambar singa dan beruang, maka Izza sudah bisa duduk manis. Sayangnya tidak berlangsung lama karena tiba-tiba dia minta mapan tidur, mungkin efek obat ya jadi dia sudah ngantuk.

Alhadulillah hujan turun di siang hari, tidurnya jadi nyenyak hingga jam 1 lebih dia baru bangun untuk makan siang. Setelah itu saya mikir lagi kegiatan apa yang tidak membuat dia bosan meski dilakukan di atas kasur. Pilihan kembali ke pensil warna dan kertas. Kali ini dia meminta saya untuk menggambar jari-jari tangan hingga kakinya di atas kertas, jadi seperti menjiplak. Tanpa komando, tiba-tiba Izza menyanyikan lagu anak yang berjudul “Daddy Finger” yang akhir-akhir ini memang sedang menjadi favoritnya. Nah, kalau begini saya galau lagi, dari menyanyi dan menggambar rasanya itu kegiatan yang tidak bisa dipisahkan bagi Izza.

23.5.18

Game Level #7: Semua Anak Adalah Bintang - Day 2

Sebenarnya beberapa hari ini menjadi hari yang mendebarkan untuk saya dan suami, karena kondisi Izza yang sedang kurat sehat, demam naik turun. Setelah demam 4 hari kami berkunjung ke dokter lalu demamnya hilang dan kemarin muncul lagi. Akhirnya kami memutuskan untuk cek lab darah dan hasilnya tadi pagi positif tipes, tubex positif 6. Subhanallah. Melihat Izza yang lemah lunglai tapi dia sendiri masih ingin bermain membuat saya tidak tega. Jadi hari ini, mau tidak mau saya memaksanya untuk istirahat total. Setelah sarapan pagi, dia masih sempat bermain sebentar dengan saya dan dia sendiri yang meminta saya untuk menggambar singa kesukaannya. Jadi pagi ini diisi dengan kegiatan gambar saja yang Alhamdulillah membuat dia sedikit bersemangat dan tertawa terbahak melihat gambar saya yang cukup amburadul. 

tiga gambar hewan yang menakutkan, bukan? tapi gambar-gambar ini bisa membuat Izza senang sekali, lho

22.5.18

Game Level #7: Semua Anak Adalah Bintang - Day 1

Materi level 7 ini seakan menampar saya yang beberapa minggu lalu baru saja terus menerus mengeluh soal Izza yang belum bisa berbicara lancar seperti teman seusianya, atau tidak mau anteng seperti anak tetangga sebelah. Saya sempat kesal dengan segala macam ulah Izza yang ada saja yang membuat saya harus berkali kali membereskan rumah karena hampir penjuru rumah selalu berantakan. Tak jarang mengeluh pada suami atas ulah Izza yang membuat badan remuk redam (lebay, deh) alias capek. Mungkin karena hamil sudah di trimester tiga jadi tenaga saya juga tidak se-energik dulu, gampang capek, yang berujung gampang emosi. Padahal harusnya saya bersyukur ya kalau Izza sedang aktif-aktifnya dan penuh rasa penasaran yang artinya Izza dalam kondisi sehat dan tumbuh kembangnya normal. Harusnya, sih, ya, kadang emosi mengalahkan segalanya.

Materi level ini punya andil besar dalam mengubah persepsi saya tentang bakat dan talenta Izza, pun kilas balik tentang materi cara belajar Izza yang cenderung kinestetik, jadi wajar saja jika dia punya tenaga luar biasa untuk bergerak. Jika diamati, ada 3 hal yang membuat Izza berbinar saat melakukannya yaitu menyanyi, menggambar, dan bergerak. Dari ketiganya, yang paling membuat dia berbinar dan terlihat sangat bahagia adalah bergerak aktif. Mungkin karena dia memang tipe anak kinestetik, jadi semua hal yang dia pelajari diinterpretasikan dengan gerak tubuh. Contohnya, menyanyi pasti sambil menari, bicara sambil menggerakkan tubuh, bermain secara aktif, berhitung sambil menggerakkan jari, dan lainnya. Hanya saja, untuk level ini saya tidak akan mengevaluasi tentang keterampilan fisiknya karena izza sedang dalam kondisi yang kurang sehat, tumbuh gigi secara bersamaan jadi banyak rewelnya. Oleh itu saya akan memilih antara menyanyi (sambil menari tentunya) dan menggambar (bisa juga menulis atau sekadar mencorat coret).

7.4.18

Game Level #6: Menstimulasi Matematika Logis Pada Anak - Day 10

Hari ini saya benar-benar kehabisan ide bermain matematika logis dengan Izza. Semua mainan dari puzzle, bola, dan sebagainya sudah dimainkan, sedangkan otak sedang stuck tidak bisa berpikir kreatif lagi. Eh, saya ingat kalau hari ini kan sabtu jadi saya lempar tangan ke ayahnya, hehe. Suami mengiyakan dengan sangat enteng. Saya pun yakin dan beralih pada pekerjaan domestik yang sudah menunggu. Saya meminta suami untuk menjemur kerupuk untuk acara yasinan besok siang yang ternyata menjadi ajang bermain dengan Izza. Wah! Ide brilian yang tidak terpikir oleh saya, hehe. Mereka memindahkan kerupuk dari plastik ke koran dengan cara menghitungnya, Izza mengukuti dengan semangat. Ya, meskipun pada akhirnya mereka menjadikan kerupuk sebagai ajang bermain, memindahkan dari satu tempat ke tempat lain secara berulang demi untuk menghitung. Okelah, yang penting kerupuk tidak tercecer dan masih dalam keadaan bersih. Sejak mengikuti tantangan level 6, Izza semakin senang berhitung baik itu menghitung dengan jari atau langsung berhitung dan menyebut angka saat menjumpai bilangan angka.

Seperti halnya siang tadi saat kami pergi ke supermarket untuk belanja bulanan. Segala hal yang dia jumpai pasti dihitung olehnya. Saat naik tangga, sudah tidak mau dipegangi, maunya naik sendiri sambil berhitung. Saat membeli yogurt atau menghampiri jajaran air mineral, semuanya serba dihitung. Sesekali menghampiri saya dan ayahnya untuk diajak berhitung, apa ini memang efek dari tantangan level 6 atau memang sudah masanya Izza berhitung, ya? Entah ya, yang penting saya cukup senang dengan progresnya Izza. Dulu, saya sempat kuatir dengan Izza yang belum bisa berhitung satu hingga tiga disaat teman seusianya sudah lancar berhitung hingga lima atau bahkan sepuluh. Tapi harusnya saya tidak membandingkan karena prosesnya memang beda, dan sekarang Izza sudah bisa meski belum lancar dan urut.

6.4.18

Game Level #6: Menstimulasi Matematika Logis Pada Anak - Day 9


Hari ke sembilan, kondisi bunda sedang drop, benar-benar merasa capek sampai keluar lebam-lebam biru di badan yang memang tanda kalau badan butuh istirahat total. Hari ini pun tidak masak dan mengandalkan suami untuk beli sarapan dan makan siang, jadwal nyuci baju pun harus diundur hingga besok atau masuk ke laundry. Sementara Izza sedang sangat excited dengan segala mainan yang terkumpul di ruang tamu karena kemarin sengaja tidak saya kembalikan ke tempatnya. Setelah sarapan, dia meangambil bola warna-warni dan selotip yang tercecer, menyerahkan pada saya tanda minta dibuatkan lahan untuk “tanam dan petik bola” seperti kemarin. Saya alihkan saja dengan buku dan pensil warna agar saya tidak terlalu banyak bergerak mengikuti aksinya. Untungnya di mau dialihkan tapi mengambil stiker dan gunting yang memang saya sediakan untuknya. Saat ini saya tidak melarang Izza memegang gunting sungguhan (saya berikan gunting kecil yang ujungnya tumpul dan gagangnya empuk) untuk melatih motoriknya, untuk pisau memang masih saya berikan pisau mainan.

