30.11.17

Game Level #2: Melatih Kemandirian - Day 1 (Tidy Up)

Tantangan level 2 tentang melatih kemandirian saya lakukan dengan anak, Izza 17 bulan. Sebenarnya, dari segi sefl help, Izza sudah ada keinginan untuk mandiri, melakukan semua kegiatan sehari-hari tanpa bantuan saya seperti makan sudah memaksa untuk sendiri, ingin pakai baju atau sandal sendiri, bahkan dalam kondisi yang menurut saya agak bahaya seperti naik kursi tidak mau saya pegangi. Saya senang, sih, karena Izza sudah tahu apa yang dia inginkan, tapi saya masih sering mengabaikan hal itu karena menganggap Izza masih terlalu kecil untuk mandiri. Ternyata saya salah, harusnya malah dilatih mandiri sejak diri sesuai dengan tingkat umurnya. Skill pertama yang saya pilih untuk melatih kemandiriannya adalah merapikan barang-barang seperti buku-buku dan mainannya setelah selesai menggunakan. Alasannya, karena Izza termasuk anak yang royal dalam hal mengeluarkan buku-buku dan segala mainannya. Buku satu laci bisa keluar semua, termasuk mainan dalam keranjang. Satu rumah bisa seperti pasar tumpah, dari ruang tamu, kamar, dapur, bahkan tempat-tempat nyeleneh bisa ditemukan mainanya Izza.

Beberapa kali saya memang sering memintanya untuk mengembalikan barang yang diambil ke tempat asalnya, bukan untuk melatih kemandirian tapi sekadar untuk mengetahu respon yang Izza berikan. Saat hendak mandi saya selalu memintanya untuk mengambil handuk, meletakkan baju di ember tempat baju kotor. Saat mau bermain saya memintanya untuk mengambil beberapa mainan yang dia inginkan dan mengembalikannya (bukan membereskannya), begitu pula untuk buku-bukunya. Seperti halnya siang tadi, beberapa buku dan mainan dikeluarkan dan saya meminta untuk mengembalikannya. Silakan lihat pada video di bawah ini:

24.11.17

Aliran Rasa Komunikasi Produktif

Aliran Rasa Komunikasi Produktif
Aliran Rasa Komunikasi Produktif
Komunikasi produktif, sebuah materi pembuka yang memang cocok diberikan untuk pertama kalinya. Sebuah materi yang nantinya akan terus diterapkan hingga ke depan dan selamanya. Semua berawal dari bagaimana saya dan anggota keluarga berkomunikasi. Baik atau tidaknya kondisi yang tercipta tergantung dari komunikasi seperti apa yang telah diciptakan. Sejak menerapkan kaidah-kaidah yang ada di dalam komunikasi produktif, saya menjadi tahu, kesalahan seperti apa yang pernah saya ucapkan sehingga mengubah kondisi rumah menjadi tidak nyaman. Dengan menuliskannya, saya jadi evaluasi diri sendiri, memberi kritik dan saran pada diri sendiri.

16.11.17

Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 15

Tantangan komunikasi produktif hari ke lima belas ditutup dengan Izza si anak gadis yang mulai menunjukkan kemajuan toilet training tepat usianya sekarang 17 bulan di hari ini. Saya memulai toilet training untuk Izza kira-kira 2 minggu lalu. Dimulai dengan melepas popok sekali pakai (pospak) di siang hari sekitar jam 2 karena jam tersebut memang waktunya ganti pospak. Yang saya lakukan adalah sounding Izza untuk bilang jika ingin buang air kecil atau besar dengan cara menunjuk celana. 3 – 4 hari belum berjalan mulus, hampir ngompol semua, hingga akhirnya Izza memberi tanda dengan menunjuk celananya saat ingin buang air besar meski telat bilangnya.

