13.11.17

Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 12

Komunikasi dengan suami hari ini dimulai dengan cukup elegan dan manja. Menggunakan kaidah “7-38-55” membuat sepanjang hari lebih menarik tanpa ada gesekan apapun. Pagi hari setelah bangun saya langsung memeluk suami di depan kamar, bersender manja serasa minta dielus. Alhamdulillah beneran dielus-elus kepala saya, hehe. Dengan tetap memeluk saya berbicara pada suami dengan intonasi suara yang lemah lembut nan manja.

Saya: “Tangan kakiku sakit semua, pegel.” 
Suami: “Iya sama, kemarin terlalu semangat.” 
(Saya memeluk suami semakin erat) 
Suami: “Nanti panggil tukang pijat yang di depan itu, ya. Buat kamu sama Izza.” 
(Alhamdulillah, tanpa saya meminta suami sudah inisiatif. Komunikasi manja berhasil, hehe)

Setelah suami berangkat kerja, komunikasi berlanjut di WhatsApp. Semalam, kami memesan siomay untuk acara pengajian namun tidak ada tahu bakso. Dan suami berkata secara tersirat: “Ini kalau ada tahu bakso makin enak kali, Bun.” Okee, tanpa banyak kata kode diterima. Pagi tadi setelah pekerjaan domestik beres, saya membuat tahu bakso dan sengaja tidak masak untuk kami. Hanya masak untuk makan Izza.

Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 12
Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 12

Well, alur berbicara dengan suami memang tergantung bagaimana saya mengawalinya. Jika sebuah awal itu sudah baik dan manis, maka alurnya akan mengikuti. Maka begitu pula sebaliknya. Sejak ikut tantangan ini saya komitmen untuk mulai menyapa suami dengan hangat, bukan hanya sekadar “Mas” dan memilih diksi manis lainnya. Belum bis akonsisten, memang, kadang masih terjadi gesekan dan intonasi nyolot. Tapi, ya, masih terus belajar menjadi lebih baik. Seperti halnya pagi tadi, menyapa dengan manis, suami akan memberi respon yang manis pula. Bahkan dalam chat tersebut suami bisa bercanda sambil memuji, hehe. Jarang-jarang dapat candaan dari suami seperti itu.

Sejauh ini, berkomunikasi dengan suami memang lebih mudah menggunakan bahasa tubuh dan tatapan mata, rasanya lebih damai. Kalau hanya sekadar ngobrol maka bisa jadi tanpa kehangatan. Sejauh ini, kaidah tersebut yang paling ampuh buat saya dan untuk suami yang memang jarang ngobrol

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar Anda ^^