5.4.18

Game Level #6: Menstimulasi Matematika Logis Pada Anak - Day 8

Hari ini hawanya panas sekali, bunda malas gerak maunya di kamar pasang AC sambil main ponsel, hehe. Maunya sih begitu, ya, kalau masih single tak apa, sekarang sudah mau dobel anaknya jadi tidak boles malas biar anaknya tidak ikut malas. Pagi tadi saya sengaja tidak masak untuk sarapan jadi beli bubur ayam untuk Izza dan lontong sayur untuk suami. Jadinya masak saat menjelang makan siang. Setelah mandi dan sarapan, saya mengajak Izza untuk mengulang permainan kemarin yaitu memasukkan kartu bentuk ke dalam celengan kardus dengan 4 lubang bentuk sesuai dengan kartu. Seperti halnya sekolah mengulang pelajaran, hehe. Alhamdulillah Izza makin fasih mengenal bentuk terutama lingkaran dan segitiga, kadang dia masih bingung membedakan persegi dan persegi panjang, mungkin karena bentuk yang hampir sama. Tapi karena saya membuat persegi panjang bentuknya lebih kecil dari persegi Insyaallah masih mudah dipahami olehnya.

Selain fasih dalam memasukkan kartu bentuk ke dalam celengan, Izza juga makin fasih becanda dengan mainan tersebut. Makin penuh dengan kreasi. Entah dia dapat ide dari mana, kali ini seperti Izza yang sedang mengajari saya, persis seperti apa yang telah saya ajarkan padanya. Dia mengambil kartu bentuk dari dalam wadah dan menyodorkan pada saya seolah menginginkan saya untuk mengucapkan warna dan bentuknya. Lalu dia menunjuk celengan dan berkata “Iniii!” saat itu dia memberi saya kartu bentuk lingkaran dan tangannya pun menunjuk celengan lingkaran. Saat saya berhasil memasukkan kartunya ke dalam celengan dia bertepuk girang sambil berteriak “Yeaayyy” persis seperti saya. Ah, anak ini memang pandai meniru apa yang dilakukan orang dewasa. Saya pun masih takjub dengan aksinya pagi tadi.

4.4.18

Game Level #6: Menstimulasi Matematika Logis Pada Anak - Day 7

Celengan dan kartu bentuk
Celengan dan kartu bentuk, hasil karya hari ini
Hari ini, meneruskan konsep kemarin yaitu mengenalkan beberapa macam bentuk pada Izza plus mengenalkan warna dalam bentuk tersebut. Kali ini saya sudah ada persiapan yang cukup matang dalam membuat properti, Insyaallah terkonsep dengan baik dan semoga sesuai dengan umurnya. Dalam mengenalkan bentuk, saya membuat 4 macam bentuk yaitu lingkaran, persegi, segitiga, dan persegi panjang menggunakan kertas origami warna-warni dalam jumlah yang cukup banyak. Harusnya sih menggunakan kertas yang lebih tebal karena tujuan saya sebenarnya membuat kartu dalam berbagai macam bentuk tersebut. Sayangnya bahan yang tersedia di rumah tidak cukup memadahi. Lalu saya membuat sebuah celengan dari kardus air mineral yang atasnya diberi lubang sesuai dengan bentuk yang telah saya buat sebelumnya. Jadi celengannya ada 4 lubang yaitu lingkaran, segitiga, persegi, dan persegi panjang.

3.4.18

Game Level #6: Menstimulasi Matematika Logis Pada Anak - Day 6

menyusun puzzle
menyusun puzzle
Hari ini rencana saya adalah mengenalkan beberapa macam bentuk pada Izza, dan yang pertama adalah lingkaran karena bnetuk yang paling mudah diingat. Sayangnya saya belum menyiapkan properti secara matang, jadi masih ala kadarnya dari puzzle dan gambar yang kami buat. Setelah sarapan, saya mengajak Izza untuk mengambil buku dan spidol dan membuat bentuk lingkaran. Dari awal saya mengajarkan mengucap lingkaran dalam bahasa inggris karena suku kata lebih sedikit dan mudah untuk diucapkan. Dan setelah saya coba keduanya pada Izza memang lebih mudah mengucapkan dalam bahasa Inggris. Saya membuat gambar lingkaran dengan mengucap “round” lalu Izza menirukan meski bentuk gambarnya masih berupa coretan ala kadarnya. Beberapa kali saya mencontohkan membuat lingkaran dan ditirukannya, ada satu ‘aha moment’ bagi saya saat tiba-tiba saja Izza memutar-mutar tangan di depan dada sambil bergumam lagu yang berjudul Wheels on The Bus. Kami pun menyanyi dulu sambil memeragakan, lagunya seperti ini, “the wheels on the bus go round and round, round and round, all through the town”. Izza sangat suka lagu ini tentunya saat memeragakannya. Kami memnyanyi lagu ini kira-kira 6 atau 7 kali hingga berujung menggambar bebas.

2.4.18

Game Level #6: Menstimulasi Matematika Logis Pada Anak - Day 5

Hari ini tema dalam bermain dan belajar matematika logis mengenalkan warna dan berhitung menggunakan bola plastik warna-warni. Bola warna-warni ini lebih sering saya sembunyikan dan dihindarkan dari pandangan mata Izza daripada saya keluarkan untuk bermain. Alasannya sederhana, saya lelah membereskannya, hehe, padahal sudah dibeli tapi disimpan dengan rapi. Dan mulai kemarin dikeluarkan lagi dari tempat penyimpanan untuk mendukung Izza dalam belajar dan bermain matematika logis. Untungnya Izza sudah mengerti cara merapikan mainannya sendiri jadi saya tidak terlalu capek untuk memungut satu per satu bola kecil tersebut. Ternyata, Izza sangat antusias saat bermain dengan bola-bola tersebut, seperti bertemu dengan kawan yang sudah lama tidak berjumpa. Akhirnya saya yang harus putar otak agar Izza bisa bermain bola tersebut dengan tenang tanpa dilempar ke sembarang tempat. Ide pun di dapat setelah membuka instagram.

1.4.18

Game Level #6: Menstimulasi Matematika Logis Pada Anak - Day 4

Memancing ikan dan bola di ember
Memancing ikan dan bola di ember
Pagi ini kami ada rencana ke car free day di taman bundaran besar sayangnya kesiangan, tapi kami tetap berangkat untuk sarapan dan Izza naik odong-ododng yang sudah kami janjikan. Biasanya jadwal naik odong-odong kalau tidak rabu malam ya kamis malam, tapi hujan terus jadilah minggu pagi kami janjikan ke CFD. Setelah sarapan di CFD, kami ke pasar besar untuk beli stok ikan, ayam, dan lauk pauk lainnya dan berujung mampir ke toko mainan beli pancing magnetik yang diminta Izza saat di CFD. Ayahnya menjanjikan, jadi membelikan. Sampai di rumah saya sibuk membereskan hasil belanjaan, menyiangi ikan, ayam, dan semuanya. Urusan belajar dan bermain hari ini menjadi tanggung jawab ayah Izza sepenuhnya. Keduanya sepertinya sangat antusias membuka alat pancing magnetik yang bari dibeli tersebut.

