24.11.17

Aliran Rasa Komunikasi Produktif

Aliran Rasa Komunikasi Produktif
Aliran Rasa Komunikasi Produktif
Komunikasi produktif, sebuah materi pembuka yang memang cocok diberikan untuk pertama kalinya. Sebuah materi yang nantinya akan terus diterapkan hingga ke depan dan selamanya. Semua berawal dari bagaimana saya dan anggota keluarga berkomunikasi. Baik atau tidaknya kondisi yang tercipta tergantung dari komunikasi seperti apa yang telah diciptakan. Sejak menerapkan kaidah-kaidah yang ada di dalam komunikasi produktif, saya menjadi tahu, kesalahan seperti apa yang pernah saya ucapkan sehingga mengubah kondisi rumah menjadi tidak nyaman. Dengan menuliskannya, saya jadi evaluasi diri sendiri, memberi kritik dan saran pada diri sendiri.

Selama 15 hari melakukan tantangan tersebut, saya tidak membuat konsep apapun mengenai komunikasi produktif. Semua saya lakukan mengalir saja seperti hari-hari biasanya, obrolan yang tidak dibuat-buat, bahkan saat saya marah sekalipun. Hanya saja, saat sedang dalam kondisi ternetu saya berusaha untuk menerapkan kaidah yang ada. Di awal tantangan tidak mudah, masih banyak gesekan yang terjadi antara saya dengan suami atau saya dengan Izza. Masih ada ego yang tidak ingin diredam. Tapi, secara perlahan ego tersebut saya paksa untuk tenggelam dan mengembangkan kasih sayang. Berhasil! Beberapa kali saya bisa membuat obrolan yang hangat dengan suami, obrolan yang menyenangkan dengan Izza. Saya menilai hal tersebut dari respon yang mereka berikan dan mengevaluasinya saat saya menuliskannya. Jika suami menjawab kalimat saya dengan manis dan berlanjut dengan obrolan yang tetap hangat saya anggap komunikasi produktif berhasil. Untuk Izza, jika saya berhasil untuk menjaga intonasi suara tetap rendah dan lembut maka saya berhasil.

Kesimpulan yang bisa saya ambil dari materi komunikasi produktif sebagai tantangan level 1 adalah sebagai berikut (ini untuk keluarga saya, jadi bisa berbeda dengan keluarga lainnya):
  • Komunikasi dengan diri sendiri harus dimulai dengan menahan emosi, meredam amarah, mematahkan gejolak dalam diri sendiri. Yang saya lakukan adalah diam untuk beberapa saat, istighfar. “Haruskah saya meluapkan emosi ini? Apa dampaknya?” itulah pertanyaan yang harus saya tancapkan dalam hati sebelum membuka mulut. Jeleknya saya, kalau sedang marah itu mulutnya pedes dan bisa mengeluarkan kata yang kurang berkenan. Suami dan anak sering jadi korban, jadi hal tersebut harus diberantas. Jika pergulatan batin tu selesai, maka saya akan merespon dengan baik. Jika tidak, saya memilih diam.
  • Komunikasi dengan suami paling berhasil menggunakan kaidah 7-38-55 alias bahasa tubuh dan eye contact saat bertemu di malam hari. Untuk siang hari lewat chatting gunakan diksi semanis mungkin. Prinsipnya (untuk saya dan suami), saya harus memancing suami terlebih dulu untuk mengeluarkan bahasa yang manis. Affection, entah saat bertemu atau tidak akan selalu berhasil karena akan membuat kami berdua dalam kondisi nyaman saat ngobrol. Untuk sekadar ngobrol santai, pilih waktu yang tepat saat suami sudah selesai mandi sore, sholat, makan, dan tidak melakukan aktivitaf apapun. Jika ada maunya (ehem) cukup peluk erat suami dan sampaikan yang dimaksud, hehe. Oiya, clear and clarify itu juga penting untuk saya yang sering minta tolong suami mampir ke tukang sayur, hehe. Buat list sedetail mungkin!
  • Komunikasi dengan anak memang agak tricky tergantung pada moodnya yang mudah sekali berubah. Tapi hal yang saya dapatkan adalah jangan memaksa anak untuk melakukan apa yang kita inginkan. Tidak akan pernah berhasil, mungkin bisa tapi dia terpaksa kadang sampai menangis dan tantrum. Ikuti sudut pandang anak, pahami apa yang dia mau. Dengan Izza yang belum bisa bicara memang agak sulit tapi saya selalu memahamkan dia lewat gerakan karena Izza memang cenderung kinestetik. Jadi, jika saya ingin dia melakukan sesuatu maka saya akan meberikan contoh lebih dulu agar dia tidak bingung. Keep Information Short and Simple and then repeat that order. Jadi ibu memang harus bawel, ya, biar anaknya juga terpancing untuk bisa bicara tapi ya itu harus KISS agar anak tidak bingung. Izza seperti ayahnya, suka dengan affection yang hangat. Suka dibelai, dipeluk dan cium, dan yang pasti Izza suka jika saya bermain bersamanya. Jadi ya sebisa mungkin saat izza terjaga saya tidak melakukan apapun selain membersamainya dan dengarkan apa yang ingin dia ceritakan.

Tidak mudah! Di beberapa hari terakhir bahkan hingga saya membuat aliran rasa ini, masih terjadi gesekan yang kurang menyenangkan. Mempertahankan konsistensi dan komitmen itu yang harus terus dijaga agar ilmu yang didapatkan tidak meluap begitu saja. Ilmu ini sangat penting terutama untuk saya dan suami yang masih sering selisih paham dan untuk saya yang masih kurang sabar saat Izza mogok makan. Semoga tulisan ini senantiasa menjadi evaluasi untuk diri saya sendiri agar terus improve semakin baik dalam hal komunikasi, aamiin.

"Bagi saya komunikasi produktif itu bisa menjadi jalan untuk membentuk jiwa yang sehat dan keluarga yang senantiasa hangat."

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar Anda ^^