13.7.15

Ngflek Tandanya Apa?

Siang itu saat duduk jongkok di depan kulkas tiba-tiba saya merasa ada yang keluar dari bagian kewanitaan, langsung buru-buru ke kamar mandi untuk ngecek. Astaghfirullah, ada bercak darah yang keluar. Otomatis telpon suami dan minta suami pulang ke rumah saat itu juga. Saya pun menghubungi salah satu teman saya untuk konsultasi dan ditanya kegiatan apa saja yang sudah saya lakukan hari itu. Nyuci baju dan angkat ember dari belakang rumah ke depan. Dorrr... langsung kena semprot teman saya karena hal itu. Harusnya pas hamil muda stop dulu kegiatan rumah tangga, tapi saya bosen di rumah sendiri jadinya ya melakukan apa pun yang bisa saya lakukan. Tidak tahu kalau bakal berujung ngeflek. Interogasi pun berlanjut. Teman saya bertanya, "berhubungan sama suami, gak?", iya, beberapa hari lalu. Meskipun saya berkata play safe dan sperma tidak dikeluarkan di dalam miss V, tetap saja bisa berbahaya karena kontraksi yang ditimbulkan. Maafkan, Bundamu, Nak :(

Setelah suami pulang ke rumah, kami membuat jadwal bertemu dokter kandungan malam itu juga meskipun harus mendapat antrian paling akhir di jam 10 malam. Dokter memberikan obat penguat kandungan dan vitamin, serta meminta saya untuk bedrest total padahal harus mudik lebaran. Saya pun cerita kalau harus mudik, dan dokter mewanti-wanti saya agar sebisa mungkin mengurangi aktivitas dan tidak boleh capek. Semoga aja sih, ya. Rada gimana gitu kan kalau lebaran tidak unjung saudara, dan biasanya kalau di rumah nenek, saya itu orang yang paling sibuk mengatur ini itu. Bismillah. Sebagai informasi, dokter kandungan yang saya kunjungi adalah Dr. Franky Sumarlie, Sp.OG yang bertugas di Klinik Regina, Sampit. Meskipun pria tapi dokternya luwes, saya dan suami cocok dengan dokter Franky setelah beberapa kali ke dokter kandungan.

3.7.15

Balada Opname dan Pindahan

Beberapa hari sebelum pindahan ke Sampit, saya harus menginap di rumah sakit Harapan Keluarga Cikarang karena infeksi perut. Awalnya sore itu perut saya mendadak sakit yang melilit hingga tak tertahankan. Padahal niatnya malam itu saya akan berangkat sholat tarawih, tapi bangun dari kasur pun tidak bisa. Yang saya lakukan hanyalah memegang perut dan menangis. Saya takut sesuatu terjani pada janin saya. Untungnya teman kos, Via, membawa saya ke RS HK dan langsung menuju UGD. Setelah diperiksa oleh dokter jaga, saya langsung diinfus dengan kecepatan aliran yang luar biasa karena ternyata saya dehidrasi padahal sudah cukup minum air, menurut saya. Dalam setengah jam, cairan infus pun habis. Dokter pun memutuskan agar saya opname sambil menunggu hasil tes darah di lab. Hal seperti ini yang saya benci, di rantau dan harus opname, dan hamil. Untungnya ada teman-teman yang baik kepada saya.

Besok siang hasil tes darah keluar yang menyatakan saya terkena infesi perut, terlalu banyak kuman di dalam perut sehingga menimbulkan rasa sakit yang luar biasa. Mungkin karena beberapa hari sebelumnya saya malas masak dan berakhir beli makan di warung langganan ditambah pagi sebelum opname saya makan nasi padang. Harusnya tidak boleh menyalahkan makanan, sih, ya, mungkin saja saya yang kurang wasapada. Karena opname inilah suami saya datang menjemput saya dan sekalian diboyong ke Sampit, padahal seharusnya saya ke sana setelah lebaran. Tiga hari di rumah sakit, saya memaksa untuk pulang agar bisa packing dan berangkat ke Sampit karena awal bulan adalah jadwal suami kerja rodi. Packing dalam satu hari satu malam sedangkan barang saya ada banyak sekali. Suami meminta saya untuk duduk manis, tapi tidak saya hirau, kasian gak ada yang bantu ngepak barang total 6 kardus.

Awal Juli, saya resmi berdomisili di Sampit.

Di rumah baru pun saya masih tidak bisa diam, saya membongkar semua barang dan menata ulang di rumah baru. Capek, sih, tapi dasarnya saya ini tidak bisa melihat barang berserakan dan rumah kotor. Suami sempat marah karena kuatir dengan kondisi janin saya yang masih sangat muda ini. Semoga kuat, ya, Nak.

1.7.15

Opini Kedua: Bu Bidan

Karena sedikit tidak puasa dengan hasil usg dari dokter Nancy di rumah sakit mitra keluarga, saya memutuskan untuk bertandang ke bidan yang ada di rumah sakit bersalin di komplek perumahan tempat saya tinggal. Rumah sakit bersalinnya kecil ini tempat saya melakukan vaksin tokso-tetanus sebelum saya menikah. Setelah registrasi langsung menuju ke bidan dan menceritakan yang saya alami. Pertama saya tidak langsung diperiksa tapi diberikan penjelasan terlebih dahulu. Bu bidan menggunakan kalender kehamilan yang bentuknya bundar dan mengatakan usia kehamilan saya 4 minggu beberapa hari berdasarkan perhitungan tanggal menstruasi. Setelah itu saya diperiksa hanya dengan memegang dan menekan sedikit perut bagian bawah. Katanya, rahim sudah menebal dan mengeras dan saya positif hamil.

Saya sedikit menyinggung tentang usg tanpa memberi tahu kalau saya sudah usg. Bu bidan berkata, kalaupun saya usg dalam usia yang masih sangat muda, kemungkinan kantung rahim saja yang baru terlihat. Tapi kondisi tersebut berbeda untuk setiap ibu hamil, ada yang sudah terlihat jelas, ada yang mungkin belum terlihat sama sekali, seperti saya. Bu bidan pun memberi saya obat penguat kandungan dan vitamin (folavit. red).

Hmm.. bukan saya tidak percaya dengan kata dokter, mungkin karena ini kehamilan pertama jadi sedikit was-was jika ada hal yang kurang baik. Dengan adanya dua tanggapan dari dokter kandungan dan bidan hati lebih lega dan tenang dan saya memutuskan untuk stop puasa Ramadhan sesuai anjuran keduanya. Mulai untuk makan dengan asupan gizi yang baik demi calon janin yang akan datang ke rahim saya. Bismillah, ya, nak.