Satu minggu kemudian saya mulai melepas pospak di siang hari kira-kira jam 10 atau jam 11 siang karena Izza sudah bisa memberi tanda meski sudah selalu terlambat. Hingga 2 hari yang lalu saya mulai melepas pospak dari pagi setelah mandi dan terus-terusan sounding dengan memberi contoh:

Saya: “Izza nanti kalau mau pipis atau eek bilang bunda, ya.” 
(sambil memegang celananya) 
Izza: “Ya...ya..” 
(Alhamdulillah sudah bisa menanggapi dan mengerti maksud omongan saya) 
Saya: “Kalau pipis bilang gimana, Za?” 
Izza: “Eennggg” (Sambil pegang celananya)

15.11.17

Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 14

Hari ini suami berangkat kerja agak siang karena semalam baru pulang dinas dini hari, jadi lumayan bisa bantu bermain dengan Izza sepanjang pagi. Sedangkan saya berkutat dengan dapur.  Per rekues suami, saya masak oseng kerang dara dibumbu kecap pedas, untung saja tersedia di bulek sayur. Jam 8 pagi, suami hendak sarapan dan membuka penanak nasi, terjadilah tragedi:

Suami: “Lha, Bun, nasinya belum matang.”
 
Saya: “Lho, kok bisa? Kan dari subuh dicolokin.” 
Suami: “Bentuknya masih beras sih, jangan-jangan lupa diceklek mode cook.” 
Saya: “Lhooo, perasaan tadi wes tak ceklek. Yawis masak lagi pakai magic com kecil porsimu aja biar cepet.” 
(Akhirnya masak nasi di magic com kecil agar cepat tanak dan suami segera sarapan. Saya sebenarnya merasa bersalah tapi tidak ingin membuat mood berantakan di pagi hari. Jadi saya mencoba bercanda dengan suami.) 
Suami: “Masak untuk sarapanmu juga.” 
Saya: “Enggak wes, aku diet aja wes.” (Berjalan gontai menghampiri suami dan memeluknya) “Maaf yaa. Aku tak diet aja yaa.” 
Suami: “Kok tiba-tiba mau diet?” 
Saya: “Biar langsing lagi kayak jaman gadis. Tapi dietnya kalau sudah dibelikan martabak, hahah.” 
Suami: “Lhaa, mau diet atau pengen martabak?”
Saya: “Dua-duanya, hehehe.”

14.11.17

Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 13

Pada tantangan komunikasi produktif yang kesekian kalinya, saya berusaha untuk konsisten menggunakan kaidah yang ada yang komitmen untuk terus menjaganya. Tidak bisa mulus setiap waktu, memang, tapi saya selalu berusaha untuk mejaga emosi tetap stabil dan Alhamdulillah lumayan berhasil. Saat dengan anak, saya selalu mengingat bahwa Izza memang belum bisa benar-benar memahami apa yang saya inginkan. Dia masih bayi dan butuh panduan, maka tugas saya memandunya bukan memaksakan kehendak. Saat dengan suami, saya ingat bahwa ridhonya bisa membawa saya ke surga (ini setelah nonton ceramah seorang ustad di youtub). Selama saya bersikap baik dan manis terhadap suami dan anak, maka saya akan mendapatkan hal yang sama.

13.11.17

Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 12

Komunikasi dengan suami hari ini dimulai dengan cukup elegan dan manja. Menggunakan kaidah “7-38-55” membuat sepanjang hari lebih menarik tanpa ada gesekan apapun. Pagi hari setelah bangun saya langsung memeluk suami di depan kamar, bersender manja serasa minta dielus. Alhamdulillah beneran dielus-elus kepala saya, hehe. Dengan tetap memeluk saya berbicara pada suami dengan intonasi suara yang lemah lembut nan manja.

Saya: “Tangan kakiku sakit semua, pegel.” 
Suami: “Iya sama, kemarin terlalu semangat.” 
(Saya memeluk suami semakin erat) 
Suami: “Nanti panggil tukang pijat yang di depan itu, ya. Buat kamu sama Izza.” 
(Alhamdulillah, tanpa saya meminta suami sudah inisiatif. Komunikasi manja berhasil, hehe)

Setelah suami berangkat kerja, komunikasi berlanjut di WhatsApp. Semalam, kami memesan siomay untuk acara pengajian namun tidak ada tahu bakso. Dan suami berkata secara tersirat: “Ini kalau ada tahu bakso makin enak kali, Bun.” Okee, tanpa banyak kata kode diterima. Pagi tadi setelah pekerjaan domestik beres, saya membuat tahu bakso dan sengaja tidak masak untuk kami. Hanya masak untuk makan Izza.

