6.11.17

Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 5

Pada tantangan hari sebelumnya antara saya dengan Izza terkesan tanpa cela karena semua begitu mulus. Percakapan antara ibu dan anak tersebut seolah selalu ceria. Padahal pada kenyataannya tidak demikian, banyak sekali drama antara saya dan Izza. Meski Izza baru berusia 16 bulan,tapi sudah bisa protes, memilih, bahkan ngambek dan marah jika kemauannya tidak dituruti atau saya yang terlalu memaksakan kehendak. Hanya saja, untuk segala drama yang ada, biasanya saya yang menang jika sudah mengeluarkan jurus jitu yaitu nenen alias ASI. Tapi jurus tersebut tidak bisa saya keluarkan untuk satu kondisi yaitu saat makan. Dan makan adalah salah satu drama terbesar yang sampai saat ini masih sering saya hadapi. Seringnya, saya kalah dengan emosi sendiri seperti video di bawah ini:


Video tersebut diambil saat sarapan dan sengaja agak telat agar dia lapar, ternyata hasilnya sama saja. Ditolak! Sebenarnya video tersebut durasinya panjang, sekitar 20 menit tapi saya potong dan ambil bagian komunikasi paling hancur yang saya lakukan pagi itu. Awalnya saya masih manis, membujuk dengan ceria, masuk makanan beberapa sendok. Lalu ditolak dan semakin ditolak hingga akhirnya saya menjadi galak seperti itu. Pernah juga suatu waktu, saya benar-benar emosi hingga membanting mangkuk makannya atau mencubit pipinya. Astaghfirullah, ternyata saya sejahat itu dengan Izza. Harusnya makan adalah proses yang menyenangkan baginya. Maafkan, bundamu, Nduk

Izza termasuk anak yang agak picky eater dan mudah bosan, segala cara akan saya coba agar dia bisa makan dengan tenang duduk manis. Dari berbagai macam mainan hingga video akan saya berikan agar dia mau mangap makan. Sebulan yang lalu Izza makan dengan sangat lahap lalu kemudian muncullah serangan GTM alias gerakan tutup mulut karena sedang tumbuh gigi geraham 4 buah sekaligus atas bawah. Harusnya saya paham dengan kondisinya yang mungkin tidak nyaman karena nyeri gusi akibat gigi yang masih malu-malu kucing untuk muncul. Tapi, yaa, saya kalah dengan emosi. Segala jenis menu, tekstur, kondisi sudah dicoba ditambah Izza yang menjadi lebih rewel sangat mudah menyulut emosi.

Proses makan selalu menjadi drama menakutkan bagi saya, mungkin juga bagi Izza. Jika ada suami, saya bisa lebih meredam emosi karena beliau ikut membantu menenangkan saya atau menyemangati Izza. Tapi saya tidak boleh terus bergantung dengan suami untuk meredam amarah. Ini adalah tugas besar saya.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar Anda ^^