13.11.18

Game Level #12: Keluarga Multimedia - Day 10

www.education.com


www.education.com
www.education.com
Teknologi terakhir yang akan saya review adalah salah satu webpage luar negeri yang cukup membaca manfaat bagi saya yang kekurangan ide dan kreativitas dalam bermain bersama anak. Laman tersebut adalah www.education.com yaitu web yang berisi kurikulum belajar mulai dari anak pra-sekolah hingga sekolah dasar. Pada dasarnya, kurikulum yang digunakan bukan seperti di Indonesia, tapi banyak sekali material yang bisa diambil untuk digunakan belajar di rumah bersama anak. Karena Izza belum sekolah, maka saya mengambil beberapa kurikulum pre-school. Sayangnya web ini berbayar jika ingin menjadi member premium untuk mendapatkan material yang lebih lengkap. Tapi karena saya hanya ATM (Amati, Tiru, Modifikasi) jadi tidak mendaftar membership dan juga karena ada beberapa fitur yang bisa diakses secara gratis.

12.11.18

Game Level #12: Keluarga Multimedia - Day 9

Solite Kids, Secil Membaca


Secil Membaca
Secil Membaca
Aplikasi ketiga yang saya unduh dari Solite Kids adalah Secil Membaca, yaitu belajar membaca dengan cara yang menyenangkan. Masih dengan interface yang sama yaitu dua pilihan menu. Sepertinya aplikasi ini memang ditujukan untuk anak agar bisa belajar sambil bermain dengan cara yang menyenangkan dan tidak membosankan. Dalam hal ini, tetap dengan kontrol orang tua jangan sampai anak terlalu lama bermain ponsel, ya. Pilihan menu untuk melajar membaca ada 12 macam, mulai dari belajar mengeja huruf alfabet, huruf vokal dan konsonan, satu hingga tiga suku kata, ada juga kata dengan akhiran ‘ng’ dan ‘ny’.

Game Level #12: Keluarga Multimedia - Day 8

Solite Kids, Secil Doa Islam


Secil Doa Islam
Secil Doa Islam
Aplikasi selanjutnya masih produksi dari Solite Kids, karena ada tiga aplikasi yang saya unduh dari rumah produksi ini. Bukan promosi, tapi memang aplikasinya bermanfaat bagi keluarga kami. Aplikasi kedua yaitu Secil Doa Islam, yaitu aplikasi untuk belajar doa sehari-hari. Frankly said, Izza itu kalau diajari dengan cara tatap muka dengan saya atau ayahnya lebih banyak bercanda daripada serius, meskipun dia menangkap dan memahami tapi bercandanya itu yang kadang membuat saya kesal, hehe. Jadi ya, sesekali diselingi dengan beberapa aplikasi ponsel yang bisa menunjuang proses belajarnya. Sama seperti Secil Hijaiyah, Doa Islam juga dilengkapi dengan dua menu utama untuk belajar dan bermain. 

Game Level #12: Keluarga Multimedia - Day 7

Solite Kids, Secil Hijaiyah


Secil Hijaiyah
Secil Hijaiyah
Kali ini saya akan mulai review beberapa aplikasi android yang biasa digunakan Izza untuk bermain sambil belajar. Sebenarnya, memberikan ponsel untuk Izza itu semacam bumerang, Izza seneng tapi nanti bisa dia jadikan senjata disaat tertentu agar saya bisa memberikan dia ponsel. Saya biasanya memberikan dia ponsel saat makan di luar atau di dalam mobil jika kondisinya sedang tidak memungkinkan bagi saya untuk menghandle dia, contohnya saat sedang nyusui adiknya. Tapi, saya juga tidak bisa berkata ponsel itu tidak baik untuk Izza, karena nyatanya dia banyak belajar dari aplikasi atau pin youtube. Izza banyak menyerap kosa kata baru dan pemahaman baru yang sebelumnya belum pernah saya kenalkan. Aplikasi yang saya review kali ini dari Solite Kids, Secil Hijaiyah, yaitu aplikasi yang membantu anak belajar huruf hijaiyah.

6.11.18

Game Level #12: Keluarga Multimedia - Day 5

Primaku


Salah satu aplikasi yang membantu saya dalam memantau tumbuh kembang anak-anak adalah Primaku yang dibuat oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia. Saya juga menggunakan aplikasi Growth tapi hanya sebatas tinggi dan berat badan anak. Aplikasi Primaku gratis dan bisa memasukkan lebih dari satu data anak tanpa perlu upgare atau bayar. Ditambah lagi dengan fitur yang lebih lengkap. Hmm... saya kok jadi seperti promosi aplikasi, hehe. Saking sukanya dengan aplikasi ini. Di bagian halaman utama dari palikasi ini akan ditampilkan informasi tumbuh kembang anak, jadwal vaksinasi terdekat, dan artikel terkait. Untuk melihat secara detil bisa pindah ke tab lainnya.

Tab selanjutnya adalah jadwal vaksinasi yang dibagi menjadi 2 kolom, yaitu jadwal vaksin wajib dari pemerintah dan jadwal vaksin dari IDAI. Setiap jadwal disertai dengan alarm yang bisa diaktifkan waktunya semau kita. Jika diklik salah satu jenis vaksin, maka akan diberikan keterangan singkat mengenai vaksin tersebut.  Setelah melakukan vaksin bisa mengisi data di halaman tersebut disertai dengan tanggal dan nama vaksin yang digunakan. Halaman selanjutnya adalah data tumbuh kembang anak yaitu tinggi dan berat badan. Data tersebut disertai dengan grafik (seperti KMS) dari WHO, jadi orang tua bisa melihat tumbuh kembang anak sesuai grafik apa tidak.

5.11.18

Game Level #12: Keluarga Multimedia - Day 4

WPS Office


WPS Office
WPS Office
Aplikasi selanjutnya yang membantu saya dalam menjalani aktivitas sebagai blogger dan content writer adalah WPS Office versi apikasi di iphone. Sebenarnya memang lebih nyaman mengetik tulisan menggunakan leptop. Hanya saja, saat berkegiatan di luar rumah kadang ada ide tulisan atau hal penting yang harus segera saya catat dan buat outline-nya agar tidak lupa. Maka WPS Office adalah salah satu aplikasi yang saya gunakan selain google docs dan notes. Saya memilih aplikasi tersebut karena fiturnya yang cukup banyak, tersedia halaman untuk membuat tulisan dalam bentuk word, presentasi, dan excel. Dimana tiga hal tersebut sangat penting bagi saya.

4.11.18

Game Level #12: Keluarga Multimedia - Day 3

Instagram

Instagram
Instagram
Siapa, sih, yang tidak kenal dengan instagram? Sepertinya hampir semua kalangan usia mengenalnya. Aplikasi trending seolah tak tergantikan dengan aplikasi sejenis lainnya. bahkan sekarang muncul istilah selebgram yang artinya selebriti instagram. Tak perlu lagi tampil di televisi sudah jadi artis, hehe. Saya pernah impulsif menggunakan instagram, swafoto tiada henti dan tak ingin tertinggal demi konten dan komen para pengikut. Insyaallah sudah tobat dari dunia per-selfi-an, hehe. Untuk saya sendiri, instagram berperan penting untuk penghidupan saya sebagai buzzer digital markerting. Coba lihat beberapa postingan saya di instagram, jika ada suatu brand dengan caption khusus, sudah pasti itu postingan berbayar. Jadi salah satu produktivitas saya ditunjang oleh keberadaan instagram.

Game Level #12: Keluarga Multimedia - Day 2

Youtube

youtube
youtube
Teknologi kedua yang cukup membantu dalam membersamai anak-anak adalah youtube baik dalam versi web maupun versi aplikasi ponsel. Jika dari beberapa macam sumber mengatakan agar menjauhkan anak dari youtube dna sejenisnya, tapi tidak bagi saya. Karena kehadirannya cukup membantu saya baik untuk pengajaran atau sekadar fun time bagi anak terutama untuk Izza, sang kakak. Saya mengenalkan Izza pada youtube dengan tujuan sebagai salah satu media belajarnya terutama dari segi bahasa. Izza adalah anak kinestetik visual, jadi dia dengan muah mengingat dan meniru apa yang dia lihat.

3.11.18

Game Level #12: Keluarga Multimedia - Day 1

www.blogger.com


Menjadi keluarga multimedia di jaman sekarang seolah menjadi kebutuhan wajib, karena hampur semua hal dilakukan secara daring. Anak-anak sekarang berbeda dengan anak jaman dulu, jika saya dulu cukup puas bermain tali, petak umpek, atau bermain lumpur di sawah, sangat berbeda dengan sekarang. Jaman now, begitulah istilahnya. Anak usia sekolah dasar sudah mahir bermain ponsel bahkan mengoperasikan internet, atau mahal bisa menghasilkan uang dari hal tersebut. Orang tua pun tidak boleh kalah, anak pintar, orang tua pun harus lebih pintar dan tidak boleh ketinggalan jaman agar tetap bisa membersamai anak dimanapun era-nya. Jika ditanya satu aplikasi atau teknologi  yang bermanfaat bahkan berperan penting dalam hidup saya sebagai ibu rumah tangga, dengan tegas akan saya jawab blog! Ada cerita panjang dibalik kegemaran saya menulis di blog.

Kali pertama dikenalkan oleh teman kuliah menggunakan platform blogger.com dan berlangsung hingga sekarang. Sempat mencoba platform lain yaitu wordpress, blogdetik, tumblr tapi hati dan otak saya tetap memutuskan untuk memilih blogspot. Satu platform gratis dari google dengan interface yang mudah untuk dikendalikan. Memiliki blog awalnya hanya numpang curhat, hingga akhirnya menemukan banyak teman dan komunitas blog yang membuat saya lebih berkembang. Dari komunitas tersebut saya mulai belajar koding, cara menulis artikel ilmiah bahkan fiksi, dan juga sering mengikuti lomba blog. 

4.10.18

Game Level #11: Fitrah Seksualitas - Review Day 10

Say NO to LGBT
Say NO to LGBT
Presentasi hari terakhir mengangkat materi tentang penyimpangan orentasi seksual yaitu LGBT yang sekarang semakin marak keberadaannya bahkan di Indonesia. Disebut menyimpang karena aktivitas seksual yang dilakukan oleh seseorang tersebut tidak sewajarnya, menyimpang dari syariat dan fitrah sesungguhnya. Menurut dr. Fidiansyah, LGBT adalah penyakit kejiwaan atau psikologis yang berhubungan dengan orientasi seksual dan bukan bawaan lahir atau turunan genetik. LGBT bisa menular, teori penularannya adalah teori perilaku dari konsep pembiasaan. Awalnya mengikui pola kemudian menjadi karakter berkembang menjadi kepribadian kemudia kebiasaan dan akhirnya menjadi penyakit. LGBt pun bisa meninggalkan penyakit pada fisik, biasnaya penyakit kelamin yang bisa menyerang dirinya dan korbannya.

