23.12.17

Aliran Rasa Melatih Kemandirian

Aliran Rasa melatih Kemandirian
Aliran Rasa Melatih Kemandirian

Melatih kemandirian anak pada dasarnya melatih kemandirian saya sebagai bundanya, melatih konsistensi saya dalam melatihnya. Sebelum tantangan ini dimulai, saya sudah melatih beberapa hal dalam segi kemandirian yaitu toilet training, beres-beres, dan makan (cemilan) sendiri. Ketiganya secara bersamaan karena sudah dimulai jadi rasanya sayang kalau mau dipangkas untuk menonjolkan salah satunya. Akhirnya untuk minggu pertama saya memilih melatih kemandirian dalam hal beres-beres. Mulai dari membereskan mainan, buku, mengembalikan barang-barang yang dia ambil ke tempatnya, membuang sampah, dan membawa baju kotor ke ember cucian.

9.12.17

Game Level #2: Melatih Kemandirian - Day 10 (Makan Sendiri)

Hari ketiga melatih Izza makan sendiri dalam rangka 10 hari tantangan melatih kemandirian. Untuk hari ketiga ini dapat saya simpulkan bahwa yang sedang berlatih kemandirian dan berperang melawan emosi adalah saya sendiri yang masih ketar-ketir jika membiarkan Izza makan sendiri. Untuk pagi ini saya buatkan nasi goreng, awalnya saya suapi tapi terjadi penolakan saat setengah porsi. Antara bosan atau ngantuk karena masuk jam tidur pagi. Akhirnya saya memberikan piring makannya dan tarraaaaaa... Izza mau makan sendiri beberapa suap. Ya Allah saya takjub sekali melihat pemandangan di depan mata pagi tadi. Izza yang masih belum fasih memegang sendok tapi berhasil menyuapkan nasi dari piring ke mulutnya meski jarak piring dan mulut cukup jauh. Saya tidak terpikir memberikan meja lipat padahal nganggur di pojokan. Next meal pakai meja, ya, Nduk.

8.12.17

Game Level #2: Melatih Kemandirian - Day 9 (Makan Sendiri)

Tantangan hari ke sembilan melatih kemandirian dan tantangan hari kedua melatih Izza makan sendiri. Saya simpulkan hari ini tidak berhasil alias gagal total. Saat sarapan, saya memang sengaja untuk menyuapinya karena sarapan itu waktu makan paling krusial bagi saya. Meskipun makan siang dan malam tetaplah penting tapi sarapan masih menjadi waktu krusial dan Izza harus makan. Padahal biasanya sarapan itu yang paling susah. Seperti biasanya, bangun tidur, Izza langsung minum susu dan nyemil. Biasanya nyetok roti manis atau beli cemilan tradisional lainnya, yang penting Izza nyemil dulu saat saya beres-beres rumah. Setelah mandi barulah sarapan tapi tida saya beri susu atau ASI dalam waktu pagi tersebut. Pagi ini Izza sarapan bubur ayam, mangapnya konsisten asal ada kerupuk dan tetap saya yang menyuapi. Saya masih belum tega untuk melepasnya, hiks.

Untuk makan siang dan malam saya buatkan “one plate favourite” yang isinya kentang, wortel, telur puyuh yang ditumis dengan butter lalu diberi keju. Semua bahan makanan kesukaan Izza ada dalam satu piring jadi saya berharap banyak Izza bisa lahap makan sendiri. Saat makan siang, awalnya Izza makan sendiri dan masih ditemani yutub, dan ternyata dia hanya mengambil wortel untuk dimakan. Setelah wortelnya lenyap, piringnya tidak disentuh lagi. Akhirnya saya suapi sisanya yang ternyata hanya mau kentang, telurnya masuk sedikit saja, selebihnya dilepeh. Saat makan malam pun demikian, tapi saya yang menyuapinya seratus persen. Makanan masuk setengah porsi, selebihnya dia mingkem rapet dan marah jika saya menyuapinya lagi. Saat saya memberikan piring makan dan sendok hanya dibuat mainan dan disuapkan ke saya. Hmm, saya heran, beberapa waktu lalu saya berikan menu yang sama cukup lahap dan habis. Memang mood anak bayi susah ditebak.

7.12.17

Game Level #2: Melatih Kemandirian - Day 8 (Makan Sendiri)


Laporan meletih kemandirian untuk beres-beres disudahi dulu 7 hari saja sambil tetap diterapkan. Laporan hari ini tentang melatih Izza makan sendiri. Saya memang bukan ibu aliran BLW alias makan sendiri karena Izza termasuk anak yang susah makan jadi lebih banyak saya suapi. Meskipun doyan dengan suatu makanan atau cemilan tidak bisa dalam jumlah banyak. Tapi untungnya dia sudah terbiasa dengan menu makanan keluarga dan mulai saya kenalnya dengan berbagai macam cemilan. Saya bukan ibu yang strict terhadap makanan, boleh saja makan apa saja asal tetap dibatasi atau sekada incip-incip, hehe. Sejauh ini cemilan yang Izza suka itu onde-onde, roti kering, dan kerupuk. Sedangkan makanan utama favoritnya itu kentang, wortel, tofu, dan mie goreng.

6.12.17

Game Level #2: Melatih Kemandirian - Day 7 (Tidy Up)

melatih kemandirian day 7
melatih kemandirian day 7
Hari ketujuh melatih Izza untuk membereskan mainan dan buku. Dan saat ini saya sudah merasa tidak tertak dengan tantangan kemandirian ini. Sebelumnya memang sedikit tertekan takut Izza tidak memberikan perubahan yang baik. Namun, setelah melihat kemajuan Izza hari dari ke hari, saya semakin santai menghadapinya. Jadi intinya, orang tua harus percaya pada kemampuan anak serta percaya pada diri sendiri bahwa kita bisa menuntun anak ke arah yang lebih baik. Kemajuan yang saya artikan adalah, Izza sudah merespon dengan cepat jika diajak untuk beres-beres. Buku ditumpuk jadi satu atau dikembalikan ke laci (kalau ini tergantung perintah saya) dan mainan dimasukkan ke troli atau keranjang.

