24.11.17

Aliran Rasa Komunikasi Produktif

Aliran Rasa Komunikasi Produktif
Aliran Rasa Komunikasi Produktif
Komunikasi produktif, sebuah materi pembuka yang memang cocok diberikan untuk pertama kalinya. Sebuah materi yang nantinya akan terus diterapkan hingga ke depan dan selamanya. Semua berawal dari bagaimana saya dan anggota keluarga berkomunikasi. Baik atau tidaknya kondisi yang tercipta tergantung dari komunikasi seperti apa yang telah diciptakan. Sejak menerapkan kaidah-kaidah yang ada di dalam komunikasi produktif, saya menjadi tahu, kesalahan seperti apa yang pernah saya ucapkan sehingga mengubah kondisi rumah menjadi tidak nyaman. Dengan menuliskannya, saya jadi evaluasi diri sendiri, memberi kritik dan saran pada diri sendiri.

16.11.17

Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 15

Tantangan komunikasi produktif hari ke lima belas ditutup dengan Izza si anak gadis yang mulai menunjukkan kemajuan toilet training tepat usianya sekarang 17 bulan di hari ini. Saya memulai toilet training untuk Izza kira-kira 2 minggu lalu. Dimulai dengan melepas popok sekali pakai (pospak) di siang hari sekitar jam 2 karena jam tersebut memang waktunya ganti pospak. Yang saya lakukan adalah sounding Izza untuk bilang jika ingin buang air kecil atau besar dengan cara menunjuk celana. 3 – 4 hari belum berjalan mulus, hampir ngompol semua, hingga akhirnya Izza memberi tanda dengan menunjuk celananya saat ingin buang air besar meski telat bilangnya.

Satu minggu kemudian saya mulai melepas pospak di siang hari kira-kira jam 10 atau jam 11 siang karena Izza sudah bisa memberi tanda meski sudah selalu terlambat. Hingga 2 hari yang lalu saya mulai melepas pospak dari pagi setelah mandi dan terus-terusan sounding dengan memberi contoh:

Saya: “Izza nanti kalau mau pipis atau eek bilang bunda, ya.” 
(sambil memegang celananya) 
Izza: “Ya...ya..” 
(Alhamdulillah sudah bisa menanggapi dan mengerti maksud omongan saya) 
Saya: “Kalau pipis bilang gimana, Za?” 
Izza: “Eennggg” (Sambil pegang celananya)

15.11.17

Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 14

Hari ini suami berangkat kerja agak siang karena semalam baru pulang dinas dini hari, jadi lumayan bisa bantu bermain dengan Izza sepanjang pagi. Sedangkan saya berkutat dengan dapur.  Per rekues suami, saya masak oseng kerang dara dibumbu kecap pedas, untung saja tersedia di bulek sayur. Jam 8 pagi, suami hendak sarapan dan membuka penanak nasi, terjadilah tragedi:

Suami: “Lha, Bun, nasinya belum matang.”
 
Saya: “Lho, kok bisa? Kan dari subuh dicolokin.” 
Suami: “Bentuknya masih beras sih, jangan-jangan lupa diceklek mode cook.” 
Saya: “Lhooo, perasaan tadi wes tak ceklek. Yawis masak lagi pakai magic com kecil porsimu aja biar cepet.” 
(Akhirnya masak nasi di magic com kecil agar cepat tanak dan suami segera sarapan. Saya sebenarnya merasa bersalah tapi tidak ingin membuat mood berantakan di pagi hari. Jadi saya mencoba bercanda dengan suami.) 
Suami: “Masak untuk sarapanmu juga.” 
Saya: “Enggak wes, aku diet aja wes.” (Berjalan gontai menghampiri suami dan memeluknya) “Maaf yaa. Aku tak diet aja yaa.” 
Suami: “Kok tiba-tiba mau diet?” 
Saya: “Biar langsing lagi kayak jaman gadis. Tapi dietnya kalau sudah dibelikan martabak, hahah.” 
Suami: “Lhaa, mau diet atau pengen martabak?”
Saya: “Dua-duanya, hehehe.”

14.11.17

Game Level #1: Komunikasi Produktif - Day 13

Pada tantangan komunikasi produktif yang kesekian kalinya, saya berusaha untuk konsisten menggunakan kaidah yang ada yang komitmen untuk terus menjaganya. Tidak bisa mulus setiap waktu, memang, tapi saya selalu berusaha untuk mejaga emosi tetap stabil dan Alhamdulillah lumayan berhasil. Saat dengan anak, saya selalu mengingat bahwa Izza memang belum bisa benar-benar memahami apa yang saya inginkan. Dia masih bayi dan butuh panduan, maka tugas saya memandunya bukan memaksakan kehendak. Saat dengan suami, saya ingat bahwa ridhonya bisa membawa saya ke surga (ini setelah nonton ceramah seorang ustad di youtub). Selama saya bersikap baik dan manis terhadap suami dan anak, maka saya akan mendapatkan hal yang sama.