7.11.17

Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 6

Tantangan hari ini coba lakukan lagi dengan suami tapi melalui chat WhatsApp. Sebenarnya, saya lebih banyak komunikasi melalui chat daripada ngobrol langsung karena suami dari pagi hingga maghrib ada di kantor. Sampai rumah biasanya lebih banyak aktivitas fisik entah dengan saya atau Izza jadi jarang ngobrol santai. Kecuali jika ada hal yang ingin benar-benar dibahas. Suami saya memang bukan tipe orang yang suka ngobrol jadi harus dipancing dan pancingannya harus tepat tentang sesuatu yang akan membuat beliau penasaran. Ditambah, saya lebih memilih untuk membereskan rumah daripada ngobrol, (saya tidak bisa melihat rumah berantakan, kotor, amburadul, dan sejenisnya, ini penyakit yang ingin saya redam. Tapi susah, beberapa minggu ini suami mengirim cucian kotor ke laundry dan berujung saya setrika ulang semuanya karena lipatan tidak rapi. Itulah saya, menyiksa sekali tapi sudah terbiasa dan susah ngerem untuk tidak bebenah rumah sendiri). Tapi ya, masih bisa dibilang kami sering ngobrol meski durasinya tidak lama.

Mengenai komunikasi produktif hari ini saya sedikit membuat kemajuan yang ternyata memberikan dampak signifikan. Saya mencoba menerapkan kaidah “choose the right time” yaitu beberapa menit sebelum jam pulang kantor suami. Waktu tersebut sebenarnya waktu yang gambling, bisa saja suami sedang longgar dan siap-siap pulang atau sedang sibuk-sibuknya. Tapi saya yakin di jam tersebut suami dapat menjawab saya karena biasanya beliau memberi tahu bahwa akan pulang. Lalu saya inisiatif untuk bertanya lebih dulu seperti percakapan di bawah ini:

Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 6
Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 6

Percakapan sepele, bukan? Tapi diski istimewa yang saya gunakan adalah “sampean” yang artinya kamu dalam bahasa Jawa yang halus. Bertahun-tahun mengenal suami saat kuliah hingga menikah, saya selalu menggunakan panggilan “kamu” karena sudah terbiasa. Dan, jawaban suami pun istimewa, kan? Iya, bagi saya. Bisa dihitung jari suami berkata sayang pada saya, hehe. Sampai di rumah pun saya teruskan menggunakan panggilan “sampean” dan suasana rumah menjadi lebih damai. Tapi belum bisa konsisten, mengubah kebiasaan ini memang harus butuh komitmen kuat.

Selanjutnya mengenai negosiasi saya dan suami yang menawarkan plesir ke Sulawesi yang berlanjut menjadi obrolan ringan di rumah. Saya coba menerapkan kaidah “the intensity of eye contact” dan “7-38-55” sambil ngemil cakue, hehe. Saya coba merajuk dengan bahasa semanja mungkin layaknya ABG, haha.

Saya: “Katanya akhir tahun sedang sibuk-sibuknya, Yah?” 
Suami: “Bisa, lah, disempat-sempatkan. Sambil liburan.” 
Saya: “Lhaa, kan uda janji mau pulang ke Jawa.” 
(Mulai merajuk masuk ke pelukan suami sambil memainkan jenggot favorit, hehe. Suami membalas pencet-pencet hidung.) 
Suami: “Hmmm... Lihat nanti ya, berangkat dari Jawa juga bisa. Kan tetep 2 kali pesawat.” 
Saya: “Kalo liburan gak jadi nabung buat itu (sensored), dong.” 
Suami: “Iya, gampang lihat nanti.”


Sudah, sampai disitu saja proses negosiasi yang belum membuahkan hasil tapi ternyata membuat kami semakin intim. Kaidah “the intensity of eye contact” dan “7-38-55” dalam komunikasi produktif yang didukung dengan emosi stabil dan cuaca yang mendukung (saat itu angin sepoi-sepoi dari jendela) ternyata bisa lebih menghangatkan hubungan saya dengan suami. memang belum bisa membuat percakapan lebih lama tapi insyaallah berkualitas. Ehem.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar Anda ^^