5.12.17

Game Level #2: Melatih Kemandirian - Day 6 (Tidy Up)

Hari keenam melatih kemandirian membereskan mainan sudah semakin terlihat konsistensinya. Konsisten dalam hal ini yang saya katakan adalah Izza sudah merespon perintah saya dengan mudah tanpa harus mengulang berkali-kali dan ikut membantu membereskan. Sudah bisa mengembalikan buku ke laci, mainan ke keranjang, memungut tissue di lantai lalu dibuang ke ember sampah. Cerita hari ini, Izza lebih banyak membaca buku daripaa bermain karena kondisi saya kurang sehat. Jadi sebisa mungkin saya masih tetap membuatnya berkativitas dengan cara mengambil buku dan mengambalikannya. Alhamdulillah berhasil seperti hari-hari sebelumnya, ditambah dengan Izza yang ingin menutup pintu lemari bukunya. 

Malam ini, Izza kedapatan mengambil kaleng tabungan uang koin di meja belakang saat ayahnya sholat Isya. Akhirnya kaleng tersebut terpaksa dibuka untuk ajang bermain. It’s okay, bermain adalah berlajar, belajar adalah bermain untuk Izza. Akhirnya ayahnya mengajak belajar menghitung dari uang koin hingga berserakan di penjuru ruang tamu. Setelah kami rasa bermain dengan uang koin harus berakhir, maka suami mengajak Izza untuk kembali mengumpulkan koin-koin tersebut ke dalam kaleng. Awalnya Izza tidak mau karena masih ingin bermain dengan koin-koin tersebut, tapi saat ayahnya mengajak berhitung sambil memasukkan koin ke dalam kaleng, Izza mulai merespon dan mencontoh. Simak video di bawah ini:

4.12.17

Game Level #2: Melatih Kemandirian - Day 5 (Tidy Up)

bermain saat beres-beres
bermain saat beres-beres
Memasuki hari kelima melatih kemandirian beres-beres mainan. Seperti pucuk dicinta ulam pun tiba, hari ini semua mainan dan buku ambyar di ruang tamu. Sengaja saya biarkan sedari pagi karena harus ditinggal nyambi mencuci baju pasca long weekend. Tapi saat menjemur Izza saya ajak untuk membantu, Alhamdulillah bisa memberikan baju satu demi satu untuk saya jemur. Aktivitas bermainnya belum bisa fokus ke satu benda, seperti halnya aktivitas membaca tidak bisa hanya dengan satu buku saja. Saat membaca, Izza pasti mengeluarkan lebih dari tiga buku untuk dibaca sekaligus. Saat bermain pun demikian, kadang bermain masak-masakan dengan dapur mini, sesaat kemudian bisa bermain dengan pompom dan capit. Insyaallah masih wajar ya, karena batas fokusnya memang masih sedikit yang penting Izza ada kemauan bermain dan belajar.

3.12.17

Game Level #2: Melatih Kemandirian - Day 4 (Tidy Up)

Masih berlanjut dengan melatih kemandirian dalam hal membereskan mainan atau buku yang menurut saya sudah menunjukkan kemajuan. Izza sudah tahu posisi awal barang yang diambilnya dan bisa mengembalikan ke tempat meski belum bisa benar-benar menata rapi. Izza sudah paham kalimat perintah “dibereskan” atau “dikembalikan” sehingga tidak perlu mengulang kalimat perintah tersebut secara berulang kali. Sayangnya hari minggu ini saya, suami, dan Izza tidak banyak melakukan aktivitas di dalam rumah sehingga Izza tidak menyentuh mainannya sedikit pun. Semua mainan dan buku masih tertata rapi di tempatnya. Hampir saja saya tidak membuat rapor melatih kemandirian untuk hari ini, tapi saya jika bolong sehari. Tapi mengeluarkan mainan dan buku di malam hari lalu membuat seakan Izza beres-beres pun tidak bisa. Jadi untuk hari ini akan saya tulis seadanya.

Sore hari, Izza ikut saya pengajian di rumah tetangga seperti biasanya dia selalu ikut kemanapun saya pergi. Seperti anak batita pada umumnya, sellau ingin tahu dan mengambil apa yang ada di hadapannya. Seperti halnya tadi, Izza mulai ambil beberapa minum air mineral gelas dan diberikan kepada saya. Lalu saya mengatakan untuk mengembalikan. Ternyata Izza tidak mengembalikannya tap malah memberikan gelas-gelas tersebut kepada ibu-ibu lainnya. Hmm, boleh sedikit bangga karena dia punya rasa berbagi. Beberapa saat kemudian Izza mengambil kotak tissue, saya pun meminta untuk dikembalikan. Alhamdulillah, Izza paham meski tidak dikembalikan ke posisi awal melainkan diberikan pada tuan rumah, hehe.

2.12.17

Game Level #2: Melatih Kemandirian - Day 3 (Tidy Up)

Membereskan mainan dalam rangka melatih kemandirian masih berlanjut hingga hari ketiga. Sabtu pagi ini, seperti biasanya, Izza bermain bersama ayahnya dan saya ada di dapur. Mereka bermain block mainan plastik yang bisa disusun dan dibentuk di teras depan. Dari dalam dapur samar-samar ayahnya mengajak Izza untuk membereskan mainan saat kegiatan selesai. Dalam hati saya berkata kok sepertinya lancar-lancar saja ya bereskan mainannya. Otomatis saya melongok sambil berkata pada suami untuk mendokumentasikan aksi Izza dalam bentuk video. Sayangnya semua block sudah masuk tas dan tertata rapi di keranjang mainan. Nyesal deh karena saya tidak melihat Izza membereskan mainan. Tapi saya tetap bahagia karena suami sudah bisa diajak kerjasama melatih kemandirian anak gadis kami.

