2.11.17

Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 1

Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 1. Membahas tentang komunikasi adalah hal yang menarik dan merupakan tantangan utama karena saya sendiri sayangnya ceplas ceplos, asal bicara, dan tidak berpikir dulu sebelum bicara. Apa yang ingin saya katakan pasti akan dibicarakan, entah itu baik buruk, menyenangkan atau bahkan menyakiti hati orang lain. Saya cenderung tidak peduli akan hal itu dan berlalu seperti tidak terjadi apa-apa tanpa minta maaf. Sayangnya lagi, saya sangat mudah terpancing emosi dan akan dengan cepat meninggikan nada suara dan memurungkan wajah. Kebetulan kemarin malam, saya, suami, dan Izza pergi keluar rumah untuk makan malam dan belum menentukan tujuan, lalu terjadilah perbincangan berikut ini:

[Bunda Sayang] Game Level #1 – Day 1
[Bunda Sayang] Game Level #1 – Day 1. Suami manyun banget, yaaa :(
Suami: “Mau makan apa, Bun?”
(Setiap kali makan di luar rumah, suami pasti akan bertanya hal ini. Kadang saya memilih, kadang pasrah dengan pilihan suami. Tak jarang sehati dengan makanan pilihan suami. )
Saya: “Ngikut, deh. Mas maunya apa yang penting kenyang.” 
(Sengaja tidak memberikan pilihan karena tidak ada preferensi makanan yang sedang diidamkan. Tapi, sedang ingin makan martabak mozarella dan tidak bilang karena suami tidak suka keju. )
Suami: “Sate gule kambing, mau?” 
(Kebetulan saya sehati dengan pilihan ini, sepertinya akan menggugah selera makan saya.)
Saya: “Oke. Aku cari tempat makannya, ya!” 
(Kami pun menuju tempat makan hasil pencarian saya di internet yang lokasinya cukup jauh dari rumah kami. Dan, tutup!) 
Saya: (Berusaha menahan emosi agar tidak ngambek) 
Suami: “Yaa, tutup. Sate yang di jalan XXX aja, ya?” 
Saya: “Bukan sate juga gak apa.” 
(Niatnya ingin mempermudah tapi sepertinya suasana hati cepat sekali berubah karena warung sate yang tutup dan berujung dengan salah memilih diksi untuk diucapkan.) 
Suami: “Maunya apa?” 
Saya: “Terserah!” (Langsung diem buka hape. Suami hanya diam, diam, dan diam sampai di warung sate lainnya) 
Suami: “Lontong apa nasi, Bun?” 
Saya: “Apa aja yang ada!” 
(Suami langsung ngeloyor pergi pasang muka jutek, sementara saya tanpa rasa bersalah memilih memainkan hape sambil meng-ASI-hi Izza yang tidur di pangkuan)

Oke, judulnya ini gara-gara warung sate yang tutup dan martabak mozarella yang terpendam di angan-angan. Memilih tempat makan, hal sepele, tapi ternyata bisa memicu konflik jika tidak pandai berkomunikasi. Menahan emosi adalah kelemahan terbesar saya dan lebih cenderung suka untuk meluapkannya sejadi-jadinya secara hiperbola entah itu perasaan senang atau sedih. Seringkali, komunikasi saya dengan suami berakhir dengan adu mulut, karena saya ingin menang sendiri. Oke, tantangan hari pertama untuk menahan emosi boleh dikatakan belum berhasil. Akan terus dicoba dan harus berhasil agar rumah tangga semakin harmonis. Untuk kaidah Clear and Clarify juga belum berhasil. Padahal, suami sudah menggunakan kaidah “clear” dengan cara bertanya pada saya. Tapi ternyata saya belum bisa “clarify” secara jelas. Aduh! Kalimat saya masih penuh dengan kode.


No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar Anda ^^