11.11.17

Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 10

Batuk pileknya Izza makin menjadi, 2 malam tidur tidak nyenyak bahkan terbangun sampai muntah dan dahak keluar. Suasana rumah jadi tidak kondusif karena Izza menjadi super rewel membuat emosi saya terguncang dan akhirnya mudah ngomel ke suami, hehe. Tapi saya mencoba mengontrolnya baik itu dengan suami atau dengan Izza. Bukan karena saya sedang melakukan tantangan ini, tapi karena untuk membantu meredam emosi sendiri. Pagi tadi akhirnya kami membawa Izza ke dokter anak langganan yang ternyata membantu saya untuk mengomunikasikan “sesuatu” yang sejak dulu sulit untuk dilakukan oleh suami.

Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 10
Ini pas di dokter, saya inisiatf mengajak selfie agar suasana hati riang

Sang dokter berkata, kemungkinan Izza alergi, meski tidak ada turunan dari saya atau suami tapi ada dari neneknya. Dokter tersebut menyarankan untuk membersihkan rumah dari debu, menyingkirkan selimut dan boneka yang berbahan bulu, dan membersihkan AC. Sebenarnya pun, kami melakukan global cleaning di rumah secara rutin 3 bulan sekali, tapi itu pun harus saya yang memulai dengan paksa untuk membongkar semua barang di rumah agar suami turut andil. Ya, suami dan saya punya ketertarikan untuk membersihkan rumah yang sangat berbeda. Jika saya sangat ingin selalu membersihkan rumah maka suami adalah sebaliknya. Perkataan pengantar dari dokter tersebut saya jadikan senjata pada suami.

Saya: “Berarti panggil tukang bersihkan AC, ya, Mas? Dateng ke rumah, kan, ya?” 
(Mencoba memancing respon suami meskipun saya tahu kalau bersihkan AC pasti datang ke rumah, hehe) 
Suami: “Iya, nanti tak coba tanya kawan di kantor, ya.
Saya: “Oke. Terus bonekanya itu mau diapakan?” 
Suami: “Dicuci saja dulu, lihat perkembangan Izza.”

Perbincangan tersebut kami lakukan di kendaraan saat perjalanan pulang dari dokter, itulah "sesuatu" yang say akatakan di awal tulisan ini. Sampai rumah, saya berkata singkat: “Mas, ayo bersih-bersih.” Dan suami langsung bongkar muat kamar dan mengeluarkan kasur lalu menjemurnya. Nyapu sekaligus ngepel lantai dan membersihkan seluruh ruangan. Manjur juga meskipun bukan saya yang meminta tapi setidaknya saya tidak ngomel-ngomel minta suami untuk bersih-bersih. Kalau seperti ini pakai kaidah apa, ya? Mungkin bisa dibilang kaidah “choose the right time” kali, ya. Kondisinya pas bertepatan dengan saran dokter, tapi tidak berharap Izza sakit dulu baru bisa bersih-bersih rumah.

Sedangkan dengan Izza yang lumayan rewel dan tidak mau makan, saya sedikit evaluasi dari tantangan beberapa hari lalu dimana saya membentak Izza agar mau makan. Untuk hari ini saya mengalah, saya biarkan dia makan semampu dan semaunya, tidak memaksakan kehendak saya agar dia mau makan banyak. Saya sadar, semakin Izza dipaksa untuk makan sesuai kemauan saya, maka dia akan semakin berontak dan tidak mau makan. Alhasil untuk hari ini Izza hanya makan beberapa suap saja dan beberapa gigitan onde-onde. Saya meneguhkan hati untuk tidak memaksa karena saya sadar betul bahwa Izza sedang sakit. Orang dewasa saat sedang batuk pilek susah makan, apalagi anak kecil, itulah  yang saya pikirkan. Tapi sebisa mungkin tetap menawari dia makanan atau cemilan. Mohon maaf tidak sempat videokan karena saat itu HP entah ada dimana dan saya fokus ke Izza. Well, akhirnya saya bisa untuk tidak peduali dengan keberadaan HP.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar Anda ^^