Siang hari sekitar jam dua setelah Izza beres makan siang, kami bertiga kembali berkumpul di teras depan. Awalnya karena suami tertidur di sana jadi saya mengajak Izza untuk berkumpul dan bermain dengan block tersebut lagi. Di kesempatan tersebut saya mulai mengajari tentang warna dan cara menyusun block, tapi memang belum berhasil. Setelah waktu bermain habis dan saatnya mandi sore, saya mengajak Izza untuk membereskan blocknya. Dan reaksinya sepeti pada video di bawah ini:

1.12.17

Game Level #2: Melatih Kemandirian - Day 2 (Tidy Up)

Game Level #2: Melatih Kemandirian - Day 2 (Tidy Up)
Game Level #2: Melatih Kemandirian - Day 2 (Tidy Up)
Hari ini masih berkutat dengan membereskan mainan atau buku sendiri dalam rangka melatih kemandirian Izza. Sayangnya untuk hari ini, sebagian besar masih bunda dan ayah yang beraksi. Dalam foto di atas terlihat ruang tamu yang berantakan dengan mainan dan beberapa buku dimana-mana. Sedangkan sang empunya alias anak gadis, Izza, lebih memilih bermain dengan hal lain yang menurutnya lebih menarik. Hmm, susah kalau Izza sudah punya kemauan yang membuatnya tertarik.

30.11.17

Game Level #2: Melatih Kemandirian - Day 1 (Tidy Up)

Tantangan level 2 tentang melatih kemandirian saya lakukan dengan anak, Izza 17 bulan. Sebenarnya, dari segi sefl help, Izza sudah ada keinginan untuk mandiri, melakukan semua kegiatan sehari-hari tanpa bantuan saya seperti makan sudah memaksa untuk sendiri, ingin pakai baju atau sandal sendiri, bahkan dalam kondisi yang menurut saya agak bahaya seperti naik kursi tidak mau saya pegangi. Saya senang, sih, karena Izza sudah tahu apa yang dia inginkan, tapi saya masih sering mengabaikan hal itu karena menganggap Izza masih terlalu kecil untuk mandiri. Ternyata saya salah, harusnya malah dilatih mandiri sejak diri sesuai dengan tingkat umurnya. Skill pertama yang saya pilih untuk melatih kemandiriannya adalah merapikan barang-barang seperti buku-buku dan mainannya setelah selesai menggunakan. Alasannya, karena Izza termasuk anak yang royal dalam hal mengeluarkan buku-buku dan segala mainannya. Buku satu laci bisa keluar semua, termasuk mainan dalam keranjang. Satu rumah bisa seperti pasar tumpah, dari ruang tamu, kamar, dapur, bahkan tempat-tempat nyeleneh bisa ditemukan mainanya Izza.

Beberapa kali saya memang sering memintanya untuk mengembalikan barang yang diambil ke tempat asalnya, bukan untuk melatih kemandirian tapi sekadar untuk mengetahu respon yang Izza berikan. Saat hendak mandi saya selalu memintanya untuk mengambil handuk, meletakkan baju di ember tempat baju kotor. Saat mau bermain saya memintanya untuk mengambil beberapa mainan yang dia inginkan dan mengembalikannya (bukan membereskannya), begitu pula untuk buku-bukunya. Seperti halnya siang tadi, beberapa buku dan mainan dikeluarkan dan saya meminta untuk mengembalikannya. Silakan lihat pada video di bawah ini:

24.11.17

Aliran Rasa Komunikasi Produktif

Aliran Rasa Komunikasi Produktif
Aliran Rasa Komunikasi Produktif
Komunikasi produktif, sebuah materi pembuka yang memang cocok diberikan untuk pertama kalinya. Sebuah materi yang nantinya akan terus diterapkan hingga ke depan dan selamanya. Semua berawal dari bagaimana saya dan anggota keluarga berkomunikasi. Baik atau tidaknya kondisi yang tercipta tergantung dari komunikasi seperti apa yang telah diciptakan. Sejak menerapkan kaidah-kaidah yang ada di dalam komunikasi produktif, saya menjadi tahu, kesalahan seperti apa yang pernah saya ucapkan sehingga mengubah kondisi rumah menjadi tidak nyaman. Dengan menuliskannya, saya jadi evaluasi diri sendiri, memberi kritik dan saran pada diri sendiri.

16.11.17

Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 15

Tantangan komunikasi produktif hari ke lima belas ditutup dengan Izza si anak gadis yang mulai menunjukkan kemajuan toilet training tepat usianya sekarang 17 bulan di hari ini. Saya memulai toilet training untuk Izza kira-kira 2 minggu lalu. Dimulai dengan melepas popok sekali pakai (pospak) di siang hari sekitar jam 2 karena jam tersebut memang waktunya ganti pospak. Yang saya lakukan adalah sounding Izza untuk bilang jika ingin buang air kecil atau besar dengan cara menunjuk celana. 3 – 4 hari belum berjalan mulus, hampir ngompol semua, hingga akhirnya Izza memberi tanda dengan menunjuk celananya saat ingin buang air besar meski telat bilangnya.

Satu minggu kemudian saya mulai melepas pospak di siang hari kira-kira jam 10 atau jam 11 siang karena Izza sudah bisa memberi tanda meski sudah selalu terlambat. Hingga 2 hari yang lalu saya mulai melepas pospak dari pagi setelah mandi dan terus-terusan sounding dengan memberi contoh:

Saya: “Izza nanti kalau mau pipis atau eek bilang bunda, ya.” 
(sambil memegang celananya) 
Izza: “Ya...ya..” 
(Alhamdulillah sudah bisa menanggapi dan mengerti maksud omongan saya) 
Saya: “Kalau pipis bilang gimana, Za?” 
Izza: “Eennggg” (Sambil pegang celananya)

15.11.17

Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 14

Hari ini suami berangkat kerja agak siang karena semalam baru pulang dinas dini hari, jadi lumayan bisa bantu bermain dengan Izza sepanjang pagi. Sedangkan saya berkutat dengan dapur.  Per rekues suami, saya masak oseng kerang dara dibumbu kecap pedas, untung saja tersedia di bulek sayur. Jam 8 pagi, suami hendak sarapan dan membuka penanak nasi, terjadilah tragedi:

Suami: “Lha, Bun, nasinya belum matang.”
 
