23.12.17

Aliran Rasa Melatih Kemandirian

Aliran Rasa melatih Kemandirian
Aliran Rasa Melatih Kemandirian

Melatih kemandirian anak pada dasarnya melatih kemandirian saya sebagai bundanya, melatih konsistensi saya dalam melatihnya. Sebelum tantangan ini dimulai, saya sudah melatih beberapa hal dalam segi kemandirian yaitu toilet training, beres-beres, dan makan (cemilan) sendiri. Ketiganya secara bersamaan karena sudah dimulai jadi rasanya sayang kalau mau dipangkas untuk menonjolkan salah satunya. Akhirnya untuk minggu pertama saya memilih melatih kemandirian dalam hal beres-beres. Mulai dari membereskan mainan, buku, mengembalikan barang-barang yang dia ambil ke tempatnya, membuang sampah, dan membawa baju kotor ke ember cucian.


Tidak banyak kendala untuk hal ini, karena Izza sendiri sudah mengerti kalimat dan perintah yang saya ucapkan. Pada awalnya memang harus diberikan cotoh terlebih dulu sambil mengutarakan kalimat perintah, maka dia akan cepat tanggap dan mengerti. Dari semua hal atau barang yang dibereskan, Izza paling suka mengembalikan buku ke laci dan sepatu ke rak depan. Dua benda tersebut merupakan favoritnya jadi tidak susah untuk mengajak beres-beres. Hanya saja untuk mainan masih agak susah, karena dia akan terus tertarik untuk bermain meski sudah memasukkan satu mainan ke keranjang, maka dia akan mengambil mainan lain dari keranjang. Izza paling suka bermain bola pom-pom dengan menggunakan jepit/sumpit. Jadi cara saya adalah meminta dia untuk memasukkan semua pom-pom ke dalam wadah lalu ditutup.

Sambil tetap melanjutkan latihan beres-beres, saya melanjutkan tantangan makan sendiri. Sebenarnya juga sambil toilet training karena memang sudah dimulai jauh sebelumnya. Untuk makan sendiri lebih banyak kendala terutama makanan utama. Untuk cemilan sudah sukses makan sendiri dengan segala gaya, mau pakai sendok garpu sudah oke. Dari saya yang masih belum rela membiarkan Izza makan sendiri, hanya sedikit yang masuk mulut yang ujungnya dibuat mainan. Kalau kata orang memang awalnya seperti itu yang penting harus telaten, tapi ada hal yang membuat saya galau. Saya sedang program booster berat badan Izza yang mungil, jadi sebisa mungkin dia makan banyak yang telah saya sediakan. Kalau pakai metode BLW alias makan sendiri hanya sedikit makanan yang masuk nanti makin kurus. Akhirnya saya stop, deh. Sebenarnya tidak saya stop 100 persen, karena sesekali saya masih memberi dia sendok sambil saya menyuapinya. Tapi hal ini saya anggap bukan melatih kemandirian jadi saya tidak melaporkannya.

Jadi hingga saat ini 3 hal tersebut masih saya latih dan memberikan kemajuan yang cukup bagus. Izza sudah bisa membereskan buku, sepatu, mainan meski tidak benar-benar rapi. Sudah bisa makan sendiri dengan sendok dan sedikit tercecer meski tidak sampai habis. Toilte training pun masih lanjut. Dari 2 minggu lebih melakukan tantangan, hal yang dapat saya simpulkan dalah sebagai berikut:
  1. Latih kemandirian sesuai dengan usia anak. Saya sendiri masih menganggap bahwa usia Izza adalah usia explore segala hal, usia dia sedang kepo dan belum bisa fokus untuk satu hal saja. Jadi kemandirian secara menyeluruh belum bisa diharapkan yang penting pada usia ini (18 bulan) orang tua bisa mengenalkan banyak kegiatan kemandirian pada anak. Saya sendiri sangat senang bahwa Izza sudah sangat mengerti kalimat perintah, sudah punya keinginan untuk melakukan semua kegiatan sendiri bahkan marah jika saya ikut campur. Tapi sebagai ibunya akan tetap melakukan pendampingan.
  2. Melatih anak secara konsisten tanpa memaksa. Pernah suatu hari saya memaksa Izza untuk beres-beres hingga kesabaran saya sedikit berkurang yang akhirnya ada bentakan. Hal ini sangat tidak baik untuk segi psikologis anak. Konsisten, ayah dan ibu harus kompak tidak boleh melemah salah satu. Contohnya ini saat toilet training weekend, karena jatah ayah bermain dan ayahnya sempat minta Izza pakai diapers agar tidak perlu ngepel. 
  3. Lakukan dengan cara yang menyenangkan. Kalau ini memang penuh dengan trik dan memang harus kreatif sesuai dengan mood anak. Yang penting anak tidak merasa terbebani dan senang melakukannya setiap saat.


Itulah tiga poin yang bisa saya ambil dalam tantangan kemandirian bersama Izza. Yang paling penting adalah kesiapan orang tua sebelum melatih kemandirian harus komitmen dengan aturan yang dibuat. Saya senang dengan tantangan ini meskipun belum siap untuk beberapa hal dan cukup melelahkan. Iya, melelahkan! Karena saya harus pasang badan siap untuk ngepel saat Izza tiba-tiba ngompol atau buang air besar dicelana. Siap membersihkan setiap remahan makanan yang jatuh di lantai, dan siap menata ulang hasil karya Izza. Tapi, lebih baik lelah sekarang daripada nanti saat Izza sudah besar. Melatih kemandirian sesuai dengan usianya agar tidak terlambat. Jujur saja target saya adalah Izza sudah lepas diapers dan bisa makan sendiri sebelum adiknya lahir. Bismillah. 

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar Anda ^^