28.9.18

Game Level #11: Fitrah Seksualitas - Review Day 9


Presentasi hari ke sembilan yang berkaitan dengan fitrah seksualitas di masa pre aqil baligh, dengan kata kunci be my best friend. Masa pre aqil baligh adalah masa peralihan menuju remaja, dimana hormon sedang dalam perubahan yang sangat siginifikan. Anak akan menjadi seorang yang baru dengan sifat baru yang mungkin belum pernah kita lihat. Dengan menjadi temannya di usia tersebut maka kita bisa dengan mudah mengenalkan fitrah seksualitas pada anak. Mengenalkan anak tentang perubahan fisik yang akan dialaminya dan membuat anak bisa bercerita secara terbuka tentang apa yang sedang dialaminya. Komunikasi produktif, itulah kuncinya. Salah satu hal besar yang akan terjadi mada anak di masa pre aqil baligh adalah pergaulannya yang semakin luas dengan dunia luar, dan PR orang tua adalah menjaga anak agar tetap berada di lingkungan yang baik dan tidak terjerumus dengan pergaulan bebas.

Game Level #11: Fitrah Seksualitas - Review Day 8


Presentasi hari ke delapan, kembali mengangkat tema tentang pornografi yang kali ini lebih dikhususkan untuk kaum remaja yang sangat rentan terpapar bahaya pornografi. Seperti yang sudah dijelaskan pada video di atas, pornografi adalah penyakit yang susah disembuhkan, saat seseorang sudah terpapar, otaknya akan terus terjangkit penyakit tersebut dan susah unuk disembuhkan. Selain dipandang sebagai kelemahan moral, kecanduan pornografi juga merupakan penyakit otak yang paling sulit untuk diobati. Ada beberapa yang bisa dilakukan untuk mengobati kecanduan pornografi.

Game Level #11: Fitrah Seksualitas - Review Day 7

Presentasi hari ke tujuh membahas tentang pubertas lagi, seperti hari sebelumnya, yaitu dengan judu materi “Pentingnya Mendampingi Anak di Usia Remaja (Pubertas)”.  Remaja sendiri diartikan sebagai masa transisi atau peralihan dari anak-anak menuju dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif, dan sosial-emosionalnya. Proses transisi ini nantinya akan sangat berpengaruh pada pembetukan karakter, sifat, sikap seorang anak kedepannya. Oleh itu butuh pendampingan yang tepat agar tidak melenceng dari fitrahnya. Pendampingan ini harus dilakukan sedini mungkin, sejak bayi baru dilahirkan dengan cara yang tepat, karena menurut penelitian, kurang dari 5 persen anak perempuan puber sebelum usia 8 tahun dan angka itu skearang menjadi dua kali lipat. Bisa jadi anak-anak kita mengalami pubertas sebelum kita memberikan bekal yang kuat.

Masalah yang muncul pada pubertas pada anak adalah perubahan hormon yang sangat siginifikan sehingga sangat berpengaruh pada perubahan emosi. Perubahan emosi yang bis aterjadi adalah: sedih, bingung, perasaan yang meluap luap, mood swing, sentimental, dan merasa tidak dipahami oleh keluarga atau teman. Maka yang harus dilakukan oleh orang tua untuk mendampingi masa transisi tersebut adalah bertindak sebagai coach saat anak usia 0-7 tahun, bertindak sebagai evaluator saat anak usia 7-10 tahun, dan sebagai supervisor saat anak sudah lebih dari 10 tahun.

25.9.18

Game Level #11: Fitrah Seksualitas - Review Day 6


Presentasi hari ke enam, dibuka dengan video berjudul The Cause of Early Puberty. Hmmm, sebelum saya membuka videonya sempat berpikir, apa hubungannya dengan tema fitrah seksualitas, ya? Saat membaca materinya ternyata cukup penting peranan pubertas (baligh) untuk fitrah seksualitas. Pubertas sendiri diartikan sebagai suatu periode pertumbuhan dan perkembangan yang cepat dimana anak secara fisik berkembang menjadi dewasa dan mampu melakukan reproduksi seksual. Masa normal pubertas untuk perempuan antara usia 8-13 tahun dan untuk laki-laki 9-14 tahun. Jika pubertas terjadi sebelum batas tersebut bisa dibilang pubertas dini. Salah satu faktor penting penyebab pubertas dini adalah nutrisi.

Game Level #11: Fitrah Seksualitas - Review Day 5


Materi presentasi hari ini sangatlah menarik dan tidak terlintas sedikitpun di benak saya, kelompok presentasi ke lima mengangkat tema pendidikan seksualitas bagi anak berkebutuhan khusus (ABK). Pendidikan sesksual untuk ABK tidak kalah pentingnya dengan anak normal lainnya karena ABK juga rentan menjadi korban kekerasan seksual, ABK juga memiliki hasrat yang sama dengan anak normal. ABK yang paham setengah-setengah bisa rentan menjadi pelaku, dan pemahaman seksual yang baik bisa meningkatkan kualitas hidup. Tahapan pendidikan seksual pada ABK harus dengan cara yang bersabar – bertahap – berulang, yaitu:

Game Level #11: Fitrah Seksualitas - Review Day 4



Presentasi hari ke empat, mengangkat tema tentang pendidikan seks sejak usia dini. Karena menurut data yang ada, 90% anak SD sudah terpapar pornograsi, 7% kecanduan, sisanya kecanduan berat. Seperti pada materi hari ke tiga, pornografi merupakan penyebab utama terjadinya kekerasan seksual pada anak. Jika saat kecil sudah menjadi korban kekerasan seksual yang menimbulkan trauma, korban bisa menjadi pelaku selanjutnya. Rantai seperti inilah yang harus segera diputus, mengajarkan edukasi seksualitas sejak dini dari dalam rumah sesuai dengan tahapan usianya. Dengan adanya edukasi seksualiyas, diharapkan bisa memberi manfaat yang baik pada anak antara lain: memiliki hubungan pertemanan/lingkungan yang sehat, terhindar dari bahaya pornografi dan kekerasan seksual, menumbuhkan harga diri yang sehat, serta menghindarkan dari perilaku seksual yang menyimpang.

24.9.18

Game Level #11: Fitrah Seksualitas - Review Day 3

kontak darurat kekerasan seksual pada anak
kontak darurat kekerasan seksual pada anak

Presentasi hari ketiga dari kelompok saya yang mengangkat tema Kekerasan Seksual pada Anak. Kami mengangkat tema ini karena semakin hari semakin banyak kasus pelecehan, kejahatan, dan kekerasan seksual pada anak yang dilakukan oleh orang dewasa atau bahkan anak-anak yang seumuran itu sendiri. Berita terbaru yang saya baca beberapa hari lalu tentang anak umur 5 tahun yang mencoba untuk mempraktekkan hubungan intim dengan teman sebayanya yang ditonton oleh dua orang temannya juga. Miris sekali.

Game Level #11: Fitrah Seksualitas - Review Day 2

batasan aurat laki-laki dan perempuan
batasan aurat laki-laki dan perempuan
Presentasi hari kedua mengangkat tema tentang Menutup Aurat Perisai Menjaga Fitrah Seksualitas, tema yang sangat menarik karena menurut saya pribadi Indonesia saat ini sedang darurat umbar aurat. Aurat sendiri dari kata asalnya berarti malu/aib, jadi secara bahasa dapat diartikan sebagai bagian tubuh yang harus ditutup agar tidak menimbulkan kekecewaan atau malu. Menutup aurat harus diajarkan sedini mungkin sejalan dengan memberikan edukasi tentang fitrah seksualitas. 2 poin penting dalam materi presentasi hari ini adalah mengajarkan anak (terutama anak perempuan) untuk menutup aurat dan memisahkan tempat tidur antara anak laki-laki dan perempuan.

20.9.18

Game Level #11: Fitrah Seksualitas - Review Day 1

Akhirnya masuk ke tantangan game level 11 yang kali ini sistimnya berbeda dengan level sebelumnya. Pada level 11 ini, kami bekerja secara kelompok untuk membuat sebuah presentasi dalam grup dengan tema Fitrah Seksualitas. Hari ini dimulai dari kelompok 1 yang lebih mengangkat tema bahaya pornografi pada game online. Menarik! Karena beberapa hari lalu, baru saja saya mendapat kabar dari teman tentang seorang anak yang baru berumur 5 tahun tapi sudah fasih sekali dengan istilah dalam hubungan seksual yang ternyata dia dapat dari game online. Kelompok 1 terlebih dulu membahas tentang pentingnya mengenalkan fitrah seksualitas sejak dini, sejak bayi baru lahir hingga berumur 15 tahun dan harus selalu dalam pengawasan orang tua. Karena salah satu akibat dari kurangnya hubungan antara anak dan orang tua bisa menyebabkan anak lepas kontrol dan bebas mengakses apapun tanpa pengawasan.

Mari menganla sedikit tentang apa itu pornografi yang ternyata sangat berbahaya bagi otak anak. Pornografi adalah segala konten yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar normal kesusilaan. Pornografi dapat berupa gambar, foto, tulisan, suara, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, dan pertunjukan di muka umum maupun yang bersifat online. Menurut data dari indonesiabaik.id, 90% anak terpapar pornografi internet saat berusia 11 tahun dan ada 25.000 aktivitas pornografi anak di internet setiap harinya. Ngeri sekali, bukan? Bahaya pornografi tidak main-main. Mulanya hanya sekadar penasaran yang bisa menjadi kecanduan.