31.3.18

Game Level #6: Menstimulasi Matematika Logis Pada Anak - Day 3

menakar kacang hijau dalam wadah
menakar kacang hijau dalam wadah
Sabtu bersama ayah, itulah judul kegiatan Izza di rumah setiap akhir pekan kalau ayah sedang tidak lembur. Hari ini, mulai dari bangun pagi, mandi, lalu sarapan dikerjakan oleh ayah sedangkan saya bersantai sejenak karena tidak ada cucian baju. Alasan dibalik kagiatan sabtu bersama ayah adalah untuk meningkatkan bonding antara Izza dengan ayahnya, karena setiap malam kurang maksimal. Disamping itu, saya ingin membiasakan suami dan Izza tanpa saya untuk sejenak saja agar kelak saat melahirkan nanti mereka berdua bisa mandiri dan ayah bisa memenuhi kebutuhan Izza. Ya, seperti lahiran pertama, saya memilih untuk tidak pulang ke Jawa karena lebih nyaman jika berada di samping suami saat hamil tua. Sebelum saya hamil, kegiatan sabtu bersama ayah memang sudah ada hanya saja, saya masih sering ikut campur. Mulai beberapa minggu lalu sudah sedikit lepas tangan meski untuk urusan makan kadang masih belum rela. Untuk urusan belajar dan bermain, Alhamdulillah suami sudah bisa diandalkan, dalam artian sudah bisa bersikap konyol dihadapan anaknya, hehe. Maklum, suami tipe jaga image.

30.3.18

Game Level #6: Menstimulasi Matematika Logis Pada Anak - Day 2

Menghitung pompom
Menghitung pompom menggunakan penjepit
Alhamdulillah hari ini libur nasional jadi suami bisa di rumah bermain dengan Izza, setelah global cleaning kamar dan lemari Izza serta bagian teras dan taman. Global cleaning adalah program rutin setiap 3 bulan sekali yang selalu kami lakukan untuk bersih-bersih rumah bagian tertentu secara total. Setelah sarapan dan cuci baju, kami mulai bergeriliya dengan rugas masing-masing sedangkan Izza bermain dengan pompom kecil warna warni dan sumpit/penjepit kecil. Alhamdulillah tidak banyak yang harus kami kerjakan jadi bisa beres dalam waktu singkat dan perhatian beralih pada Izza. Permainan hari ini menggunakan konsep mengenalkan warna dan belajar berhitung, ditambah untuk melatih motorik halusnya.

29.3.18

Game Level #6: Menstimulasi Matematika Logis Pada Anak - Day 1

Saat bermain dengan Izza, rasanya saya jarang mengajarkan tentang matematika yang sesungguhnya yaitu seperti berhitung sederhana atau bahkan yang rumit. Saya baru tahu kalau matematika logis itu termasuk mengenal warna, bentuk, ukuran, dan pemecahan masalah secara logis lainnya yang ternyata selama ini sudah kami lakukan bersama. Saat membaca tahap perkembangan kognitif pada anak di bawah 2 tahun, ternyata Izza belum masuk pada usia yang harus bisa mengerti tentang matematika, tapi tetap ada tahapan kognitif yang harus dilalui.

Tahap perkembangan aspek kognitif yang harus dilalui oleh anak usia 18-24 bulan menurut Standar Nasional PAUD, adalah sebagai berikut:
  • Berjalan dan Pemecahan masalah :
  1. Mempergunakan alat permainan dengan cara memainkannya tidak beraturan, seperti balok dipukul-pukul
  2. Memahami gambar wajah orang
  3. Memahami milik diri sendiri dan orang lain seperti : milik saya, milik kamu
  4. Menyebutkan berbagai nama makanan dan rasanya (misal, garam –asin, gula-manis)
  • Berpikir logis:
  1. Menyusun balok dari besar ke kecil atau sebaliknya
  2. Mengetahui akibat dari suatu perlakuannya (misal:menarik taplak meja akan menjatuhkan barang-barang di atasnya)
  3. Merangkai puzzle
  • Berpikir Simbolik : 
  1. Menyebutkan angka satu sampai lima dengan menggunakan jari

23.3.18

Aliran Rasa Menstimulasi Anak Suka Membaca

Membaca, adalah kegiatan favorit saya sepertinya sejak sekolah dasar, sejak saya mengikuti lomba literasi dan baca puisi tingkat kecamatan dan membawa pulang tropi ketiga. Mungkin sejak itu, saya menjadi adiktif dengan buku, suka berlama-lama di perpustakaan membaca novel. Masih berlanjut hingga kuliah dan kerja terlebih saat berada di dalam kamar kos sendirian, saya lebih suka membunuh waktu dengan cara membaca daripada kluyuran tanpa tujuan. Hingga akhirnya kegiatan membaca mulai berkurang saat anak pertama lahir, karena saya lebih senang tidur, hehe. Pada saat hamil anak pertama, saya borong buku-buku cerita islami dan yang sering dibaca saat hamil adalah Kisah Seru Nabi dan Rasul dari Salamadina yang ternyata menjadi buku favorit Izza saat ini.

Melakukan tantangan ini bisa saya bilang gampang-gampang susah. Gampang, karena sejak bayi Izza sudah terbiasa dengan buku karena saya sering membaca buku dan Al-Quran bersamanya. Izza mulai memegang buku secara fisik sejak dia bisa tengkurap. Mulai dari softbook hingga boarbook yang aman untuk bayi. Pengenalan tersebut berlangsung sangat lancar karena Izza cukup tertarik dengan buku, setiap hari selalu ada buku yang dia buka. Susahnya, yaitu konsistensi saya dan suami untuk menyampaikan cerita dalam buku tersebut dan membuat membuat Izza paham dengan cara yang menyenangkan. Susahnya lagi, hobi membaca saya belum bisa kembali seperti dulu dan saya masih belum bisa mengajak suami untuk membaca buku di rumah.

10.3.18

Game Level #5: Menstimulasi Anak Suka Membaca - Day 10

Sebuah ujian yang cukup melelahkam di hari ini. Rencananya, sabtu pagi kami balik pulang ke Palangkaraya. Semua baju sudah dipacking dan setelah sarapan kami langsung berangkat pulang, sebelumnya sempat mampir sebentar untuk cuci mobil. Sampai di Banjarmasin suami dapat kabar kalau senin dan selasa ada agenda yang sama di Banjarbaru, sayangnya surat dinas belum resmi keluar. Masih belum bisa memutuskan untuk tetap stay atau terus pulang ke Palangkaraya. Akhirnya kami berhenti sejenak dan masuk mall, hehe. Satu jam kemudia surat dinas resmi keluar. Ternyata makin bingung karena jatah baju yang kami bawa hanya untuk dua hari dan suami tidak bawa seragam untuk senin. Settelah berdiskusi akhirnya suami memutuskan untuk stay dan beli banu putih untuk hari senin. Baju kotor yang kami bawa masuk laundry, daripada harus pulang dan balik lagi kurang lebih 12 jam perjalanan.

Akhirnya kami bertiga menghabiskan waktu sepanjang siang untuk membeli dua kemeja suami dan beberapa baju untuk Izza karena stok baju bersih tinggal sepasang. Mau tidak maunya tanpa dicuci langsung dipakai. Sementara bundanya ngalah tidak membeli baju satu potong pun, meski tinggal satu baju bersih demi pengeluaran yang tak terduga ini. Selepas ashar kami menuju Banjarbaru lagi untuk menginap di hotel lagi. Rasa lelah membuat saya enggan mengeluarkam buku untuk Izza, tapi saat saya buka koper, Izza mengambil caryon dan buki kisah nabi.