12.11.17

Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 11

Tantangan 10 hari game level 1 materi komunikasi produktif telah terlewati. Tapi saya terlanjur terbiasa dengan kandang waktu yang saya sediakan untuk menulis yaitu di malam hari setelah Izza tertidur lelap dan rumah beres. Untuk hari ini, aktivitas terlalui dengan sangat produktif karena di rumah ada pengajian ibu-ibu komplek selepas dzuhur. Mau tidak mau saya dan suami bahu membahu dan saling bekerja sama untuk menyiapkan acara tanpa bantuan tentangga. Untuk pengajian siang tadi, saya sengaja pesan makanan jadi tidak terlalu repot seperti pengajian sebelumnya. Jadi yang kami lakukan hanya membersihkan rumah termasuk mencuci 2 lusin piring, menyiapkan cemilan, dan bergantian membersamai Izza.

Komunikasi antara saya dan suami juga terjalin sangat produktif sehingga pekerjaan selesai sebelum waktunya. Mungkin karena pressure yang membuat kami bekerja dan bicara secara produktif. Contohnya seperti percakapan pagi tadi:

Saya: (Masak untuk sarapan Izza dan kami berdua) “Mas, tolong pindahkan sofa ke belakang, ya!” 
Suami: (Tanpa ba-bi-bu langsung gerak memindahkan kursi TV ke teras dan memindah sofa ke ruang TV. Lalu langsung nyapu dan ngepel seluruh rumah dan menyiapkan karpet untuk pengajian.)

11.11.17

Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 10

Batuk pileknya Izza makin menjadi, 2 malam tidur tidak nyenyak bahkan terbangun sampai muntah dan dahak keluar. Suasana rumah jadi tidak kondusif karena Izza menjadi super rewel membuat emosi saya terguncang dan akhirnya mudah ngomel ke suami, hehe. Tapi saya mencoba mengontrolnya baik itu dengan suami atau dengan Izza. Bukan karena saya sedang melakukan tantangan ini, tapi karena untuk membantu meredam emosi sendiri. Pagi tadi akhirnya kami membawa Izza ke dokter anak langganan yang ternyata membantu saya untuk mengomunikasikan “sesuatu” yang sejak dulu sulit untuk dilakukan oleh suami.

Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 10
Ini pas di dokter, saya inisiatf mengajak selfie agar suasana hati riang

10.11.17

Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 9

Ceritanya, subuh tadi ada gesekan kecil antara saya dan suami. Masalah sepele, sih, tapi tetap membuat tidak nyaman karena membuat suami sedikit mrengut karena saya yang bisa dibilang ngambek. Malam hari sebelumnya suami berkata kalau besok pagi ada upacara pagi hari di kantor dan saya mengiyakan bahwa suami harus berangkat pagi-pagi. Sudah itu saja, tidak ada informasi tambahan yang saya terima dan tidak punya prasangka apapun. Esoknya kami berdua bangun dan saya menuju kamar mandi, setelahnya saya mendapati suami sedang setrika baju seragam untuk hari senin. Lalu terjadinya percakapan berikut ini:

Saya: “Lha, ngapain kok setrika baju itu?” 
Suami: “Tak kira wes disetrika ternyata tadi lihat masih digantung di jemuran.” 
Saya: “Ya, kan nanti bisa aku setrika bareng yang lain. Mau dipakai, kah?” 
Suami: “Iya.” 
Saya: “Nah, kok gak bilang. Sini aku wae.” 
Suami: “Kan semalem sudah bilang kalau mau upacara.” 
Saya: “Emang bilang kalau mau pakai seragam ini?”  (Mulai nyolot)