9.9.18

Game Level #10: Membangun Karakter Anak Melalui Dongeng - Day 10

Mendongeng dengan Sali dan Saliha
Mendongeng dengan Sali dan Saliha
Hari ini cukup sibuk, mulai dari mengantar mertua ke bandara, lalu pergi ke undangan teman kantornya suami. Yang membuat sibuk adalah. Jadi persiapannya karena ini kali pertama saya ikut keluar ke kondangan lengkap dengan pasukan dua anak. Rencana berangkat jam 9 pagi, molor menjadi jam setengah 11. Ditambah drama Izza memlihi bajunya sendiri dan tidak mau pakai jilbab. Sorenya ada janji dengan tukang pijat yang datang ke rumah. Jadi waktu mendongeng hanya saya lakukan sekali sebelum Izza tidur, itu pun dia sudah terlihat sangat capek dan mengantuk sekali sehingga kurang maksimal. Dongeng yang saya ceritakan malam ini tentang kewajiban jilbab bagi perempuan. Sebenarnya, Izza sudah sangat terbiasa menggunakan jilbab, karena sejak bayi sudah saya kenalkan. Berkali kali selalu sounding kalau keluar rumah harus pakai jilbab. Semua berjalan mulus hingga akhirnya Izza bisa memilih fashion seperti apa yang akan dia kenakan. Fashion yang saya maksud adalah baju, celana, sepatu, kadang juga tas atau topi.

8.9.18

Game Level #10: Membangun Karakter Anak Melalui Dongeng - Day 9

Hari ini Izza lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam kamar bersama ayahnya karena masih dilanda batuk pilek dan sedikit demam. Mereka berdua sepertinya sangat asyik menikmati waktu bonding antara ayah dan anak. Mulai dai bermain dokter dan pasien (kebetulan Izza baru saja vaksi di posyandu dan dia ingin selalu memeragakan proses disuntik bagian lengannya lalu dberi obat sirup), bermain bersama boneka (boneka beruang dipakaikan popok dan baju adiknya, hehe), serta mendongeng. Saya tidak melimpahkan tantangan ini pada suami, hanya saja suami memang senang mendongeng menggunakan alat peraga dan Izza pun senang. Saat saya masuk untuk menidurkan Izza, mereka berdua sedang asyik membaca buku kisah nabi dan rasul. Saya pun meneruskan mendongeng dari buku tersebut.

Awalnya saya ingin mendongeng kisah nabi Nuh dan kapalnya yang besar, kebetulan kisah tersebut menjadi ilustrasi gambar pada sampul bukunya yaitu sebuah kapal besar yang dinaiki oleh berbagai jenis binatang. Buku cerita ini merupakan kisah bergambar, jadi banyak gambar menarik disetiap halamannya, tapi ini yang membuat Izza sedikit kehilangan fokus pada dongeng yang saya ceritakan. Dia lebih asyik membolak-balikkan halaman buku dan menanyakan gambarnya atau bercerita sendiri menurut versinya. Tapi, saya tidak boleh hilang akal untuk membuatnya tertarik pada dongeng yang akan saya bawakan yaitu dengan menyebutkan nama-nama hewan yang ada di sampul buku.

7.9.18

Game Level #10: Membangun Karakter Anak Melalui Dongeng - Day 8

Sejak semalam Izza mulai batuk dan agak demam, jadi tidak ada aktivitas fisik yang berlebihan. Perosotan saya sembunyikan untuk sementara waktu. Selepas sarapan, adiknya sudah mandi dan nyusu, saya bawa Izza ke kamar untuk istirahat karena sejak subuh dia sudah bangun. Berharap mau tidur agar bisa istirahat. Nyatanya memang harus ada pillow talk yang panjang dulu sebelum dia benar-benar ngantuk. Dongeng kali ini tentang kelinci dan kura-kura. Dongeng klasik, kebetulan kemarin dia lihat video tentang kelinci dan kura-kura lomba lagi jadi saya bawa lagu tersebut ke dalam dongeng. Proses mendongeng bisa dilihat pada video di bawah ini:


Game Level #10: Membangun Karakter Anak Melalui Dongeng - Day 7

Dongeng malam ini terinspirasi dari cerita di buku Izza tentang anak tikus yang saling menyayangi. Kali ini cerita dalam buku tersebut saya bawa ke kasur dengan modifikasi seperlunya. Tokoh utama tikus saya ganti dengan anak ayam, tidak ada alasan khusus, saya hanya tidak suka tikus hehe. Saat mendongeng tidak sempat saya rekam jadi akan coba saya narasikan secara sederhana. Izza mulai terbiasa mendengar kata pembuka saat saya akan mulai mendongeng yaitu ‘pada suatu hari’, maka dia akan mapan di samping saya dan mendengarkan dengan seksama. Dongeng sebelum tidur malam yang berjudul: Anak ayam yang sakit.

“Pada suatu hari ada sepuluh anak ayam yang sedang bermain di halaman rumah. Anak ayam terlihat sangat gembira sekali, mereka menari bersama-sama sambil berjalan maju mundur. Sepuluh anak ayam adalah saudara, mereka adalah kakak dan adik yang saling sayang. Mereka selalu mengucapkan ‘I love you’ setiap hari karena sayang.” 
“Kakak ayam pergi ke depan untuk mencari makanan, lalu menemukan jagung yang sangat banyak. Kakak ayam memanggil adik-adiknya untuk makan bersama. ‘Adik-adik, ayo kesini, ada jagung banyak. Ayo kita makan bersama-sama’. Adik-adik ayam berlari untuk makan jagung, tapi adik ayam nomer sepuluh jatuh. Kakinya sakit jadi tidak bisa jalan lalu menangis.” 
“Kakak ayam berkata: adik ayam jangan nangis ya, nanti minum obat biar kakinya tidak sakit lagi ya. Ayam yang lain datang membantu adik nomer sepuluh, mereka membantunya untuk berjalan. Akhirnya adik ayam nomer sepuluh tidak nangis lagi dan mereka makan jagung bersama-sama.”

6.9.18

Game Level #10: Membangun Karakter Anak Melalui Dongeng - Day 6

 Mendongeng dari buku cerita
Mendongeng dari buku cerita
Hal yang belum berhasil saya ajarkan pada Izza hingga saat ini adalah tentang sabar dan menunggu. Setiap kali saya memintanya untuk sabar menunggu belum pernah berhasil dan selalu berakhir dengan adengan rebut paksa atau menangis. Contohnya jika dia minta sesuatu sedangkan saya sedang mengerjakan hal lain yang tidak bisa ditinggal, maka Izza akan terus merengek dan menarik saya untuk segera memenuhi keinginannya. Endingnya memang lebih sering berujung tangisan dan saya akan menunggunya selesai menangis. Sembari menemani adiknya yang sedang tidur, selepas sarapan dan bermain seluncuran di playhouse, saya mengambil buku dan electronic pen miliknya. Dengan sengaja saya mengambil buku yang bertema tentang sabar. Saya memang tidak langsung bercerita, sebagai pemanasan, saya biarkan Izza bermain dengan buku dan e-pennya. Memainkan musik dan membaca buku sesuka hati. Saat izza tertarik dengan salah satu suara (ditandai dengan terus diulang menggunakan e-pen) maka saya mulai untuk bercerita.

Game Level #10: Membangun Karakter Anak Melalui Dongeng - Day 5

Dongeng tak harus malam dan sebelum tidur, kan? Ini sih saya mencari pembelaan karena biasanya malam sering kebablasan tidur bersama Izza. Dan Izza pun jika diajak bercerita tidak akan tidur dengan cepat malah semakin semangat untuk menginterupsi dengan segala celotehnya. Jadi saya selalu mengambil waktu terbaik yang menurut saya kondusif untuk kami berdua. Seperti halnya hari ini, dongeng di pagi hari saat sarapan. Kebetulan Izza minta makan di teras depan karena adiknya sedang digendong mbah buyut disana. Peralatan makan sudah siap di teras dan saya menemaninya untuk makan secara mandiri. Sayangnya, mungkin kondisi emosi Izza pagi ini sedang tidak bagus jadinya usil dan iseng tidak mau makan. Dia lebih memilih bermain dan berkeliaran di teras rumah daripada duduk anteng. Inilah hal yang tidak saya suka jika makan tidak di meja makan. Dengan nada yang sedikit mengancam saya berkata pada Izza untuk memberikan makanannya pada dua ayam peliharaan kami yang sedang berengkrama di dalam kandang. Otomatis Izza duduk kembali ke kursinya.

Saya pun bercerita (semoga ini masuk kategori mendongeng, ya) pada Izza tentang ayam yang enggan makan yang akhirnya jtuh sakit. Kira-kira seperti inilah saya mendongeng:
“Kakak Izza punya dua ekor ayam warna hitam dan putih di dalam kandang, ayamnya sedang menangis karena lapar. ‘Huhuhuuuu, ayamnya lapar minta makan dong Kakak’. Ayamnya nangis terus karena tidak diberi makan, nasinya Kakak Izza boleh buat ayam? ” 
“No! Mama” Otomatis dijawab oleh Izza.
“Iya, makanya Kakak Izza makan ya. Nanti ayamnya dikasih makan. Tuh lihat! Ayam yang hitam nangis terus sakit karena tidak mau makan. Kalau sakit nanti tidak bisa jalan-jalan. Cuma bisa tidur saja. Kakak Izza mau perutnya sakit?”

Game Level #10: Membangun Karakter Anak Melalui Dongeng - Day 4

Mendongeng menggunakan boneka jari
Mendongeng menggunakan boneka jari
Adegan mendongeng masih di tempat yang sama yaitu playhouse yang sedang menjadi favoritnya. Asal bunda mau ikut ke dalam rumah mainan dan menemaninya bermain pasti rumah menjadi aman dan tenang, hehe. Tema mendongeng hari ini hampir sama dengan kemarin yaitu saling menyayangi, tapi kali ini lebih spesifik yaitu menyayangi adik. Sedikit cerita tentang sibling rivalry, pasca pulang dari rumah sakit Izza tantrum parah lebih dari seminggu. Saya atau ayahnya tidak boleh gendong adiknya, apalagi saat menyusui menjadi adegan paling horor di rumah tak peduli pagi, siang, atau tengah malam. Saat adiknya nangis maka Izza akan nangis lebih keras dan tak terkontrol. Saat tidur malam Izza tak mau lepas dari saya meski saat menyusui maka Izza akan tetap menempel pada saya. semakin hari hal tersebut semakin berkurang dan Izza terlihat semakin sayang dengan adiknya. Hanya saja, saat ini rasa sayang Izza berubah menjadi gemas. Sering terlihat Izza gemas sampai meremas tangan dan kaki adiknya, mencium dan memeluk dengan sangat erat sampai adiknya menangis.