9.3.18

Game level #5: Menstimulasi Anak Suka Membaca - Day 9

baca buku day 9
baca buku day 9
Hari ini masih di Banjarbaru dan benar tebakan saya, suami meeting hingga malam jadi kami masih harus menginap. Dan, kabar (insyaallah) baiknya dinas suami diperpanjang hingga selasa depan, jadi staycation bunda dan Izza masih lama, hehe. Sayangnya, saya cuma membawa 4 buku salah satunya buku kisah 25 nabi dan rasul jadi bacaan Izza sedikit. Besok dicoba rayu ayah untuk beli buku lagi, hehe. Setelah sarapan bersama, suami berangkat rapat sedangkan saya dan izza lanjut bermala-malasan di kamar. Niat hati ingin pergi nge-mall, sayangnya tidak diijinkan suami, takut repot bawa Izza sedangkan saya sedang hamil. Saya pun mengeluarkan semua buku karena tidak membawa mainan sama sekali. Dari 5 buku (1 buku saya), Izza memilih 2 buku yang merupakan majalah anak dari Pustaka Lebah.

8.3.18

Game level #5: Menstimulasi Anak Suka Membaca - Day 8

Masih edisi pagi yang sendu karena cuaca pagi masih mendung. Hari ini Izza bangun cukup pagi dengan ceria, tak ada tangisan, malah sebaliknya dia menyapa saya yang sedang di dapur lalu mencari ayahnya yang sedang memberi makan kelinci. Pagi yang rajin untuk saya karena jam 6 pagi masakan sudah beres jadi suami bisa sarapan dengan nikmat. Eh, ternyata Izza juga minta makan dengan sendirinya dan tidak mau disuapi. Alhamdulillah, saya bisa lanjut cuci piring sedangkan Izza dan suami menikmati sarapan. Setelahnya, suami pamit mandi, Izza pun demikian mandi pagi juga. Tumben Izza sangat anteng saat diajak mandi biasanya harus main kejar atau petak umpet dulu. Saat suami berangkat kerja saya putuskan istirahat sejenak sambil nonton berita di TV. Tiba-tiba Izza mengambil e-pen dan satu buku dalam laci, dia bilang “Kukuuu, baaaa” mungkin maksudnya “Baca buku, Bunda.” Yuk!

✿ Aku Suka Buku dari Halo Balita
Buku yang dia ambil sendiri dan menyalakan e-pen pun sendiri. Sambil membuka halaman buku Izza berceloteh “Kukuuuu, baaa...” saya sendiri belum paham arti kata-katanya. Buku ini bercerita tentang anak yang suka baca buku dan suka mendengar cerita dari keluarganya. Saya sendiri mengenalkan buku pada Izza sejak hamil, mendongeng kisah nabi. Saat dia bisa tengkurap mulai saya kenalkan dengan buku bergambar agar tertarik. Alhamdulillah sampai sekarang tidak sulit mengajak Izza membaca buku. Meski membaca bukan dalam arti yang sebenarnya. Cukup lama Izza membuka halaman buku ini dan meniruka suara yang keluar dari e-pen. Hingga secara tiba-tiba pula Izza berlari ke dapur untuk minta kurma. Aktivitas membaca selesai diganti dnegan ngemil, hehe.

7.3.18

Game level #5: Menstimulasi Anak Suka Membaca - Day 7

Pohon literasi day 7
Pohon literasi day 7
Rabu malam adalah jadwal saya ke pasar kaget yang ada di perumahan sebelah, plus jadwal Izza naik odong-odong. Jadi membaca buku saya alihkan di pagi an siang hari, tentu melihat moodnya Izza dulu. Cuaca pagi ini masih sendu seperti kemarin, malas masak jadinya sarapan seadanya saja. Baru masak saat Izza selesai sarapan. Seperti hari kemarin, Izza menemani saya masak dengan bermian panci, kentang, sendok nasi, dan spindol marker! Entah spidol itu ambil darimana padahal seingat saya sudah tersimpan rapi di rak bagian atas. Saat spidolnya saya minta dia ngamuk, akhirnya saya menyerah agar bisa masak dengan nyaman. Alhasil 3 panci dan kentang penuh dengan coretan spodol marker warna hitam. Untungnya bisa dibersihkan dengan jeruk nipis, hehe. Setelah semua pekerjaan rumah beres saya mengajak Izza untuk istirahat santai di ruang tamu dengan mengambil beberapa buku dari laci.

6.3.18

Game level #5: Menstimulasi Anak Suka Membaca - Day 6

Baca buku hari ke 6
Baca buku hari ke 6
Hari ini cukup sulit mengajak Izza membaca karena dia menemukan mainan baru yaitu kentang dan segala macam panci yang ada di luar laci dapur kemudian meminta beberapa sendok. Anteng, memang, padahal cuma memndahkan kentang ke panci yang satu ke yang lainnya menggunakan sendok nasi, dan menjadi terlanjur anteng hingga tidak mau beralih dari mainannya itu. Tapi ya hikmahnya saya bisa masak dan beres-beres rumah. Izza bermain dengan kentang serta panci cukup lama hingga waktu makan siang saat ayahnya pulang siang. Setelah makan siang terbitlah ngantuk dan Izza mengajak saya tidur hingga sore, Alhamdulillah.

5.3.18

Game level #5: Menstimulasi Anak Suka Membaca - Day 5

Senin sibuk, setelah beres masak untuk makan siang dan nyuci baju, saya menemani Izza membaca buku. Pilihan jatuh pada buku karena sedari subuh hingga siang hujan deras jadi inginnya bermalas-malasan saja. Sempat bermain dengan kelinci dan bermain block puzzle, akhirnya saya mengalihkan perhatian Izza pada buku dan electronic pen. Saya mengambil 3 buku sekaligus dan ternyata Izza tertarik karena akhirnya bertemu dengan e-pen lagi setelah lupa menyimpannya dimana. 10 menit pertama Izza masih hanya berminta dengan e-pennya dengan memutar musik sambil memeragakan sesuai dengan lirik lagu dalam e-pen. Hingga akhirnya dia meletakkan e-pen pada judul buku dan dilanjut ‘membaca’.

⚫ Aku Bisa Makan Sendiri dari Halo Balita
Salah satu buku seri Halo Balita yang menjadi favorit Izza karena banyak gambar yang menunjukkan aktivitas makan dan berbagai macam lauk pauk. Izza suka menirukan gerakan makan dan menunjuk ikan dan mensuarakannya seperti “nyam..nyam..nyam..”. Pada judul buku ini saya sering bercerita tentang anak yang bisa makan sendiri tanpa disuapi dan makannya habis, setelah makan harus minum agar tidak tersedak. Entah pengaruh atau tidak, Izza memang mulai maunya makan sendiri dan tidak mau diganggu, hanya saja saya yang belum rela sepenuhnya jika Izza harus makan sendiri. Yang sering Izza lakukan dari hal yang saya ceritakan dalam buku ini adalah berdoa sebelum dan sesudah makan. Saat mau makan saya mengajaknya berdoa maka otomatis dia akan mengangkat kedua tangan seolah berdoa sambil mulutnya komat kamit. Dalam proses membaca memang tidak sepenuhnya bisa lancar membaca halaman demi halaman, Izza sering loncat halamat untuk sekadar melihat gambar yang dia suka. Tak apa lah, ya.

