7.4.18

Game Level #6: Menstimulasi Matematika Logis Pada Anak - Day 10

Hari ini saya benar-benar kehabisan ide bermain matematika logis dengan Izza. Semua mainan dari puzzle, bola, dan sebagainya sudah dimainkan, sedangkan otak sedang stuck tidak bisa berpikir kreatif lagi. Eh, saya ingat kalau hari ini kan sabtu jadi saya lempar tangan ke ayahnya, hehe. Suami mengiyakan dengan sangat enteng. Saya pun yakin dan beralih pada pekerjaan domestik yang sudah menunggu. Saya meminta suami untuk menjemur kerupuk untuk acara yasinan besok siang yang ternyata menjadi ajang bermain dengan Izza. Wah! Ide brilian yang tidak terpikir oleh saya, hehe. Mereka memindahkan kerupuk dari plastik ke koran dengan cara menghitungnya, Izza mengukuti dengan semangat. Ya, meskipun pada akhirnya mereka menjadikan kerupuk sebagai ajang bermain, memindahkan dari satu tempat ke tempat lain secara berulang demi untuk menghitung. Okelah, yang penting kerupuk tidak tercecer dan masih dalam keadaan bersih. Sejak mengikuti tantangan level 6, Izza semakin senang berhitung baik itu menghitung dengan jari atau langsung berhitung dan menyebut angka saat menjumpai bilangan angka.

Seperti halnya siang tadi saat kami pergi ke supermarket untuk belanja bulanan. Segala hal yang dia jumpai pasti dihitung olehnya. Saat naik tangga, sudah tidak mau dipegangi, maunya naik sendiri sambil berhitung. Saat membeli yogurt atau menghampiri jajaran air mineral, semuanya serba dihitung. Sesekali menghampiri saya dan ayahnya untuk diajak berhitung, apa ini memang efek dari tantangan level 6 atau memang sudah masanya Izza berhitung, ya? Entah ya, yang penting saya cukup senang dengan progresnya Izza. Dulu, saya sempat kuatir dengan Izza yang belum bisa berhitung satu hingga tiga disaat teman seusianya sudah lancar berhitung hingga lima atau bahkan sepuluh. Tapi harusnya saya tidak membandingkan karena prosesnya memang beda, dan sekarang Izza sudah bisa meski belum lancar dan urut.

6.4.18

Game Level #6: Menstimulasi Matematika Logis Pada Anak - Day 9


Hari ke sembilan, kondisi bunda sedang drop, benar-benar merasa capek sampai keluar lebam-lebam biru di badan yang memang tanda kalau badan butuh istirahat total. Hari ini pun tidak masak dan mengandalkan suami untuk beli sarapan dan makan siang, jadwal nyuci baju pun harus diundur hingga besok atau masuk ke laundry. Sementara Izza sedang sangat excited dengan segala mainan yang terkumpul di ruang tamu karena kemarin sengaja tidak saya kembalikan ke tempatnya. Setelah sarapan, dia meangambil bola warna-warni dan selotip yang tercecer, menyerahkan pada saya tanda minta dibuatkan lahan untuk “tanam dan petik bola” seperti kemarin. Saya alihkan saja dengan buku dan pensil warna agar saya tidak terlalu banyak bergerak mengikuti aksinya. Untungnya di mau dialihkan tapi mengambil stiker dan gunting yang memang saya sediakan untuknya. Saat ini saya tidak melarang Izza memegang gunting sungguhan (saya berikan gunting kecil yang ujungnya tumpul dan gagangnya empuk) untuk melatih motoriknya, untuk pisau memang masih saya berikan pisau mainan.

5.4.18

Game Level #6: Menstimulasi Matematika Logis Pada Anak - Day 8

Hari ini hawanya panas sekali, bunda malas gerak maunya di kamar pasang AC sambil main ponsel, hehe. Maunya sih begitu, ya, kalau masih single tak apa, sekarang sudah mau dobel anaknya jadi tidak boles malas biar anaknya tidak ikut malas. Pagi tadi saya sengaja tidak masak untuk sarapan jadi beli bubur ayam untuk Izza dan lontong sayur untuk suami. Jadinya masak saat menjelang makan siang. Setelah mandi dan sarapan, saya mengajak Izza untuk mengulang permainan kemarin yaitu memasukkan kartu bentuk ke dalam celengan kardus dengan 4 lubang bentuk sesuai dengan kartu. Seperti halnya sekolah mengulang pelajaran, hehe. Alhamdulillah Izza makin fasih mengenal bentuk terutama lingkaran dan segitiga, kadang dia masih bingung membedakan persegi dan persegi panjang, mungkin karena bentuk yang hampir sama. Tapi karena saya membuat persegi panjang bentuknya lebih kecil dari persegi Insyaallah masih mudah dipahami olehnya.

Selain fasih dalam memasukkan kartu bentuk ke dalam celengan, Izza juga makin fasih becanda dengan mainan tersebut. Makin penuh dengan kreasi. Entah dia dapat ide dari mana, kali ini seperti Izza yang sedang mengajari saya, persis seperti apa yang telah saya ajarkan padanya. Dia mengambil kartu bentuk dari dalam wadah dan menyodorkan pada saya seolah menginginkan saya untuk mengucapkan warna dan bentuknya. Lalu dia menunjuk celengan dan berkata “Iniii!” saat itu dia memberi saya kartu bentuk lingkaran dan tangannya pun menunjuk celengan lingkaran. Saat saya berhasil memasukkan kartunya ke dalam celengan dia bertepuk girang sambil berteriak “Yeaayyy” persis seperti saya. Ah, anak ini memang pandai meniru apa yang dilakukan orang dewasa. Saya pun masih takjub dengan aksinya pagi tadi.