5.11.17

Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 4

Hari ini sebenarnya banyak sekali percakapan antara saya dengan suami dan Izza, tapi masih seputar hal sepele rumah tangga biasa. Seperti, hari ini mau makan apa, nanti mau kemana, mau pakai baju apa ke acara undangan suami, jadi beli bibit pohon apa untuk taman, dan hal kecil lainnya dengan Izza. Banyak jika mau ditulis semuanya, tapi bagi saya, tidak ada gregetnya karena tidak menjadikan perubahan apa-apa baik untuk saya atau suami dan Izza. Namun ada satu momen percakapan sangat singkat antara saya dan suami yang mengoyak hati dan pikiran saya untuk menentukan jawaban apa atas pernyataan tersebut.

Ceritanya, hari ini kami menghadiri undangan pernikahan teman suami, yang ternyata mempelai perempuan adalah seorang mualaf, Alhamdulillah. Awalnya percakapan kami tentang betapa besarnya hati orang tua pengantin perempuan yang bisa menerima anaknya pindah ke agama lain dan masih mengadakan pesta pernikahan tersebut. Rasa salut dan bahagia sangat terasa dalam percakapan kami, hingga suami melontarkan sebuah pernyataan seperti ini:

Suami: “Keren, ya, bisa bawa jadi mualaf. Enak, langsung dapat surga.” 
Saya: "..." 
(Saya memilih diam, hati dan pikiran saya berkecamuk untuk menanggapi pernyataan suami. Sebagian diri saya ingin berkata: “Berarti kamu gak keren, ya, Mas? Nyesel kah gak bisa dapat surga karena nikah sama aku?” Dan di sisi lainnya dalam diri ingin berkata: “Kamu juga bisa dapat surga, kok, Mas. Ayo kita bareng-bareng dapat surga dari rumah tangga kita.” Tapi nyatanya dua sisi tersebut saling tolak dengan sangat kuat sehingga saya bingung untuk menggunakan kalimat yang mana. Akhirnya saya memilih untuk diam tidak menanggapi pernyataan suami, karena bisa saja saya salah bicara dan bisa berujung adu mulut.)

Dengan aksi diam tersebut bisakah komunikasi saya dianggap produktif? Hmm, yang pasti saya menghindari konflik dan menggunakan nalar hingga bisa meredam sedikit amarah hingga akhirnya hilang tak bersisa. Pada akhirnya selepas dari acara tersebut kami menikmati waktu bersama-sama saat memilih bibit buah di toko bunga.

***

Percakapan hari ini juga saya lakukan dengan Izza. Mungkin bagi sebagian orang video percakapan saya dengan Izza di bawah ini nothing special, tapi ada pola bicara yang saya ubah. Simak video berikut ini:



Dalam video tersebut saya berkata: ”Bunda boleh minta?”

Padahal biasanya saya berkata: “Bunda minta, dong!”

Saya mengasumsikan bahwa kalimat dalam video tersebut adalah memberikan pilihan pada Izza untuk memberikan es krim pada saya atau tidak. Sedangkan, kalimat kedua adalah sebuah perintah. Meski dua-duanya adalah kalimat yang “KISS” tapi yang memang lebih nyaman untuk diucapkan dan didengar adalah kalimat pertama. Semoga bisa konsisten.


No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar Anda ^^