4.3.18

Game level #5: Menstimulasi Anak Suka Membaca - Day 4

Pohon Literasi Izza day 4
Pohon Literasi Izza day 4
Hari minggu yang lumayan sibuk dan segala kegiatan meleset dari rencana awal. Sebelumnya, kami sudah berniat untuk ikut CFD di bundaran besar Palangkaraya, apa daya jam 8 pagi Izza baru bangun. Mau tidak mau CFD harus dibatalkan karena sudah terlalu siang, akhirnya beralih ke pasar tradisional untuk berburu ikan segar dan daging sapi. Minggu yang niatnya mau santai berakhir sibuk di dapur, menyiangi beberapa ikan, udang, cumi, dan daging. Dilanjut dengan memasak, padahal harusnya libur masak tapi suami minta semur daging. Ditengah kesibukan saya di dapur, Izza bersama ayanya entah sedang bermain apa. Yang pasti dari dapur terdengar Izza sedang berlari kesana kemari dan berteriak, mungkin bermain dengan kelincinya. Sesekali masuk ke dapur untuk meminta kurma dan minum. Selang beberapa lama suasana berubah menjadi sunyi, tidak ada teriakan Izza ataupun ayahnya. Saat saya intip ternyata mereka berdua sedang asyik membaca buku.

3.3.18

Game level #5: Menstimulasi Anak Suka Membaca - Day 3

Sabtu ini, Izza lebih banyak menghabiskan waktu bersama ayah, bahkan makan siang pun bersama ayah karena badan saya sedang memberikan sinyal agar istirahat sejenak setelah mencuci baju. Saat Izza bersama ayahnya memang lebih banyak menghabiskan waktu dengan berbagai macam aktivitas fisik bahkan bermain sepak bola daripada membaca buku. Pagi tadi, Izza dan ayahnya bermain dengan kelinci yang baru dibeli di Banjarmasin. Waktu tersebut mereka habiskan hingga Izza akhirnya minta tidur siang yang berarti kami bertiga akan tidur siang bersama. Izza bangun menjelang mandi sore dengan senyuman yang merekah lalu tiba-tiba masuk kamar dan mengambil jilbab serta buku dongeng yang tercecer di ruang tamu. 

Membaca buku sambil tengkurap
Membaca buku sambil tengkurap

2.3.18

Game level #5: Menstimulasi Anak Suka Membaca - Day 2

Di hari kedua melakukan tantangan level ini, ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Izza yang dulu sangat mudah tertarik dengan buku meski hanya sekadar dilihat dan dibolak-balik, sekarang susah. Makin besar, makin banyak maunya, makin aktif dan lebih suka dengan aktivitas fisik. Mengajaknya duduk anteng untuk mendengarkan saya bercerita tentang buku yang dibawanya bukan lagi perkara mudah, butuh usaha ekstra agar Izza mau nurut. Okelah, saya tidak bisa memaksakan cara ini agar Izza mau duduk anteng dengan buku-bukunya, tapi saya yang harus mengikuti cara dia dalam menikmati buku. Seperti halnya hari ini, Izza lebih suka berarian kesana kemari mengambil mainan di keranjang belakang, memberikan pada saya atau menyembunyikan di tempat tertentu. Bahkan dia lebih suka untuk bermain bola saat saya ajak untuk duduk manis di depan rak bukunya.

Akhirnya Izza berhenti tanpa perintah dari saya, mungkin dia lelah, hehe. Saya memintanya untuk mengambil buku dari rak dan laci, hasilnya adalah, Izza mengeluarkan semua buku di laci bahkan buku-buku saya. Secara acak dia membuka buku satu persatu beraksi seolah sedang membaca buku dengan mulutnya yang terus bergumam semaunya. Sayangnya momen ini tidak sempat terekam karena memang saya sedang menghindarkan ponsel yang sangat dia inginkan untuk membuka youtube. Setelah itu saya memintanya untuk memilih dua buku dari tumpukan buku yang dia bawa. Izza mengambil buku dongeng berjudul “Tiko dan Tidut” dan majalah anak dari Pustaka Lebah. Sebelum kami mulai membaca buku, saya membantunya untuk mengembalikan buku-buku yang dia keluarkan.

1.3.18

Game level #5: Menstimulasi Anak Suka Membaca - Day 1

Pohon Literasi Izza
Pohon Literasi Izza
Hari ini saya dan Izza membuat pohon literasi bersama, bahan dan alat sudah disediakan ayah sebelum beliau berangkat dinas ke Banjarbaru. Izza senang, karena bisa bermain dengan spidol, kertas, dan gunting, dia asyik mencoret dan menggunting apapun yang dia temukan. Sedangkan saya pusing membuat sketsa pohon, harap maklum, sejak SD memang paling miskin ilmu tentang menggambar. Setelah satu sketa pohon selesai saya merasa sangat tidak puas dan mengirmkannya pada suami melalui chatting. Suami memaklumi, hanya saya yang kurang percara diri dengan hasilnya. Oleh sebab itu, sementara waktu kami menggunakan sticker pohon jumbo yang sudah tertempel manis di dinding. Saat suami pulang, biarkan beliau yang mengambil alih gambar pohon, hehe. Izza, sih, senang-senang saja karena dia masih bisa terus bermain tebak hewan yang ada di dinding.

10.2.18

Game Level #4: Memahami Gaya Belajar Anak - Day 10

Izza bermain dengan temannya
Hari ini kami bertolak ke Lamongan untuk tujuan mudik yang sesungguhnya. Saya tinggal di Lamongan satu minggu selama suami diklat ke Banjarmasin. Saat suami kembali saya juga ikut ke Surabaya lagi, jadi sama-sama punya waktu untuk keluarga yang impas. Seperti biasanya, Izza lebih banyak tidur selama perjalanan tadi dan baru bangun saat masuk ke pasar Lamongan guna mampir beli gado-gado. Siang hari sesaat dzuhur, kami sampai di rumah nenek saya yang alias buyutnya Izza. Sambutan super ramai dari para tetangga yang ikut masuk ke rumah membuat Izza enggan turun dari gendongan saya. Satu per satu tetangga berdatangn untuk melihat Izza, tentu saja Izza semakin tidak ingin lepas dari pelukan saya. Mungkin dia kaget dengan suasana ramai di kampung halaman bundanya, biasanya sepi cuma bertiga di rumah.

9.2.18

Game Level #4: Memahami Gaya Belajar Anak - Day 9

Pagi-pagi sekali hari ini kami bertiga, saya, suami, dan Izza, berangkat ke bandara untuk pulang sejenak ke Jawa. Aslinya sih karena suami ada diklat satu minggu di Banjarmasin dan saya tidak bisa ikut karena harus tinggal di udiklat dan suami tidak rela meninggalkan istrinya di rumah sendiri hehe. Maklum, kemana pun dinasnya saya selalu ikut jika lebih dari 3 hari. Mungkin karena saya sedang hamil dan sedikit rewel jadi suami lebih memilih untuk membawa pulang kami semua. Hari ini adalah penerbangan Izza yang kesekian kalinya, karena Izza termasuk sering wara wiri dengan pesawat sejak bayi, terakhir kira-kira 4 bulan lalu. Yang membuat sedikit deg-degan karena Izza semakin mengerti, sudah bisa meminta dan menolak dengan jelas, sudah bisa marah dan merajuk, dan masih belum terbiasa dengan keramaian yang terlalu padat. Penerbangan sebelumnya Izza santai sekali bahkan banyak tingkah hingga mau bermain dengan orang yang duduk di sebelah saya atau mau menyapa orang-orang yang dilaluinya. Kali ini tidak, Izza lebih memilih kondisi nyamannya dia, yaitu didekap dalam gendongan saya tidak mau dengan ayahnya. Kalaupun turun dari gendongan tidak mau jauh-jauh dari saya.