9.11.17

Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 8

Berkomunikasi dengan Izza itu bisa gampang bisa susah, tergantung mood anaknya dan kondisi lingkungan. Kadang bisa dengan sangat mudah mengajak Izza beraktivitas atau meminta melakukan sesuatu. Kadang juga sedikit atau penuh drama yang bisa jadi disengaja karena Izza memang sedikit usil atau karena memang dia sedang tidak berkehendak. Contohnya saat mengajak mandi, kadang dia bisa langsung masuk ke kamar mandi, kadang harus bujuk rayu dulu, bahkan pernah sampai membuatnya menangis karena enggan. Tapi sekarang sudah sedikit ketemu celahnya, Izza suka main balon yang diisi air atau diminta untuk mengambil handuk. Entah dimana sisi menyenangkan dari mengambil handuk, tapi dia sedang sangat menyukai jika saya meminta tolong mengambilnya.

8.11.17

Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 7

Hampir setiap pagi atau beberapa pagi sekali suami akan mengantarkan saya ke bulek sayur untuk belanja sekaligus karena lokasi yang cukup jauh dan tidak ada tukang sayur yang lewat. Suami sebenarnya sudah sering belanja bersama saya, tapi memang tidak begitu memperhatikan bagaimana saya belanja atau apa yang saya beli. Tak jarang juga saya nitip suami untuk membelikan belanjaan dapur tapi untuk skala kecil. Kebetulan tadi pagi saya lumayan repot jadi meminta suami untuk berangkat sendiri tanpa saya. Terpaksa karena Izza masih tidur. Sambil mengerjakan sesuatu di dapur saya menyampaikan daftar belanjaan yang hanya 3 item pada suami.

Saya: “Ayam sekilo, ceker setengah kilo, sama cabe merah besar seperempat, ya, Mas.” 
Suami: (mengulang daftar belanja yang saya katakan) “Itu aja?” 
Saya: “He’em.”

15 menit kemudian suami pulang dan menaruh belanjaan di meja dapur. Segera saya cuci bersih dan hati saya mulai tidak enak saat melihat potongan kepala ayam yang lebih dari 3 buah dan ternyata ada 6 buah. Ternyata suami membeli ayam total 1 kilo dalam 2 kantong plastik. 1 kantong berisi setengah kilo potongan ayam, dan 1 kantong lagi berisi campuran kepala dan ayam. Otomatis memanggil suami dengan nada sedikit teriak.

7.11.17

Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 6

Tantangan hari ini coba lakukan lagi dengan suami tapi melalui chat WhatsApp. Sebenarnya, saya lebih banyak komunikasi melalui chat daripada ngobrol langsung karena suami dari pagi hingga maghrib ada di kantor. Sampai rumah biasanya lebih banyak aktivitas fisik entah dengan saya atau Izza jadi jarang ngobrol santai. Kecuali jika ada hal yang ingin benar-benar dibahas. Suami saya memang bukan tipe orang yang suka ngobrol jadi harus dipancing dan pancingannya harus tepat tentang sesuatu yang akan membuat beliau penasaran. Ditambah, saya lebih memilih untuk membereskan rumah daripada ngobrol, (saya tidak bisa melihat rumah berantakan, kotor, amburadul, dan sejenisnya, ini penyakit yang ingin saya redam. Tapi susah, beberapa minggu ini suami mengirim cucian kotor ke laundry dan berujung saya setrika ulang semuanya karena lipatan tidak rapi. Itulah saya, menyiksa sekali tapi sudah terbiasa dan susah ngerem untuk tidak bebenah rumah sendiri). Tapi ya, masih bisa dibilang kami sering ngobrol meski durasinya tidak lama.