5.9.18

Game Level #10: Membangun Karakter Anak Melalui Dongeng - Day 3

Mendongeng dengan ayah
Mendongeng dengan ayah
Karena saya masih proses pemulihan pasca melahirkan dan belum bisa bepergian dalam waktu lama, oleh itu suami menyewakan playhouse untuk bermain Izza di rumah. Selain itu agar perhatiannya sedikit teralihkan dari adiknya, karena Izza sudah mulai gemas dengan adiknya, hehe. Sebenarnya saling menguntungkan untuk kami semua yang ada di rumah saat Izza bermain di dalam playhousenya. Adiknya bis atidur tenang dan saya bisa sedikit istirahat atau menyelesaikan pekerjaan domestik lainnya. Jadi sekarang pusat arena bermain Izza ada di dalam playhousenya, hampir semua mainan masuk ke dalamnya. Karena kondisi domestik sedikit heboh, jadilah saya baru bisa mendongeng untuk Izza di sore hari selepas mandi, saat adiknya bersama buyut.

Game Level #10: Membangun Karakter Anak Melalui Dongeng - Day 2

Tema dongeng hari ini adalah tentang berbagi yang saya bagi menjadi dua sesi mendongeng dengan durasi yang singkat, karena harus mengurus rumah dan adiknya. Tema ini saya ambil karena sering kali Izza tidak mau berbagi apa yang dia punya dengan orang lain misalnya makanan atau mainan. Siang hari Izza bermain di dalam playhouse yang baru saja kami sewa sambil menikmati kudapan siang yang saya buatkan untuknya. Kebetulan di rumah ada nenek buyut yang berusaha meminta makanannya dan ditolak mentah-mentah oleh Izza. Momen tersebut saya gunakan untuk mendongeng sambil memasukkan nilai positif padanya. Alat peraga dongeng kali ini adalah 3 boneka beruang Izza dan beberapa mainan pompom di dalam panci miliknya.

Saya menceritakan pada Izza seolah-olah ada satu mangkok bakso milik ibu beruang, sedangkan dua anak beruang tidak ada dan ingin sekali makan bakso. Ibu beruang pun membagi bakso miliknya pada dua anaknya dan dimakan bersama. Sebenarnya hanya cerita itu yang terus saya ulang berkali kali agar Izza semakin mengerti. Meski pada saat proses mendongeng dia selalu ikut menyuguhkan cerita versinya sendiri dan beberapa kali menyela untuk bertanya atau berpendapat. It’s okay, ya, yang penting Izza paham dengan jalan cerita yang saya berikan dan mau berinteraksi saat proses mendongeng.

3.9.18

Game Level #10: Membangun Karakter Anak Melalui Dongeng - Day 1

Dongeng tentang sikat gigi
Dongeng tentang sikat gigi
Alhamdulillah sampai juga di tantangan level 10, meski sempat absen di level 9 karena melahirkan dan masih dalam proses pemulihan. Semoga level 10 ini bisa terselesaikan dengan baik meski cukup terlambat untuk memulainya. Geme level 10 dengan tema membangun karakter anak lewat dongeng ini cukup menarik bagi saya yang tidak begitu suka bercerita tapi Izza sangat imaginatif dengan apapun yang dilihatnya. Setelah adiknya lahir ini, Izza semakin aktif dan luar biasa perkembangannya termasuk perkembangan kosa kata yang cukup bertambah. Sudah bisa diajak komunikasi dua arah, bahkan bisa bernego dan sesekali usil jika ditanya. Untuk mendongeng, sebenarnya Izza lebih suka dengan ayahnya karena lebih menguasai peran, jadi untuk level kali ini saya akan dibantu suami untuk mendongeng pada Izza. Sebenarnya belum ada tujuan ingin membentuk karakter seperti apa pada Izza, jadi sekiranya hanya tahap pengenalan dan berharap akan bisa mengenalkan nilai-nilai positif secara untuk kehidupan sehari-hari.

14.7.18

Game Level #8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini - Day 10

Hari terakhir melakukan tantangan, saya ingin memberikan contoh pada Izza tentang membelanjakan uang tabungan yang sudah terkumpul. Sejauh ini dia sudah paham tentang transaksi jual beli, yaitu dia harus menyerahkan uang untuk mendapatkan suatu barang. Beberapa kali juga sudah dipraktekkan perihal meredam keinginan saat belanja. Dan selama ini yang dia tahu adalah membayar menggunakan uang ayah atau bundanya. Malam ini kami ke minimarket dan sebelumnya saat di rumah saya mengatakan padanya bahwa kami akan membeli diapers dan Izza bisa membeli satu benda dengan uang yang ada di toples. Saya pun mengeluarkan uangnya di toples untuk dimasukkan ke dalam tas miliknya.
“Izza mau beli apa?”
“Ecim (baca: es krim)”
“Mau es krim rasa coklat atau strawberry?”
“Cikat (baca: coklat)
“Oke! Beli es krimnya satu aja ya?”
“Dua, Bu!”
“No! Uangnya gak cukup kalau beli dua, satu aja ya!”
“No! Dua, bu!”
Jika sudah berkaitan dengan es krim dan nego seperti ini, Izza memang susah untuk mengalah. Akan terjadi perdebatan dan nego yang sengit antara saya dan dia dalam mempertahankan pendapat masing-masing. hingga akhirnya Izza mengalah dan pasrah. Sebenarnya bukan saya mau mengalah, tapi sistem nego seperti ini saya jadikan sebagai media belajarnya konsisten dengan apa yang dia inginkan. Berarti dia paham bahwa dia sedang menginginkan sesuatu.

Game Level #8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini - Day 9

Tabungan Izza semakin banyak
Tabungan Izza semakin banyak
Masih berkutat dengan celengan toples barunya, begitulah Izza, jika punya sesuatu yang baru akan dia cintai sepenuh hati. Dia akan sangat antusias sampai akhirnya bosan dengan sendirinya. Dari analisa saya selama dua hari ini, konsep tabungan yang dipahami oleh Izza adalah, jika ada uang maka disimpan di dalam toples. Tapi sepertinya dia juga berpikir lebih jauh yaitu celengan toples digunakan untuk menyimpan benda yang dia suka karena beberapa benda pun ikut masuk ke dalamnya, hehe. Saya pun memberikan pemahaman lebih lanjut bahwa toples tersebut hanya untuk menyimpan uang agar uangnya tidak tercecer dan hilang. Alhasil setiap dia melihat uang akan dimasukkan ke dalam toples barunya. Seperti halnya saat saya melipat baju-baju hasil cucian ternyata nemu beberapa lembar uang, Izza pun langsung berseru “Buuu, wang!” Saya pun berkata padanya “Uangnya disimpan, ya. Celengannya mana?” Izza pun berlari keluar kamar untuk mengambil celengannya dan memasukkan uang satu per satu. Dari sini pun dia berlatih fokus untuk melipat dan memasukkan uang kertas ke dalam toples dengan benar.

11.7.18

Game Level #8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini - Day 8

Celengan toples sederhana milik Izza
Celengan toples sederhana milik Izza
Hari ini pun saya membuat satu tabungan toples khusus Izza, celengan dari toples plastik bening bekas jajan astor. Harusnya celengan plastik dengan berbagai karakter ya agar lebih menarik perhatian Izza, sayangnya suami sedang sibuk di kantor jadi belum sempat beli. Saya pun hanya bisa keluar rumah dengan akses suami, akhirnya menggunakan benda bekas pakai yang ada di rumah. Kreatif itu perlu yang penting konsep dan esensinya tidak hilang, hehe. Untungnya, bentuk toples yang agak besar tinggi dan bening, jadi mudah untuk membuat lubang celengan dan bisa dibuka tutup. Setelah saya bersihkan dan membuat lubang kecil di bagian tutupnya, saya mengambil beberapa uang yang ada di dalam toples lainnya lalu dihambur di lantai. Saya memberikan satu contoh memasukkan uang koin dan kertas secara bergantian lalu meminta Izza mengulanginya. Voila! Izza senang dan bisa anteng memasukkan uang ke dalam celengan barunya. 

Game Level #8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini - Day 7

Tak dapat dipungkiri, anak akan mencontoh segala tindakan orang tuanya. Ini sudah bisa saya rasakan sejak Izza mulai aktif penasaran dan kreatif dengan segala tindakannya. Gaya bicaranya, gayanya saat ngambek bahkan marah persis dengan saya. Bukan hanya sifat, tingkah laku pun demikian. Malu pada diri sendiri. Soal uang dan tabungan, selain tabungan di bank, di rumah hanya ada tabungan uang koin dalam 4 toples dan tidak punya tabungan lainnya. Hal yang biasanya saya lakukan adalah membiarkan uang koin tercecer dimana-mana, entah itu di meja TV, di meja makan, di rak buku, di kursi tamu, atau bahkan di tempat mainan Izza. Semuanya akan saya bereskan saat saya ingin melakukannya, jika tidak ya terbiarkan tercecer begitu saja. Hal ini pun dicontoh oleh Izza, saat dia melihat uang tercecer ya dibiarkan saja, tidak akan dipungut untuk dibereskan. Atau jika ingin membeli sesuatu maka mengambil uang di dalam toples padahal judulnya tabungan, ya, tapi tetap diambil untuk sekadar beli jajan. Izza pun demikian, saat ingin es krim dan say abilang habis, maka dia akan mengambil toples koin dan meminta saya mengambil uang atau kadang menunjuk tas dan dompet saya.

Oleh itu, teladan harus dimulai dari orang tua, hari ini saya mengajak Izza untuk berkeliling rumah mencari uang koin dan kertas yang tercecer sembarangan. Dimulai dari ruang tamu, kamar, rak buku, meja TV bahkan tempat sholat dan di samping kompor ditemukan beberapa uang koin yang jika dijumlah bisa buat beli beberapa es krim favorit Izza. Tanpa komando berulang, dia paham bahwa yang sedang dicarinya adalah uang. Saya bilang padanya “Kalau ada uang dimasukkan ke dalam toples ini ya. Oke?” Izza pun menjawab “Oke!” sambil dua jarinya membentuk lambang oke. Saya pun menyediakan satu toples kosong lagi untuk mengumpulkan uang hasil beres-beres dengan Izza hari ini.