Saya: “Lho, kok bisa? Kan dari subuh dicolokin.” 
Suami: “Bentuknya masih beras sih, jangan-jangan lupa diceklek mode cook.” 
Saya: “Lhooo, perasaan tadi wes tak ceklek. Yawis masak lagi pakai magic com kecil porsimu aja biar cepet.” 
(Akhirnya masak nasi di magic com kecil agar cepat tanak dan suami segera sarapan. Saya sebenarnya merasa bersalah tapi tidak ingin membuat mood berantakan di pagi hari. Jadi saya mencoba bercanda dengan suami.) 
Suami: “Masak untuk sarapanmu juga.” 
Saya: “Enggak wes, aku diet aja wes.” (Berjalan gontai menghampiri suami dan memeluknya) “Maaf yaa. Aku tak diet aja yaa.” 
Suami: “Kok tiba-tiba mau diet?” 
Saya: “Biar langsing lagi kayak jaman gadis. Tapi dietnya kalau sudah dibelikan martabak, hahah.” 
Suami: “Lhaa, mau diet atau pengen martabak?”
Saya: “Dua-duanya, hehehe.”

14.11.17

Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 13

Pada tantangan komunikasi produktif yang kesekian kalinya, saya berusaha untuk konsisten menggunakan kaidah yang ada yang komitmen untuk terus menjaganya. Tidak bisa mulus setiap waktu, memang, tapi saya selalu berusaha untuk mejaga emosi tetap stabil dan Alhamdulillah lumayan berhasil. Saat dengan anak, saya selalu mengingat bahwa Izza memang belum bisa benar-benar memahami apa yang saya inginkan. Dia masih bayi dan butuh panduan, maka tugas saya memandunya bukan memaksakan kehendak. Saat dengan suami, saya ingat bahwa ridhonya bisa membawa saya ke surga (ini setelah nonton ceramah seorang ustad di youtub). Selama saya bersikap baik dan manis terhadap suami dan anak, maka saya akan mendapatkan hal yang sama.

13.11.17

Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 12

Komunikasi dengan suami hari ini dimulai dengan cukup elegan dan manja. Menggunakan kaidah “7-38-55” membuat sepanjang hari lebih menarik tanpa ada gesekan apapun. Pagi hari setelah bangun saya langsung memeluk suami di depan kamar, bersender manja serasa minta dielus. Alhamdulillah beneran dielus-elus kepala saya, hehe. Dengan tetap memeluk saya berbicara pada suami dengan intonasi suara yang lemah lembut nan manja.

Saya: “Tangan kakiku sakit semua, pegel.” 
Suami: “Iya sama, kemarin terlalu semangat.” 
(Saya memeluk suami semakin erat) 
Suami: “Nanti panggil tukang pijat yang di depan itu, ya. Buat kamu sama Izza.” 
(Alhamdulillah, tanpa saya meminta suami sudah inisiatif. Komunikasi manja berhasil, hehe)

Setelah suami berangkat kerja, komunikasi berlanjut di WhatsApp. Semalam, kami memesan siomay untuk acara pengajian namun tidak ada tahu bakso. Dan suami berkata secara tersirat: “Ini kalau ada tahu bakso makin enak kali, Bun.” Okee, tanpa banyak kata kode diterima. Pagi tadi setelah pekerjaan domestik beres, saya membuat tahu bakso dan sengaja tidak masak untuk kami. Hanya masak untuk makan Izza.

12.11.17

Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 11

Tantangan 10 hari game level 1 materi komunikasi produktif telah terlewati. Tapi saya terlanjur terbiasa dengan kandang waktu yang saya sediakan untuk menulis yaitu di malam hari setelah Izza tertidur lelap dan rumah beres. Untuk hari ini, aktivitas terlalui dengan sangat produktif karena di rumah ada pengajian ibu-ibu komplek selepas dzuhur. Mau tidak mau saya dan suami bahu membahu dan saling bekerja sama untuk menyiapkan acara tanpa bantuan tentangga. Untuk pengajian siang tadi, saya sengaja pesan makanan jadi tidak terlalu repot seperti pengajian sebelumnya. Jadi yang kami lakukan hanya membersihkan rumah termasuk mencuci 2 lusin piring, menyiapkan cemilan, dan bergantian membersamai Izza.

Komunikasi antara saya dan suami juga terjalin sangat produktif sehingga pekerjaan selesai sebelum waktunya. Mungkin karena pressure yang membuat kami bekerja dan bicara secara produktif. Contohnya seperti percakapan pagi tadi:

Saya: (Masak untuk sarapan Izza dan kami berdua) “Mas, tolong pindahkan sofa ke belakang, ya!” 
Suami: (Tanpa ba-bi-bu langsung gerak memindahkan kursi TV ke teras dan memindah sofa ke ruang TV. Lalu langsung nyapu dan ngepel seluruh rumah dan menyiapkan karpet untuk pengajian.)

11.11.17

Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 10

Batuk pileknya Izza makin menjadi, 2 malam tidur tidak nyenyak bahkan terbangun sampai muntah dan dahak keluar. Suasana rumah jadi tidak kondusif karena Izza menjadi super rewel membuat emosi saya terguncang dan akhirnya mudah ngomel ke suami, hehe. Tapi saya mencoba mengontrolnya baik itu dengan suami atau dengan Izza. Bukan karena saya sedang melakukan tantangan ini, tapi karena untuk membantu meredam emosi sendiri. Pagi tadi akhirnya kami membawa Izza ke dokter anak langganan yang ternyata membantu saya untuk mengomunikasikan “sesuatu” yang sejak dulu sulit untuk dilakukan oleh suami.

Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 10
Ini pas di dokter, saya inisiatf mengajak selfie agar suasana hati riang

10.11.17

Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 9

Ceritanya, subuh tadi ada gesekan kecil antara saya dan suami. Masalah sepele, sih, tapi tetap membuat tidak nyaman karena membuat suami sedikit mrengut karena saya yang bisa dibilang ngambek. Malam hari sebelumnya suami berkata kalau besok pagi ada upacara pagi hari di kantor dan saya mengiyakan bahwa suami harus berangkat pagi-pagi. Sudah itu saja, tidak ada informasi tambahan yang saya terima dan tidak punya prasangka apapun. Esoknya kami berdua bangun dan saya menuju kamar mandi, setelahnya saya mendapati suami sedang setrika baju seragam untuk hari senin. Lalu terjadinya percakapan berikut ini:

Saya: “Lha, ngapain kok setrika baju itu?” 
Suami: “Tak kira wes disetrika ternyata tadi lihat masih digantung di jemuran.” 
Saya: “Ya, kan nanti bisa aku setrika bareng yang lain. Mau dipakai, kah?” 
Suami: “Iya.” 
Saya: “Nah, kok gak bilang. Sini aku wae.” 
Suami: “Kan semalem sudah bilang kalau mau upacara.” 
Saya: “Emang bilang kalau mau pakai seragam ini?”  (Mulai nyolot)

9.11.17

Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 8

Berkomunikasi dengan Izza itu bisa gampang bisa susah, tergantung mood anaknya dan kondisi lingkungan. Kadang bisa dengan sangat mudah mengajak Izza beraktivitas atau meminta melakukan sesuatu. Kadang juga sedikit atau penuh drama yang bisa jadi disengaja karena Izza memang sedikit usil atau karena memang dia sedang tidak berkehendak. Contohnya saat mengajak mandi, kadang dia bisa langsung masuk ke kamar mandi, kadang harus bujuk rayu dulu, bahkan pernah sampai membuatnya menangis karena enggan. Tapi sekarang sudah sedikit ketemu celahnya, Izza suka main balon yang diisi air atau diminta untuk mengambil handuk. Entah dimana sisi menyenangkan dari mengambil handuk, tapi dia sedang sangat menyukai jika saya meminta tolong mengambilnya.

8.11.17

Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 7

Hampir setiap pagi atau beberapa pagi sekali suami akan mengantarkan saya ke bulek sayur untuk belanja sekaligus karena lokasi yang cukup jauh dan tidak ada tukang sayur yang lewat. Suami sebenarnya sudah sering belanja bersama saya, tapi memang tidak begitu memperhatikan bagaimana saya belanja atau apa yang saya beli. Tak jarang juga saya nitip suami untuk membelikan belanjaan dapur tapi untuk skala kecil. Kebetulan tadi pagi saya lumayan repot jadi meminta suami untuk berangkat sendiri tanpa saya. Terpaksa karena Izza masih tidur. Sambil mengerjakan sesuatu di dapur saya menyampaikan daftar belanjaan yang hanya 3 item pada suami.

Saya: “Ayam sekilo, ceker setengah kilo, sama cabe merah besar seperempat, ya, Mas.” 
Suami: (mengulang daftar belanja yang saya katakan) “Itu aja?” 
Saya: “He’em.”

15 menit kemudian suami pulang dan menaruh belanjaan di meja dapur. Segera saya cuci bersih dan hati saya mulai tidak enak saat melihat potongan kepala ayam yang lebih dari 3 buah dan ternyata ada 6 buah. Ternyata suami membeli ayam total 1 kilo dalam 2 kantong plastik. 1 kantong berisi setengah kilo potongan ayam, dan 1 kantong lagi berisi campuran kepala dan ayam. Otomatis memanggil suami dengan nada sedikit teriak.

7.11.17

Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 6

Tantangan hari ini coba lakukan lagi dengan suami tapi melalui chat WhatsApp. Sebenarnya, saya lebih banyak komunikasi melalui chat daripada ngobrol langsung karena suami dari pagi hingga maghrib ada di kantor. Sampai rumah biasanya lebih banyak aktivitas fisik entah dengan saya atau Izza jadi jarang ngobrol santai. Kecuali jika ada hal yang ingin benar-benar dibahas. Suami saya memang bukan tipe orang yang suka ngobrol jadi harus dipancing dan pancingannya harus tepat tentang sesuatu yang akan membuat beliau penasaran. Ditambah, saya lebih memilih untuk membereskan rumah daripada ngobrol, (saya tidak bisa melihat rumah berantakan, kotor, amburadul, dan sejenisnya, ini penyakit yang ingin saya redam. Tapi susah, beberapa minggu ini suami mengirim cucian kotor ke laundry dan berujung saya setrika ulang semuanya karena lipatan tidak rapi. Itulah saya, menyiksa sekali tapi sudah terbiasa dan susah ngerem untuk tidak bebenah rumah sendiri). Tapi ya, masih bisa dibilang kami sering ngobrol meski durasinya tidak lama.

Mengenai komunikasi produktif hari ini saya sedikit membuat kemajuan yang ternyata memberikan dampak signifikan. Saya mencoba menerapkan kaidah “choose the right time” yaitu beberapa menit sebelum jam pulang kantor suami. Waktu tersebut sebenarnya waktu yang gambling, bisa saja suami sedang longgar dan siap-siap pulang atau sedang sibuk-sibuknya. Tapi saya yakin di jam tersebut suami dapat menjawab saya karena biasanya beliau memberi tahu bahwa akan pulang. Lalu saya inisiatif untuk bertanya lebih dulu seperti percakapan di bawah ini:

6.11.17

Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 5

Pada tantangan hari sebelumnya antara saya dengan Izza terkesan tanpa cela karena semua begitu mulus. Percakapan antara ibu dan anak tersebut seolah selalu ceria. Padahal pada kenyataannya tidak demikian, banyak sekali drama antara saya dan Izza. Meski Izza baru berusia 16 bulan,tapi sudah bisa protes, memilih, bahkan ngambek dan marah jika kemauannya tidak dituruti atau saya yang terlalu memaksakan kehendak. Hanya saja, untuk segala drama yang ada, biasanya saya yang menang jika sudah mengeluarkan jurus jitu yaitu nenen alias ASI. Tapi jurus tersebut tidak bisa saya keluarkan untuk satu kondisi yaitu saat makan. Dan makan adalah salah satu drama terbesar yang sampai saat ini masih sering saya hadapi. Seringnya, saya kalah dengan emosi sendiri seperti video di bawah ini:

