16.11.17

Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 15

Tantangan komunikasi produktif hari ke lima belas ditutup dengan Izza si anak gadis yang mulai menunjukkan kemajuan toilet training tepat usianya sekarang 17 bulan di hari ini. Saya memulai toilet training untuk Izza kira-kira 2 minggu lalu. Dimulai dengan melepas popok sekali pakai (pospak) di siang hari sekitar jam 2 karena jam tersebut memang waktunya ganti pospak. Yang saya lakukan adalah sounding Izza untuk bilang jika ingin buang air kecil atau besar dengan cara menunjuk celana. 3 – 4 hari belum berjalan mulus, hampir ngompol semua, hingga akhirnya Izza memberi tanda dengan menunjuk celananya saat ingin buang air besar meski telat bilangnya.

Satu minggu kemudian saya mulai melepas pospak di siang hari kira-kira jam 10 atau jam 11 siang karena Izza sudah bisa memberi tanda meski sudah selalu terlambat. Hingga 2 hari yang lalu saya mulai melepas pospak dari pagi setelah mandi dan terus-terusan sounding dengan memberi contoh:

Saya: “Izza nanti kalau mau pipis atau eek bilang bunda, ya.” 
(sambil memegang celananya) 
Izza: “Ya...ya..” 
(Alhamdulillah sudah bisa menanggapi dan mengerti maksud omongan saya) 
Saya: “Kalau pipis bilang gimana, Za?” 
Izza: “Eennggg” (Sambil pegang celananya)


Sounding seperti itulah yang saya lakukan setiap hari hampir setiap waktu. Meski kadang masih kecolongan tapi dia selalu bilang. Dan yang membuat saya kagum adalah hari ini Izza memberi tanda ingin buang air besar dan kecil lebih dulu sebelum dikeluarkan olehnya. Kagumnya lagi, saat tidur pagi dan siang, Izza tidak ngompol. Jadi pakai pospak hanya saat tidur malam dan bepergian. Kegiatan ini saya anggap sebagai komunikasi produktif dengan kaidah KISS dengan pengulangan secara terus menerus sampai Izza benar-benar paham apa yang saya inginkan.

Karena Izza memang sudah mengerti maksud perkatakaan saya, maka saya lebih sering berbicara sambil memberikan contoh melalui gerakan. Jadi Izza akan cepat paham dengan meniru. Ya, memang tidak berjalan mulus setiap saat karena kondisi biologis anak tidak ada yang tahu. Contohnya tadi pagi pas saya ingin sekali buang air besar.

Saya: “Bunda eek dulu, yaa.. Izza main sama Mongki dan Kumi, ya..” (Mongki dan Kumi adalah nama bonekanya) 
Izza: “Yaah!” 
(Saya masuk ke kamar mandi dengan menutup pintu sebagian saja agar masih bisa melihat aktivitasnya. Ternyata ada truk angkut batu bata lewat dan Izza takut lalu ingin masuk ke dalam kamar mandi) 
Saya: “Tunggu, ya, Dek. Sebentar lagi, yaaa...” 
(Izza makin menjadi nangisnya, sedangkan saya masih harus menyelesaikan hajat tersebut) 
Saya: (Dengan nada sedikit membentak karena kesal) “Tunggu, ya! Diam dulu, duduk. Ayo duduk!” 
(Akhirnya Izza duduk dengan terpaksa masih menangis tersedu)

Hal semacam ini yang kadang membuat emosi tidak stabil dan terpaksa harus sedikit membentak agar Izza menurut. Ini pembelaan dari saya pribadi: Yaaa.. ibu rumah tangga tanpa ART, mau buang air saja susah. Ngontrol emosinya bisa jadi lemah.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar Anda ^^