10.7.18

Game Level #8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini - Day 6

Mengumpulkan uang koin
Mengumpulkan uang koin
Setelah membaca buku tentang menabung yang ternyata belum berhasil membuat Izza paham konsep menabung, maka hari ini saya mengeluarkan seluruh celengan toples yang berisi berbagai macam uang koin. Niatnya untuk mengajari Izza bahwa uang yang tercecer itu harus dikumpulkan dan disimpan dengan baik, karena dua hari terakhir ini dia suka membuang benda yang sudah terkumpul rapi. Contohnya karet rambut yang sudah terkumpul dalam plastik dihambur lagi, puzzle yang sudah tersusun rapi dihambur, bola dalam toples dituang ke penjuru rumah. Dia mungkin sedang usil, tapi masalahnya dia tidak mau ikut membantu membereskan semua mainan tersebut, padahal biasanya Izza paling suka membereskan mainan. Endingnya kemarin malam dia menemukan dompet ayahnya tergeletak dan semua isinya dikeluarkan. Jadi harus mengulang lagi memahamkan Izza bahwa barang yang sudah tersusun rapi tidak boleh dihambur lagi. Ya, sounding seperti ini tidak bisa hanya sekali dua kali, harus berpuluh puluh kali untuk membuatnya benar-benar mengerti.

Game Level #8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini - Day 5

Membaca buku "Aku Suka Menabung"
Membaca buku "Aku Suka Menabung"
Mengenalkan konsep jual beli menggunakan uang saya rasa sudah cukup untuknya, pada dasarnya, dia sudah paham transaksi secara sederhana. Jika ingin membeli barang di toko (Izza sudah paham tentang toko) maka dia akan mengambil barang yang dia inginkan dan membayar dulu. Tentang harga barang, uang kembalian, atau nominal pecahan uang belum paham. Saya agak ragu untuk mengenalkan pecahan uang, karena Izza belum bisa berbicara dengan lancar untuk menyebutkan bilangan uang. Jadi ditangguhkan dulu asal dia bisa membedakan uang dengan kertas lainnya. sembari tetap mengajak Izza dalam segala proses jual beli, kali ini saya ingin mengenalkan konsep menabung. Hmm, menabung dan menyimpan uang bisa dibilang dua hal yang berbeda, ya. Untuk menyimpan uang, Izza sudah paham. Dia akan menyimpan uangnya di dalam dompet atau toples yang saya sediakan agar tidak tercecer dan bisa diambil lagi jika perlu. Saya anggap berbeda, ya, karena menabung adalah menyimpan dan mengumpulkan uang dalam jangka waktu tertentu.

Game Level #8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini - Day 4

Hari ke empat mengenalkan cerdas finansial pada Izza yang baru berusia 24 bulan lebih beberapa hari. Tidak pernah ada harapan muluk agar Izza pintas mengelola uang diusianya yang baru batita, yang penting dia tahu bentuk fisik uang koin dan kertas, tidak dibuang, dicoret, atau dimakan. Alhamdulillah sejauh ini dia sudah bisa membedakan mana uang kertas dan kertas biasa atau mana uang koin asli dan mainan. Yang belum bisa dia hindarkan adalah menggambar pada uang, karena memang dasarnya Izza suka menggambar. Izza pun sudah mengerti konsep berbagi, jika sedang memegang uang maka akan diberikan pada saya dan ayahnya. Dalam beberapa hari ini saya lebih menekankan pada proses transaksi jual beli menggunakan uang sebelum mengenalkan konsep menabung. Karena fungsi uang pada dasarnya memang untuk bertransaksi, bertukar dengan barang yang dia inginkan agar saya juga bisa memberi pemahaman tentang konsep kebutuhan dan keinginan dalam skala kecil dan sederhana.

Jadi untuk beberapa hari ini, saya selalu melibatkan Izza pada setiap proses jual beli yang kami lakukan, contohnya saat embeli beberapa barang di minimarket dekat rumah. Sembari saya membeli kebutuhan rumah, saya meminta Izza untuk mengambil satu jenis jajan yang dia inginkan.Dengan nada yang menekan, saya berkata pada Izza:
“Kakak mau jajan? Ambil satu ya”
“Satu!” katanya sambil mengacungkan jari telunjuknya dan melihat saya.
“Iya, ambil satu saja!”

8.7.18

Game Level #8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini - Day 3

Malam ini (rabu malam) ada pasar kaget di komplek perumahan sebelah dan kami memang biasanya rutin kesana untuk belanja sayur dan jadwal Izza naik odong-odong. Jika pada hari-hari sebelumnya, yang kami lalukan adalah, Izza dan ayahnya naik odong-odong sedangkan saya berkelana belanja sayur dan ikan. Saat semua beres maka kami langsung pulang ke rumah, biasanya hanya membutuhkan waktu setengah jam saja saat di pasar kaget. Hal yang berbeda kami lakukan malam ini, yaitu mengajak Izza bertransaksi jual beli membeli beberapa lembar poster huruf abjad dan hijaiyah, poster hewan dan buah-buahan. Tanpa kami duga, Izza sangat antusias saat melihat banyak sekali buku yang bersampul gambar-gambar yang biasa dia lihat dari youtube. Ada banyak sekali karakter yang dikenalnya dan dia pun berseru “Tayoooooo... Buuuu, Tayooooo”, tak lupa dia mencari perhatian ayahnya untuk seraya dengan segera ingin mengambil buku cerita yang bersampul karakter Tayo. Mumpung saat itu pembeli hanya kami, maka saya memanfaatkan momen untuk bernegosiasi dengan Izza dan melihat bagaimana dia merespon.

Ayahnya mengambil buku bersampul karakter hello Kitty dan berkata “Ini aja ya? Hello Kitty warna pink”, Izza pun sesaat terlihat ragu, sesekali memegang buku Hello Kitty dan melihat ke arah buku bersampul Tayo. Lalu dia pun menjawab “Ayaahhh, Nooo! Tayooooo!” dengan muka judes dia menolak buku Hello Kotty dari ayahnya dan merengek minta buku Tayo. Beberapa kali diulang dengan memberikan dia pilihan karakter lain tapi dia tetap menjawab Tayo dengan judesnya, hehe. Bukannya saya tidak mau membelikan, hanya saja buku cerita tersebut kertasnya tipis dan lebih cocok untuk anak balita, jadi saya memberi alternatif lain, untung ketemu puzzle Tayo dan Izza pun mengiyakan dengan cepat dan tegas. Puzzle Tayo sudah ada ditangan dan tidak boleh dilepas. Saat itulah saya memberi pengertian bahwa barang tersebut belum dibayar dan harus punya uang, jadi dia merelakan puzzle Tayo dipegang oleh penjualnya.

7.7.18

Game Level #8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini - Day 2

Mengenalkan Izza pda uang logam dan kertas asli yang sebelumnya memang sudah dia kenal baik, hanya saja saya belum mengenalkan pecahan uang. Seperti tujuan awal, saya berharap Izza tidak membuang, memakan, atau mencoret uang. Sampai saat ini hal yang belum bisa dia hilangkan adalah mencoret uang jika sudah memegang crayon atau pensil warna. Cukup membutuhkan sounding yang ekstra karena pada dasarnya Izza senang menggambar apa saja dan dimana saja. Mengenalkan uang koin dimulai dengan menghitung uang tersebut, membedakan mana yang besar dan kecil, lalu belajar menggambar lingkaran seperti uang koin yang dia pegang. Awalnya Izza senang sekali karena ada banyak koin yang saya kumpulkan untuk dihitung apalagi jika menghitung menggunakan bahasa Inggris, dia akan sangat senang sekali dan tanpa ragu untuk terus mengulang berhitung.

Mengenal uang koin
Mengenal uang koin

Game Level #8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini - Day 1

Mengenalkan uang mainan pada Izza
Mengenalkan uang mainan pada Izza
Saat ini umur Izza 24 bulan lebih beberapa hari. Officially 2 tahun dan lepas nenen alias ASI. Sudah banyak perkembangan pesat tentang tumbuh kembangnya, rasa tahu yang luar biasa besar, dan mulai cerewet. Soal konsep uang, sebenarnya Izza sudah tahu sejak lama kalau barang tersebut bernama uang, hanya saja konsep lebih rincinya belum saya terapkan. Saya cuma memberi tahu bahwa benda tersebut adalah uang dan saat membeli sesutau harus dengan uang. Untuk anak seusia Izza, saya tidak berharap banyak hal apalagi mengerti pecahan uang. Goals saya dalam mengenalkan uang pada Izza untuk saat ini cukup sederhana yaitu, dia paham kalau benda tersebut bernama uang, dia tidak membuang atau merobek uang kertas, atau tidak memakan uang logam. Lebih jauhnya Izza mengerti bahwa membeli sesuatu harus dengan uang, dan berbagi uang dengan orang lain. Banyak juga, ya? Hehe. Tapi insyaallah sederhana ya dan cocok untuk usianya.

31.5.18

Game Level #7: Semua Anak Adalah Bintang - Day 10

Hari ini perhatian Izza buyar saat saya tinggal masak, dia tidak mau tidur siang jadilah ikut saya sambil lari-larian di dapur. Meskipun sudah saya sediakan beberapa macam mainan, ternyata alat dapur masih menjadi primadona daripada mainan lainnya. Dia paling suka mengambil parutan keju, sendok sayur, dan pisau. Izza mulai saya kenalkan dengan pisau mainan miliknya, ternyata dia bisa mengenali pisau asli tanpa saya kenalkan. Beberapa kali dia berhasil mengambil dua buah pisau sekaligus lalu menunjukkan pada saya sambil berkata “Buuu, icauuuw” jika saya lalai tidak mengunci dan mengambil kunci laci. Awalnya saya sering langsung marah karena takut dia terluka, tapi sekarang saat Izza mengambil pisau, saya memintanya untuk mengembalikan ke tempat asalanya. Sambil memberi tahu jika tidak hati-hati nanti bisa sakit karena pisau itu tajam. Meski Izza belum paham arti tajam, tapi dia sudah paham arti sakit dan dia pun bisa mengembalikan pisau ke tempat asalnya. Salah satu cara saya mengajarkan tanggung jawab.

Akhirnya saya biarkan dia bermain dengan panci, alat penggorengan, dan yang lainnya agar saya bisa masak. Kadang dia masih menghampiri saya untuk menunjukkan aksinya memukul panci dengan sendok. Setelah masak beres, barulah Izza tidur, hehe. Sorenya, dia bermain dengan ayahnya yang kebetulan pulang lebih cepat dari biasanya. Mereka bersosialisasi ke tetangga dekat rumah dan baru kembali sebelum maghrib. Setelah semua urusan buka puasa suami dan makan malam Izza beres, barulah saya ajak Izza untuk bersinar lagi. Waktunya menyanyi! Ada satu lagu yang sedang dia sukai yaitu “Wakhidun Satu”, jadi sejak sore hingga mau mapan tidur lagu itu yang dia presentasikan seperti sedang menghafal liriknya. Perhatikan dua video di bawah ini yang diambil selepas maghrib hingga malam ini yang kebetulan Izza baru saja tidur.

