22.5.18

Game Level #7: Semua Anak Adalah Bintang - Day 1

Materi level 7 ini seakan menampar saya yang beberapa minggu lalu baru saja terus menerus mengeluh soal Izza yang belum bisa berbicara lancar seperti teman seusianya, atau tidak mau anteng seperti anak tetangga sebelah. Saya sempat kesal dengan segala macam ulah Izza yang ada saja yang membuat saya harus berkali kali membereskan rumah karena hampir penjuru rumah selalu berantakan. Tak jarang mengeluh pada suami atas ulah Izza yang membuat badan remuk redam (lebay, deh) alias capek. Mungkin karena hamil sudah di trimester tiga jadi tenaga saya juga tidak se-energik dulu, gampang capek, yang berujung gampang emosi. Padahal harusnya saya bersyukur ya kalau Izza sedang aktif-aktifnya dan penuh rasa penasaran yang artinya Izza dalam kondisi sehat dan tumbuh kembangnya normal. Harusnya, sih, ya, kadang emosi mengalahkan segalanya.

Materi level ini punya andil besar dalam mengubah persepsi saya tentang bakat dan talenta Izza, pun kilas balik tentang materi cara belajar Izza yang cenderung kinestetik, jadi wajar saja jika dia punya tenaga luar biasa untuk bergerak. Jika diamati, ada 3 hal yang membuat Izza berbinar saat melakukannya yaitu menyanyi, menggambar, dan bergerak. Dari ketiganya, yang paling membuat dia berbinar dan terlihat sangat bahagia adalah bergerak aktif. Mungkin karena dia memang tipe anak kinestetik, jadi semua hal yang dia pelajari diinterpretasikan dengan gerak tubuh. Contohnya, menyanyi pasti sambil menari, bicara sambil menggerakkan tubuh, bermain secara aktif, berhitung sambil menggerakkan jari, dan lainnya. Hanya saja, untuk level ini saya tidak akan mengevaluasi tentang keterampilan fisiknya karena izza sedang dalam kondisi yang kurang sehat, tumbuh gigi secara bersamaan jadi banyak rewelnya. Oleh itu saya akan memilih antara menyanyi (sambil menari tentunya) dan menggambar (bisa juga menulis atau sekadar mencorat coret).

7.4.18

Game Level #6: Menstimulasi Matematika Logis Pada Anak - Day 10

Hari ini saya benar-benar kehabisan ide bermain matematika logis dengan Izza. Semua mainan dari puzzle, bola, dan sebagainya sudah dimainkan, sedangkan otak sedang stuck tidak bisa berpikir kreatif lagi. Eh, saya ingat kalau hari ini kan sabtu jadi saya lempar tangan ke ayahnya, hehe. Suami mengiyakan dengan sangat enteng. Saya pun yakin dan beralih pada pekerjaan domestik yang sudah menunggu. Saya meminta suami untuk menjemur kerupuk untuk acara yasinan besok siang yang ternyata menjadi ajang bermain dengan Izza. Wah! Ide brilian yang tidak terpikir oleh saya, hehe. Mereka memindahkan kerupuk dari plastik ke koran dengan cara menghitungnya, Izza mengukuti dengan semangat. Ya, meskipun pada akhirnya mereka menjadikan kerupuk sebagai ajang bermain, memindahkan dari satu tempat ke tempat lain secara berulang demi untuk menghitung. Okelah, yang penting kerupuk tidak tercecer dan masih dalam keadaan bersih. Sejak mengikuti tantangan level 6, Izza semakin senang berhitung baik itu menghitung dengan jari atau langsung berhitung dan menyebut angka saat menjumpai bilangan angka.

Seperti halnya siang tadi saat kami pergi ke supermarket untuk belanja bulanan. Segala hal yang dia jumpai pasti dihitung olehnya. Saat naik tangga, sudah tidak mau dipegangi, maunya naik sendiri sambil berhitung. Saat membeli yogurt atau menghampiri jajaran air mineral, semuanya serba dihitung. Sesekali menghampiri saya dan ayahnya untuk diajak berhitung, apa ini memang efek dari tantangan level 6 atau memang sudah masanya Izza berhitung, ya? Entah ya, yang penting saya cukup senang dengan progresnya Izza. Dulu, saya sempat kuatir dengan Izza yang belum bisa berhitung satu hingga tiga disaat teman seusianya sudah lancar berhitung hingga lima atau bahkan sepuluh. Tapi harusnya saya tidak membandingkan karena prosesnya memang beda, dan sekarang Izza sudah bisa meski belum lancar dan urut.

6.4.18

Game Level #6: Menstimulasi Matematika Logis Pada Anak - Day 9


Hari ke sembilan, kondisi bunda sedang drop, benar-benar merasa capek sampai keluar lebam-lebam biru di badan yang memang tanda kalau badan butuh istirahat total. Hari ini pun tidak masak dan mengandalkan suami untuk beli sarapan dan makan siang, jadwal nyuci baju pun harus diundur hingga besok atau masuk ke laundry. Sementara Izza sedang sangat excited dengan segala mainan yang terkumpul di ruang tamu karena kemarin sengaja tidak saya kembalikan ke tempatnya. Setelah sarapan, dia meangambil bola warna-warni dan selotip yang tercecer, menyerahkan pada saya tanda minta dibuatkan lahan untuk “tanam dan petik bola” seperti kemarin. Saya alihkan saja dengan buku dan pensil warna agar saya tidak terlalu banyak bergerak mengikuti aksinya. Untungnya di mau dialihkan tapi mengambil stiker dan gunting yang memang saya sediakan untuknya. Saat ini saya tidak melarang Izza memegang gunting sungguhan (saya berikan gunting kecil yang ujungnya tumpul dan gagangnya empuk) untuk melatih motoriknya, untuk pisau memang masih saya berikan pisau mainan.