5.11.17

Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 4

Hari ini sebenarnya banyak sekali percakapan antara saya dengan suami dan Izza, tapi masih seputar hal sepele rumah tangga biasa. Seperti, hari ini mau makan apa, nanti mau kemana, mau pakai baju apa ke acara undangan suami, jadi beli bibit pohon apa untuk taman, dan hal kecil lainnya dengan Izza. Banyak jika mau ditulis semuanya, tapi bagi saya, tidak ada gregetnya karena tidak menjadikan perubahan apa-apa baik untuk saya atau suami dan Izza. Namun ada satu momen percakapan sangat singkat antara saya dan suami yang mengoyak hati dan pikiran saya untuk menentukan jawaban apa atas pernyataan tersebut.

Ceritanya, hari ini kami menghadiri undangan pernikahan teman suami, yang ternyata mempelai perempuan adalah seorang mualaf, Alhamdulillah. Awalnya percakapan kami tentang betapa besarnya hati orang tua pengantin perempuan yang bisa menerima anaknya pindah ke agama lain dan masih mengadakan pesta pernikahan tersebut. Rasa salut dan bahagia sangat terasa dalam percakapan kami, hingga suami melontarkan sebuah pernyataan seperti ini:

Suami: “Keren, ya, bisa bawa jadi mualaf. Enak, langsung dapat surga.” 
Saya: "..." 
(Saya memilih diam, hati dan pikiran saya berkecamuk untuk menanggapi pernyataan suami. Sebagian diri saya ingin berkata: “Berarti kamu gak keren, ya, Mas? Nyesel kah gak bisa dapat surga karena nikah sama aku?” Dan di sisi lainnya dalam diri ingin berkata: “Kamu juga bisa dapat surga, kok, Mas. Ayo kita bareng-bareng dapat surga dari rumah tangga kita.” Tapi nyatanya dua sisi tersebut saling tolak dengan sangat kuat sehingga saya bingung untuk menggunakan kalimat yang mana. Akhirnya saya memilih untuk diam tidak menanggapi pernyataan suami, karena bisa saja saya salah bicara dan bisa berujung adu mulut.)

4.11.17

Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 3

Memasuki tantangan hari ketiga dan kedua kalinya dengan suami, tapi rasanya kok ya belum pernah berhasil jika harus bicara dengan suami mengenai hal yang bisa jadi selisih paham. Subuh tadi pagi, sekitar jam setengah 5 pagi, suami membangunkan saya dan berkata sesuatu lalu saya jawab dengan sadar betul.

Suami: “Bun, makanannya Izza lupa gak dimasukin kulkas. Tak masukin kulkas sekarang aja, ya?
 
Saya: “Hmm.. gak usah, wes, biarkan aja. Semalam ketiduran semua, ya?”

Suami menjawab “ya” seraya pergi dari kamar. Ternyata semalam, saya  tertidur hingga lupa membereskan dapur, biasanya sebelum tidur dapur harus dalam kondisi bersih. Mengenai makanan Izza yang masuk kulkas karena saya sengaja membuat makanan untuk dua hari. Sepanci sup sum-sum kaki sapi dengan bakso ayam-sapi dan beberapa sayuran. Saya harus menekankan betapa spesialnya makanan ini karena membuatnya cukup membutuhkan waktu dan padat gizi.

Pagi hari saya menuju dapur dan mendapati sup tersebut tidak ada dimana pun, di kulkas pun tidak ada.

Wisata Ramah Anak di Samarinda

Wisata Ramah Anak di Samarinda - Sebagai salah satu kota besar sekaligus ibu kota dari Provinsi Kalimantan Timur, Kota Samarinda memang menjadi pusat pergerakan ekonomi dan bisnis di Pulau Kalimantan. Tak heran, jika akhirnya kota yang juga terkenal dengan sungai Mahakamnya ini menjadi kota dengan tingkat kepadatan penduduk tertinggi di Kalimantan Timur. 

wisata ramah anak samarinda
(sumber : getborneo.com)

3.11.17

Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 2

Tantangan komunikasi produktif hari kedua ternyata saya lakukan dengan Izza yang dengan sengaja saya merekamnya dalam bentuk video. Sebenarnya, saya memang sering merekam aktivitas kami, entah itu saat bermain, belajar membaca, saat makan, atau bahkan saat Izza sedang merajuk, nangis, dan marah. Video-video tersebut selalu saya kirimkan untuk suami karena beliau hanya bisa membersamai Izza saat malam dan akhir pekan, selain itu untuk album pribadi juga. Kebetulan sore tadi suasana rumah sedang tenang, pekerjaan domestik beres, Izza makan lahap tanpa paksaan tanpa rewel, dan aktif seperti biasanya. Kondisi tersebut tentu membuat suasana hati saya sebagai bundanya lebih nyaman dan ramah. Hingga terjadi perbincangan seperti video di bawah ini:

2.11.17

Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 1

Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 1. Membahas tentang komunikasi adalah hal yang menarik dan merupakan tantangan utama karena saya sendiri sayangnya ceplas ceplos, asal bicara, dan tidak berpikir dulu sebelum bicara. Apa yang ingin saya katakan pasti akan dibicarakan, entah itu baik buruk, menyenangkan atau bahkan menyakiti hati orang lain. Saya cenderung tidak peduli akan hal itu dan berlalu seperti tidak terjadi apa-apa tanpa minta maaf. Sayangnya lagi, saya sangat mudah terpancing emosi dan akan dengan cepat meninggikan nada suara dan memurungkan wajah. Kebetulan kemarin malam, saya, suami, dan Izza pergi keluar rumah untuk makan malam dan belum menentukan tujuan, lalu terjadilah perbincangan berikut ini:

[Bunda Sayang] Game Level #1 – Day 1
[Bunda Sayang] Game Level #1 – Day 1. Suami manyun banget, yaaa :(

1.11.17

[Bunda Sayang] Materi #1: Komunikasi Produktif

Materi Kelas Bunda Sayang Sesi #1

☘ KOMUNIKASI PRODUKTIF ☘

Selisih paham sering kali muncul bukan karena isi percakapan melainkan dari cara penyampaiannya. Maka di tahap awal ini penting bagi kita untuk belajar cara berkomunikasi yang produktif,  agar tidak mengganggu hal penting yang ingin kita sampaikan,  baik kepada diri sendiri,  kepada pasangan hidup kita dan anak-anak kita.