30.5.18

Game Level #7: Semua Anak Adalah Bintang - Day 9

Kegiatan hari ini inginnya saya buat fokus menggambar dan menyanyi seperti pada hari pertama tantangan. Untuk pagi hari, saya sudah membuat konsep untuk menggambar ‘shapes’ dengan cara menjiplak karena Izza sedang sedang menjiplak segala bentuk dengan pensil warna. Konsep kedua yaitu menulis dalam batasan gambar yang dibuat dalam bentuk ‘shapes’ tadi. Awalnya Izza mengikuti dengan tekun menjiplak bentuk lingkaran dan segitiga, meski awalnya dia enggan untuk menggambar secara langsung dan selalu meminta saya untuk menggambarkannya. Dia mengikuti beberapa arahan saya untuk menjiplak bentuk lingkaran dan segitiga dan akhirnya menyerah karena lebih memilih memainkan puzzle. Ya, kami menjiplak gambar dari bentuk puzzle yang ada. Akhirnya saya arahkan pada konsep yang kedua yaitu menulis dalam batasan. Maksudnya, dia hanya boleh menulis atau mencoret dan menggambar di dalam bentuk, tidak boleh di luar garis. Hmm... sepertinya Izza belum paham betul, meski awalnya dia bisa mencoret di dalam garis, pada akhirnya kertas di luar garis pun ikut dicoret-coret.

29.5.18

Game Level #7: Semua Anak Adalah Bintang - Day 8

Libur kejepit yang Alhamdulillah membawa berkah, apalagi ditambah cuaca mendung sedari pagi diteruskan hujan hingga sore sukses membuat saya malas gerak. Izza yang bangun sedari subuh langsung ‘mengganggu’ ayahnya yang sedang bekerja di ruang tamu, sedangkan saya lanjut tidur, hehe. Sesuai kesepakatan dengan suami, saat hari libur, Izza ada ditangan ayahnya kecuali saat makan dan tidur. Jadilah saya hanya handle saat di jam makan dan tidur saja, selebihnya saya bisa ‘me time’ yang lebih sering saya isi dengan beres-beres rumah. Setelah sarapan pagi, Izza ‘membantu’ ayahnya membuat pereman telur dari kardus bekas yang diberi lampu kuning. Ya, ayam kate kami sudah bertelur total 4 biji sedangkan induknya enggan mengeraminya. Izza dan ayahnya sibuk berdialog di teras rumah, lebih tepatnya bisa dibilang sang ayah terus komplen pada Izza yang mau ikut andil, hehe. Sedangkan saya asyik mendengarkan celoteh mereka dari belakang sambil cuci baju.

Aktivitas seperti inilah yang selalu saya nantikan, Izza dan ayahnya ‘akur’ dan saling berdialog. Karena secara otomatis akan menambah kosakata dan wawasan Izza. Sengaja saya tidak memberikan pensil dan kertas, biarlah hari ini menjadi hari bebas Izza untuk brekreasi. Sampai pukul 11 siang akhirnya Izza mengalah dan mencari saya untuk kemudian mapan tidur. Yang akhirnya kami bertiga tidur berjamaah. Sorenya, setelah Izza makan siang, kami siap-siap untuk buka puasa di luar rumah untuk kali pertama. Hari merdeka bagi saya karena tidak masak, hehe. Dulu, saat Izza berusia sekitar 18 bulan, dia masih takut jika berada di keramaian, sekarang, usia 23 bulan, Alhamdulillah Izza sudah tidak takut lagi malah sebaliknya. Izza mulai senang berkenalan dengan orang lain meski awalnya seperti malu, tapi mau juga diajak komunikasi.

28.5.18

Game Level #7: Semua Anak Adalah Bintang - Day 7

Hari ini tanpa sengaja saya membongkar sluruh isi ardus di dalam gudang, padahal niat awal hanya mengambil kardus yang berisi naju bayi milik Izza dulu. Ternyata beberapa barang ada di dalam kardus yang terpisah, otomatis saya bongkar semua dan menata ulang. Izza kemana? Tentu saja ikut ‘membantu’ proses bongkar muat barang-barang dalam kardus. Izza senang jika dirinya ikut berpartisipasi dalam kegiatan yang menguras aktivitas fisik dan sibuk bertanya “Apa icu?” atas semua barang yang membuatnya penasaran. Izza benar-benar membantu, loh? Dia sudah bisa dimintai tolong untuk mengambil kertas dan pulpen yang ada di rak bukunya. Bahkan saya memintannya untuk menyingkirkan kardus kosong menjauh agar tudak menghalangi jalan. Good job, kakak! Hal lain yang dilakukan Izza adalah ikut memberi label pada kardus. Isi dalam kardus tersebut saya catat pada selembar kertas dan ditempelkan di atasnya. Izza sangat excited sekali saat ikut menulis meski dia hanya menggambar secara abstrak. Momen seperti ini selalu saya manfaatkan untuk mengajari Izza kosa kata baru atau memperjelas artikulasinya saat bicara.

Izza pun ikut andil menggunting selotip dan menempelkan kertas pada kardus. Rempong, ya? Memang, bekerja dengan satu batita yang maunya selalu ikut andil memang repot, membuat pekerjaan semakin lama atau kadang harus saya ulang. Tapi saya selalu mencoba untuk berpikir bahwa dengan Izza ikut andil saat saya bekerja bisa dianggap juga dia latihan menjalani aktivitas kehidupan secara nyata. Dalam teori montessori yang saya dapat ada yang namanya EPL atau Excercise of Practical Life, yaitu anak diajarkan menggunakan alat-alat dalam kehidupan nyata seperti menuang, menggunting, menempel. Nah, saya selalu anggap apa yang Izza lakukan saat saya bekerja sama saja dengan kurikulum EPL dalam montessori. Semoga saya tidak salah tangkap atas pengertian EPL.

27.5.18

Game Level #7: Semua Anak Adalah Bintang - Day 6


Qodarullah, hari ini saya tidak enak badan. Kepala terasa sangat berat dan pening, mungkin efek begadang semalam dan bangun sahur jadi mungkin kurang tidur. Setelah rutinitas pagi dan menemani Izza sarapan, saya pasrahkan semua kegiatan Izza hari ini pada ayahnya. Bahkan untuk menjemur cucian baju pun dibantu suami. Sembari saya istirahat sebentar di kamar, saya bilang ke suami kalau bisa ajak Izza menggambar atau menyanyi sesuai dengan tantangan yang saya lakukan setiap hari. Dari kamar sih terdengar mereka berdua sedang asyik menggambar dan menulis. Terdengar Izza dan ayahnya melafalkan alfabet, angka, bahkan huruf hijaiyah. Alhamdulillah, Izza terdengar semangat sekali bahkan sesekali berteriak dengan gaya khasnya. Kemudian sepertinya saya tertidur jadi tidak tahu kegiatan apa lagi yang mereka lakukan.

Saya terbangun dan keluar dari kamar, jeengggg jeeeenggggg, sekujur tubuh hingga wajah Izza penuh dengan coretan pulpen. Ada yang berupa gambar kucing, singa, bentuk lingkaran, bahkan angka satu sampai sepuluh. Tanpa pikir panjang dengan perasaan kesal sekali, saya membawa Izza ke kamar mandi untuk membersihkan coretan-coretan tersebut. Ya, saya masih tidak suka dengan hal kotor semacam itu apalagi coretannya banyak sekali. Jika coretan hanya sedikit mungkin bisa dimaklumi. Kemudian saya sedikit menyesal, harusnya Izza difoto dulu untuk dokumentasi hasil karya dia bersama ayahnya, hehe. Tapi faktanya saya yang ngomel-ngomel ke suami karena membiarkan Izza mencoret-coret tubuhnya. Dan kilah suami adalah: tidak masalah, kreatif, kok!

26.5.18

Game Level #7: Semua Anak Adalah Bintang - Day 5

Hari ini, kami berkegiatan di luar dari pagi hingga sore, jadi tidak ada agenda khusus untuk menggambar atau menyanyi, hanya saja sempat menyanyi saat di mobil dan menjelang tidur. Pagi hari, Izza dan ayahnya langsung menyerbu 2 ayam peliharaan yang baru dibeli 2 minggu lalu setelah menyerah pada kelinci dan memberikannya pada tetangga. Setelah itu kami pergi ke pasar yang menjadi agenda rutin setiap sabtu untuk membeli stok ikan dan lauk selama seminggu. Agenda ke pasar ini wajib kami lakukan karena Izza lumayan takut jika masuk ke pasar terutama bagian ayam atau daging. Ini menjadi salah satu terapi untuknya agar terbiasa dengan pasar dan merupakan terapi bagi saya juga yang sebetulnya enggan pergi ke pasar karena kotor. Tentu saja, agenda ke pasar bukan menjadi kegiatan yang membuat saya dan Izza berbinar, tapi hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja karena pasar adalah salah satu bagian penting bagi kami.

Setelah dari pasar, mandi dan sarapan, kami berangkat ke supermarket, hehe, untuk membeli kebutuhan bulanan lainnya dan persiapan lebaran, mumpung diskon, ya kan? Nah, saat di supermarket, Izza terlihat cukup berbinar, dia bisa lari kesana kemari, mengambil ini itu, mencoba ini itu, bahkan tidak takut jika berada di area daging atau ikan. Sama halnya dengan saya, senang jika belanja di supermarket, hehe. Barang yang tida kami beli di supermarket adalah daging dan ikan, selebihnya disini. Selama perjalanan ke supermarket, Izza terlihat senang sekali, karena dia memang senang jika keluar rumah. Izza menyanyi berbagai macam lagu, menunjuk setiap truk dan mobil yang lewat, bertanya “apa itu” terus menerus. Alhamdulillah Izza mulai cerewet, selalu penasaran dengan ini itu dan dia sangar berbinar sekali jika sedang penasaran.