Mengenai komunikasi produktif hari ini saya sedikit membuat kemajuan yang ternyata memberikan dampak signifikan. Saya mencoba menerapkan kaidah “choose the right time” yaitu beberapa menit sebelum jam pulang kantor suami. Waktu tersebut sebenarnya waktu yang gambling, bisa saja suami sedang longgar dan siap-siap pulang atau sedang sibuk-sibuknya. Tapi saya yakin di jam tersebut suami dapat menjawab saya karena biasanya beliau memberi tahu bahwa akan pulang. Lalu saya inisiatif untuk bertanya lebih dulu seperti percakapan di bawah ini:

6.11.17

Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 5

Pada tantangan hari sebelumnya antara saya dengan Izza terkesan tanpa cela karena semua begitu mulus. Percakapan antara ibu dan anak tersebut seolah selalu ceria. Padahal pada kenyataannya tidak demikian, banyak sekali drama antara saya dan Izza. Meski Izza baru berusia 16 bulan,tapi sudah bisa protes, memilih, bahkan ngambek dan marah jika kemauannya tidak dituruti atau saya yang terlalu memaksakan kehendak. Hanya saja, untuk segala drama yang ada, biasanya saya yang menang jika sudah mengeluarkan jurus jitu yaitu nenen alias ASI. Tapi jurus tersebut tidak bisa saya keluarkan untuk satu kondisi yaitu saat makan. Dan makan adalah salah satu drama terbesar yang sampai saat ini masih sering saya hadapi. Seringnya, saya kalah dengan emosi sendiri seperti video di bawah ini:

5.11.17

Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 4

Hari ini sebenarnya banyak sekali percakapan antara saya dengan suami dan Izza, tapi masih seputar hal sepele rumah tangga biasa. Seperti, hari ini mau makan apa, nanti mau kemana, mau pakai baju apa ke acara undangan suami, jadi beli bibit pohon apa untuk taman, dan hal kecil lainnya dengan Izza. Banyak jika mau ditulis semuanya, tapi bagi saya, tidak ada gregetnya karena tidak menjadikan perubahan apa-apa baik untuk saya atau suami dan Izza. Namun ada satu momen percakapan sangat singkat antara saya dan suami yang mengoyak hati dan pikiran saya untuk menentukan jawaban apa atas pernyataan tersebut.

Ceritanya, hari ini kami menghadiri undangan pernikahan teman suami, yang ternyata mempelai perempuan adalah seorang mualaf, Alhamdulillah. Awalnya percakapan kami tentang betapa besarnya hati orang tua pengantin perempuan yang bisa menerima anaknya pindah ke agama lain dan masih mengadakan pesta pernikahan tersebut. Rasa salut dan bahagia sangat terasa dalam percakapan kami, hingga suami melontarkan sebuah pernyataan seperti ini:

Suami: “Keren, ya, bisa bawa jadi mualaf. Enak, langsung dapat surga.” 
Saya: "..." 
(Saya memilih diam, hati dan pikiran saya berkecamuk untuk menanggapi pernyataan suami. Sebagian diri saya ingin berkata: “Berarti kamu gak keren, ya, Mas? Nyesel kah gak bisa dapat surga karena nikah sama aku?” Dan di sisi lainnya dalam diri ingin berkata: “Kamu juga bisa dapat surga, kok, Mas. Ayo kita bareng-bareng dapat surga dari rumah tangga kita.” Tapi nyatanya dua sisi tersebut saling tolak dengan sangat kuat sehingga saya bingung untuk menggunakan kalimat yang mana. Akhirnya saya memilih untuk diam tidak menanggapi pernyataan suami, karena bisa saja saya salah bicara dan bisa berujung adu mulut.)

4.11.17

Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 3

Memasuki tantangan hari ketiga dan kedua kalinya dengan suami, tapi rasanya kok ya belum pernah berhasil jika harus bicara dengan suami mengenai hal yang bisa jadi selisih paham. Subuh tadi pagi, sekitar jam setengah 5 pagi, suami membangunkan saya dan berkata sesuatu lalu saya jawab dengan sadar betul.

Suami: “Bun, makanannya Izza lupa gak dimasukin kulkas. Tak masukin kulkas sekarang aja, ya?
 
Saya: “Hmm.. gak usah, wes, biarkan aja. Semalam ketiduran semua, ya?”

Suami menjawab “ya” seraya pergi dari kamar. Ternyata semalam, saya  tertidur hingga lupa membereskan dapur, biasanya sebelum tidur dapur harus dalam kondisi bersih. Mengenai makanan Izza yang masuk kulkas karena saya sengaja membuat makanan untuk dua hari. Sepanci sup sum-sum kaki sapi dengan bakso ayam-sapi dan beberapa sayuran. Saya harus menekankan betapa spesialnya makanan ini karena membuatnya cukup membutuhkan waktu dan padat gizi.

