15.11.17

Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 14

Hari ini suami berangkat kerja agak siang karena semalam baru pulang dinas dini hari, jadi lumayan bisa bantu bermain dengan Izza sepanjang pagi. Sedangkan saya berkutat dengan dapur.  Per rekues suami, saya masak oseng kerang dara dibumbu kecap pedas, untung saja tersedia di bulek sayur. Jam 8 pagi, suami hendak sarapan dan membuka penanak nasi, terjadilah tragedi:

Suami: “Lha, Bun, nasinya belum matang.”
 
Saya: “Lho, kok bisa? Kan dari subuh dicolokin.” 
Suami: “Bentuknya masih beras sih, jangan-jangan lupa diceklek mode cook.” 
Saya: “Lhooo, perasaan tadi wes tak ceklek. Yawis masak lagi pakai magic com kecil porsimu aja biar cepet.” 
(Akhirnya masak nasi di magic com kecil agar cepat tanak dan suami segera sarapan. Saya sebenarnya merasa bersalah tapi tidak ingin membuat mood berantakan di pagi hari. Jadi saya mencoba bercanda dengan suami.) 
Suami: “Masak untuk sarapanmu juga.” 
Saya: “Enggak wes, aku diet aja wes.” (Berjalan gontai menghampiri suami dan memeluknya) “Maaf yaa. Aku tak diet aja yaa.” 
Suami: “Kok tiba-tiba mau diet?” 
Saya: “Biar langsing lagi kayak jaman gadis. Tapi dietnya kalau sudah dibelikan martabak, hahah.” 
Suami: “Lhaa, mau diet atau pengen martabak?”
Saya: “Dua-duanya, hehehe.”

Akhirnya nasi kedua matang sebelum setengah jam dan suami akhirnya sarapan. Niatnya saya membuat obrolan seperti itu untuk mengubah mood suami yang sepertinya tadi agak kesal karena nasi masih berwujud beras. Padahal, saya sendiri kesal dengan diri sendiri yang lupa mengubah mode cooking, tapi saya tidak ingin kalah dengan emosi. Sore hari saat suami pulang kerja ternyata membawa martabak mozarella pesanan saya, Alhamdulillah. The power of body language alias manja-manja dengan suami, hehe.

***

Update perkembangan Izza masih batuk tapi Alhamdulillah semakin berkurang. Tadi pagi Izza enggan untuk sarapan, jadi saya hanya bisa memberikan beberapa suap saja. Awalnya Izza ingin mengambil sendok dan mangkuk makannya dan hendak makan sendiri tapi saya menolak. Alasannya, karena makanan berkuah dan pasti akan berantakan. Siang hari pun demikian, meski cukup banyak makan hasil suapan saya, tapi masih ingin makan sendiri. Akhirnya untuk makan malam saya kabulkan keinginannya setelah separuh jalan dari suapan saya.

Dalam video tersebut tidak sempat terambil banyak percakapan karena Izza fokusnya terbagi dengan video, tapi nyatanya saya ngoceh tiada henti mengingatkan Izza untuk mengunyah dan hati-hati.


Saya: “Izza, ayok makan. Hati-hati, ya, biar gak tumpah.” 
Izza: “Nyam...nyam... Mammm...”

Tanpa saya sangka ternyata Izza sudah mampu memegang sendok dengan benar dan bisa mengambil nasi lalu meyuapkan ke mulut tanpa berantakan sedikit pun. Saya amaze dengan kemampuannya yang begitu pesat. Selama ini saya cenedrung menyuapinya, dan hanya membiarkan dia makan sendiri jika bentuk makanan kering seperti nasi/mie goreng dan cemilan lainnya. Well, sekarang saya tahu, saya harus mulai belajar untuk percara pada kemampuan Izza. Komunikasi dengan Izza juga semakin mudah karena dia sudah paham apa yang saya inginkan. Saya selalu menggunakan kaidah KISS secara berulang-ulang menggunakan kalimat yang sama agar dia semakin paham. Dan, tak pernah lupa untuk memberinya pujian jika berhasil melakukannya.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar Anda ^^