25.5.18

Game Level #7: Semua Anak Adalah Bintang - Day 4

Hari ini saya sudah membuat konsep bermain dengan Izza menggunakan potongan kertas yang membentuk beberapa “shapes” yang dulu pernah dimainkan. Maunya saya, kami menggambar mengikuti pola dari shapes tersebut sambil menyebutkan warna-warna dalam bahasa Indonesia dan English. Sayangnya, Izza bukan tipe anak yang bisa dipaksa bermain sesuai kemauan bundanya, dia hanya akan bermain yang menarik perhatiannya. Setelah rutinitas pagi selesai, saya mengeluarkan potongan shapes tersebut, tapi tidak digubris oleh Izza. Dia hanya mengamati sebentar dan menyebutkan nama bentuk tersebut lalu manrik tangan saya menuju rak tempat menyimpan puzzle. Dengan bahasanya yang masih belum jelas, Izza meminta saya untuk mengambil puzzle angka dan bentuk sambil memeragakan dan berusaha mengucapkan “round and round”. Ah, ternyata Izza minta puzzle yang ada angka dan bentuk. Okelah, tidak masalah, yang penting Izza tetap bermain dan belajar pagi ini.

Izza lebih pilih puzzle daripada menggambar
Izza lebih pilih puzzle daripada menggambar

24.5.18

Game Level #7: Semua Anak Adalah Bintang - Day 3

Hari ketiga tantangan dengan kondisi Izza yang Alhamdulillah membaik. Kabar baiknya, Izza tidak perlu rawat inap dengan syarat dia tidak kekurangan cairan alias tidak dehidrasi. Hari ini makan dan minum lumayan lah meski sempat muntah sekali setelah sarapan. Jadi hari ini masih dalam suasana memaksa Izza agar istirahat total, karena kalau tidak dipaksa dia bisa naik turun kasur atau sudah lari keluar rumah. Alhasil pintu dan pagar tralis pintu saya kunci lalu menyediakan sekotak pensil warna beserta bukunya. Meskipun awalnya Izza membawa kotak bola, koleksi ikan dan alat pancing, tapi harus saya simpan lagi agar tubuhnya tidak terlalu banyak bergerak. Berbekal pensil warna dan beberapa lembar kertas lalu mengajak dia untuk menggambar singa dan beruang, maka Izza sudah bisa duduk manis. Sayangnya tidak berlangsung lama karena tiba-tiba dia minta mapan tidur, mungkin efek obat ya jadi dia sudah ngantuk.

Alhadulillah hujan turun di siang hari, tidurnya jadi nyenyak hingga jam 1 lebih dia baru bangun untuk makan siang. Setelah itu saya mikir lagi kegiatan apa yang tidak membuat dia bosan meski dilakukan di atas kasur. Pilihan kembali ke pensil warna dan kertas. Kali ini dia meminta saya untuk menggambar jari-jari tangan hingga kakinya di atas kertas, jadi seperti menjiplak. Tanpa komando, tiba-tiba Izza menyanyikan lagu anak yang berjudul “Daddy Finger” yang akhir-akhir ini memang sedang menjadi favoritnya. Nah, kalau begini saya galau lagi, dari menyanyi dan menggambar rasanya itu kegiatan yang tidak bisa dipisahkan bagi Izza.

23.5.18

Game Level #7: Semua Anak Adalah Bintang - Day 2

Sebenarnya beberapa hari ini menjadi hari yang mendebarkan untuk saya dan suami, karena kondisi Izza yang sedang kurat sehat, demam naik turun. Setelah demam 4 hari kami berkunjung ke dokter lalu demamnya hilang dan kemarin muncul lagi. Akhirnya kami memutuskan untuk cek lab darah dan hasilnya tadi pagi positif tipes, tubex positif 6. Subhanallah. Melihat Izza yang lemah lunglai tapi dia sendiri masih ingin bermain membuat saya tidak tega. Jadi hari ini, mau tidak mau saya memaksanya untuk istirahat total. Setelah sarapan pagi, dia masih sempat bermain sebentar dengan saya dan dia sendiri yang meminta saya untuk menggambar singa kesukaannya. Jadi pagi ini diisi dengan kegiatan gambar saja yang Alhamdulillah membuat dia sedikit bersemangat dan tertawa terbahak melihat gambar saya yang cukup amburadul. 

tiga gambar hewan yang menakutkan, bukan? tapi gambar-gambar ini bisa membuat Izza senang sekali, lho

22.5.18

Game Level #7: Semua Anak Adalah Bintang - Day 1

Materi level 7 ini seakan menampar saya yang beberapa minggu lalu baru saja terus menerus mengeluh soal Izza yang belum bisa berbicara lancar seperti teman seusianya, atau tidak mau anteng seperti anak tetangga sebelah. Saya sempat kesal dengan segala macam ulah Izza yang ada saja yang membuat saya harus berkali kali membereskan rumah karena hampir penjuru rumah selalu berantakan. Tak jarang mengeluh pada suami atas ulah Izza yang membuat badan remuk redam (lebay, deh) alias capek. Mungkin karena hamil sudah di trimester tiga jadi tenaga saya juga tidak se-energik dulu, gampang capek, yang berujung gampang emosi. Padahal harusnya saya bersyukur ya kalau Izza sedang aktif-aktifnya dan penuh rasa penasaran yang artinya Izza dalam kondisi sehat dan tumbuh kembangnya normal. Harusnya, sih, ya, kadang emosi mengalahkan segalanya.

Materi level ini punya andil besar dalam mengubah persepsi saya tentang bakat dan talenta Izza, pun kilas balik tentang materi cara belajar Izza yang cenderung kinestetik, jadi wajar saja jika dia punya tenaga luar biasa untuk bergerak. Jika diamati, ada 3 hal yang membuat Izza berbinar saat melakukannya yaitu menyanyi, menggambar, dan bergerak. Dari ketiganya, yang paling membuat dia berbinar dan terlihat sangat bahagia adalah bergerak aktif. Mungkin karena dia memang tipe anak kinestetik, jadi semua hal yang dia pelajari diinterpretasikan dengan gerak tubuh. Contohnya, menyanyi pasti sambil menari, bicara sambil menggerakkan tubuh, bermain secara aktif, berhitung sambil menggerakkan jari, dan lainnya. Hanya saja, untuk level ini saya tidak akan mengevaluasi tentang keterampilan fisiknya karena izza sedang dalam kondisi yang kurang sehat, tumbuh gigi secara bersamaan jadi banyak rewelnya. Oleh itu saya akan memilih antara menyanyi (sambil menari tentunya) dan menggambar (bisa juga menulis atau sekadar mencorat coret).

7.4.18

Game Level #6: Menstimulasi Matematika Logis Pada Anak - Day 10

Hari ini saya benar-benar kehabisan ide bermain matematika logis dengan Izza. Semua mainan dari puzzle, bola, dan sebagainya sudah dimainkan, sedangkan otak sedang stuck tidak bisa berpikir kreatif lagi. Eh, saya ingat kalau hari ini kan sabtu jadi saya lempar tangan ke ayahnya, hehe. Suami mengiyakan dengan sangat enteng. Saya pun yakin dan beralih pada pekerjaan domestik yang sudah menunggu. Saya meminta suami untuk menjemur kerupuk untuk acara yasinan besok siang yang ternyata menjadi ajang bermain dengan Izza. Wah! Ide brilian yang tidak terpikir oleh saya, hehe. Mereka memindahkan kerupuk dari plastik ke koran dengan cara menghitungnya, Izza mengukuti dengan semangat. Ya, meskipun pada akhirnya mereka menjadikan kerupuk sebagai ajang bermain, memindahkan dari satu tempat ke tempat lain secara berulang demi untuk menghitung. Okelah, yang penting kerupuk tidak tercecer dan masih dalam keadaan bersih. Sejak mengikuti tantangan level 6, Izza semakin senang berhitung baik itu menghitung dengan jari atau langsung berhitung dan menyebut angka saat menjumpai bilangan angka.

Seperti halnya siang tadi saat kami pergi ke supermarket untuk belanja bulanan. Segala hal yang dia jumpai pasti dihitung olehnya. Saat naik tangga, sudah tidak mau dipegangi, maunya naik sendiri sambil berhitung. Saat membeli yogurt atau menghampiri jajaran air mineral, semuanya serba dihitung. Sesekali menghampiri saya dan ayahnya untuk diajak berhitung, apa ini memang efek dari tantangan level 6 atau memang sudah masanya Izza berhitung, ya? Entah ya, yang penting saya cukup senang dengan progresnya Izza. Dulu, saya sempat kuatir dengan Izza yang belum bisa berhitung satu hingga tiga disaat teman seusianya sudah lancar berhitung hingga lima atau bahkan sepuluh. Tapi harusnya saya tidak membandingkan karena prosesnya memang beda, dan sekarang Izza sudah bisa meski belum lancar dan urut.

6.4.18

Game Level #6: Menstimulasi Matematika Logis Pada Anak - Day 9


Hari ke sembilan, kondisi bunda sedang drop, benar-benar merasa capek sampai keluar lebam-lebam biru di badan yang memang tanda kalau badan butuh istirahat total. Hari ini pun tidak masak dan mengandalkan suami untuk beli sarapan dan makan siang, jadwal nyuci baju pun harus diundur hingga besok atau masuk ke laundry. Sementara Izza sedang sangat excited dengan segala mainan yang terkumpul di ruang tamu karena kemarin sengaja tidak saya kembalikan ke tempatnya. Setelah sarapan, dia meangambil bola warna-warni dan selotip yang tercecer, menyerahkan pada saya tanda minta dibuatkan lahan untuk “tanam dan petik bola” seperti kemarin. Saya alihkan saja dengan buku dan pensil warna agar saya tidak terlalu banyak bergerak mengikuti aksinya. Untungnya di mau dialihkan tapi mengambil stiker dan gunting yang memang saya sediakan untuknya. Saat ini saya tidak melarang Izza memegang gunting sungguhan (saya berikan gunting kecil yang ujungnya tumpul dan gagangnya empuk) untuk melatih motoriknya, untuk pisau memang masih saya berikan pisau mainan.

5.4.18

Game Level #6: Menstimulasi Matematika Logis Pada Anak - Day 8

Hari ini hawanya panas sekali, bunda malas gerak maunya di kamar pasang AC sambil main ponsel, hehe. Maunya sih begitu, ya, kalau masih single tak apa, sekarang sudah mau dobel anaknya jadi tidak boles malas biar anaknya tidak ikut malas. Pagi tadi saya sengaja tidak masak untuk sarapan jadi beli bubur ayam untuk Izza dan lontong sayur untuk suami. Jadinya masak saat menjelang makan siang. Setelah mandi dan sarapan, saya mengajak Izza untuk mengulang permainan kemarin yaitu memasukkan kartu bentuk ke dalam celengan kardus dengan 4 lubang bentuk sesuai dengan kartu. Seperti halnya sekolah mengulang pelajaran, hehe. Alhamdulillah Izza makin fasih mengenal bentuk terutama lingkaran dan segitiga, kadang dia masih bingung membedakan persegi dan persegi panjang, mungkin karena bentuk yang hampir sama. Tapi karena saya membuat persegi panjang bentuknya lebih kecil dari persegi Insyaallah masih mudah dipahami olehnya.