Pagi hari saya menuju dapur dan mendapati sup tersebut tidak ada dimana pun, di kulkas pun tidak ada.

Wisata Ramah Anak di Samarinda

Wisata Ramah Anak di Samarinda - Sebagai salah satu kota besar sekaligus ibu kota dari Provinsi Kalimantan Timur, Kota Samarinda memang menjadi pusat pergerakan ekonomi dan bisnis di Pulau Kalimantan. Tak heran, jika akhirnya kota yang juga terkenal dengan sungai Mahakamnya ini menjadi kota dengan tingkat kepadatan penduduk tertinggi di Kalimantan Timur. 

wisata ramah anak samarinda
(sumber : getborneo.com)

3.11.17

Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 2

Tantangan komunikasi produktif hari kedua ternyata saya lakukan dengan Izza yang dengan sengaja saya merekamnya dalam bentuk video. Sebenarnya, saya memang sering merekam aktivitas kami, entah itu saat bermain, belajar membaca, saat makan, atau bahkan saat Izza sedang merajuk, nangis, dan marah. Video-video tersebut selalu saya kirimkan untuk suami karena beliau hanya bisa membersamai Izza saat malam dan akhir pekan, selain itu untuk album pribadi juga. Kebetulan sore tadi suasana rumah sedang tenang, pekerjaan domestik beres, Izza makan lahap tanpa paksaan tanpa rewel, dan aktif seperti biasanya. Kondisi tersebut tentu membuat suasana hati saya sebagai bundanya lebih nyaman dan ramah. Hingga terjadi perbincangan seperti video di bawah ini:

2.11.17

Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 1

Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 1. Membahas tentang komunikasi adalah hal yang menarik dan merupakan tantangan utama karena saya sendiri sayangnya ceplas ceplos, asal bicara, dan tidak berpikir dulu sebelum bicara. Apa yang ingin saya katakan pasti akan dibicarakan, entah itu baik buruk, menyenangkan atau bahkan menyakiti hati orang lain. Saya cenderung tidak peduli akan hal itu dan berlalu seperti tidak terjadi apa-apa tanpa minta maaf. Sayangnya lagi, saya sangat mudah terpancing emosi dan akan dengan cepat meninggikan nada suara dan memurungkan wajah. Kebetulan kemarin malam, saya, suami, dan Izza pergi keluar rumah untuk makan malam dan belum menentukan tujuan, lalu terjadilah perbincangan berikut ini:

[Bunda Sayang] Game Level #1 – Day 1
[Bunda Sayang] Game Level #1 – Day 1. Suami manyun banget, yaaa :(

1.11.17

[Bunda Sayang] Materi #1: Komunikasi Produktif

Materi Kelas Bunda Sayang Sesi #1

☘ KOMUNIKASI PRODUKTIF ☘

Selisih paham sering kali muncul bukan karena isi percakapan melainkan dari cara penyampaiannya. Maka di tahap awal ini penting bagi kita untuk belajar cara berkomunikasi yang produktif,  agar tidak mengganggu hal penting yang ingin kita sampaikan,  baik kepada diri sendiri,  kepada pasangan hidup kita dan anak-anak kita.


❣ KOMUNIKASI DENGAN DIRI SENDIRI ❣ 

Tantangan terbesar dalam komunikasi adalah mengubah pola komunikasi diri kita sendiri. Karena mungkin selama ini kita tidak menyadarinya bahwa komunikasi diri kita termasuk ranah komunikasi yang tidak produktif.

Kita mulai dari pemilihan kata yang kita gunakan sehari-hari.

Kosakata kita adalah output dari struktur berpikir dan cara kita berpikir

Ketika kita selalu berpikir positif maka kata-kata yang keluar dari mulut kita juga kata-kata positif, demikian juga sebaliknya.

Kata-kata anda itu membawa energi, maka pilihlah kata-kata anda

Kata Masalah gantilah dengan Tantangan