10.11.17

Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 9

Ceritanya, subuh tadi ada gesekan kecil antara saya dan suami. Masalah sepele, sih, tapi tetap membuat tidak nyaman karena membuat suami sedikit mrengut karena saya yang bisa dibilang ngambek. Malam hari sebelumnya suami berkata kalau besok pagi ada upacara pagi hari di kantor dan saya mengiyakan bahwa suami harus berangkat pagi-pagi. Sudah itu saja, tidak ada informasi tambahan yang saya terima dan tidak punya prasangka apapun. Esoknya kami berdua bangun dan saya menuju kamar mandi, setelahnya saya mendapati suami sedang setrika baju seragam untuk hari senin. Lalu terjadinya percakapan berikut ini:

Saya: “Lha, ngapain kok setrika baju itu?” 
Suami: “Tak kira wes disetrika ternyata tadi lihat masih digantung di jemuran.” 
Saya: “Ya, kan nanti bisa aku setrika bareng yang lain. Mau dipakai, kah?” 
Suami: “Iya.” 
Saya: “Nah, kok gak bilang. Sini aku wae.” 
Suami: “Kan semalem sudah bilang kalau mau upacara.” 
Saya: “Emang bilang kalau mau pakai seragam ini?”  (Mulai nyolot)
Suami: “Hmmm.. tak kira ya wes ngerti.” 
Saya: “Lha aku ngerti darimana, Mas? Ini kan hari jumat, tak kira ya upacara pakai baju batik.” 
Suami: “Biasanya kan upacara pakai seragam itu.” 
Saya: “Tetep aja semalem gak bilang. Kamu itu uda salah ngeles aja terus.”  
(Saya pasang muka jutek dan mulai ngedumel: “kayak gini kerjaan rumah mundur semua, kan. Coba bilang dari semalem kan beres.”)

Setelah selesai setrika saya masih melanjutkan aksi ngambek karena tidak sempat membuat sarapan yang lengkap. Pekerjaan rumah jadi sedikit keteteran. Sebenarnya bukan karena 1 helai baju yang harus setrika, tapi karena saya terlalu banyak ngedumel jadi permasalahan makin panjang. Ditambah suami yang tidak kontak sama sekali di jam kerjanya.

Siangnya, suami pulang membawa 2 bungkus nasi ayam kare lengkap dengan sayur layaknya makanan menu 4 bintang. Hati dan raut muka jadi senang kalau dibawakan makanan, hehe. Lalu beiau bercanda dengan Izza dengan cara memeluk saya sambil berkata “Bundanya buat ayah, yaa, Za”, begitulah cara kami bercanda. Momen tersebut saya manfaatkan untuk membuat situasi kami menjadi baik kembali. Saya pelut erat suami sambil manja-manja menggunakan kaidah “7-38-55” dan “the intensity of eye contact”.

Saya: (Merajuk, tak jelas berkata apa sambil memeluk suami) 
Suami: “Zaa, Bundamu kenapa ini? Kok peluk-peluk ayah.” 
Saya: (Masih sambil memeluk suami dan merengek seperti Izza) “Lain kali kalau ngasih info yang jelas, yaaa.” 
Suami: “Lain kali ngambeknya jangan digedein. Jangan dikit-dikit ngambek. Gak enak dilihat.” 
Saya: (Tidak memberikan respon perkataan apapun, hanya mengangguk dan tetap memeluk erat suami sampai Izza datang memisahkan kami, hehe.)

Alhamdulillah, sepertinya 2 kaidah tersebut cukup berhasil. Merajuk dan bersikap manja memang bukan kebiasaan saya, tapi sepertinya ampuh untuk meredam emosi antara saya dan suami. Tentunya bisa menciptakan momen menyenangkan. Semoga saja suami tidak geli jika melihat saya terus-terusan bersikap manja demikian, hehe.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar Anda ^^