Saat di ruang tunggu saya sengaja memberikan dia bekal makanan yang sudah disiapkan dari rumah. Alhamdulillah Izza tidak mau duduk anteng, hehe. Dia berjalan kesana kemari menghampiri anak-anak kecil yang dilihatnya. Itulah Izza, asal ada anak-anak pasti senang dan supel sekali. Izza dengan sangat ramah mengajak jabat tangan, memegang jilbab, atau menunjuk gambar kartu yang ada di baju mereka. Saat dihampiri orang dewasa, larilah Izza ke pelukan saya. Ada yang bilang kalau Izza penakut, tapi saya bilang itu bentuk pertahanan dirinya, tidak mau dengan orang yang tak dikenalnya. Di dalam pesawat, Izza kepo seperti biasanya. Membuka nutup meja lipat di depannya dan jendela yang ada di samping, mengambil semua majalah yang ada di kursi depan bahkan bermain dengan pelampung bayi yang baru saja diberikan oleh pramugari. Saat lepas landas Izza minta nyusu hingga akhirnya tidur sampai sesaat sebelum landing, Alhamdulillah, hehe.

8.2.18

Game Level #4: Memahami Gaya Belajar Anak - Day 8

Izza bantu packing
Izza bantu packing
Hari ini jadwalnya packing, karena besok akan mudik ke Jawa untuk kira-kira dua minggu. Ada banyak sekali yang harus dipersiapkan terutama barang Izza yang harus disiapkan dengan benar mulai dari buku yang tidak boleh tertinggal, boneka, obat-obatan khusus, dan sebagainya. Saya dengan sengaja mengajak Izza untuk urun membantu saat packing dan tidak memberikan dia mainan agar bisa fokus dengan packing. Benar saja, Izza dengan sungguh-sungguh sekali ikut membantu saya dalam beres-beres, ada yang benar membantu, ada yang malah membuat saya kerja dobel, hehe. Izza mau mengambilkan ini itu untuk diserahkan ke saya, merapikan ini itu, dan sesekali saya minta untuk membuang sampah ke tempat sampah di belakang.

7.2.18

Game Level #4: Memahami Gaya Belajar Anak - Day 7

Izza belajar menggunting
Izza belajar menggunting
Hari ini masih sama dengan kemarin kondisinya, Izza masih batuk pilek ditambah cuaca sendu sedari pagi hingga sore. izza sepertinya bosan dengan aktivitas membaca buku, karena buku dan e-epn hanya digunakan sebentar saja tidak seperti biasanya. Saat pagi, kegiatan hampir sama setiap hari, setelah dia sarapan akan ikut ‘membantu’ saya urusan domestik seperti beres-beres alat makan, menjemur cucian atau membereskan ruang tamu yang berantakan dengan mainannya. Setelah itu kalau dia tidak ngantuk biasanya akan saya temani bermain, hari ini jam 9 pagi dia sudah minta mapan, sama seperti kemarin. Tapi sayangnya, saya ikut bablas ketiduran hingga jam 11 siang dan berujung tidak masak untuk makan siang suami dan Izza. Akhirnya minta tolong suami pulang lebih awal untuk membeli makan siang, hehe.

6.2.18

Game Level #4: Memahami Gaya Belajar Anak - Day 6

Kemarin malam, tiba-tiba Izza batuk dan hidungnya meler. Saya sih curiga ketularan ayahnya yang sedang batuk pilek juga karena Izza tidak minum es atau makan sesuatu yang aneh. Alhasil sepanjang malam rewel hingga pagi tadi, maunya nempel ke bunda. Saat saya masak untuk makan siang pun dia terus nempel, mungkin kepalanya pusing. Jadi jam 9 pagi dia sudah minta mapan untuk tidur dan nenen. Eh, benar saja, tak lama kemudian Izza tidur. Sayangnya, tidurnya tidak cukup pulas karena terganggu oleh batuk dan hidung yang sepertina tersumbat dahak. Jadi beberapa kali terbangun mencari saya untuk minta ditemani lagi. Hal ini terjadi berulang kali hingga akhirnya dia benar-benar lelap jam setengah 11 siang. Dan terbangun satu jam kemudian saat adzan dzuhur. Izza masih sedikit manja dan maunya dipeluk, akhirnya mengeluarkan senjata yaitu TV sekalian makan siang.

Setelah makan siang, Izza rupanya hanya ingin bermalas-malasan di kasur sambil memainkan boneka tangannya. Okelah, saya tidak akan memaksa Izza untuk aktivitas lainnya karena sedang batuk pilek, kesempatan buat saya juga agar bisa istirahat. Menemaninya bermain sambil berbaring, jarang-jarang, hehe. Izza punya 3 boneka tangan dan 10 boneka jari, sayangnya boneka jari tercecer entah dimana. Izza meminta saya untuk memasukkan salah satu boneka tangan yang berupa kucing ke tangannya dan satu boneka lain ke tangan saya. Kemudian dia seolah-olah sedang bermain peran, boneka kucing yang ada ditangannya diajak salim atau berjabat tangan dengan boneka di tangan saya, hehe. Izza seperti meminta saya untuk bercerita dan dia yang memeragakannya. Kadang boneka tangan tersebut diajak menulis, membaca, dan ikut menyanyi serata menari. Ini kegiatan sederhana tapi favorit Izza meski tidak bertahan lama, hehe, jika dia melihat hal lain yang lebih menarik maka bonekanya akan diletakkan begitu saja.

5.2.18

Game Level #4: Memahami Gaya Belajar Anak - Day 5

Seharian ini, Izza membantu saya untuk beres-beres karena baru menyempatkan beres-beres selepas pulang dari Banjarmasin. Izza bantu beres-beres dengan sungguh-sungguh. Jika saya meminta tolong untuk mengambilkan atau mengembalikan sesuatu dengan semangat dia melakukannya. Ikut melipat baju ala kadarnya, membantu membuang sampah plastik dan tissue ke tempat sampat di belakang dan menaruh cucian baju kotor ke ember. Senengnya punya anak aktif, bisa diminta tolong ini itu, hehe. Dari semua perintah yang saya katakan ke Izza, Alhamdulillah dia paham sepenuhnya, bisa mengambil barang yang saya minta, bisa memasukkan bajunya ke lemari, membuang sampah, hingga mengambilkan saya botol minum yang ada di atas meja. Dari aktivitas ini saya mengambil kesimpulan sementara, bahwa gaya belajar Izza auditori-kinestetik karena dia berhal memahami perkataan saya.

Setelah semua pekerjaan rumah beres, saya menemani Izza mendengarkan lagu anak-anak dari HP (tanpa video) sambil istirahat. Izza merajuk ke pelukan saya dan ikut berbaring sambil mengikuti irama lagu. Kali ini saya bermaksud untuk ngetes kemampuan Izza mengingat irama musik yang pernah dia lihat dan dengarkan. Ada satu lagu dari youtube Omar dan Hana yang berjudul “Sayang Mama Papa”, sedikit irama intro lalu Izza bersenandung “Lalalala... Lalalala...” persis seperti irama asli dari lagu. Lagu kedua lagu “Alif Ba Ta”, Izza mengangguk-anggukkan kepala lalu bernyanyi agak keras “..... Taaak...” setelah Alif dan Ba dinyanyikan. Alhadulillah Izza hafal. Lagu selanjutnya “Naik Kereta Api”, dimulai dengan irama pembuka dan Izza berkata “Cuuuu... cuuuu... ” sama persis dengan lagu yang dia dengarkan. Saling menyahut lagu ini berlangsung sampai beberapa lagu.

