4.11.17

Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 3

Memasuki tantangan hari ketiga dan kedua kalinya dengan suami, tapi rasanya kok ya belum pernah berhasil jika harus bicara dengan suami mengenai hal yang bisa jadi selisih paham. Subuh tadi pagi, sekitar jam setengah 5 pagi, suami membangunkan saya dan berkata sesuatu lalu saya jawab dengan sadar betul.

Suami: “Bun, makanannya Izza lupa gak dimasukin kulkas. Tak masukin kulkas sekarang aja, ya?
 
Saya: “Hmm.. gak usah, wes, biarkan aja. Semalam ketiduran semua, ya?”

Suami menjawab “ya” seraya pergi dari kamar. Ternyata semalam, saya  tertidur hingga lupa membereskan dapur, biasanya sebelum tidur dapur harus dalam kondisi bersih. Mengenai makanan Izza yang masuk kulkas karena saya sengaja membuat makanan untuk dua hari. Sepanci sup sum-sum kaki sapi dengan bakso ayam-sapi dan beberapa sayuran. Saya harus menekankan betapa spesialnya makanan ini karena membuatnya cukup membutuhkan waktu dan padat gizi.

Pagi hari saya menuju dapur dan mendapati sup tersebut tidak ada dimana pun, di kulkas pun tidak ada.

Saya: “Mas, supnya Izza dimana? Dibuang kah?”
(Berusaha menggunakan nada serendah mungkin dengan harapan makanan tersebut masih ada di suatu tempat.)
Suami: “Iya. Katanya gak usah masuk kulkas.”
Saya: “Lhaaaa... Kok gak tanya dulu, sih! Aku kan bilang jangan dimasukin kulkas gak apa. Biarkan aja!”
(Nada bicara mulai nyolot dan kasar, rasanya sebel karena gak ada sarapan untuk Izza. Harus mulai masak dari awal, padahal niatnya kemarin masak untuk 2 hari agar Sabtu saya bisa sedikit leha-leha dan santai.)
Suami: “Maaf, ya, Bun. Mas salah gak tanya dulu, niatnya pengen bantu bersih-bersih. Tak belikan bubur buat Izza.”
(Saya? mulut mulai ngedumel tanpa arah dan sikap mulai kasar sambil mengeluarkan bahan masakan dari kulkas.)

Dengan masih dalam kondisi sebel saya membuat tulisan ini. Kontrol emosi kembali gagal padahal masalahnya sepele. Seharusnya saya senang karena dapur bersih, semua cucian piring beres, ada bubur untuk sarapan Izza, dan harusnya saya bisa masak lagi dengan mudah. Tapi kenapa susah sekali mengontrol emosi? Mungkin karena kaidah “clear and clarify” tidak saya terapkan. Harusnya saya bilang ke suami “Gak usah dimasukkan kulkas, biarkan saja (di meja). Atau suami yang terlalu menghayati peran sehingga improvisasi. Saya masih sebel dan suasana rumah menjadi tidak kondusif, Astaghfirullah. Ternyata komunikasi yang baik dan benar itu penuh dengan tantangan. 

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar Anda ^^