❣ KOMUNIKASI DENGAN DIRI SENDIRI ❣ 

Tantangan terbesar dalam komunikasi adalah mengubah pola komunikasi diri kita sendiri. Karena mungkin selama ini kita tidak menyadarinya bahwa komunikasi diri kita termasuk ranah komunikasi yang tidak produktif.

Kita mulai dari pemilihan kata yang kita gunakan sehari-hari.

Kosakata kita adalah output dari struktur berpikir dan cara kita berpikir

Ketika kita selalu berpikir positif maka kata-kata yang keluar dari mulut kita juga kata-kata positif, demikian juga sebaliknya.

Kata-kata anda itu membawa energi, maka pilihlah kata-kata anda

Kata Masalah gantilah dengan Tantangan

6.6.17

[Matrikulasi] Review NHW #3: Membangun Peradaban dari Rumah

Untuk melihat postingan tentang Nice Homework #3 bisa lihat pada postingan ini. Insyaallah dibuat dan dikerjaan dengan sepenuh hati untuk masa depan Izza yang lebih cerah dan lebih sevisi dengan suami. Berikut review tugas yang diberikan oleh fasilitator.

*MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH*
Kalau kamu ingin berbincang-bincang dg DIA, maka temuilah DIA dengan caramu, Tetapi apabila kamu ingin mendengar DIA berbicara, memahami apa kehendakNya padamu, maka IQRA', bacalah semua tanda cintaNya untuk kita, mulai dari surat cintaNya sampai dengan orang-orang dan lingkungan di sekeliling kita.

Apa yang sudah teman-teman lakukan di proses nice homework #3 ini adalah proses IQRA'( membaca). Dimulai dari membuat surat cinta. Mengapa harus membuat surat cinta? karena bagaimana anda bisa merasakan surat cintaNya, kalau anda sendiri tidak pernah menghargai betapa beratnya menuliskan sebait demi sebait surat cinta untuk kekasih anda.

Dan kita semua belajar bagaimana melihat respon, surat cinta yang disampaikan dengan hati, kadang tidak pernah berharap apapun, mulai dari dicuekin, meski tanda centang sudah berubah warna biru 😀 sampai dengan surat cinta balasan suami yang ditulis di wall FB yang membuat hati makin mengharu biru.😍

Demikianlah Sang Maha Pemberi Cinta, kadang memberi tanpa meminta. Surat cinta sudah dikirim, waktu pertemuan sudah ditentukan, candle light dg hidangan istimewa di sepertiga malam terakhir sudah disiapkan, tapi kita kekasihnya tetap dingin dengan seribu satu alasan. Tetapi DIA tetap mencintai kita, tanpa Pamrih.

1.6.17

[Matrikulasi] Materi #3: Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

Alhamdulillah, akhirnya masuk pada materi matrikulasi minggu ketiga. Setelah menyelesaikan tugas pekan kedua, saatnya mengisi lagi gelas lainnya dengan ilmu yang baru yaitu tentang peradaban. Dari berbagai sumber banyak yang mengatakan, bahwa rumah adalah pondasi pertama dan utama bagi seorang anak dan sebuah keluarga untuk hidup dalam masyarakat. Maka harus dikuatkan terlebih dulu sebelum terjun. Dan yang harus diingat bahwa ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya, jadi jangan sampai menjadi ibu yang kosong tanpa ilmu.

MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH
Disusun oleh Tim Matrikulasi- Institut Ibu Profesional

“Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantarkan anggota keluarganya menuju peran peradabannya”

Bunda, rumah kita adalah pondasi sebuah bangunan peradaban, dimana kita berdua bersama suami, diberi amanah sebagai pembangun peradaban melalui pendidikan anak-anak kita. Oleh karena itu sebagai orang yang terpilih dan dipercaya oleh yang Maha Memberi Amanah, sudah selayaknya kita jalankan dengan sungguh-sungguh. Maka tugas utama kita sebagai pembangun peradaban adalah mendidik anak-anak sesuai dengan kehendakNya, bukan mencetaknya sesuai keinginan kita.

Sang Maha Pencipta menghadirkan kita di muka bumi ini sudah dilengkapi dengan “misi spesifiknya", tugas kita memahami kehendakNya. Kemudian ketika kita dipertemukan dengan pasangan hidup kita untuk membentuk sebuah keluarga, tidak hanya sekedar untuk melanjutkan keturunan, atau hanya sekedar untuk menyempurnakan agama kita. Lebih dari itu, kita bertemu dengan suami dan melahirkan anak-anak, adalah untuk lebih memahami apa sebenarnya “peran spesifik keluarga” kita di muka bumi ini.

31.5.17

[Matrikulasi] Review NHW #2: Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan

Menyusun Nice Homework #2 agak menguras pikiran karena sebelumnya tidak pernah membuat ceklis kegiatan sehari-hari. Jujur saja, aktivitas sehari-hari selalu spontan dan bergantung pada jam fisik Izza. Jadi, ya, kadang bisa aktivitas dengan teratur kadang juga berantakan dan keteteran. Semoga saja ceklis yang sudah saya buat bisa konsisten dilaksanakan.