Selain fasih dalam memasukkan kartu bentuk ke dalam celengan, Izza juga makin fasih becanda dengan mainan tersebut. Makin penuh dengan kreasi. Entah dia dapat ide dari mana, kali ini seperti Izza yang sedang mengajari saya, persis seperti apa yang telah saya ajarkan padanya. Dia mengambil kartu bentuk dari dalam wadah dan menyodorkan pada saya seolah menginginkan saya untuk mengucapkan warna dan bentuknya. Lalu dia menunjuk celengan dan berkata “Iniii!” saat itu dia memberi saya kartu bentuk lingkaran dan tangannya pun menunjuk celengan lingkaran. Saat saya berhasil memasukkan kartunya ke dalam celengan dia bertepuk girang sambil berteriak “Yeaayyy” persis seperti saya. Ah, anak ini memang pandai meniru apa yang dilakukan orang dewasa. Saya pun masih takjub dengan aksinya pagi tadi.

4.4.18

Game Level #6: Menstimulasi Matematika Logis Pada Anak - Day 7

Celengan dan kartu bentuk
Celengan dan kartu bentuk, hasil karya hari ini
Hari ini, meneruskan konsep kemarin yaitu mengenalkan beberapa macam bentuk pada Izza plus mengenalkan warna dalam bentuk tersebut. Kali ini saya sudah ada persiapan yang cukup matang dalam membuat properti, Insyaallah terkonsep dengan baik dan semoga sesuai dengan umurnya. Dalam mengenalkan bentuk, saya membuat 4 macam bentuk yaitu lingkaran, persegi, segitiga, dan persegi panjang menggunakan kertas origami warna-warni dalam jumlah yang cukup banyak. Harusnya sih menggunakan kertas yang lebih tebal karena tujuan saya sebenarnya membuat kartu dalam berbagai macam bentuk tersebut. Sayangnya bahan yang tersedia di rumah tidak cukup memadahi. Lalu saya membuat sebuah celengan dari kardus air mineral yang atasnya diberi lubang sesuai dengan bentuk yang telah saya buat sebelumnya. Jadi celengannya ada 4 lubang yaitu lingkaran, segitiga, persegi, dan persegi panjang.

3.4.18

Game Level #6: Menstimulasi Matematika Logis Pada Anak - Day 6

menyusun puzzle
menyusun puzzle
Hari ini rencana saya adalah mengenalkan beberapa macam bentuk pada Izza, dan yang pertama adalah lingkaran karena bnetuk yang paling mudah diingat. Sayangnya saya belum menyiapkan properti secara matang, jadi masih ala kadarnya dari puzzle dan gambar yang kami buat. Setelah sarapan, saya mengajak Izza untuk mengambil buku dan spidol dan membuat bentuk lingkaran. Dari awal saya mengajarkan mengucap lingkaran dalam bahasa inggris karena suku kata lebih sedikit dan mudah untuk diucapkan. Dan setelah saya coba keduanya pada Izza memang lebih mudah mengucapkan dalam bahasa Inggris. Saya membuat gambar lingkaran dengan mengucap “round” lalu Izza menirukan meski bentuk gambarnya masih berupa coretan ala kadarnya. Beberapa kali saya mencontohkan membuat lingkaran dan ditirukannya, ada satu ‘aha moment’ bagi saya saat tiba-tiba saja Izza memutar-mutar tangan di depan dada sambil bergumam lagu yang berjudul Wheels on The Bus. Kami pun menyanyi dulu sambil memeragakan, lagunya seperti ini, “the wheels on the bus go round and round, round and round, all through the town”. Izza sangat suka lagu ini tentunya saat memeragakannya. Kami memnyanyi lagu ini kira-kira 6 atau 7 kali hingga berujung menggambar bebas.

2.4.18

Game Level #6: Menstimulasi Matematika Logis Pada Anak - Day 5

Hari ini tema dalam bermain dan belajar matematika logis mengenalkan warna dan berhitung menggunakan bola plastik warna-warni. Bola warna-warni ini lebih sering saya sembunyikan dan dihindarkan dari pandangan mata Izza daripada saya keluarkan untuk bermain. Alasannya sederhana, saya lelah membereskannya, hehe, padahal sudah dibeli tapi disimpan dengan rapi. Dan mulai kemarin dikeluarkan lagi dari tempat penyimpanan untuk mendukung Izza dalam belajar dan bermain matematika logis. Untungnya Izza sudah mengerti cara merapikan mainannya sendiri jadi saya tidak terlalu capek untuk memungut satu per satu bola kecil tersebut. Ternyata, Izza sangat antusias saat bermain dengan bola-bola tersebut, seperti bertemu dengan kawan yang sudah lama tidak berjumpa. Akhirnya saya yang harus putar otak agar Izza bisa bermain bola tersebut dengan tenang tanpa dilempar ke sembarang tempat. Ide pun di dapat setelah membuka instagram.

1.4.18

Game Level #6: Menstimulasi Matematika Logis Pada Anak - Day 4

Memancing ikan dan bola di ember
Memancing ikan dan bola di ember
Pagi ini kami ada rencana ke car free day di taman bundaran besar sayangnya kesiangan, tapi kami tetap berangkat untuk sarapan dan Izza naik odong-ododng yang sudah kami janjikan. Biasanya jadwal naik odong-odong kalau tidak rabu malam ya kamis malam, tapi hujan terus jadilah minggu pagi kami janjikan ke CFD. Setelah sarapan di CFD, kami ke pasar besar untuk beli stok ikan, ayam, dan lauk pauk lainnya dan berujung mampir ke toko mainan beli pancing magnetik yang diminta Izza saat di CFD. Ayahnya menjanjikan, jadi membelikan. Sampai di rumah saya sibuk membereskan hasil belanjaan, menyiangi ikan, ayam, dan semuanya. Urusan belajar dan bermain hari ini menjadi tanggung jawab ayah Izza sepenuhnya. Keduanya sepertinya sangat antusias membuka alat pancing magnetik yang bari dibeli tersebut.

31.3.18

Game Level #6: Menstimulasi Matematika Logis Pada Anak - Day 3

menakar kacang hijau dalam wadah
menakar kacang hijau dalam wadah
Sabtu bersama ayah, itulah judul kegiatan Izza di rumah setiap akhir pekan kalau ayah sedang tidak lembur. Hari ini, mulai dari bangun pagi, mandi, lalu sarapan dikerjakan oleh ayah sedangkan saya bersantai sejenak karena tidak ada cucian baju. Alasan dibalik kagiatan sabtu bersama ayah adalah untuk meningkatkan bonding antara Izza dengan ayahnya, karena setiap malam kurang maksimal. Disamping itu, saya ingin membiasakan suami dan Izza tanpa saya untuk sejenak saja agar kelak saat melahirkan nanti mereka berdua bisa mandiri dan ayah bisa memenuhi kebutuhan Izza. Ya, seperti lahiran pertama, saya memilih untuk tidak pulang ke Jawa karena lebih nyaman jika berada di samping suami saat hamil tua. Sebelum saya hamil, kegiatan sabtu bersama ayah memang sudah ada hanya saja, saya masih sering ikut campur. Mulai beberapa minggu lalu sudah sedikit lepas tangan meski untuk urusan makan kadang masih belum rela. Untuk urusan belajar dan bermain, Alhamdulillah suami sudah bisa diandalkan, dalam artian sudah bisa bersikap konyol dihadapan anaknya, hehe. Maklum, suami tipe jaga image.

30.3.18

Game Level #6: Menstimulasi Matematika Logis Pada Anak - Day 2

Menghitung pompom
Menghitung pompom menggunakan penjepit
Alhamdulillah hari ini libur nasional jadi suami bisa di rumah bermain dengan Izza, setelah global cleaning kamar dan lemari Izza serta bagian teras dan taman. Global cleaning adalah program rutin setiap 3 bulan sekali yang selalu kami lakukan untuk bersih-bersih rumah bagian tertentu secara total. Setelah sarapan dan cuci baju, kami mulai bergeriliya dengan rugas masing-masing sedangkan Izza bermain dengan pompom kecil warna warni dan sumpit/penjepit kecil. Alhamdulillah tidak banyak yang harus kami kerjakan jadi bisa beres dalam waktu singkat dan perhatian beralih pada Izza. Permainan hari ini menggunakan konsep mengenalkan warna dan belajar berhitung, ditambah untuk melatih motorik halusnya.

29.3.18

Game Level #6: Menstimulasi Matematika Logis Pada Anak - Day 1

Saat bermain dengan Izza, rasanya saya jarang mengajarkan tentang matematika yang sesungguhnya yaitu seperti berhitung sederhana atau bahkan yang rumit. Saya baru tahu kalau matematika logis itu termasuk mengenal warna, bentuk, ukuran, dan pemecahan masalah secara logis lainnya yang ternyata selama ini sudah kami lakukan bersama. Saat membaca tahap perkembangan kognitif pada anak di bawah 2 tahun, ternyata Izza belum masuk pada usia yang harus bisa mengerti tentang matematika, tapi tetap ada tahapan kognitif yang harus dilalui.

Tahap perkembangan aspek kognitif yang harus dilalui oleh anak usia 18-24 bulan menurut Standar Nasional PAUD, adalah sebagai berikut:
  • Berjalan dan Pemecahan masalah :
  1. Mempergunakan alat permainan dengan cara memainkannya tidak beraturan, seperti balok dipukul-pukul
  2. Memahami gambar wajah orang
  3. Memahami milik diri sendiri dan orang lain seperti : milik saya, milik kamu
  4. Menyebutkan berbagai nama makanan dan rasanya (misal, garam –asin, gula-manis)
  • Berpikir logis:
  1. Menyusun balok dari besar ke kecil atau sebaliknya
  2. Mengetahui akibat dari suatu perlakuannya (misal:menarik taplak meja akan menjatuhkan barang-barang di atasnya)
  3. Merangkai puzzle
  • Berpikir Simbolik : 
  1. Menyebutkan angka satu sampai lima dengan menggunakan jari