4.2.18

Game Level #4: Memahami Gaya Belajar Anak - Day 4

Kami baru sampai Palangkaraya sabtu tengah malam dan ternyata Izza malah tidak ingin tidur melainkan ingin bermain dulu. Akibatnya, dia bangun agak siang di hari minggu, saya dan suami pun cukup kelelahan sehingga tidak banyak aktivitas yang kami lakukan hari ini. Kami lebih banyak menghabiskan waktu membaca buku dan menulis, kemudian nonton TV lalu tidur sepanjang siang. Saya pun menjadi bingung, mau menulis laporan pengamatan yang seperti apa, sedangkan Izza hanya membaca bukunya atau sesekali ‘menyiksa’ ayahnya. Saat membaca buku, seperti biasanya, Izza lebih teratik untuk menirukan gerakan yang ada di buku daripada mengikuti saya membaca. Kadang mau mengikuti beberapa kata jika terlihat menarik baginya. Hari ini, Izza membaca dengan electronic pen dan secara tidak sengaja menunjuk gambar sepeda, saat e-pen berbunyi ‘kringg-kriingg’ seperti suara sepeda, Izza malah membuat gerakan lucu dengan pundak dan kedua tangannya. Lalu terus mengulangnya hingga beberapa kali yang banyak sekali. Rupanya Izza suka dengan suara sepeda yang keluar dari e-pen dan wajahnya tampak tertawa riang. Bunda senang.

Sedangkan gerakan ‘menyiksa’ yang saya maksud adalah naik ke punggung ayah dan meminta ayahnya menjadi kuda atau dengan sengaja berdiri di atas perut ayahnya lalu meloncat-loncat. Memaksa ayahnya untuk mengikutinya menyanyi dan menari, jika ayahnya diam maka otomatis Izza akan menarik baju atau tangan ayahnya atau bahkkan menjambak rambut agar mau mengikutinya. Ekstrem, ya? Iya, tapi kami tidak akan melarangnya, melainkan terusn sounding jika gerakan atau aktivitas tersebut tidak sopan jika dilakukan. Dari aktivitas membaca dan ‘menyiksa’ ini terlihat bahwa Izza itu anak yang aktif dan ekspresif entah bagaimana dia mengekspresikannya. Akan selalu ada tingkahnya yang membuat saya dan suami terus bergerak mengikutinya. Salah satu ciri gaya belajar kinestetik.

3.2.18

Game Level #4: Memahami Gaya Belajar Anak - Day 3

Memberi makan kelinci
Memberi makan kelinci

Hari ini kami masih di Banjarbaru dengan agenda berkunjung ke sebuah taman bermain yang ada di sini untuk melihat kelinci. Itu yang saya janjikan ke Izza, kita akan melihat kelinci, jadi setiap dia mogok melakukan sesuatu seperti mogok makan atau enggan untuk mandi maka saya bilang akan melihat kelinci. Perjalanan cukup jauh hingga akhirnya sampai saat kondisi cuaca sedikit panas, saya pun agak enggan untuk turun dari mobil, hehe. Singkat cerita, sudah sampai di taman kelinci, tidak begitu luas tapi ada cukup banyak kelinci yang ada di kandang dan berkeliaran di sekitar. Awalnya Izza takut dan minta gendong karena beberapa kelinci cukup agresif untuk mendekati kami. Saya pun membujuk Izza sambil memberikan contoh untuk member makan kelinci-kelinci tersebut.

2.2.18

Game Level #4: Memahami Gaya Belajar Anak - Day 2

Hari kedua tantangan level 4 ini kami lakukan di kota lain. Subuh tadi suami harus mendadak pergi ke Banjarbaru untuk rapat dan seperti biasanya jika agenda rapat suami ada di penghujung weekday alias memasuki waktu akhir pekan, maka saya dan Izza akan ikut. Berangkat pagi-pagi sekali dari rumah tanpa driver jadi hanya kami bertiga, sepanjang jalan Alhamdulillah Izza anteng seperti biasanya. Di awal-awal perjalanan saja dia terlihat aktif meskipun harus bangun tidur secara paksa karena mendengar lagu anak-anak dari dalam mobil. Izza sempat bergoyang seperti biasanya, menggerakkan tangan sesuai dengan irama lagu. Mungkin karena kondisi jalan yang bergelombang akhirnya dia menyandarkan kepala di badan saya dan berujung minta nenen. Setelah beberapa saat akhirnya dia tertidur hingga masuk Kabupaten Kapuas. Sampai di sini saya belum melakukan pengamatan gaya belajar Izza, karena aktivitas yang dia lakukan pun masih terbatas di dalam mobil. Dan rasanya tidak akan adil jika melakukan pengamatan saat Izza tidur atau hanya mendengar lagu di mobil. Perjalanan berlanjut setelah kami selesai mampir sarapan hingga tiba di hotel saat sholat Jumat. Setelah istirahat sejenak dan menyuapi makan siang untuk Izza, saya biarkan dia bermain di dalam kamar hotel dengan beberapa peralatan yang terbatas. Sengaja saya hanya membawa satu buku dan tidak membawa mainan lainnya, berharap izza bias mengeksplorasi benda lainnya meski kondisi terbatas.

Benda pertama yang diambil Izza saat bebas di dalam kamar adalah sebuah notebook kecil dan pensil yang disediakan oleh pihak hotel di dalam kamar. Otomatis tangannya meminta tangan saya untuk menulis sesuatu pada kertas tersebut. Setelah dia ikut menulis dan mencoret kertas tersebut, Izza kembali berkeliling kamar hingga akhirnya menemukan sebuah pesawat telepon yang tergeletak di meja. Entah dia tahu dari mana, atau mungkin masih ingat beberapa bulan lalu saya pernah mencontohkan bahwa benda itu adalah telepon, Izza langsung mengambil gagang telepon dan meletakkannya di telinga sambil berkata “Hallooo”. Di rumah kami tidak ada pesawat telepon, menginap di hotel pun sekitar 4 bulan lalu, ternyata Izza masih ingat dan paham bahwa benda tersebut adalah benda yang sama dengan ‘hape’. Saat Izza bermain dengan telepon saya berkata “Dipencet dulu nomernya”, eh Izza langsung dong pencet nomor yang ada di telepon tersebut sambil mulutnya bergumam kadang mengeluarkan kata “Uyooo (read: buyut)” atau “Uya tiiiii (read: eyang uti)”. Hal yang membuat saya heran adalah mimik muka Izza itu seperti orang dewasa saat sedang menelepon, menjiwai sekali dan sungguh-sungguh.

1.2.18

Game Level #4: Memahami Gaya Belajar Anak - Day 1

game level 4 day 1
game level 4 day 1
Alhamdulillah masuk materi dan tangan level 4 memahami gaya belajar anak dan mendampingi dengan benar. Sesuai dengan materi, tiap orang mempunyai 3 macam gaya belajar yaitu auditori, visual, dan kinestetik yang masing-masing orang bisa memiliki salah satu gaya belajar saja atau campuran dari dua gaya. Dari materi yang saya pahami, saya belajar ini harus ditemukan sejak dini, sejak anak masih kecil agar tepat saat pendampingan. Orang tua tidak memaksakan gayanya ke anak, tapi harus menyesuaikan dengan gaya anak. Oleh itu, tantangan level ini, orang tua mengamati gaya belajar anak dan dicocokkan dengan masing-masing cirinya. Sejauh ini, sedikit banyak saya sudah menemukan gaya belajar Izza yaitu kinestetik, tapi saya merasa belum melakukan pendampingan dengan benar. Kadang masih memaksakan apa yang saya mau padanya saat bermain atau belajar. Kadang, saya tidak bisa menerima cara Izza yang saya anggap tidak pas dengan hati saya. Ini salah, oleh itu dengan tantangan ini saya ingin tercipta keharmonisan antara Izza dengan orang tuanya.