Pertama yang akan kami katakan adalah SALUT untuk para bunda dan calon bunda peserta matrikulasi Ibu Profesional yang berhasil mengalahkan "rasa" berat untuk mengerjakan nice homework#2 ini. Kalau di Jawa ada pepatah yang mengatakan "Ojo kalah karo wegah" (Jangan mau kalah dengan rasa malas). Karena sebenarnya kalau urusan membuat checklist profesionalisme ini bukan MAMPU atau TIDAK MAMPU melainkan MAU atau TIDAK MAU. Terbukti teman-teman bisa melakukannya di tengah kesibukan yang luar biasa.

Kami sangat menghargai proses teman-teman membuat checklist profesionalisme ini. Mulai dari menanti-nanti jawaban dari suami dan anak bagi yang sudah berkeluarga, maupun melakukan kesungguhan bermain “andaikata aku menjadi istri dan ibu” bagi yang sedang dalam proses memantaskan diri membangun keluarga. Ada yang terkaget-kaget dengan banyaknya list jawaban dari suami dan anak-anak, ada juga yang bingung dengan jawaban dari para suami dan anak, karena terlalu sederhananya keinginan mereka terhadap kita, demi sebuah kebahagiaan.

KOMITMEN DAN KONSISTEN

25.5.17

[Matrikulasi] Materi #2: Menjadi Ibu Profesional, Kebanggan Keluarga

Materi matrikulasi pertama dan nice homework #1 sudah dilalui dengan penuh rasa berdebar, saatnya menuju materi yang kedua tentang bagaimana menjadi seorang ibu profesional. Tnetu saja, materi ini hanyalah kulitnya, karena materi yang lebi rinci akan dijelaskan pada tahapan kelas berikutnya. Silakan dibaca dengan seksama.

***

MENJADI IBU PROFESIONAL, KEBANGGAAN KELUARGA

Apa kabar bunda dan calon bunda peserta matrikulasi IIP batch #4? Pekan ini kita akan belajar bersama :
  1. Apa Itu Ibu Profesional?
  2. Apa itu Komunitas Ibu Profesional?
  3. Bagaimana tahapan-tahapan untuk menjadi Ibu Profesional?
  4. Apa saja indikator keberhasilan seorang Ibu Profesional?

♥ APA ITU IBU PROFESIONAL?
Kita mulai dulu dengan mengenal kata IBU ya. Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia Ibu itu memiliki makna 1 perempuan yang telah melahirkan seseorang; 2 sebutan untuk perempuan yang sudah bersuami;3 panggilan yang takzim kepada perempuan baik yang sudah bersuami maupun yang belum; 4 bagian yang pokok (besar, asal, dan sebagainya): -- jari; 5 yang utama di antara beberapa hal lain; yang terpenting: -- negeri; -- kota;

24.5.17

[Matrikulasi] Review NHW #1: Adab Menuntut Ilmu

Nice Homework #1 sudah dikerjakan dan ini adalah review yang diebrikan oleh fasilitator sebelum materi kedua.

Tidak terasa sudah 1 pekan kita bersama dalam forum belajar ini. Terima kasih untuk seluruh peserta yang sudah “berjibaku” dengan berbagai cara agar dapat memenuhi “Nice Homework” kita. Mulai dari yang bingung mau ditulis dimana, belum tahu caranya posting sampai dengan hebohnya dikejar deadline:).

Insya Allah kehebohan di tahap awal ini, akan membuat kita semua banyak belajar hal baru, dan terus semangat sampai akhir program.

Di NHW#1 ini, tidak ada jawaban yang benar dan salah, karena kita hanya diminta untuk fokus pada ilmu-ilmu yang memang akan kita tekuni di Universitas Kehidupan ini. Yang diperlukan hanya dua yaitu FOKUS dan PERCAYA DIRI. Jangan sampai saat kuliah dulu kita salah jurusan, bekerja salah profesi, sekarang mengulang cara yang sama saat menapaki kuliah di universitas kehidupan, tapi mengaharapkan hasil yang berbeda. Kalau pak Einstein menamakan hal ini sebagai “INSANITY”
INSANITY : DOING THE SAME THINGS OVER AND OVER AGAIN,AND EXPECTING DIFFERENT RESULT - Albert Einstein

Setelah kami cermati , ada beberapa peserta yang langsung menemukan jawabannya karena memang sehari-hari sudah menggeluti hal tersebut. Ada juga yang masih mencari-cari, karena menganggap semua ilmu itu penting.

17.5.17

[Matrikulasi] Materi #1: Adab Menuntut Ilmu

Alhamdulillah, akhirnya bisa mengikuti kelas pertama Matrikulasi IIP Batch #4 dan dipercaya sebagai ketua kelas. Saat tahu materi pertama langsung teringat kalimat guru Bahasa Indonesia pas SMA dulu, "attitudemu yang akan menentukan masa depanmu". Yess, mari disimak materi tentang Adab Menuntut Ilmu berikut ini.

***

ADAB MENUNTUT ILMU
Senin, 15 Mei 2017
Disusun oleh Tim Matrikulasi- Institut Ibu Profesional

Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mengubah perilaku dan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya ilmu menunjukkan kepada kebenaran dan meninggalkan segala kemaksiatan. Banyak diantara kita terlalu buru-buru fokus pada suatu ilmu terlebih dahulu, sebelum paham mengenai adab-adab dalam menuntut ilmu. Padahal barang siapa orang yang menimba ilmu karena semata-mata hanya ingin mendapatkan ilmu tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya, namun barangsiapa yang menuntut ilmu karena ingin mengamalkan ilmu tersebut, niscaya ilmu yang sedikitpun akan sangat bermanfaat baginya.

Karena ILMU itu adalah prasyarat untuk sebuah AMAL, maka ADAB adalah hal yang paling didahulukan sebelum ILMU. ADAB adalah pembuka pintu ilmu bagi yang ingin mencarinya.

Adab menuntut ilmu adalah tata krama (etika) yang dipegang oleh para penuntut ilmu, sehingga terjadi pola harmonis baik secara vertikal, antara dirinya sendiri dengan Sang Maha Pemilik Ilmu, maupun secara horisontal, antara dirinya sendiri dengan para guru yang menyampaikan ilmu, maupun dengan ilmu dan sumber ilmu itu sendiri.