27.1.18

Aliran Rasa Melatih Kecerdasan Anak

Aliran Rasa Melatih Kecerdasan Anak
Aliran Rasa Melatih Kecerdasan Anak
Alhamdulillah akhirnya membuat aliran rasa level 3. Awalnya saya tidak yakin akan mengerjakan tantangan level 3 karena pas tantangan dimulai Izza demam tinggi hingga akhirnya harus rawat inap beberapa hari. Dapat beberapa saran agar partner pasangan diganti ke suami saja, tapi kami yang tidak sreg karena tidak punya gambaran sama sekali akan mengerjakan tantangan dengan suami. waktu untuk menulis pun tidak ada, akhirnya saya putuskan untuk mengundur waktu dalam melakukan tantangan. Saya mulai sangat terlambat dan tidak bisa membuat laporan setiap hari meski tantangan dilakukan setiap hari. Jadwal untuk menulis saya gunakan untuk balas dendam tidur dengan lelap. Level ini saya tidak terlalu memaksakan untuk mencapai target menulis tapi saya usahakan bisa setor 10 tantangan.

19.1.18

Game Level #3: Melatih Kecerdasan Anak - Day 10 (Sholat dan Mengaji)

❖ Hari ke – 10 : Belajar Sholat dan Mengaji

Selain mengenalkan bahasa Indonesia dan English, bahasa Arab sekarang juga menjadi bahasa yang penting. Fokus saya sekarang memang dua bahasa, jadi bahasa Arab belajarnya sambil saya belajar juga karena saya pun hanya mengenal istilah umum saja. Kata orang, jika anak diajarkan beberapa bahasa sejak dini akan memperlambat bicara tapi menurut saya selama stimulasi terus dilakukan dengan konsisten Insyaallah anak akan paham pelan-pelan. Saya fokus mengajarkan dua bahasa karena menurut saya penting untuk masa depannya, setidaknya Izza mengerti beberapa istilah umum. Biasanya saya fokus di English, ayahnya bahasa Arab, sedangkan bahasa Indonesia sudah jadi bahasa komunikasi setiap hari. Tidak ada pakasaan dalam pencapaian, asal Izza enjoy saat melakukannya maka akan saya terapkan. Jika dia sudah ‘melengos’ tanda tidak mau akan saya stop.

Mengenal bahasa Inggris lebi mudah dengan musik, bahasa Arab juga, sih. Saat ini sedang mengajarkan lagu angka dalam bahasa Arab (Wahidun Satu) dan beberapa sholawat nabi. Cara lain yang selalu saya terapkan adalah sholat dan mengaji. Sebenarnya saya mengenalkan ibadah sejak Izza sudah bisa duduk tegap dan merangkak, saya selalu mengajak dia saat sholat. Karena di rumah cuma berdua ya lebih aman jika Izza selalu ada di samping saya. Izza mulai tertarik saat berumur satu tahun, kala itu dibelikan mukena budhenya dan selalu minta dikenakan saat sholat. Hingga akhirnya dia bisa menirukan gerakan sholat. Untuk mengaji juga alhamdulillah sudah tertarik, dan dia pun mengerti bahwa mengaji itu harus dengan Al-Quran, jika diberikan buku lain akan menolak. Harapannya, saat dia melihat saya sholat dan mendengar saya ngaji akan terbiasa dengan ayat suci dan bisa menirukannya.

18.1.18

Game Level #3: Melatih Kecerdasan Anak - Day 9 (Bersosialisasi)

♬ Hari ke – 9 : Bersosialisasi

Kebetulan kami pindah ke Palangkaraya sudah ada rumah yang memang development baru, jadi tetangga masih belum penuh dan mayoritas non muslim yang hampir semua punya anjing. Ini sebabnya saya agak menutup diri di lingkungan perumahan. Ada beberapa tetangga muslim yang rumahnya berjarak beberapa rumah dan satu di ujung. Di sanalah biasanya saya mengajak Izza untuk bergaul, itupun harus dengan ijin suami karena kami melewati beberapa rumah yang punya anjing. Anak kecil hampir tidak ada, hingga ada satu keluarga muslim yang baru pindah punya anak lelaki hampir seumuran Izza. Sayangnya anak tersebut ikut daycare dari pagi hingga maghrib karena orang tuanya kerja, jadi jarang sekali bertemu. Di ujung perumahan ada keluarga non muslim yang punya dua orang anak balita juga baru pindah, alhamdulillah tidak pelihara anjing. Izza pun senang jika bertemu dengan mereka. Atas pertimbangan saya dan suami, akhirnya Izza sering bermain dengan mereka, setidaknya kami tahu mereka tidak pegang anjing di rumah.

Alhamdulillah juga keluarga tersebut ramah pada saya dan Izza dan lumayan paham tentang islam jadi kami bisa saling menghormati dan bertetangga tanpa memandang agama. Biasanya, saya mengajak Izza mein kesana di sore hari saat sudah selesai mandi, Izza senang jika mendengar nama mereka. Salah satu dari mereka sangat lancar berbicara dan senang sekali bercerita, jadi Izza pun senang dengannya dibanding adiknya. Kakaknya sering mengajak Izza bercerita jadi Izza pun terpancing untuk berceloteh meski tidak jelas. Mereka pun sering bernyanyi bersama, kadang mereka pun seperti sedang berdialog entah dengan bahasa seperti apa, tahunya Izza tertawa terbahak.

17.1.18

Game Level #3: Melatih Kecerdasan Anak - Day 8 (Mengenal Nama Hewan)

❣ Hari ke – 8 : Mengenal Nama Hewan

Pagi ini Izza imunisasi DPT Booster dengan efek lengan bengkak dan sedikit deman, jadi saya tidak membuatnya terlalu banyak aktivitas yang bergerak. Karena belum ada permainan yang saya siapkan, jadi saya mengajaknya untuk membca buku pilhannya sendiri. Izza memilih buku kumpulan gambar hewan yang isinya segala macam jenis hewan darat, laut, kutub, padang pasir, dan sebagainya. Buku ini salah satu dari paket pusataka lebah yang merupakan favoritnya. Kami baru membuka buku tersebut selepas Izza tidur siang jadi agak sore karena paginya saya fokuskan dia untuk istirahat saja. Alhamdulillah panasnya tidak begitu tinggi jadi Izza mash ceria pasca imunisasi.

Dari satu buku ini, Izza paling sering mengeluarkan kata pertanyaan “Ni papa? (read: Ini apa?)” dan menyebutkan nama hewan satu per satu. Jadi sebenarnya permainan hari ini hanya mengulang hari – hari sebelumnya saja sambil mengasah kemampuan Izza berbicara dan menyebutkan nama hewan. Harapannya, sih, Izza bisa menyebutkan salah satu nama hewan dengan lengkap bukan suku kata terakhir saja, hehe. Sejauh ini, nama hewan yang paling fasih diucapkan itu jaja (gajah), japapa (jerapah), aba-aba (laba-laba), toto (kodok), iyong (lion), dan beberapa nama hewan lainnya. meskipun belum bisa menyebut secara jelas tapi Alhamdulillah Izza cukup paham gambar hewan meski dari buku yang berbeda degan bentuk gambar yang berbeda pula. Practice makes perfect, right? Jadi harapannya, semakin sering Izza mengucap nama-nama hewan tersebut maka akan semakin fasih.